ZIKIR TAJALLI YANG DIBACA DALAM HATI SECARA ‘SIRR’ 1X atau 3X , kapan saja, dan nafas ditarik dengan “ HUU” kemudian ditahan dan lidah dilekukkan di langit-langit :
1. INNI BIHAKKI MUHAMMADIN ALHAQ QULHAQ, YAHUU.. artinya Sesungguhnya diriku adalah kebesaran wujud NUR MUHAMMAD yang sebenar benarnya.
2. INNI BIHAKKI ZATUL BUKTI KHALISUL MUTLAK, YAHUU.. artinya Bahwa sesungguhnya diriku adalah wujud kebesaran NUR MUHAMMAD semata-mata yang Maha Suci lagi Esa tiada ada yang lainnya besertanya.
3. LAA MAUJUDUN ILLA NURUL AL AQ QULHAQ, YAHUU.. artinya Tiada lain wujudku melainkan wujud kebenaran NUR MUHAMMAD yang sebenar-benarnya. Pilih yang mana dari tiga diatas ini yang dirasa mudah, dan waktu keluar nafas bacalah dalam hati “ ALLAHU AKBAR ”.
Kamis, 13 Agustus 2015
AMALAN ZIKIR
Rabu, 12 Agustus 2015
Tentang Penciptaan
~ Tentang Penciptaan ~
Ilmu Hakekat Insan Hadist di riwayatkan oleh Imam Ali Bin Abi Thalib : “QABLA’AN YAHLUKAS SAMAWATI WAL ARDHI, WAL ARSYI, WAL QURSYI, WAL HUJUBI, WAL JANNATI, WAN NARI, WAD DUNIA, WAL AKHIRA, WA ADAMA, WA SISAN, WA NUHAN, WA IBRAHIMA, WA SULAIMANA, WA MUSA, WA ISA, … “ Maksudnya : “Sebelum kejadian Arsyi, Qursyi, hijab 7 lapis Langit dan Bumi, pengertian TURUN NAIK NAFAS kita sudah tersedia berkekalan Surga, Neraka, Dunia dan Akhirat, Nabi Adam AS, Nabi Sis AS, Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS….” KOSONG. 624.000 tahun masih KOSONG, Allah Ta’ala yaitu kosong (waktu naik nafas keatas) Kosong bernama Ujud (Nur Nabi namanya) Jadi, Nur Rasulullah SAW sudah sedia 624.000 tahun lamanya. Kosong itulah sebenar-benar Laisa, bernama HUWA JIBUL WUJUD, NUR MUHAMMAD SAW, tajjali sendiri, menyipikan sendiri, terangkat sendiri. ESA adanya jua.. . Dari KOSONG menjadi TITIK Itulah kesempurnaan Syahadat adanya denyut (waktu menahan nafas turun) Titik itu bernama NUR SALASIAH (Rahasia Nabi) Yang ter-rahasia lagi ABU KASIM namanya. Inilah adanya 2 nama tapi 1 ujud, tiada lain, NUR.. NUR.. jua Yaitu rahasia TITIK dan KOSONG. . Dari TITIK menjadi ALIF.
Terjadinya alam semesta (waktu keluar nafas) Qodrat dan Iradatnya bernama Allah Ta’ala, Yaitu Alif semata-mata ASMA dan AF”AL. Kemudian barulah INSAN ADAM namanya bertubuh Rahim Muhammad SAW, Kemudian NUR MUHAMMAD SAW yang awal-awal memuji dirinya sendiri, Maka, Berlakulah JALAL dan JAMAL .. .
Puji Nur Rasulullah SAW, terbagi atas 12 Hijab yaitu :
1.Hijabul Kudus, KEKUASAAN, pujinya “SUBHANA RABBIAL A’LA”
2.Hijabul Akbar, KEBESARAN, pujinya “SUBHANA ALIMISSIRI WA AHFA”
3.Hijabul Minnah, PEMBERIAN, pujinya “SUBHANA RABBIAL ADZIM”
4.Hijabul Rahmah, KASIH SAYANG, pujinya “SUBHANA RAUFFUR RAHIM’
5.Hijabul Sya’adah, KEBAHAGIAAN, pujinya “SUBHANA MAN HUWA DA’IMUN”
6.Hijabul Karomah, KEMULIAAN, pujinya “SUBHANA ALIMUN HAKIM”
7.Hijabul Manjilah, ANUGERAH, pujinya “SUBHANA ZIL MULKIL A’LA”
8.Hijabul Hidayah, PETUNJUK, pujinya “SUBHANA RABBIAL ARSYIL AZIM”
9.Hijabul Nubuah, KENABIAN, pujinya “SUBHANALLAHI WABIHAMDIHI”
10.Hijabul Rib’ah, KEBERUNTUNGAN, pujinya “SUBHANAL MALIKIL KUDDUS’
11.Hijabul Ta’ah, KETAATAN, pujinya “SUBHANAL KADMUL AZALI”
12.Hijabul Syafa’at, SYAFAAT, pujinya “SUBHANAL MALIKUL MA’BUD” .
Jadi.. Adanya Nur terbagi 12 Hijab dengan puji-pujinya itu tiada lain kesemuanya adalah HU…
Diri Rasulullah SAW yang awal-awal atau Rahasia Dzat Wajibul Wujud yang sebenar-benarnya.
Di dalam masa ke-enam yaitu hari JUM’AT atau PERHIMPUNAN hanya telah sempurna kejadian Insan Diri nabi ADAM AS. Kemudian dalam hadist di terangkan : “KUNTU AWWALU NABIYYINA FIL KHALQI WA AKHIRI HUM FIL BA’TSI” Adalah AKU (AHMAD) yang awal-awal dari pada sekalian Nabi-nabi dan Rasul-rasul itu di dalam Rahasia awal-awal keadaan mereka, dan adalah AKU (MUHAMMAD) yang menjadi kesudahan mereka di dalam masa ke-dzahiran. Maksudnya : AKU yang awal dan yang akhir, yang buka dan yang tutup, semua terhimpun dalam AKU jua, Sedangkan, ke-dzahiran Insan Kamil Diri Nabi kita SAW terhitung pada masa yang ke-tujuh.
Bahwa : - Hijabul kudus 624.000 tahun lamanya, - Hijabul Akbar 900 tahun lamanya, - Hijabul Minnah 800 tahun lamanya, - Hijabul Rahmah 700 tahun lamanya, - Hijabul Sya’adah 600 tahun lamanya, - Hijabul Karomah 500 tahun lamanya, - Hijabul Manjilah 400 tahun lamanya, - Hijabul Hidayah 300 tahun lamanya, - Hijabul Nubuah 200 tahun lamanya, - Hijabul Rib’ah 100 tahun lamanya, - Hijabul Ta’ah 50 tahun lamanya, - Hijabul Syafa’at 23 tahun lamanya.
Kitab tentang NUR MUHAMMAD SAW yang aslinya sangat langkah adanya. Banyak para Da’i dan Ulama yang mengatakan Nur Muhammad SAW ini ‘dijadikan’ karena mereka belum mengetahui lebih mendalam lagi tentang paham Nur Muhammad SAW yang hakiki atau yang awal-awal. Oleh karena itu ajaran Islam tentang Iman, Islam, Ikhsan inilah yang menjadi asal Hijab Nur Rasulullah SAW, yaitu Nur yang hidup yang di katakan Qadim. Pemakaiannya : Amalkan puji Nur yang 12 Hijab di atas satu persatu, Mengamalkanya dari 1000X atau 100X atau jangan di hitung… Itulah maksudnya mengumpulkan kebahagian dunia dan akhirat, guna mendapatkan derajat yang agung disisi manusia juga wara mendapat derajat kewalian dunia dan akhirat. Satu persatu dari puji yang kita sampaikan maka kita akan mendapatkan anugerah dari Rasulullah SAW, Hidayah, Rahmat dan Syafa’at… Amin Yaa Rabbal Alamin.
1. Sebelum ke dzahiran, “ASALIHIM MIN ADAMA WA ASLIHIM ADAMA MIN TURAB” Semua asal dari Adam sedangkan nabi Adam dari tanah.
2. Sesudah ke dzahiran, “ANNA MIN ALLAH WA ALAMA MINNI” Aku dari Allah sedangkan Alam semesta dari Aku adanya.
Sedangkan, dalam tubuh kita terdapat 3 unsur yaitu :
1. ADAM = tubuh, hati, ruh, rahasia
2. MUHAMMAD = sareat, tarekat hakekat, makrifat
3. ALLAH = dzat, sifat, nama, rahasia
Kamis, 03 April 2014
SHOLAT 24 JAM
~ Sholat 24 jam ~
Ilmu Hakekat Insan .
Sholatlah sambil bekerja.
Bekerjalah sambil berdiam..
Berdiam sambil berjalan...
Tidurlah tetap berbaring....
Berbaringlah seolah-olah tertidur.....
Maka, tidurlah sambil berjaga......
Jagalah terus-menerus.......
Sebab Da’imun Sholah tiada berkeputusan........
Hanya ada di dalam rasa.........
Matikan dirimu dahulu sebelum matimu datang..........
Matilah pada “LAA ILAHA ILLA HUA” sebelum mati pada “LAA ILAHA ILLA HU” Habiskan… Mesrakan… sebelum tertidur.. Tatkala masuk pujinya sudah HU.. Tatkala keluarpun pujinya sudah ALLAH.. Tiada huruf tiada suara..
Tatkala naik nafas bernama RABBUN.
Tatkala Ia bergerak ke kerongkongan ada rasa bernama DZATUL BUHTI.
Dan, Tatkala tidur berhenti bernama DZATUL AHDAS, Disitulah tempat menerima perintah, Disitulah tiada yang disembah dan tiada yang menyembah, Jangan lepas pandangan Zuhud (kerinduan) ini, Masuklah sedekat nafas lalu pandang apa jua yang ada..
Inilah yang dinamakan latihan Sholat yang hakiki, Lazimi pemakaian ini.. ……………..
Kamis, 27 Maret 2014
Sholat Daim
~ Perjalanan Sholat Daim ~ Ilmu Hakekat Insan .
Cara ‘MENGHILANGKAN’ kemudian ‘MENYATAKAN’ adalah dengan mengetahui tentang PERJALANAN SHOLAT DA’IM yaitu :
1. Di dalam sulbi MAUL HAYAT (mesrakan turun nafasmu ke sulbi)
2. Di pohon kalam MADI (nuk)
3. Di pucuk kalam MANI,
4. Ke luar kalam MANIKAM (Jalil Jalallah nama asli bayi)
5. Mulai masuk NUTFAH,
6. Umur 1 bulan RUH NABATI
(Jalallah)
7. Umur 3 bulan RUH JASMANI,
8. Umur 5 bulan RUH NAFSANI,
9. Umur 7 bulan RUH ROHANI, (tik.. tik..)
10. Umur 9 bulan RUH IDHAFI (Haq Haq.. memuji dirinya RABBUN)
11. Keluar dari rahim, WALADAL INSAN AMINULLAH.
12. Umur 7 hari MUHAMMAD,
13. Umur 40 hari MUHAMMAD IDHAFI,
14. Umur 2 Tahun MUHAMMAD AINAL INSAN,
15. Umur 7 tahun MUHAMMAD SHOLATULLAH,
16. Umur 10 tahun MUHAMMAD SHOLAWATULLAH (detik nafas)
17. Umur 14 tahun MUHAMMAD KAMARULLAH,
18. Umur 25 tahun MUHAMMAD AMINULLAH,
19. Umur 35 tahun MUHAMMAD SHIRATULLAH,
20. Umur 40 tahun MUHAMMAD UZUNULLAH,
21. Umur 41 tahun MUHAMMAD RASULULLAH,
22. Ketika Isra’ Mi’raj ABDULLAH,
23. Ketika di langit MUHAMMAD MUTLAK,
24. Ketika di Mustawan AHMAD,
25. Ketika umur 63 tahun KALAMULLAH,
26. Ketika kembali RAHMATULLAH,
27. Ketika di Mahsar AL HASYIR,
28. Lebur ke hadirat Allah HABBIBULLAH,
29. Nama yang ter-rahasia AHMAD ABUL QASIM,
30. Nama tiada huruf tiada suara HAQ.. HAQ.. (aslinya) Itulah 30 huruf, 30 ayat, 30 juz menjadi AL-QUR’AN dalam dirimu …………………
Rabu, 19 Maret 2014
Makna Tiga Langkah
Triwikrama adalah tiga langkah “Dewa Wisnu”
atau Atma Sejati (energi kehidupan) dalam
melakukan proses penitisan. Awal mula
kehidupan dimulai sejak roh manusia diciptakan
Tuhan namun masih berada di alam sunyaruri
yang jenjem jinem, dinamakan sebagai zaman
kertayuga, zaman serba adem tenteram dan
selamat di dalam alam keabadian.
Di sana roh belum terpolusi nafsu jasad dan
duniawi, atau dengan kata lain digoda oleh
“setan” (nafsu negatif). Dari alam keabadian
selanjutnya roh manitis yang pertama kali yakni
masuk ke dalam “air” sang bapa, dinamakanlah
zaman tirtayuga. Air kehidupan (tirtamaya) yang
bersemayam di dalam rahsa sejati sang bapa
kemudian menitis ke dalam rahim sang rena
(ibu). Penitisan atau langkah kedua Dewa Wisnu
ini berproses di dalam zaman dwaparayuga.
Sebagai zaman keanehan, karena asal mula
wujud sukma adalah berbadan cahya lalu
mengejawantah mewujud menjadi jasad manusia.
Sang Bapa mengukir jiwa dan sang rena yang
mengukir raga. Selama 9 bulan calon manusia
berproses di dalam rahim sang rena dari wujud
badan cahya menjadi badan raga. Itulah zaman
keanehan atau dwaparayuga. Setelah 9 bulan
lamanya sang Dewa Wisnu berada di dalam
zaman dwaparayuga. Kemudian langkah
Dewa Wisnu menitis yang terakhir kalinya, yakni
lahir ke bumi menjadi manusia yang utuh dengan
segenap jiwa dan raganya. Panitisan terakhir
Dewa Wisnu ke dalam zaman mercapadha. Merca
artinya panas atau rusak, padha berarti papan
atau tempat. Mercapadha adalah tempat yang
panas dan mengalami kerusakan. Disebut juga
sebagai Madyapada, madya itu tengah padha
berarti tempat.
Tempat yang berada di tengah-tengah, terhimpit
di antara tempat-tempat gaib. Gaib sebelum
kelahiran dan gaib setelah ajal. KIDUNG
PANGURIPAN “SAKA GURU” Nah, di zaman
Madya atau mercapadha ini manusia memiliki
kecenderungan sifat-sifat yang negatif. Sebagai
pembawaan unsur “setan”, setan tidak dipahami
sebagai makhluk gaib gentayangan penggoda
iman, melainkan sebagai kata kiasan dari nafsu
negatif yang ada di dalam segumpal darah
(kalbu).
Mercapadha merupakan perjalanan hidup PALING
SINGKAT namun PALING BERAT dan SANGAT
MENENTUKAN kemuliaan manusia dalam
KEHIDUPAN SEBENARNYA yang sejati abadi
azali. Para perintis bangsa di zaman dulu telah
menggambarkan bagaimana keadaan manusia
dalam berproses mengarungi kehidupan di dunia
selangkah demi selangkah yang dirangkum
dalam tembang macapat (membaca sipat).
Masing-masing tembang menggambarkan proses
perkembangan manusia dari sejak lahir hingga
mati. Ringkasnya, lirik nada yang digubah ke
dalam berbagai bentuk tembang menceritakan
sifat lahir, sifat hidup, dan sifat mati manusia
sebagai sebuah perjalanan yang musti dilalui
setiap insan.
Penekanan ada pada sifat-sifat buruk manusia,
agar supaya tembang tidak sekedar menjadi
iming-iming, namun dapat menjadipepeling dan
saka guru untuk perjalanan hidup manusia.
Berikut ini alurnya :
1. MIJIL Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa
dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan
si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada
di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak
Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi.
Disambut tangisan membahana waktu pertama
merasakan betapa tidak nyamannya berada di
alam mercapadha.
Sang bayi terlanjur enak hidup di zaman
dwaparayuga, namun harus netepi titah Gusti
untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa
universal pertama kali dengan tangisan
memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan
alamiah bagaikan kekuatan getaran mantra tanpa
tinulis.Kini orang tua bergembira hati, setelah
sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku
prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang(bayi)
lahir dengan selamat. Puja puji selalu dipanjat
agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha
Pemberi Rahmat atas lahirnya si jabang bayi
idaman hati.
2. MASKUMAMBANG Setelah lahir si jabang
bayi, membuat hati orang tua bahagia tak
terperi. Tiap hari suka ngudang melihat tingkah
polah sang bayi yang lucu dan menggemaskan.
Senyum si jabang bayi membuat riang
bergembira yang memandang. Setiap saat sang
bapa melantunkan tembang pertanda hati senang
dan jiwanya terang. Takjub memandang
kehidupan baru yang sangat menantang. Namun
selalu waspada jangan sampai si ponang
menangis dan demam hingga kejang.
Orang tua takut kehilangan si ponang, dijaganya
malam dan siang agar jangan sampai meregang.
Buah hati bagaikan emassegantang. Menjadi
tumpuan dan harapan kedua orang tuannya
mengukir masa depan. Kelak jika sudah dewasa
jadilah anak berbakti kepada orang tua, nusa
dan bangsa.
3. KINANTI Semula berujud jabang bayi merah
merekah, lalu berkembang menjadi anak yang
selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuannya
sebagai anugrah dan berkah. Buah hati menjadi
tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan
harapan tercipta, orang tua selalu membimbing
dan mendampingi buah hati tercintanya. Buah
hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung
dan mempererat cinta kasih suami istri. Buah
hati menjadi anugrah ilahi yang harus dijaga
siang ratri.Dikanthi-kanthi (diarahkan dan
dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang
selalu menjaga bumi pertiwi.
4. SINOM Sinom isih enom. Jabang bayi
berkembang menjadi remaja sang pujaan dan
dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang
masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah,
siang malam selalu berdoa dan menjaga agar
pergaulannya tidak salah arah. Walupun badan
sudah besar namun remaja belajar hidup masih
susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya
belum matang, masih sering salah menentukan
arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk
menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar
manusia masih enom (muda) hidupnya sering
salah kaprah.
5. DHANDANGGULA Remaja beranjak menjadi
dewasa. Segala lamunan berubah ingin
berkelana. Mencoba hal-hal yang belum pernah
dirasa. Biarpun dilarang agama, budaya dan
orang tua, anak dewasa tetap ingin mencobanya.
Angan dan asa gemar melamun dalam keindahan
dunia fana. Tak sadar jiwa dan raga menjadi
tersiksa. Bagi anak baru dewasa, yang manis
adalah gemerlap dunia dan menuruti nafsu
angkara, jika perlu malah berani melawan orang
tua. Anak baru dewasa, remaja bukan dewasa
juga belum, masih sering terperdaya bujukan
nafsu angkara dan nikmat dunia.
Sering pula ditakut-takuti api neraka, namun tak
akan membuat sikapnya menjadi jera. Tak mau
mengikuti kareping rahsa, yang ada selalu nguja
hawa. Anak dewasa merasa rugi bila tak
mengecap manisnya dunia. Tak peduli orang tua
terlunta, yang penting hati senang gembira. Tak
sadar tindak tanduknya bikin celaka, bagi diri
sendiri, orang tua dan keluarga.
Cita-citanya setinggi langit, sebentar-sebentar
minta duit, tak mau hidup irit. Jika tersinggung
langsung sengit. Enggan berusaha yang penting
apa-apa harus tersedia. Jiwanya masih muda,
mudah sekali tergoda api asmara. Lihat celana
saja menjadi bergemuruh rasa di dada. Anak
dewasa sering bikin orang tua ngelus dada.
Bagaimanapun juga mereka buah dada hati yang
dicinta. Itulah sebabnya orang tua tak punya
rasa benci kepada pujaan hati. Hati-hati bimbing
anak muda yang belum mampu membuka panca
indera, salah-salah justru bisa celaka semuanya.
6. ASMARADANA Asmaradana atau asmara
dahana yakni api asmara yang membakar jiwa
dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motifasi
harapan dan asa asmara. Seolah dunia ini
miliknya saja. Membayangkan dirinya bagaikan
sang pujangga atau pangeran muda. Apa yang
dicitakan haruslah terlaksana, tak pandang bulu
apa akibatnya. Hidup menjadi terasa semakin
hidup lantaran gema asmara membahana dari
dalam dada.
Biarlah asmara membakar semangat hidupnya,
yang penting jangan sampai terlena. Jika tidak,
akan menderita dikejar-kejar tanggungjawab
hamil muda. Sebaliknya akan hidup mulia dan
tergapai cita-citanya. Maka sudah menjadi tugas
orang tua membimbing mengarahkan agar tidak
salah memilih idola. Sebab sebentar lagi akan
memasuki gerbang kehidupan baru yang mungkin
akan banyak mengharu biru.
Seyogyanya suka meniru tindak tanduk
sanggurulaku, yang sabar membimbing setiap
waktu dan tak pernah menggerutu. Jangan suka
berpangku namun pandailah memanfaatkan
waktu. Agar cita-cita dapat dituju. Asmaradana
adalah saat-saat yang menjadi penentu, apakah
dirimu akan menjadi orang bermutu, atau polisi
akan memburu dirimu. Salah-salah gagal
menjadi menantu, malah akan menjadi seteru.
7. GAMBUH Gambuh atau Gampang Nambuh,
sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah
menjadi orang yang teguh, ampuh dan
keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai
sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar
matanya nanar merasa cita-citanya sudah
bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat
mana yang salah dan benar. Di mana-mana
ingin diakui bak pejuang, walau hatinya tak
lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani
mati, sebaliknya berani hidup menjadi manusia
sejati.
Sulitnya mencari jati diri kemana-mana terus
berlari tanpa henti. Memperoleh sedikit sudah
dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-
mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas
diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang
didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh
tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya
sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani
dan menghayati. Bila merasa ada yang kurang,
menjadikannya sakit hati dan rendah diri.
Jika tak tahan ia akan berlari menjauh
mengasingkan diri. Menjadi pemuda pemudi yang
jauh dari anugrah ilahi. Maka, belajarlah dengan
teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang
mudah gumunan dan kagetan. Bila sudah paham
hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar
ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang
dibangga-banggakan itu menjadi mati.
8. DURMA Munduring tata krama. Dalam cerita
wayang purwa dikenal banyak tokoh dari
kalangan “hitam” yang jahat. Sebut saja
misalnya Dursasana, Durmagati,Duryudana.
Dalam terminologi Jawa dikenal berbagai istilah
menggunakan suku kata dur/ dura (nglengkara)
yang mewakili makna negatif (awon). Sebut saja
misalnya :duraatmoko, duroko, dursila, dura
sengkara, duracara (bicara buruk),durajaya,
dursahasya, durmala, durniti, durta, durtama,
udur, dst. Tembang Durma, diciptakan untuk
mengingatkan sekaligus menggambarkan
keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk
atau jahat.
Manusia gemar udur atau cekcok, cari menang
dan benernya sendiri, tak mau memahami
perasaan orang lain. Sementara manusia
cendrung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan
sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun
merugikan orang lain tidak peduli lagi. Nasehat
bapa-ibu sudah tidak digubris dan dihiraukan
lagi. Lupa diri selalu merasa iri hati.
Manusia walaupun tidak mau disakiti, namun
gemar menyakiti hati. Suka berdalih niatnya
baik, namun tak peduli caranya yang kurang
baik. Begitulah keadaan manusia di planet bumi,
suka bertengkar, emosi, tak terkendali,
mencelakai, dan menyakiti. Maka hati-hatilah,
yang selalu eling dan waspadha.
9. PANGKUR Bila usia telah uzur, datanglah
penyesalan. Manusia menoleh kebelakang
(mungkur) merenungkan apa yang dilakukan
pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi
diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia
lakukan, hingga kini yang ada tinggalah
menyesali diri. Kenapa dulu tidak begini tidak
begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang
hina dina sudah tak berguna. Anak cucu kadang
menggoda, masih meminta-minta sementara
sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga.
Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit
tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan
raga tak mampu berbuat apa-apa. Hidup enggan
mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat
apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu
jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi
guru ngaji. Tabungan menghilang sementara
penyakit kian meradang.
Lebih banyak waktu untuk telentang di atas
ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun
sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah
mengerang terasa nyawa hendak melayang.
Sanak kadhang enggan datang, karena ingat
ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-
mentang. Rasain loh bentar lagi menjadi
bathang..!!
10. MEGATRUH Megat ruh, artinya putusnya
nyawa dari raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh.
Datanya ajal akan tiba sekonyong-konyong.
Tanpa kompromi sehingga manusia banyak yang
disesali. Sudah terlambat untuk memperbaiki
diri. Terlanjur tak paham jati diri. Selama ini
menyembah tuhan penuh dengan pamrih dalam
hati, karena takut neraka dan berharap-harap
pahala surga. Kaget setengah mati saat mengerti
kehidupan yang sejati.
Betapa kebaikan di dunia menjadi penentu yang
sangat berarti. Untuk menggapai kemuliaan yang
sejati dalam kehidupan yang azali abadi. Duh
Gusti, jadi begini, kenapa diri ini sewaktu masih
muda hidup di dunia fana, sewaktu masih kuat
dan bertenaga, namun tidak melakukan kebaikan
kepada sesama. Menyesali diri ingat dulu kala
telah menjadi durjana. Sembahyangnya rajin
namun tak sadar sering mencelakai dan
menyakiti hati sesama manusia.
Kini telah tiba saatnya menebus segala dosa,
sedih sekali ingat tak berbekal pahala. Harapan
akan masuk surga, telah sirna tertutup bayangan
neraka menganga di depan mata. Di saat ini
manusia baru menjadi saksi mati, betapa
penyakit hati menjadi penentu dalam meraih
kemuliaan hidup yang sejati.
Manusia tak sadar diri sering merasa benci, iri
hati, dan dengki. Seolah menjadi yang paling
benar, apapun tindakanya ia merasa paling
pintar, namun segala keburukannya dianggapnya
demi membela diri. Kini dalam kehidupan yang
sejati, sungguh baru bisa dimengerti, penyakit
hati sangat merugikan diri sendiri. Duh Gusti…!
11. POCUNG Pocung atau pocong adalah orang
yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah
batas antara kehidupan mercapadha yang panas
dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan
abadi. Bagi orang yang baik kematian justru
menyenangkan sebagai kelahirannya kembali,
dan merasa kapok hidup di dunia yang penuh
derita.
Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai
lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia
sekali disambut dan dijemput para leluhurnya
sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi azali.
Kehidupan baru setelah raganya mati. Tak terasa
bila diri telah mati. Yang dirasa semua orang
kok tak mengenalinya lagi. Rasa sakit hilang
badan menjadi ringan. Heran melihat raga sendiri
dibungkus dengan kain kafan. Sentuh sana
sentuh sini tak ada yang mengerti.
Di sana-di sini ketemu orang yang menangisi.
Ada apa kok jadi begini, merasa heran kenapa
sudah bahagia dan senang kok masih ditangisi.
Ketemunya para kadhang yang telah lama
nyawanya meregang. Dalam dimensi yang
tenang, hawanya sejuk tak terbayang. Kemana
mau pergi terasa dekat sekali. Tak ada lagi rasa
lelah otot menegang. Belum juga sadar bahwa
diri telah mati. Hingga beberapa hari barulah
sadar..oh jasad ini telah mati. Yang abadi
tinggalah roh yang suci.
Sementara yang durjana, meregang nyawa tiada
yang peduli. Betapa sulit dan sakit meregang
nyawanya sendiri, menjadi sekarat yang tak
kunjung mati. Bingung kemana harus pergi, toleh
kanan dan kiri semua bikin gelisah hati. Seram
mengancam dan mencekam. Rasa sakit kian
terasa meradang. Walau mengerang tak satupun
yang bisa menolongnya.
Siapapun yang hidup di dunia pasti mengalami
dosa. Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana tak
pernah luput menimbang kebaikan dan
keburukan walau sejumput. Manusia baru sadar,
yang dituduh kapir belum tentu kapir bagi Tuhan,
yang dianggap sesat belum tentu sesat menurut
Tuhan.
Malah-malah yang suka menuduh menjadi
tertuduh. Yang suka menyalahkan justru
bersalah. Yang suka mencaci dan menghina
justru orang yang hina dina. Yang gemar
menghakimi orang akan tersiksa. Yang suka
mengadili akan diadili. Yang ada tinggalah
rintihan lirih tak berarti, “Duh Gusti pripun kok
kados niki…! Oleh sebab itu, hidup kudu jeli,
nastiti, dan ngati-ati.
Jangan suka menghakimi orang lain yang tak
sepaham dengan diri sendiri. Bisa jadi yang
salah malah pribadi kita sendiri. Lebih baik kita
selalu mawas diri, agar kelak jika mati arwahmu
tidak nyasar menjadimemedi.
12. WIRANGRONG Hidup di dunia ini penuh
dengan siksaan, derita, pahit dan getir, musibah
dan bencana. Namun manusia bertugas untuk
merubah semua itu menjadi anugrah dan
bahagia. Manusia harus melepaskan derita diri
pribadi, maupun derita orang lain. Manusia harus
saling asah asih dan asuh kepada sesama.
Hidup yang penuh cinta kasih sayang, bukan
berarti mencintai dunia secara membabi-buta,
namun artinya manusia harus peduli,
memelihara dan merawat, tidak membuat
kerusakan bagi sesama manusia lainnya, bagi
makhluk hidup dan maupun jagad raya seisinya.
Itulah nilai kebaikan yang bersifat universal.
Sebagai wujud nyata hamemayu hayuning
bawana, rahmatan lil alamin. Jangan lah
terlambat, akan mengadu pada siapa bila jasad
sudah masuk ke liang lahat (ngerong).
Wirangrong, Sak wirange mlebu ngerong, berikut
segala perbuatan memalukan selama hidup ikut
dikubur bersama jasad yang kaku.
Keburukannya akan diingat masyarakat, aibnya
dirasakan oleh anak, cucu, dan menantu. Jika
kesadaran terlambat manusia akan menyesal
namun tak bisa lagi bertobat. Tidak pandang
bulu, yang kaya atau melarat, pandai maupun
bodoh keparat, yang jelata maupun berpangkat,
tidak pandang derajat seluruh umat. Semua itu
sekedar pakaian di dunia, tidak bisa menolong
kemuliaan di akherat.
Hidup di dunia sangatlah singkat, namun
mengapa manusia banyak yang keparat. Ajalnya
mengalami sekarat. Gagal total merawat barang
titipan Yang Mahakuasa, yakni segenap jiwa dan
raganya. Jika manusia tak bermanfaat untuk
kebaikan kepada sesama umat, dan kepada
seluruh jagad, merekalah manusia bejat dan
laknat.Pakaian itu hanya akan mencelakai
manusia di dalam kehidupan yang sejati dan
abadi.
Orang kaya namun pelit dan suka menindas,
orang miskin namun kejam dan pemarah, orang
pandai namun suka berbohong dan licik, orang
bodoh namun suka mencelakai sesama, semua
itu akan menyusahkan diri sendiri dalam
kehidupan yang abadi. Datanglah penyesalan
kini, semua yang benar dan salah tak tertutup
nafsu duniawi.
Yang ada tinggalah kebenaran yang sejati. Mana
yang benar dan mana yang salah telah dilucuti,
tak ada lagi secuil tabirpun yang bisa menutupi.
Semua sudah menjadi rumus Ilahi. Di alam
penantian nanti, manusia tak berguna tetap
hidup di alam yang sejati dan hakiki, namun ia
akan merana, menderita, dan terlunta-lunta.
Menebus segala dosa dan kesalahan sewaktu
hidup di planet bumi. Lain halnya manusia yang
berguna untuk sesama di alam semesta,
hidupnya di alam keabadian meraih kemuliaan
yang sejati. Bahagia tak terperi, kemana-mana
pergi dengan mudah sekehendak hati. Ibarat
“lepas segala tujuannya” dan “luas kuburnya”.
Tiada penghalang lagi, seringkali menengok anak
cucu cicit yang masih hidup di dimensi bumi.
Senang gembira rasa hati, hidup sepanjang masa
di alam keabadian. Wirangrong juga diabadikan
menjadi sebuah gending.
Sabtu, 22 Februari 2014
Nabi Isa
~ Nabi Isa ~
Ilmu Hakekat Insan Singkat ceritra, Karena Nabi Isa telah dikandung oleh seorang dara perawan bernama Maryam melalui kekuasaan Tuhan maka nabi isa AS di anggap sebagai manusia dan sekaligus anak Tuhan Hal yang tidak dapat dipahami dengan akal ini kemudian diterima dengan keimanan karena menyadari bahwa bagi tuhan segala sesuatu adalah mungkin. Bahwa, Semua kepercayaan Monoteis menganggap bahwa Tuhan adalah Maha pencipta, pemelihara, mencintai dan mengasihi serta melindungi umat manusia. Yang menarik dari Monoteis kresten adalah bahwa mereka menerima suatu ‘Trinitas’ di mana menurut mereka bersama tuhan dan nabi Isa AS ada ‘pihak ketiga’ yakni Ruhul Kudus. Tuhan diterima sebagai Bapak, nabi Isa AS sebagai Anak dan perawan Maryam walaupun bukan termasuk dari Trinitas namun menempati kedudukan penting karena di pandang sebagai perantara. Ruhul Kudus inilah yang bekerja demi kebaikan umat manusia, Ruhul kudus berbeda dari bapak dan anak, namun bagian yang tidak terpisahkan karena mempunyai sifat yang sama yaitu ke-Ilahian.
Ruhul kudus itulah Nur Muhammad “KUNTU AWALAN NABIYYINA FIL KHALQI WA AKHIRIHUM FIL BATSI” Adalah Aku (AHMAD) yang awal awal dari pada sekalian Nabi-nabi dan Rasul-rasul semua yang ada di dalam RAHASIA awal-awal keadaan, dan adalah Aku (MUHAMMAD) yang menjadi kesudahan mereka itu di dalam masa ke dzahiran. Aku yang Awal Aku yang Akhir, Aku yang Dzahir dan Aku yang Batin. Aku yang buka dan aku yang Tutup, Aku yang menghimpun semuanya. Seperti Nafas kepada Ruh, Ruh kepada Nyawa, kemudian Nyawa meliputi seluruh tubuh. Itulah Ahmad kepada Muhammad kepada seluruh Rasul rupa Muhammad. Yang menjadi fokus perhatian adalah nama kebesaran bagi Insan Muhammad yang ada di Madinah di dalam hal kerasullan. Al-Insan itulah yang telah kembali .. Inilah contoh bagi kita agar mengenal betul-betul junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang bermakam di Madinah.
Adapun Ahmad adalah Muhammad terhimpun Rasulullah tetap hidup selama-lamanya.., Itulah yang dinamakan Tasauf yang benar benar hak adanya. Karena Tasauf adalah Ilmu Rabbani yang menyatakan pandangan SALASIYAH yang melampaui akal dan fikiran yaitu perihal keadaan awal-awal yang telah ada tentang keadaan Allah SWT yang sebenarnya. Sedangkan yang mengatakan Muhadast adalah hukum akal saja, itu hanya paham tasauf pasaran dan tidak boleh diterima. Mengapa.. ? Bila diterima berarti syahadat tidak sempurna karena tidak mengetahui ujung pangkal siapakah sebenarnya Diri. “ANA ABU ARWAH WA ADAMA ABU BASHAR” Aku bapak sekalain ruh dan Adam bapak sekalian tubuh Semua telah terhimpun di dalam Nur Muhammad SAW yang bernama Nur Kibriya, U.. Muhammad yaitu Nur sifat kebesaran Nya, Rahmat dan berkat Muhammad yang telah Maujud atas seluruh Rasul termasuk Al-Insan yang ada di madinah itu adalah Nur Kibrinya U.. Muhammad yakni Nur (sifat) kebesaran Rahmat dan berkat safaat Nabi besar Muhammad SAW yang telah maujud yang sangat mulia di dalam alam ini. Itulah maksud dari pada paham perkataan ahli Tasauf tentang : “SHUHUDUL KASRAH FIL WAHDAH dan SHUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH” Maksudnya : Pandang akan keadaan Al-Insan yang banyak itu terhimpun di dalam satu kesatuan dan tetap memandang hanya satu RAHASIA yang banyak kepada Nur Muhammad SAW yaitu Nur Kibriyah U.. . Dalam pemakaian Ilmu Hakekat Usul Diri : “SHUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH” Nafas kita keluar dari kepala keliling, lalu memasukan dan tahan dua detik lalu mesrakan setelah itu di keluarkan nafas pelan-pelan. Itulah pemakaian Rahasia memandang yang banyak “SHUHUDUL WAHDAH FIL WAHDAH” Memandang satu diri yang Satu, Reflex, tunduk kepala tahan nafas sambil melihat dari hulu-hulu sampai seluruh batang tubuh kita. Mesrakanlah baik-baik nafas, lembuut.., keluar nafas tidak ada rasanya, itulah yang disebut oleh Al Arif Billah tentang “AHMAD AMINULLAH AINUL HAQ” Turun Rasulullah SAW…. Simpul tentang itu bertubuh Rohaniah dzahir dan batin adanya. Itulah ilmu tanpa suara tanpa ceritera yang berputar-putar.
Semua bersumber dari NUR MUHAMMAD SAW Ruh Idhafi memerintah Nyawa, Nyawalah yang memerintah tubuh, agar tubuh berkelakuan yang sebenar-benar diri yang hak. “QOD JAA AKUMUL HAQ MIRRABIKUM” Yang datang kepadamu adalah HAQ dari tuhanmu. Tujuan pemakaian adalah memesrakan Nur Muhammad SAW Lazimi dengan kesabaran dan ketekunan.. Awalnya terasa di hidung, Perlahan sampai ke bulu-bulu pada kulit, Hingga sampai sekecil-kecilnya lebur keluar di bulu-bulu. Tiada terasa di hidung lagi. Itulah yang di sebut DAIMUN SHALAT. Sama halnya mengenal RABBINYA. Sama halnya mengenal Hak Allah pada kelakuan Insan. Inilah pelajaran para Arif Billah.. Oleh karena itu, Mulailah kenali Dirimu sekarang Kurangi bicaramu.. Banyaklah berdiam diri.. Perhatikan kelakuan dari gerak dan diam-mu. Maka kerjakan sambil begerak dan diam memuji Rasulullah SAW semata-mata. Itulah yang di maksud Rahasia Nur Muhammad yang bernama Idhafi Ruh Idhafi itulah wujud yang Hakiki Kedzahiran wujud Mutlak di dalam Sholawat, Dzikir dan Syahadat yang berkekalan. Lazimi dan hantarkan pada tempatnya dengan nenahan satu gerakan sesaat. Kosong.. titik.. Alif Ahadiyah.. wahdah.. wahdiyah.. La ta’yin.. ta’yin awal.. ta’yin sani Ahmad.. Muhammad Rasulullah Nur kepada Nyawa yang berhubungan dengan hati menjadikan Af’al Allah berkelakuan Muhammad menyatakan diri yang Hak. Inilah Rahasia perintah yang berasal dari Ruh Idhafi. Cara pemakaian jenang yang ada di diri manusia : Dalam 3 martabat 1. Ahadiyah = la ta’yin = kosong Mulai waktu matahari terbit sampai matahari naik persis di atas kepala puji bernama “AHMAD AMINULLAH AINUL HAK” Detiknya tiada bertempat, tiada berawal, tiada berakhir, tiada berdzahir dan tiada berbatin. 2. Wahdah = ta’yin awal = titik Saat matahari bergeser dari atas kepala sampai matahari terbenam, puji bernama “HAQ.. HAQ..” Detiknya dari hati sampai ke bawah. 3. Wahdiyah = ta’yin sani = Alif Dari matahari terbenam sampai Matahari Terbit, puji bernama “LAA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADURRASULULLAH” Detiknya dari bawah ke atas.
Sabtu, 15 Februari 2014
Sakaratul Maut
TAHAPAN – TAHAPAN SAAT SAKRATUL MAUT :
1. Pertama yang datang kepada kita adalah cahaya HITAM dia datang kepada kita menawarkan kerajaan-nya, jika kita mengikutinya maka jadilah kita MINERAL-MINERAL.
2. Kedua datang kepada kita cahaya MERAH, kembali dia menawarkan kita untuk ikut dalam kerajaan-nya jika kita mengikutinya maka jadilah kita BATU atau BESI.
3. Jika kita dapat menghalau ajakan yang kedua maka selanjutnya datang kepada kita cahaya KUNING, kembali dia menawarkan kerajaan-nya kepada kita, jika kita mengikutinya maka jadilah kita TUMBUH-TUMBUHAN.
4. Jika berhasil kita lolos dari ajakan ke-tiga maka datang kepada kita cahaya HIJAU, dia-pun sama menawar-kan kerajaan-nya kepada kita, jika kita mengikutinya maka jadilah kita BINATANG YANG HARAM.
5. Setelah itu datang-lah cahaya PUTIH yang sangat menawan kita, jika kita mengikutinya maka jadilah kita BINATANG YANG HALAL yang kemudian kemaren pada saat hari raya IDUL ADHA dibebaskan-lah mereka dari penjara, permasaalahannya adalah mereka yang membebaskan harus memahami-nya jangan sampai terlepas dari penjara KAMBING masuk ke mulut BUAYA.
6. Pada tahapan reinkarnasi yang ke-enam datang-lah SUARA YANG SANGAT KERAS kepada kita, disini jika kita mengikutinya maka kita akan ter-lahir sebagai MANUSIA KAFIR.
7. Yang ke-tujuh datang kepada kita adalah RUPA KITA YANG SANGAT ELOK, seraya berucap salam dan berkata “anda adalah saya dan saya adalah anda, saya adalah utusan tuhan yang datang untuk menjemput anda, lihat-lah kerajaan-mu” jika kita mengikuti dia pada waktu itu maka kita terlahir sebagai MANUSIA MUSLIM saja.
Tahapan Reinkarnasi dari SATU sampai dengan TUJUH ini, baiknya di- TOLAK.
Carilah DELAPAN sampai dengan TIGA BELAS…
Jumat, 14 Februari 2014
ABU GUNUNG KELUD
Pagi yang cerah tak seperti biasanya
Rintik-rintik hujan mengiringi pagi nan cerah
BUkan rintik-rintik air yang jatuh ke Bumi
Tapi rintik-rintik Abu yang mengotori Bumi
Negeri ini memang "di tengah bencana"
Tak henti silih berganti Bencana menerjang
bumi ini
Dalam Radius Ratusan kilimoeter dari Gunung
Kelud di sekitar kediri
Abu pun sampai di daerah yogyakarta
Apakah bencana hanya difahami sebagai
"proses alam"
Atau difahami hanya karena negeri ini dalam
sebuah sabuk pasifik
Padahal Bencana adalah sebuah peringatan
Bagi mereka yang menyadari akan jati diri
Negeri ini dipenuhi oleh pemimpin yang "tak
berbudi"
Mengaku "paling berbudi" padahal hanya
strategi
Dalam kepura-puraan yang penuh "kebusukan"
Tak lagi dekat dengan Sang Maha Cahaya
Hawa Nafsu menjadi Raja
Disembah dan dipuja
Padahal ia bukan "sumber cahaya"
Tapi ia adalah sumber malapetaka
Raja besar dari Kediri pernah Berkuasa
Sang Jayabaya pembuat "praduga" di negeri ini
7 Gunung meletus dalam tahun yang sama
Diikuti oleh Kitab Praduga oleh Sang Sunan Giri
Hanya "Sang pembuat Cahaya" saja yang
layak dipuja
Dikira sumber cahaya padahal hanyalah
"sumber petaka"
Setan dan Jin dikira Tuhannya
Padahal ia adalah pembuat petaka
Hakikat Takbir
Bermula haqiqat takbir itu,hendaklah kita hadirkan mata hati dengan Musyahadah kepada zat Allah terlebih dahulu/sebelum mengangkat takbiratul ihrak,maka hendaklah kita tetapkan segala kehendak hati,Ruh,dan perasaan kita untuk tawajuh (menghadap) dan liqa’ (menemui) Allah SWT. Bila sudah demikian,baru kita kata usalli…dan sudah mengembalikan/menyerahkan amanat Allah Ta’ala yang ada pada kita,yakni ujud kita yang kasar ini (baharu) dan yang menanggung amanat yaitu diri kita yang bathin.Adapun amanat itu kita serahkan kepada pemilik amanah yakni Allah SWT.itulah sebabnya kita disebut Ummat Muhammad SAW yang ditanyai mengenai amanat Allah Ta’ala itu seperti firmannya : Artinya : Bahwasanya Allah Ta’ala memerintah kepadamu sekalian untuk mengembalikan amanat itu kepada pemiliknya Dengan dikembalikan/diserahkannya amanat Allah itu kepada pemiliknya yaitu Allah ta’ala itu sendiri,maka jadilah fana/lebur/hilang/karam sekalian sifat tubuh kita didalam laut “Ruh Bahrul Qadim”adapun yang tinggal ketika itu hanya sifat Ruh semata-mata,dan itulah Ruh ilmu Allah,kemudian,kita katakan Allahhu Akbar. Itulah yang dinamakan lebur/karam kehambaan diri kita (Fana Fillah) kedalam ke-Baqaan Allah,dimana nyata keadaan zat Allah semata-mata. Inilah yang harus kita syuhudkan sampai kepada salam. Maka janganlah kita lalai dari paenjelasan ini-yang artinya syuhud itu,dipancang dengan mata hati itulah pengetahuan zat dan ilmunya dan sebenar-benar ilmunya itu,iman kepada kita dan sebenar-benar Sir-Allah itu,cahaya kalam Allah yang tidak berhuruf,tidak bersuara yaitu ujud zat yang mutlak,seperti yang tersebut dalam Hadits Qudsi : Artinya : tidak bersuara,tidak berhuruf dan tiada bertempat/berbekas. Firman Allah dalam Al-qur’an : Artinya :Apakah mereka itu dijadikan bukan dari sesuatu atau mereka yang menjdikan mereka,dan bukanlah Aku yang menjadikan mereka. Hendaklah takbir kita itu,dengan syah lagi jazam yakni yaqin.hati kita hadir dengan Allah Ta’ala,yakni ingat kepada Allah maka takbir kita serta membesarkan Allah Ta’ala.pada waktu mengangkat takbir itu,menjadi tempat perhimpunan pada kalimah La Ilaha Illa Allah : yang kita pandang hanya Allah semata-mata artinyakita fana sekali-kali tidak ada,yang ada hanya Ujud Allah semata. Caranya adalah,sebelum mengangkat takbiratul ihram kita tarik nafas dengan Hu haqiqatnya Aku Allah Akbar yang lain semua kecil.sesudah itu di angkat takbiratul ihram “Allahu Akbar” dengan qasat ta’aradhta’ayyin (tubuh hati Ruh).
Senin, 10 Juni 2013
Martabat Iman
IMAN اﺪﻤﺤﻣ نأ ﺪﻬﺷأ و ﻪﻠﻟا ﻻا ﻪﻟا ﻻ نأ ﺪﻬﺷأ ﻪﻠﻟا لﻮﺳر IMAN Iman ialah: Memancarnya Nur Ilahi di dalam Jantung atau Rohani yang bercaya, menerbitkan suatu kekuatan dan kekuatan tersebut menimbulkan suatu keyakinan terhadap suatu perkara yang Ghaib dan Mereka meyakininya tanpa sedikit pun ada rasa ragu-ragu. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S. At-Taghabun : 11) Keterangan : At- Taghabun ayat 11 artinya hari dinampakkan kesalahan. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus [1039], yang di dalamnya ada Pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya)[1040], yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S. An-Nur : 35)[1039] yang dimaksud lubang yang tidak tembus (misykat) ialah suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai kesebelahnya, Biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain.[1040] Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik. Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Q.S. Al-Anfal : 2) [594] Maksudnya: orang yang Sempurna imannya.[595] dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Q.S. Al-Ankabut : 2) Apabila mereka Telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu Karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (Q.S. Ath-Thalaaq : 2) Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya, (Q.S. Faathir :20) Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (Q.S. AL-Bayyinah : 7)
Insan Kamil
Si hamba menyaksikan bahwa Insan Kamil adalah pertemuan di antara ketuhanan dan kehambaan. Pada Insan Kamil berkumpul pengetahuan tentang Tuhan dan pengetahuan tentang makhluk Tuhan. Insan Kamil mengenal Tuhan dalam aspek tanzih dan tasybih. Insan Kamil memperoleh maklumat Hakikat Muhammad secara lengkap dan sempurna. Insan Kamil yang memiliki ilmu dan makrifat yang sempurna. Insan Kamil yang mempunyai pengenalan yang sempurna tentang Tuhan. Insan Kamil juga mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang apa yang Tuhan sampaikan kepada hamba-hamba-Nya. Insan Kamil juga mempunyai maklumat Hakikat Insan secara sempurna. Oleh kerana Hakikat Insan mengumpulkan maklumat yang lengkap tentang manusia dan alam makhluk sekaliannya, maka Insan Kamil mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang manusia dan alam makhluk sekaliannya. Seluruh alam semesta ‘terkandung’ dalam Insan Kamil. Hati si hamba yang terbuka kepada suasana Hakikat Insan Kamil menyaksikan seluruh alam semesta berada dalam hatinya. Si hamba menyaksikan pengetahuan ketuhanan datang secara langsung kepada hatinya. Pembukaan kepada Hakikat Insan Kamil membuat hati si hamba menyaksikan alam semesta disempadani oleh dirinya dan pada masa yang sama dia menyaksikan ‘Allah’ bersemayam dalam hatinya. Inilah peringkat yang paling tinggi bahayanya dalam semua peringkat pengalaman kerohanian. Ketuhanan dan kehambaan muncul pada hati yang sama, pada perasaan yang sama dan pada masa yang sama. Hanya kehambaan yang sentiasa membayanginya meneguhkan tapak kakinya berpijak pada jalan yang benar. Kehambaan pada peringkat ini sangat rapuh, mudah saja menjadi hancur lebur. Jika hal yang demikian terjadi hati si hamba tidak lagi melihat perbedaan di antara hamba dengan Tuhan, dirinya dengan Tuhan. Keadaan seperti ini tidak muncul sewaktu menyaksikan Hakikat-hakikat yang lain termasuklah Hakikat Muhammad kerana pada ketika itu makhluk dan dirinya tidak ada dalam perhatian dan kesadarannya. Pada tahap mengalami suasana Hakikat Insan Kamil ini kesadar! an dan perhatian kepada diri dan makhluk baru saja muncul kembali, belum begitu kuat dan berpengaruh. Kesadaran dan perhatian tersebut baru pada tahap seumpama bayang-bayang yang belum melekat benar pada hati. Hakikat Insan Kamil adalah umpama stesen bebas bagi hati. Ia boleh menjadi Tuhan dan hamba pada masa yang sama. Ia juga boleh menjadi nabi dan wali. Ia juga boleh menjadi malaikat. Jika seseorang yang baru saja kembali sedikit kesadarannya terhadap kewujudan dirinya larut dalam Hakikat Insan Kamil, hatinya akan mengalami apa yang biasa disebut oleh orang sufi sebagai bersatu dengan Tuhan. Rasa bersatu dengan Tuhan berbeda daripada mengalami suasana keesaan yang berlaku Pada ketika itu keesaan dialami dalam suasana tiada kesadaran terhadap diri sendiri. Si hamba hanya menyaksikan Allah s.w.t semata-mata, tidak pada dirinya dan makhluk lainnya. Dia hanya menyaksikan satu wujud yaitu wujud Allah s.w.t, wujud yang lain tidak ada dalam perhatiannya. Oleh yang demikian tidak timbul isu bersatu dengan Tuhan pada peringkat itu. Pada peringkat Hakikat Insan Kamil pula wujud Allah s.w.t dan wujud dirinya nyata dalam kesedarannya dan mungkin dia tidak dapat membedakan yang satu dengan yang lain. Dalam keadaan demikian dia mungkin menyaksikan Allah s.w.t sebagai Haq (Yang Hakiki) dan juga khalq (makhluk sebag! ai bayangan Yang Hakiki). Dia mungkin merasakan dirinya sebagai Tuhan dan hamba Tuhan, yang sama dalam aspek yang berbeda. Dia mungkin melihat sifat-sifat yang ada pada dirinya sebagai sifat Tuhan dan dia menjadi pendhahir sifat Tuhan secara sempurna. Dia mungkin merasakan pada wujudnya yang satu bertemu Wujud Tuhan dengan wujud alam semesta. Dia mungkin menyaksikan seluruh alam semesta seumpama bola kecil terkandung di dalam hatinya. Dia mungkin melihat badannya sebagai Arasy, rohnya sebagai Roh Muhammad dan zatnya sebagai Zat Tuhan. Dia mungkin juga melihat ilmunya sebagai Ilmu Tuhan dan bakat dirinya sebagai malaikat. Bila dikuasai oleh rasa kelarutan dalam Hakikat Insan Kamil dia mungkin melihat dirinya berada pada satu falak di atas daripada falak yang ada makhluk yang lain. Malaikat, jin dan yang lain-lain mungkin dilihatnya berada di bawah daripada falak dirinya. Dia mungkin melihat bakat dirinya bergerak melalui makhluk yang lain. Jika dia berada dalam satu kumpulan pekerja dia mungkin melihat bakat dan daya upayanya berada pada setiap pekerja tersebut. Suasana hati yang bergabung dengan Hakikat Insan Kamil mungkin membuat seseorang melaungkan “Ana al-Haq!�?. Ucapan “Ana al-Haq�? pada peringkat ini berbeda daripada ucapan Ana al-Haq , dahulu si hamba semata-mata menjadi alat dan Tuhan Pengguna alat. Si hamba tidak melihat ucapan tersebut sebagai ucapannya. Dia menyaksikan Kalam Tuhan yang keluar daripadanya. Pada peringkat Hakikat Insan Kamil pula ucapan “Ana al-Haq�? dilafazkan dalam keadaan ada kesadaran diri. Kesadaran tersebut membuatnya melihat ucapan itu sebagai ucapan Tuhan dan juga ucapan dirinya yang bersatu dengan Tuhan. Apa yang dia ucapkan itulah yang Tuhan ucapkan, dan apa yang Tuhan ucapkan itulah yang dia ucapkan. Beginilah keadaan yang berlaku kepada orang yang larut dalam Insan Kamil. Ramai orang menyangkakan Insan Kamil adalah penghabisan jalan. Mereka jadikan Insan Kamil sebagai makam mereka. Semua keturunan Adam a.s dinamakan manusia. Dalam bangsa manusia itu ada golongan yang sempurna dinamakan manusia yang sempurna. Dalam golongan manusia yang sempurna itu ada kumpulan yang menjadi Nabi dan Rasul. Bangsa manusia secara keseluruhannya dikuasai oleh Hakikat Insan. Golongan manusia yang sempurna itu pula dikuasai oleh Hakikat Insan Kamil. Dalam golongan manusia yang sempurna itu, yang menjadi nabi dan rasul dikuasai pula oleh Hakikat Muhammad. Hakikat-hakikat, termasuklah Insan Kamil, bukanlah makhluk yang ada dalam alam. Hakikat adalah urusan Tuhan. Insan Kamil adalah urusan Tuhan yang menguasai satu kumpulan manusia yang sempurna kehambaannya kepada Allah s.w.t. Insan Kamil yang asli, yang ada pada sisi Tuhan tidak berupa, tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak menempati ruang dan zaman dan juga tidak bernama. Manusia-manusia sempurna yang muncul di atas muka bumi bolehlah dikatakan salinan lengkap kepada Insan Kamil yang asli. Manusia yang paling sempurna, menjadi salinan Insan Kamil yang paling sempurna menerima penguasaan sepenuhnya daripada Hakikat Muhammad dan beliau adalah Nabi Muhammad s.a.w. Manusia-manusia sempurna yang lain, walaupun sempurna tetapi kesempurnaan mereka tidak mencapai tahap kesempurnaan Nabi Muhammad s.a.w. Mereka tidak menerima penguasaan Hakikat Muhammad secara lengkap, selengkap Nabi Muhammad s.a.w. Oleh itu hanya Nabi Muhammad ! s.a.w saja yang bernama Muhammad, yang lain bernama Ibrahim, Musa, Isa, Nuh dan lain-lain. Manusia sempurna yang lain tidak mengaku diri mereka sebagai Muhammad walaupun mereka juga menerima maklumat daripada Hakikat Muhammad. Sejak Nabi Adam a.s sampailah kepada Nabi Isa a.s tidak ada seorang Nabi pun yang mengaku menjadi Muhammad. Kumpulan manusia yang sah kesempurnaan mereka tidak mengaku menjadi Muhammad atau bersekutu dengan Muhammad. Jika ada orang yang mengaku menjadi Muhammad atau bersekutu dengan Muhammad, baik secara zahir atau secara batin, maka nyatalah mereka telah keliru dalam memahami hakikat. Salinan Insan Kamil yang paling sempurna dalam kumpulan Nabi-nabi adalah Nabi Muhammad s.a.w, penutup Kenabian. Salinan Insan Kamil yang sempurna dalam kumpulan wali-wali adalah Muhammad Imam Mahadi, penutup kewalian. Muhammad Imam Mahadi tinggal di dalam dunia dan menjalankan tugas yang diamanahkan kepadanya oleh Allah s.w.t. Bila tugas tersebut selesai beliau kembali ke rahmatullah. Pada ketika itu salinan Insan Kamil tidak akan muncul lagi ke dunia. Bila salinan Insan Kamil tidak ada lagi di dalam dunia maka tertutuplah ilmu ketuhanan. Tidak ada lagi manusia yang mengenal Allah s.w.t. Pada ketika itu berlakulah kiamat besar. Ada beberapa perkara lagi perlu diketahui berhubung dengan daerah Insan Kamil yang selalu diperkatakan apabila bercakap mengenainya. Insan Kamil dikatakan bersemayam di dalam Kaabatullah. Kaabatullah selalu disebut dalam memperkatakan tentang hakikat. Ada orang mengatakan dia bersembahyang menghadap Kaabatullah. Ada pula yang mengatakan dia bersembahyang di dalam Kaabatullah. Yang lain pula mengatakan dia sembahyang dengan ketiadaan Kaabatullah. Ada juga orang mengatakan dia menemui Rasulullah s.a.w di dalam Kaabatullah. Berbagai-bagai lagi keadaan Kaabatullah yang diceritakan orang dalam menggambarkan suasana hakikat. Kaabatullah yang dikatakan seperti cerita di atas merupakan suasana simbolik bagi menggambarkan keadaan hubungan hati dengan Allah s.w.t. Umat Islam bersembahyang menghadap Kaabatullah bukan bermakna mereka menyembah Kaabatullah dan bukan juga Allah s.w.t berada dalam Kaabatullah. Allah s.w.t memilih Kaabatullah sebagai tempat yang boleh dirasakan kehadiran-Nya dengan kuat. Jadi, Kaabatullah dihubungkan dengan Hadrat Ilahi. Berhadap ke Kaabatullah bermakna menghadap kepada Hadrat-Nya. Di dalam suasana hakikat, Kaabatullah menjadi misal bagi suasana ketuhanan. Bila dikatakan Insan Kami bersemayam di dalam Kaabatullah ia bermaksud Insan Kamil adalah suasana ketuhanan, berada dalam Ilmu Tuhan. Orang yang bersembahyang di dalam kesedaran melihat Kaabatullah berada di hadapannya. Orang yang di dalam zauk merasakan berada di dalam Kaabatullah. Orang yang baqa dengan Allah s.w.t tidak melihat kepada Kaabatullah. Orang yang ‘memasuki’ Ilmu Allah, mengenali suasana Hakikat Muhammad dan mengambil ilmu daripada sumber tersebut, menggambarkannya sebagai berjumpa dengan Rasulullah s.a.w di dalam Kaabatullah dan menerima pengajaran daripada baginda s.a.w. Pengalaman-pengalaman yang disebut di atas merupakan pengalaman dalam ‘misal kepada hakikat’. Penyaksian terhadap rupa, bentuk, cahaya dan warna adalah penyaksian kepada misal bagi hakikat-hakikat. Apa yang disaksikan itu menjadi cermin yang membalikkan kefahaman tentang hakikat yang tidak boleh disaksikan. Rasulullah s.a.w melihat pada malam Israk dan Mikraj, bentuk misal kesenangan dan kemewahan dunia sebagai perempuan cantik dan umur dunia yang sudah lanjut sebagai perempuan tua. Kedua-duanya menceritakan tentang hakikat dunia tetapi berlainan rupa bagi menceritakan maksud yang berbeda. Hakikat boleh diibaratkan sebagai cahaya dan cermin sebagai Alam Misal. Jika benda nyata diletakkan di hadapan cermin dan cahaya dipancarkan kepadanya, akan kelihatanlah gambaran benda nyata itu di dalam cermin. Gambaran yang kelihatan di dalam cermin itu menyatakan bahawa pada benda nyata itu ada pancaran cahaya. Cahaya disaksikan dalam bentuk benda-benda nyata. Bentuk benda-benda nyata itu menjadi misal kepada cahaya, menceritakan bahawa di sana ada kehadiran cahaya. Tetapi benda nyata dan gambaran benda nyata yang kelihatan atau bentuk misal itu bukanlah cahaya. Cahaya tetap dalam keadaan aslinya yang tidak ada rupa dan warna. Ada orang yang tidak membedakan bentuk misal dengan cahaya yang asli. Orang yang tidak membedakan bentuk misal dengan hakikat kepada yang dimisalkan itu memahamkan hakikat ketuhanan mempunyai wajah-wajah tertentu. Hakikat Insan Kamil adalah umpama cahaya yang hening. Hati insan umpama cermin yang jernih. Orang yang memandang ke dalam cermin hatinya bersuluhkan cahaya Hakikat Insan Kamil akan menyaksikan wajahnya sendiri di dalam cermin itu, lalu dia menyangkakan bahawa itulah wajah Insan Kamil yang asli, dan itu jugalah wajah Tuhan yang tidak dibedakan dengan Insan Kamil. Jika orang Hindu menyembah tuhan dalam rupa monyet orang tadi menyembah Tuhan dalam rupa dirinya sendiri. Lama-lama orang Hindu menyembah monyet, tidak lagi menyembah Tuhan. Lama-lama orang tadi menyembah dirinya, tidak lagi menyembah Tuhan. Inilah yang selalu terjadi kepada orang yang berjalan kepada hakikat tanpa membawa syariat. Orang yang berjalan pada jalan kerohanian perlu melepasi bentuk-bentuk misal. Lepaskan apa juga yang sampai kepada penyaksian. Nafikan dengan kalimah “La ilaha illa Llah�?. Orang yang berjaya melepasi bentuk-bentuk misal tersebut akan sampai kepada Penyaksian Hakiki, yaitu menyaksikan tanpa rupa, bentuk, cahaya, warna dan wajah. Pada Penyaksian Hakiki juga tidak ada suara, tidak ada huruf. Penyaksian berlaku kepada mata keyakinan. Si hamba yang menyaksikan dengan mata keyakinan mengucapkan: “Sesungguhnya hatiku tidak berasa syak lagi bahawa Engkau yang daku pandang tanpa rupa, tanpa bentuk, tanpa cahaya, tanpa warna, tanpa suara dan tanpa huruf�?. Itulah keadaan memandang dengan tiada sesuatu yang dipandang, tahu tanpa sesuatu pengetahuan dan kenal tanpa sesuatu pengenalan. Penyaksian akal dinamakan ilmul yaqin. Penyaksian mata hati dinamakan ainul yaqin. Penyaksian mata keyakinan dinamakan haqqul yaqin. Haqqul yaqin meru! ntuhkan segala pengetahuan dan penyaksian kerana sesungguhnya Tuhan adalah: Tiada sesuatu yang serupa dengan-Nya Keyakinan terhadap Allah s.w.t adalah: Dan Dia Mendengar dan Melihat Jika seseorang mau cepat sampai ke matlamat hendaklah bersegera melepaskan bentuk-bentuk misal yang sampai kepada penyaksiannya. Berpindahlah kepada Penyaksian Hakiki. Tanda seseorang sudah memiliki Penyaksian Hakiki adalah dia dapat melihat hakikat ketuhanan pada dua perkara yang bertentangan dengan sekali pandang. Nama, rupa, bentuk, cahaya dan warna tidak menghijab pandangannya untuk menyaksikan hakikat atau Rububiah. Makrifat tentang nama-nama Tuhan penting bagi memperolehi Penyaksian Hakiki. Jika Yang Menghidupkan tidak menghijab Yang Mematikan, Yang Menaikkan tidak menghijab Yang Menjatuhkan, Yang Memberi tidak menghijab Yang Menahan, Yang Awal tidak menghijab Yang Akhir, Yang Zahir tidak menghijab Yang Batin, maka yang disaksikan pada setiap masa dan dalam semua suasana adalah Yang Maha Esa. Apabila mata ilmu dan mata hati tidak menutup mata keyakinan maka yang disaksikan adalah Yang Haq! Tidak semua orang yang memasuki daerah Hakikat Insan Kamil akan terdorong kepada suasana bersatu dengan Tuhan. Si hamba yang telah mengalami suasana kehadiran kenabian dan mengalami pula suasana keesaan Tuhan akan sentiasa dibayangi oleh rasa kehambaan kepada Tuhan. Pertembungan dengan Hakikat Insan Kamil tidak menyebabkan berlakunya perlarutan. Suasana Hakikat Insan Kamil dialaminya sebagaimana mengalami suasana Hadrat kenabian dan Hadrat ketuhanan. Si hamba tidak mengalami suasana menjadi Insan Kamil atau menjadi Tuhan atau bersatu dengan Tuhan. Insan Kamil merupakan salah satu Hadrat yang dialaminya dan melalui pengalaman tersebut dia mengerti maksud Insan Kamil. Orang yang berjalan pada jalan kehambaan akan menetap sebagai hamba, tidak berubah menjadi Adam atau Muhammad atau Insan Kamil atau Tuhan. Sepanjang perjalanan dia berada dalam suasana dia yang menyaksikan dan melalui penyaksian tersebut dia memperolehi pengetahuan dan pengenalan (ilmu dan makrifat) tanpa melepaskan pandangan kepada “Allah Yang Maha Esa�? dan “Tiada sesuatu serupa dengan-Nya�?. Melalui jalan kehambaan kehadiran kenabian, kehadiran Hakikat-hakikat Insan, Muhammad dan Insan Kamil dan juga kehadiran Tuhan berperanan sebagai Pembimbing. ‘Pertemuan’ dengan Hadrat-Hadrat tersebut memperkuatkan Petunjuk Ghaib dalam dirinya. Juru-bicara dalam dirinya sentiasa memberi peringatan. Dia diperingatkan agar berjalan terus, jangan berhenti walaupun dijanjikan syurga atau dihalang oleh neraka, walaupun dibukakan suasana Hakikat-hakikat. Semua itu untuk diketahui dan untuk dikenal, bukan tempat untuk bermakam. Dalam suasana Hakikat Insan Kamil, seseorang biasa berjumpa dengan hakikat maut yaitu mengalami suasana Izrail. Boleh juga dikatakan jika seseorang itu tidak mengalami suasana Izrail dia tidak memasuki daerah Insan Kamil dengan sepenuhnya. Dia mungkin berjalan di bawah bayangan daerah itu sahaja. Manusia biasa naik ke langit melalui jalan biasa yang dilalui oleh semua orang, yaitu jalan mati. Orang yang memasuki daerah Hakikat Insan Kamil juga mengalami kematian, tetapi bukan kematian tubuh badan. Kematian yang berlaku di sana adalah kematian secara kebatinan, yaitu merasai kehadiran Maut. Dia mungkin merasai suasana kematian beberapa kali pada alam kebatinannya. Pengalaman yang demikian membuka penutup pada hati. si hamba telah menghadapkan dirinya kepada maut. Pada ketika itu dia menuju kepada pengecilan kesedaran terhadap diri sendiri. Ia menjadi lonjakan untuk mencapai stesen yang berikutnya. Tetapi pengalaman tersebut tidak banyak memberi pengertian kepada dirinya. Dalam daerah Hakikat Insan Kamil pula si hamba sedang menuju ke arah pembesaran kesedaran terhadap diri sendiri. Oleh itu setiap pengalaman menarik perhatiannya. kehadiran Maut pada daerah Insan Kamil memperjelaskan pengalaman . Dalam daerah! Insan Kamil ini si hamba merasakan sangat hampir dengan Maut. Biasa terjadi pada peringkat ini dia mendapat firasat mengenai kematian orang-orang tertentu dan kemudiannya ternyata firasat tersebut adalah benar. Keadaan ini bersifat sementara saja. Apabila dia meninggalkan daerah Insan Kamil dia keluar juga daripada Hadrat Maut itu dan firasat tentang kematian tidak ada lagi. Apabila Hadrat Maut dan Hadrat Insan Kamil bertemu pada satu daerah, pada satu hati, suasana kehambaan akan menetap dan terhindarlah suasana ketuhanan. Hadrat Maut memperlihatkan kedaifan, kehinaan dan kejahilan si hamba. Hadrat Insan Kamil memperlihatkan kekuasaan, kemuliaan dan kebijaksanaan Tuhan. Orang yang benar-benar menyaksikan keagungan Tuhan adalah orang yang sedang menghadapi sakratul maut. Keadaan ini samalah seperti keadaan orang yang menerima uang satu juta dan pada masa yang sama dia mengetahui bahwa dia menghidapi penyakit kanser yang akan membawanya kepada maut. Begitulah umpamanya keadaan hati yang merasai Hadrat Maut dan Hadrat Insan Kamil pada satu masa. Dia diperlihatkan kekerdilan dirinya sebagai hamba Tuhan dan keagungan Allah s.w.t sebagai Tuhan. Bertambah kuatlah rasa kehambaan pada dirinya. Jadi, Hadrat Insan Kamil yang menyebabkan sebahagian orang mengalami suasana bersatu dengan Tuhan boleh ju! ga menambahkan rasa kehambaan. Si hamba yang bertambah rasa kekerdilan diri dan kehambaannya kepada Tuhan bermunajat kepada Tuhan dengan penuh tawaduk
ISLAM
لﻮﺳر اﺪﻤﺤﻣ نأ ﺪﻬﺷأ و ﻪﻠﻟا ﻻا ﻪﻟا ﻻ نأ ﺪﻬﺷأ ﻪﻠﻟا PENGERTIAN Islam : Islam itu mengandung 4 Huruf Jadi bila dirangkaikan Islam itu berbunyi : Allahu Salamun Laa Ilaaha Illallah Muhammadarrasulullah …. Firman Allah : ……….. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Q.S. Ali ‘Imran : 19) [189] maksudnya ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[394], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[395], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[396], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini[397] orang-orang kafir Telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Maidah : 3) [394] ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145. [395] maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati.[396] Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, Jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.[397] yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada', haji terakhir yang dilakukan oleh nabi Muhammad s.a.w. [398] Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat Ini jika terpaksa. Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Q.S. Ali-Imran : 85) Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Q.S. Ali-Imran : 102)
Kamis, 23 Mei 2013
Kita harus menerima Islam
Mengapa kita harus menerima Islam? لﻮﺳر اﺪﻤﺤﻣ نأ ﺪﻬﺷأ و ﻪﻠﻟا ﻻا ﻪﻟا ﻻ نأ ﺪﻬﺷأ ﻪﻠﻟا Redaksi kata “i-s-lâ-m” derivatnya dari bab if’âl dan berasal dari kata dasar sa-lâ-m yang bermakna sehat, afiat, bersih dari segala aib, cela dan cacat. Ketika kata dasar sa-lâ-m ini dibawa ke dalam bab if’âl maka ia memiliki makna-makna seperti, inqiyâd (patuh), ithâ’at (taat), imtitsâl (menunaikan) perintah dan (menjauhi) larangan tanpa adanya protes. Agama Islam merupakan agama paling inklusif dan komprehensif di antara agama-agama Ilahi. Agama ini diturunkan oleh Allah Swt sebagai petunjuk kepada manusia supaya manusia mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan abadi. Apa yang membuat mengapa kita harus menerima Islam disebabkan oleh beberapa dalil sebagaimana berikut ini: Pertama: Keharusan mengikuti dan memilih agama hak Disebutkan bahwa senantiasa hanya terdapat satu agama hak pada setiap masa dan setiap orang harus mengenal agama hak tersebut dengan baik kemudian mengikutinya Dari sudut pandang al-Qur’an agama yang valid adalah agama Islam dan setiap manusia harus memilih agama tersebut. Al-Qur’an menyatakan, “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imran [3]:85) Ustad Muthahhari, sembari menegaskan masalah ini, menulis demikian, “...bahwa senantiasa hanya terdapat satu agama hak pada setiap masa dan setiap orang harus mengenal agama hak tersebut dengan baik kemudian mengikutinya. Pemikiran yang berkembang belakangan ini di kalangan cendikiawan yang menyatakan, seluruh agama samawi dari sudut pandang standar adalah sama (sejajar kebenarannya) pada setiap masa merupakan pemikiran yang tidak benar. Namun ketika dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan dan perdebatan di antara para nabi Allah maka perkataan ini merupakan perkataan benar. Hanya saja perkataan ini tidak bermakna bahwa pada setiap masa terdapat beberapa agama hak dan tentu saja manusia boleh menerima dan memilih agama apa pun pada setiap masa. Sebaliknya, makna yang benar dari pernyataan ini adalah bahwa manusia harus menerima seluruh nabi dan mengetahui bahwa para nabi sebelumnya (sâbiq) adalah pemberi berita gembira bagi para nabi setelahnya (lâhiq) khususnya nabi pamungkas dan paling utama serta nabi-nabi setelahnya adalah pembenar bagi nabi-nabi sebelumnya. Oleh itu, keniscayaan iman kepada seluruh nabi adalah bahwa pada setiap masa kita harus menerima dan memilh syariat nabi pada masa tersebut. Dan tentu saja pada masa akhir, kita harus melaksanakan instruksi-instruksi terakhir dari sisi Allah Swt yang diturunkan melalui nabi pamungkas dan demikianlah keniscayaan islam yaitu pasrah kepada Allah Swt dan menerima risalah-risalah para rasulnya. Benar bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, “la ikraha fiddin” Namun hal ini tidak bermakna bahwa terdapat beberapa dan sejumlah agama Allah Swt pada setiap masa dan kita memiliki hak untuk memilih salah satu darinya. Tidak demikian. Pada setiap masa (hanya) terdapat satu agama hak, titik. Setiap masa terdapat seorang nabi pemilik syariat datang dari sisi Allah Swt dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memanfaatkan petunjuk-petunjuk dan panduan-panduan darinya. Mereka harus mempelajari aturan-aturan dan hukum-hukumnya baik pada ibadah atau selain ibadah dari nabi tersebut hingga tiba gilirannya Nabi Muhammad Saw sebagai nabi pamungkas Ilahi. Pada masa ini apabila seseorang ingin menemukan jalan menuju Allah Swt maka ia harus mencari bimbingan terkait dengan instruksi-instruksi agamanya. Al-Qur’an menyatakan, “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imran [3]:85) Sekiranya orang-orang berkata bahwa yang dimaksud dengan Islam tidaklah terkhusus pada agama kita, melainkan tunduk pasrah kepada Allah Swt maka jawabannya adalah bahwa tentu saja makna islâm adalah taslim (tunduk) dan agama Islam adalah agama yang tunduk (taslim) namun hakikat taslim memiliki bentuk pada setiap masa dan pada masa ini bentuknya adalah agama mulia yang dibawa oleh Nabi Pamungkas Muhammad Saw. Tentu saja kata islam dapat diselarasan dengan agama yang dibawa oleh Kanjeng Rasulullah Saw, titik. Dengan kata lain, keniscayaan tunduk (taslim) di hadapan Allah Swt adalah menerima segala instruksi-Nya dan jelas bahwa manusia harus mengamalkan instruksi terakhir dan instruksi terakhir Allah Swt adalah apa yang dibawa oleh rasul pamungkas-Nya.” Kedua: Tidak Mencukupinya Agama-agama di Dunia selain Islam Dalil-dalil Ketidakcukupan Agama-agama Lain Yang Terdapat di dunia hari ini: Sebelum mengetengahkan dalil tentang ketidakbenaran agama-agama lain di dunia kami merasa perlu menyebutkan dua poin sebagai berikut: Poin pertama, yang kami maksud bukanlah bahwa seluruh yang terdapat pada agama-agama yang ada itu adalah batil dan tidak secuil pun kebenaran yang dapat dijumpai pada agama-agama tersebut. Tidak demikian. Yang kami maksud adalah bahwa seluruh agama yang ada di dunia dewasa ini memiliki persoalan-persoalan yang tidak dapat diterima dan agama seperti ini tidak dapat menjadi penjelas wajah sempurna hakikat. Poin kedua, dalam kajian ringkas ini kita akan menyinggung sebagian ketidakbenaran dua agama penting di dunia hari ini yaitu agama Kristen dan Yahudi. Nilai dan konsideran agama-agama lainnya yang nota-bene berada setingkat di bawah dari dua agama ini dari sisi penerimaan dan konsiderannya juga akan menjadi jelas. Dalil-dalil yang menetapkan bahwa agama Kristen tidak dapat menampilkan wajah sempurna hakikat adalah sebagai berikut:
1. Riwayat Injil bukanlah riwayat mutawatir dan tidak memiliki sandaran definitif Nabi Isa As berasal dari Bani Israel dan bahasa ibunya adalah bahasa Ibrani. Ia mengklaim dirinya sebagai nabi di Baitul Muqaddas dan masyarakatnya adalah masyarakat Yahudi yang berbahasa Ibrani dan tidak beriman kepadanya. Kecuali beberapa gelintir yang kita tidak tahu tentangnya. Adapun sebagian warga Baitul Muqaddas yang mampu berbahasa Yunani dan tersebar di kota-kota Asia Minor menyeru masyarakat untuk memeluk agama yang dibawa oleh Nabi Isa As. Mereka menulis banyak kitab dalam bahasa Yunani. Dalam kitab tersebut terdapat beberapa hal yang ditujukan kepada masyarakat Yunani dan Romawi: Isa berkata demikian dan berbuat demikian. Mereka yang melihat Nabi Isa dan menjadi saksi atas segala ucapan dan perbuatannya serta memahami bahasanya adalah mereka yang menetap di Palestina. Mereka adalah orang-orang yang tidak menerima kenabian Nabi Isa dan memandang bahwa kisah-kisah yang ditulis dalam bahasa Yunani tersebut adalah rekaan. Adapun mereka yang menerima kitab (Injil) dan kisah-kisah di dalamnya adalah orang-orang yang jauh yang tidak melihat kota Baitul Muqaddas. Mereka tidak melihat Nabi Isa juga tidak mendengar sabda-sabdanya. Apabila kisah-kisah yang ditulis dalam Injil, sekiranya itu adalah dusta, tiada yang menghalangi penulisnya untuk menuliskan pelbagai dusta di dalamnya, dan pendengar juga tidak dapat mendustainya (lantaran ketidaktahuan mereka). Misalnya dalam Injil Matius, tatkala Nabi Isa lahir, datang beberapa orang Majusi dari Timur dan bertanya bahwa dimana gerangan pangeran Yahudi yang baru lahir itu? Orang Majusi tersebut mengatakan bahwa kami melihat bintangnya di belahan Timur. Mereka tidak menunjukkannya, tiba-tiba mereka menyaksikan bintang bergerak di langit hingga di atas kediaman Nabi Isa As dan berhenti di atas rumah tersebut. Akhirnya orang-orang Majusi itu tahu bahwa Nabi Isa di rumah itu. Kisah seperti ini tentu saja kisah buatan yang ditulis dalam Injil dan sama sekali tidak mengandung kebenaran, lantaran tidak ditulis dalam bahasa Ibrani bagi orang-orang yang tinggal di Baitul Muqaddas, melainkan ditulis oleh orang-orang asing. Dan tentu saja orang-orang asing dapat menulis apa pun yang mereka hendaki. Kita meyakini bahwa tiada seorang astronom pun yang berpandangan bahwa apabila ada seorang lahir maka akan terlihat sebuah bintang yang bergerak di atasnya. Hal ini tidak saja tidak diyakini oleh orang Majusi saja tapi juga selain Majusi. Kita mengatakan bahwa orang-orang terdahulu Kristen berbeda pendapat terkait masalah terbunuhnya Nabi Isa As. Pada sebagian Injil disebutkan bahwa Nabi Isa tidak terbunuh, lantaran apabila ada seseorang terbunuh di sebuah kota maka seluruh warga kota akan mengetahuinya. Khususnya apabila ia disalib. Namun lantaran penulis Injil ditulis untuk orang asing, ditulis dengan bahasa asing dan orang-orang asing ini tidak berada di Baitul Muqaddas sehingga mereka dapat mengetahui hakikat terbunuhnya atau tidak terbunuhnya Nabi Isa. Para penulis Injil dengan kebebasan sepenuhnya menulis apa yang menurut mereka pantas dan dalam hal ini mereka tidak takut sama siapa pun. Tiga ratus tahun setelah wafatnya Isa, sebuah pertemuan diadakan dan para pendeta bermusyawarah tentang bagaimana segala perbedaan dalam hal ini diselesaikan. Mereka berpendapat bahwa di antara beberapa Injil yang ada dipilih empat Injil dan memandang hal-hal yang terkandung di dalamnya sebagai benar dan selebihnya, yang tidak terbilang, dipandang salah dan terbunuhnya Nabi Isa dipandang tertolak dalam injil-injil yang lain dan tidak resmi.
2. Banyaknya kontradiksi dan distorsi dalam Alkitab pada agama Kristen dewasa ini Untuk telaah lebih jauh kami persilahkan Anda untuk merujuk pada kitab "Rah-e Sa'adat" karya Allamah Sya'rani dan "Izhar al-Haq," karya Fadhil Hindi, serta "Qur'an wa Kitab-haye Asamani Digar," karya Syahid Hasyimi Nejad. Ketiga: Tidak harmoninya ajaran-ajaran Kristen dengan dasar-dasar logika dan rasionalitas Misalnya iman Kristian terhadap tuhan anak yang memanifestasi dalam bentuk manusia, mengambil seluruh dosa anak manusia dan menebus seluruh dosa dengan menahan derita salib. Dalam Injil Yohanes disebutkan bahwa: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah menganuriakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia." [5] Terkait dengan agama Yahudi juga berhadapan dengan masalah yang sama. Lantaran, pertama, Taurat memiliki tiga naskah:
1. Naskah pertama adalah naskah Ibrani yang diterima oleh penganut Yahudi dan pendeta-pendeta Protestan.
2. Naskah Samiri yang diterima oleh penganut Samiri (suku lainnya dari Bani Israel).
3. Naskah Yunani yang diterima oleh pendeta-pendeta Kristen non-Protestan. Naskah Taurat yang diterima oleh penganut Samiri terdiri dari lima kitab Musa, kitab Yosua dan Hakim-hakim, kitab lainnya dari Perjanjian Lama tidak diterima.
[6] Durasi waktu dan jarak antara penciptaan Adam hingga topan Nabi Nuh pada naskah pertama adalah 1656 tahun lamanya. Dan pada naskah kedua 1307 sementara pada naskah ketiga 1362 tahun. Karena itu dari tiga naskah ini tidak dapat dipandang benar seluruhnya, melainkan salah satunya yang harus diterima dan tidak diketahui naskah yang mana.
[7] Kedua, dalam Taurat juga terdapat hal-hal yang tidak dapat diterima oleh akal sehat manusia. Misalnya dalam Taurat, Tuhan diperkenalkan dalam bentuk manusia yang berjalan, berkidung, pendusta dan penipu. Karena Tuhan berkata kepada Adam bahwa apabila ia memakan pohon kebaikan dan keburukan maka ia akan mati. Akan tetapi Adam dan Hawa memakan buah pohon tersebut dan tidak hanya mati melainkan keduanya juga mengenal kebaikan dan keburukan.
[8] Atau kisah bergulatnya Tuhan dengan Nabi Ya'qub sebagaimana yang disebutkan dalam Taurat.
[9] Keempat: Dalil-dalil kebenaran dan keunggulan Islam 1. Hidup dan abadinya mukjizat agama Islam; lantaran mukjizat utama agama ini adalah "Al-Qur'an" yang berbentuk kitab, logika dan pengetahuan – berbeda dengan mukjizat nabi-nabi sebelumnya yang berbentuk empirik dan dapat dilihat – atas alasan ini mukjizat agama Islam senantiasa hidup dan bersandar pada dirinya sendiri serta tidak bergantung kepada hadirnya dan hidupnya Nabi Saw. Atas dasar inilah mukjizat agama Islam senantiasa abadi dan lestari. Di samping itu, al-Qur'an dengan melontarkan tantangan kepada seluruh manusia menyampaikan pesan kehidupan dan keabadiannya: "Dan jika kamu (tetap) meragukan Al-Qur'an yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah (paling tidak) satu surah saja yang semisal dengan Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah (untuk melakukan hal itu), jika kamu orang-orang yang benar. " (Qs. Al-Baqarah [2]:23) 2. Tidak terdistorsinya al-Qur'an: Artinya tiada perubahan dan pergantian yang terjadi di dalam al-Qur'an. Karena di samping janji Ilahi bahwa Dia yang akan menjaga al-Qur'an, "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (Qs. Al-Hijr [15]:9), pribadi Rasulullah Saw memiliki perhatian khusus untuk memelihara secara seksama al-Qur'an. Pertama: Rasulullah Saw memerintahkan kepada sebagian orang yang dikenal sebagai penulis wahyu untuk menulis ayat-ayat dan surah-surah al-Qur'an. Kedua, memotivasi banyak sahabat untuk menghafal al-Qur'an. Karena itu, banyak orang yang dikenal sebagai penghafal al-Qur'an pada masa Rasulullah Saw. Ketiga, memotivasi orang-orang untuk membaca al-Qur'an: Artinya apa yang harus dibaca secara tepat khususnya lafaz dan tajwidnya, bukan sekedar menelaah dan memahaminya saja. [10] Faktor-faktor ini telah menjadi sebab sehingga al-Qur'an terjaga dari penyimpangan dan distorsi. 3. Jalan ketiga untuk menetapkan kebenaran Islam adalah perhatian terhadap masalah kepamungkasan (khatamiyat) Nabi Saw. Lantaran nash (ayat dan riwayat) dalam Islam menegaskan bahwa Muhammad Saw merupakan nabi terakhir dan tiada lagi nabi yang akan diutus kepada manusia selepasnya. Pada seluruh masyarakat manusia aturan praktis terakhir seorang manager dan komandan yang akan menjadi standar dan teraju. Aturan ini bersifat mesti dan harus dikerjakan. Dengan adanya aturan praktis terkini (yang datang belakangan) maka aturan-aturan praktis sebelumnya secara otomatis akan berakhir masa pakainya. Pada teks-teks agama-agama sebelumnya tidak disebutkan bahwa nabi-nabi mereka merupakan nabi terakhir, melainkan memberikan berita gembira kepada para pengikutnya tentang kemunculan nabi Islam; [11] artinya teks-teks tersebut menjelaskan ihwal temporalnya ajaran mereka. 4. Poin keempat yang harus menjadi fokus perhatian adalah masalah universalitas dan inklusivisme Islam dimana Islam memiliki ajaran-ajaran pada seluruh dimensi beragam kehidupan, mental, sosial dan personal, material dan spiritual kehidupan manusia. Untuk mengenal lebih baik inklusivisme dan keunggulan ajaran-ajaran agama Islam maka perbandingan dan komparasi harus dilakukan antara kandungan teks agama Islam dan kandungan teks agama-agama lainnya. Dengan demikian, keunggulan dan inklusivisme ajaran-ajaran Islam pada masalah-masalah keyakinan, tauhid dan sifat Allah Swt, etika personal dan sosial, hukum, perekonomian, politik dan pemerintahan akan menjadi jelas. 5. Poin kelima, di antara agama yang ada di dunia sekarang, satu-satunya agama yang memiliki sejarah hidup dan standar adalah agama Islam dimana para sejarawan bahkan sejarah Islam merekam dengan baik dan rinci hal-hal yang terkait dengan masa kecil Nabi Saw. Sementara agama-agama lainnya tidak memiliki bukti sejarah yang standar. Atas dasar ini, sebagian pemikir Barat meragukan bahkan sosok pribadi Nabi Isa As sedemikian sehingga apabila al-Qur'an kaum Muslimin tidak menyebutkan nama Nabi Isa dan nabi-nabi lainnya, maka boleh jadi agama Kristen dan Yahudi tidak akan dikenal luas dan resmi oleh manusia dewasa ini. [12] [1] . Al-Nukat wa al-‘Uyun (Tafsir Mawardi), jil. 1, hal. 379-380. [2] . Majmu’e Âtsâr, jil. 1, hal. 277. [3] . Abul Hasan Sya'rani, Râh-e Sa'âdat, hal. 187-188, 197-221. [4] . Ibid. [5] . Injil Yohanes 3:16-17 [6] . Râh-e Sa'adat, 206-207. [7] . Taurat, Kejadian, bab 2 dan 3. [8] . Ibid. [9] . Râh-e Sa'âdat, hal. 22, 24, 25, 215. [10] . Shahih BUkhari, jil. 4, hal. 250. [11] . Râh-e Sa'âdat, hal. 226-241; Injil Yohanes 21:14. [12] . Majmu'e Atsar, jil. 16, hal. 44.
Senin, 20 Mei 2013
Kebebasan Berakidah
Kebebasan Berakidah لﻮﺳر اﺪﻤﺤﻣ نأ ﺪﻬﺷأ و ﻪﻠﻟا ﻻا ﻪﻟا ﻻ نأ ﺪﻬﺷأ ﻪﻠﻟا Mengapa dalam agama Islam , orang murtad harus dihukum mati? Apakah hal ini tidak bertentangan dengan kebebasan berakidah? Guna pembahasan ini menjadi jelas, kiranya beberapa poin berikut ini perlu mendapat perhatian: Pertama: Siapakah yang disebut murtad? Murtad adalah seseorang yang keluar dari Islam dan ia memilih kekafiran. [1] Keluar dari Islam itu terjadi karena mengingkari asas agama atau salah satu dari asas agama (tauhid, kenabian dan hari kebangkitan). Kemurtadan juga bisa terjadi karena mengingkari salah satu perkara yang telah gambelang dalam Islam ( dharuriyyatu ad-din ) dan seluruh kaum muslimin sepakat meyakini bahwa hal itu merupakan bagian dari Islam, sehingga mengingkarinya sama dengan mengingkari risalah dan kenabian. [2] Kemurtadan terdiri atas dua bagian: 1. Murtad fitri , yaitu seseorang yang ayah atau ibunya ketika melepaskan nuthfah nya (sperma) beragama Islam. Dan orang itu sendiri sebelum mencapai baligh menampakkan keislamannya, kemudian setelah itu ia keluar dari agama Islam. [3] 2. Murtad milli , yaitu seseorang yang ayah dan ibunya itu kafir ketika melepaskan spermanya, dan orang itu sendiri sebelum mencapai usia baligh telah menjadi kafir kemudian masuk Islam, lantas menjadi kafir kembali. [4] Kedua: Hukum murtad dalam berbagai agama dan Islam. Dalam fikih Syi’ah, murtad memiliki hubungan dengan sebagian hukum-hukum sipil dalam bab warisan ( irts ) dan pernikahan (nikah ). Dan masalah ini tidak termasuk dalam pembahasan. Sanksi hukum yang akan dijatuhkan terhadap seorang murtad fitri ialah -apabila orang itu laki-laki- dihukum mati, dan taubatnya tidak akan diterima di hadapan hakim. Adapun seorang murtad milli laki-laki adalah, pertama kali ia dianjurkan untuk bertaubat. Apabila ia bertaubat, maka ia akan dibebaskan. Tetapi jika ia menolak untuk bertaubat, maka ia akan dihukum mati. Sementara jika yang murtad itu adalah wanita, baik ia kafir fitri ataupun milli, ia tidak akan dikenakan hukuman mati. Melainkan ia disuruh bertaubat.Abila ia bertaubat, maka ia akan dibebaskan. Tetapi jika tidak, maka ia akan dipenjara. [5] Di dalam fikih Ahlusunnah, menurut pandangan yang masyhur, orang murtad –apapun bentuknya- pertama kali ia dianjurkan untuk bertaubat. Apabila ia bertaubat, maka ia akan dibebaskan. Jika tidak, maka ia akan dihukum mati dan tidak ada perbedaan antara murtad fitri dan murtad milli, baik laki-laki maupun wanita. [6] Murtad dalam agama-agama Ilahi selain Islam merupakan dosa dan kesalahan besar, hukumannya adalah mati. [7] Karenanya, dapat dikatakan bahwa kemurtadan dalam pandangan seluruh agama dan kepercayaan, merupakan sebuah kesalahan dan dosa besar, dan hukumannya (dengan perbedaan dalam kondisi masing-masing) adalah mati. [8] Tiga: Falsafah sanksi orang murtad Agar masalah falsafah hukuman dan sanksi bagi orang murtad ini menjadi lebih jelas, hendaknya poin-poin berikut ini diperhatikan; 1. Hukum Islam dibagi kepada dua bagian, individu dan sosial. Hukum sosial ditetapkan atas dasar kemaslahatan soaial. Dan terkadang, demi menjamin keberlangsungan kemaslahatan ini, sebagian kekebasan individu menjadi terbatas. Ini adalah poin yang tidak bisa ditolak di dalam hampir semua komunitas. 2. Seorang murtad bila ia menggunakan seluruh kemampuannya untuk mengenal kebenaran, maka kemurtadannya tersebut akan diampuni oleh Allah Swt. Dan dalam lingkup hukum individualnya, ia tidak dihukumi berbuat kejahatan. [9] Tetapi jika ia lalai dalam mencari kebenaran, maka ia dianggap telah berbuat kejahatan, dalam lingkup hukum individualnya sekalipun. Ketika seseorang menonjolkan kemurtadannya di tengah-tengah masyarakat, maka sikap dan kelakuannya itu dicatat dalam dimensi hukum sosial, sebagai kejahatan, Sebagai konsekuensinya adalah ia akan mendapatkan sanksi hukum sosial. Sebabnya adalah: Pertama: ia dianggap telah menginjak-injak hak orang lain. Karena ia telah memunculkan keraguan dan syubhat dalam pikiran umum. Sudah jelas, hal itu akan melemahkan spirit beragama dan keimanan masyarakat. Mengingat bahwa hanya orang-orang yang mendalam agamanya (ulama) yang mampu menghadang berkembangnya syubhat tersebut, sementara masyarakat umum tidak memiliki kemampuan untuk itu, maka mereka bertanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan kondisi sehat masyarakat. Kedua: Sesungguhnya di antara hak masyarakat adalah terjaganya spirit beragama dan keimanan mereka. Dan Islam memandang hal itu sebagai kemaslahatan sosial dan syi’ar dalam Islam. Karenanya mereka sangat mengagungkan dan menekankannya [10] dan mencegah lemahnya syi’ar tersebut. [11] Kesimpulannya adalah, boleh jadi kemurtadan dalam pandangan individu tidak dianggap sebagai sebuah kejahatan. Tetapi dalam pandangan hukum sosial merupakan sebuah kejahatan. Ketiga: Dengan memperhatikan bahwa kemurtadan merupakan sebuah kejahatan, maka falsafah hukuman dan sanksi atasnya dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Kelayakan mendapat hukuman Hukuman bagi orang murtad adalah karena ia telah melakukan kerusakan akahlak di tengah-tengah masyarakat. Sanksi tersebut disesuaikan dengan kadar kejahatannya. Semakin besar kadar kerusakannya, maka akan semakin berat pula sanksinya. Sangat jelas bahwa sebuah masyarakat yang lemah spirit beragama dan keimanannya, akan jauh dari kebahagiaan hakiki, meskipun mereka itu maju dari segi teknologi. Oleh karena itu, selain kemurtadan, setiap perbuatan yang melemahkan iman dan keyakinan umum, akan dihukum secara keras, misalnya seperti mencemarkan nama baik Rasulullah Saw dan para Imam maksum As. Sebab ketika kesucian hal ini telah rusak di masyarakat, maka jalan penyelewengan dan kehancuran agama akan terbuka. b. Mencegah meluasnya pemurtadan oleh oknum yang bersangkutan Seseorang yang murtad selama tidak menampakkan kemurtadannya, ia tidak dianggap melanggar hukum sosial. Hukuman berat yang ditetapkan oleh agama Islam terhadap kemurtadan, akan dapat menutup jalan-jalan propaganda. c. Menampakkan pentingannya agama di masyarakat. Setiap hukum perdata dan pidana yang telah ditetapkan, dengan jelas menunjukkan pentingnya agama. Misalnya hukuman berat yang ditetapkan atas kemurtadan, menunjukkan pentingnya menjaga spirit dan keimanan masyarakat. d. Mendorong agar lebih mendalami agama sebelum meyakininya. Hukuman terhadap orang murtad, akan mendorong orang-orang non muslim agar menerima Islam setelah menelaahnya secara lebih mendalam. Hal inipun akan mencegah kelemahan iman. Keempat: Meringankan hukuman akhirat. Dalam pandangan agama, hukuman di dunia ini akan dapat meringankan hukuman akhirat. Allah Swt sangat penyayang untuk menghukum hamba-Nya sebanyak dua kali karena sebuah dosa. Riwayat-riwayat pun mendukung masalah tersebut, yaitu bahwa hukuman di dunia ini akan menyucikan pendosa di akhirat kelak. Bahkan akan memotivasi pelaku kejahatan yang akan dijatuhkan sanksi untuk mengakui kesalahannya. Catatan: Walaupun hukuman dunia itu –paling tidak-akan dapat meringankan hukuman akhirat, tetapi Allah Swt juga memberikan jalan lain untuk menyucikan diri seorang pendosa di akhirat. Jalan itu adalah taubat secara ikhlas. Apabila pelaku dosa itu bertaubat secara ikhlas, maka meskipun ia tidak dijatuhkan sanksi syar’i di dunia ini, dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah Swt. Kelima: Berhati-hati dalam menetapkan undang-undang. Barangkali falsafah diberlakukannya hukuman terhadap orang yang murtad sebagaimana dijelaskan di atas, demikian juga mengenai tipu daya Ahli Kitab sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran, [12] tidak semuanya tepat untuk diterapkan kepada orang murtad. Yakni, bisa jadi seorang murtad itu tidak bermaksud melakukan tipu daya dan kejahatan terhadap keimanan masyarakat umum. Atau bias jadi, kemurtadannya itu tidak memberikan efek negatif terhadap keimanan masyarakat. Walaupun demikian, Islam tetap tidak akan memberikan keringanan sanksi terhadapnya. Apa penyebab hal tersebut? Dengan kata lain, boleh jadi falsafah hukuman bagi si murtad tidak berlaku dalam satu hal. Tetapi, kenapa Islam tetap memberlakukan hukuman terhadapnya? Jawabannya adalah: Setiap penetapan hukum, memiliki wilayah yang lebih luas dari falsafah hukum itu sendiri. Ini disebut dengan ihtiyâth (hati-hati) dalam menetapkan hukum. Sebabnya banyak. Tetapi dalam hal ini cukup kami sebutkan dua poin terpenting sebagai berikut: Terkadang aturan-aturan yang betul-betul secara teliti dibuat untuk menentukan sebuah objek hukum, tidak mungkin dapat diberikan kepada manusia untuk menentukan objek hukum tersebut. Misalnya mengenai falsafah pelarangan parkir di suatu jalan adalah untuk menjaga kelancaran laju lalu lintas. Dan falsafah aturan ini tidak berlaku pada saat-saat jalan itu sunyi, Tetapi polisi lalu lintas secara paten tetap melarang parkir di tempat tersebut. Sebab penentuan masa-masa kemacetan lalu lintas tidak bisa diserahkan kepada masyarakat umum. Terkadang sebuah hukum itu begitu pentingnya, sehingga penetap hukum –karena kehati-hatian- lebih meluaskan wilayah objek hukum tersebut, agar ia yakin bahwa masyarakat pasti akan melaksanakan hukum tersebut. Misalnya, sebuah batasan yang ditetapkan guna mengantisipasi terjadinya tenggelam. Zona ini harus jauh dari jangkauan masyarakat, yakni sejauh lima kilometer dan diletakkan secara rahasia. Tetapi pihak militer menambahkan jaraknya dari batas yang normal, agar lebih yakin bahwa tujuan yang diharapkan akan tercapai. Berdasarkan dua poin di atas, dalam penentuan hukum dalam Islam pun demikian pula, Allah Swt memperluas wilayah hukum dari objek falsafah hukum itu sendiri, hingga tujuan dari falsafah tersebut bisa terwujud. Untuk meneliti lebih jauh permasalah falsafah hukum Islam, silahkan merujuk kepada buku Falsafe-e Huquq , Qudratullah Khusrushahi hal. 201-222 dan Adl-e Ilahi , Syahid Muthahari, Tafsir ayat la ikraha fiddin, Tafsir al-Mizân 2/278, Tafsir Nemuneh 2/360. [1] . Tahrir al-Wasilah , Imam Khomeini, 2:366 – al-Mughni, Ibn Qadamah, 10:74 [2] . Ibid. hal. 118 [3] . Ibid. 2/336. sebagian berpendapat, Islamnya salah seorang dari orang tua ketika dilahirkan menjadi syarat. (Allamah Khui, Mabâni Taklimah al-Manhaj 2/451) dan sebagian lain mensyaratkan penampakan keislaman setelah baligh (Shahid Tsani, Masâlik al-Afham , 2/451). [4] . Tahrir al-Wasilah , Imam Khomeini, 2/336 [5] . Ibid. 2/494 [6] . al-Fiqh Ala Mazahib Arbaah . [7] . Perjanjian Lama, Pasal 13 [8] . Sebenarnya sebagian hukuman mati bagi kemurtadan adalah hukum ta’zir bukan had . Dan hukum ta’zir secara total berada di tangan hakim, Islam tidak menetapkannya secara khusus. Jadi tidak bisa kita katakan bahwa hukuman murtad dalam Islam adalah mati. Lih. Dirâsat fi Wil^ayah al-Faqih wa ad-Daulah al-Islâmiyah 3/387 [9] . Firman Allah SWT: Allah tidak akan membebani manusia dengan beban kecuali ia mampu menanggungnya. Baqarah: 286 [10] . Qs. Haj (22):32 [11] . Qs. Maidah (5):3 [12] . Qs. Ali Imran (3): 72
Popular Posts
-
Suci kodrat sejati Nyawiji suci jumeneng sejati Roso suci sejati alenggahan roh suci Kuncup sejati mulyo sejati Roso kumala handarbeni ...
-
Semut Ireng Semut ireng, anak-anak sapi Kebo bongkang nyabrang kali bengawan Keyong gondhang jarak sungute Timun wuku gotong wolu Sur...
-
Tarek dan Daim Syekh Siti Jenar mengajarkan dua macam bentuk shalat, yang disebut shalat tarek dan shalat daim. Shalat tarek adalah shalat...
-
GOLEKANA tapake kuntul anglayang! Ngendi ana ? Lan sapa wonge sing bisa nggoleki ? Mbok mubenga nganti muser-muser, kuntule dhewe, yen lagi...
-
A J I P A M E L E N G Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene em...