Tampilkan postingan dengan label wayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wayang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Agustus 2012

Memahami Sosok Pandawa & Kurawa di Tubuh Manusia

Pernahkah Anda mendengar nama Pendawa Lima? Sesuai dengan namanya,
maka sosok Pendawa juga berjumlah 5 orang. Mereka adalah Yudhistira, Bima/
Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Bagi para pelaku spiritual, umumnya
sudah mengetahui adanya jagad ageng (alam semesta) dan jagad alit (yang ada
dalam tubuh manusia). Bahkan bagi pelaku spiritual juga sudah memahami
bahwa dalam jagad alit tersebut juga terdapat jagad ageng. Biasanya pengenalan
itu berlanjut dengan menggulung jagad ageng ke dalam jagad alit.
Nah, berkaitan dengan menggulung jagad ageng ke dalam jagad alit, maka para
pelaku spiritual juga akan memahami bahwa sosok-sosok pendawa lima yang
disebutkan di atas juga terdapat dalam tubuh kita. Bisa juga diartikan bahwa
Pendawa lima merupakan simbol yang diberikan GUSTI ALLAH pada manusia.
Bahkan setiap manusia memiliki Pendawa Lima di dalam tubuh mereka masing-
masing. Dimanakah posisi sosok-sosok Pandawa Lima itu dalam tubuh manusia?
Yudhistira - sebagai pemimpin Pandawa - adalah merupakan simbol dari OTAK
manusia. Dapat diartikan bahwa manusia itu dipimpin oleh otaknya. Jika ingin
hidup tenang dan mulia maka pergunakanlah otak kita untuk berpikir dan
mencapai derajad ketenangan dalam hidup.
Bima/Werkudara - sosok kedua Pandawa - adalah sosok yang tinggi besar dan
penuh keberanian. Sosok Bima tersebut merupakan simbol dari MATA manusia.
Apabila seseorang memandang orang lain dengan tajam, maka ia akan tampak
lebih berani menghadapi kehidupan ini. Siapa orang yang nggak merasa takut
jika kita dipelototi oleh orang lain?
Arjuna - Sosok Arjuna juga dikenal sebagai sosok penengah Pandawa. Dimana
lokasi Arjuna dalam tubuh manusia? Arjuna dikenal sangat gemar untuk bertapa,
menyendiri, bersamadhi. Ia senantiasa rajin untuk mengheningkan ciptanya di
hutan-hutan belantara. Nah, sosok Arjuna tersebut juga ada dalam diri tepatnya
di HATI KECIL setiap manusia atau yang umum disebut hati nurani. Manusia
diharapkan untuk senantiasa mendengarkan hati kecilnya guna memahami
kebenaran dalam hidup ini. Hati kecil manusia tidak pernah berbohong. Ia akan
senantiasa mengatakan sejujurnya seperti perilaku Arjuna.
Nakula dan Sadewa - adalah sosok Pandawa yang kembar. Hal itu adalah
merupakan simbol dari kembarnya BUAH ZAKAR (pelir) manusia laki-laki dan
INDUNG TELUR bagi perempuan. Tanpa adanya buah zakar maka manusia tidak
akan pernah bisa membuahi pasangannya guna memiliki keturunan. Buah Zakar
sangat penting untuk menyebarkan benih-benih keturunan manusia.
Timbul pertanyaan, jika sosok-sosok Pandawa Lima dapat disimbolkan dalam
tubuh manusia, bagaimana dengan sosok Kurawa?
Seperti diketahui Kurawa adalah berjumlah 100 orang. Sosok Kurawa tersebut
dikenal sebagai sosok yang bersifat negatif. Mereka suka menghasut,
menimbulkan kebencian, menciptakan rasa iri dan dengki dan lain-lain yang
memiliki sifat negatif. Dimanakah sosok-sosok Kurawa tersebut dalam tubuh
manusia? Sosok Kurawa itu berada dalam HATI BESAR manusia. Hati besar
manusia senantiasa dipenuhi dengan sifat-sifat negatif dan hawa nafsu yang
senantiasa membuat kerusakan.
Nah, dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan, bagaimana manusia bisa
menonjol sifat-sifat negatif dalam diri mereka, karena HATI KECIL sebagai
tempat Arjuna harus berperang melawan HATI BESAR sebagai tempat Kurawa.
Oleh karena itu, manusia kebanyakan lebih suka mendengarkan hati besarnya
saja karena hati kecil hanya ada satu orang yaitu Arjuna yang harus menghadapi
sosok 100 orang Kurawa.


Read More ->>

Minggu, 08 Juli 2012

Kurawa

~Kurawa 100
Adalah anak dari destrarasta kakak dari
pandudewanata memiliki mata buta dan
selalu dipengaruhi oleh istrinya dewi
gendari dan patihnya sangkuni yang licik
hal inilah penyebab permusuhan pandawa
dan kurawa.kurawa berjumlah 99laki-laki
dan 1 perempuan dalam pewayangan
jarang sekali disebutkan nama-nama
kurawa mungkin jarang ada orang yang
mengetahuinya apalagi hafaal. akan saya
beritahu nama-namanya ssstttt…………….
1. Suyudhana 21. Wala 41. Hastabahu
2. Suyutsuh 22. Satwa 42. Citrangga
3. Dursasana 23. Suyucaca 43.
Citrakundhala
4. Dusata 24. Citra 44. Bimawala
5. Dursala 25. Upacitra 45. Balaki
6. Jalasandha 26. Tjitraksa 46.
Balawardhana
7. Sama 27. Tjarucitra 47. Hubajudha
8. Sata 28. Caracana 48. Bima
9. Windha 29. Durmada 49. Kanakaya
10.Tanuwinda 30. Durwigata 50.
Dredayudha
11. Durnarsa 31. Wiwitsuh 51.
Dreddawarman
12.Suhbahu 32. Wikathadama 52.
Dredasatra
13.Duspradasana 33. Urdandha 53.
Somakerti
14. Durmarsana 34. Sunaba 54.
Dredhasandha
15. Durmuka 35. Dhandhaka 55. Senada
16.Duskarna 36. Durwicana 56.
Djarasandha
17. Karnaa 37. Durwacana 57.
Satyasandha
18.Kartawarma 38. Tjitrawana 58. Sadhas
19.Wiwingsatti 39. Titrawarman 59.
Sabasta
20.wikarna 40. Suwarman 60. Ugrasana
61. Ugrasewa 81. Ugra
62. Senadi 82. Bimantara
63. Dusparaja 83. Wirabahu
64. Aparajita 84. Balupa
65. Kundhahosajin 85. Tokaja
66. Wasalaksa 86. Rudrakarma
67. Duradara 87. Dredarada
68. Drestahasta 88. Banadresya
69. Subasta 89. Kundhakimin
70. Salawela 90. Warawi
71. Suwarcas 91. Dirgalancana
72. Adityaketu 92. Pramatta
73. Wahtacin 93. Prawatti
74. Naladhatta 94. Durgarama
75. Agrayayain 95. Dirgabahu
76. Kawacin 96. Durmagati
77. Krathana 97. Kodakraja
78. Kundha 98. Biraja
79. Kundhadara 99.Mahabahu
80. Danurdara 100.Dewi Dursilawati
Pandhawa dan kurawa berguru pada Durna
dan bisma.Tetapi keduanya tidak rukun
karena kurawa iri pada kehebatan pandawa
terlebih bima yang sangat ahli bermain
gada. Berbagai cara dilakukan kurawa
untuk menjatuhkan pandawa. Tetapi selalu
gagal. Melihat kejadin itu pandawa
mengalah dan pindah keberbagai daerah
dan mereka mendapat banyak
pengalaman. Setelah mereka dewasa
pandawa inin meminta Negara Astina tetapi
kurwa menolak nya mentah-mentah
akhirnya mereka berperang dengan nama
perang Baratayuda. Peperangan itu
dimenagkan pandawa semua kurawa mati
dan dari pihak pandawa yang gugur adalah:
Aryaseta, Gathotkaca, Abimanyu, Yayadrata
dll.

Read More ->>

Filosofi pandawa

Filosofi PANDAWA LIMA
1. Jempol – Yudistira: sebagai kakak tertua yang
menaungi dan sebagai contoh sopan santun
dalam hidup, Yudhistira adalah salah satu
karakter yang nerimo, dalam artian, Yudhistira
adalah orang yang selalu menyatakan,
“silahkan” “monggo” dalam hal ini, masyarakat
Jawa selalu menggunakan jempol untuk
menunjukkan arah, (kesopanan), atau
menyatakan persetujuan (kalo ini kayaknya
universal ya)
2. Jari Telunjuk – Bima: sebagai raksasa, Bima
dikenal sebagai orang yang lurus dan terus
terang, walaupun keras dan apa adanya,
bahkan dia hanya menggunakan Kromo Inggil
hanya kepada gurunya, Dewa Ruci. Bima
dikenal sebagai orang yang keras dan berusaha
mengingatkan dengan galak. Masyarakat kita,
jika memarahi orang atau mengingatkan orang,
akan menggunakan jari telunjuk yang teracung,
simbolisme Bima yang sedang mengingatkan
kesalahan kepada orang lain.
3. Jari Tengah – Arjuna: lelananging jagad yang
dikenal sebagai impian setiap wanita. Dalam
pewayangan Inda, Arjuna tidak digambarkan
sebagai orang yang tampan sekali, bahkan
karena kegemarannya untuk keluar-masuk
hutan, Arjuna digambarkan penuh brewok dan
kasar tampangnya. Arjuna dikenal sebagai
impian setiap wanita, karena dia mampu
“menyenangkan” (hati) para wanita.
4. Jari Manis – Nakula: sebagai kakak kembar
dari Sadewa, Nakula sebenarnya lebih tampan
daripada Arjuna, dan Nakula adalah simbol dari
ketampanan, keindahan, dan keharmonisan.
Oleh karena itu, cincin sebagai asesoris, dan
sebagai lambang ikatan pernikahan, diletakkan
di jari manis, sesuai dengan sifat Nakula yang
tampan, indah dan harmonis
5. Jari kelingking – Sadewa: adik terkecil dan
adik kembar dari Nakula, digambarkan sebagai
wayang yang paling mampu membawa
kestabilan dan kebersihan. Nakula bahkan di
salah satu kisah, adalah satu satunya wayang
yang mampu meruwat (membersihkan) Bethari
Durga untuk kembali ke bentuk awal beliau
(Dewi Uma). Jika dikembalikan ke fungsinya,
hanya kelingking yang mampu membersihkan
kotoran di tempat yang tersembunyi (maap:
lubang hidung, telinga)

Read More ->>

Sabtu, 07 Juli 2012

Filosofi BAGONG

==anak angkat ketiga Semar. Dia adik Gareng dan Petruk. Diceritakan ketika itu
Gareng dan Petruk minta dicarikan teman, sanghyang Tunggal
bersabda :"Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri." Seketika
itu bayangan berubah menjadi manusia dan selanjutnya diberi nama Bagong.
Bagong berbadan pendek, gemuk seperti semar tetapi mata dan mulut lebar. Ia
memiliki watak banyak bercanda, pintar membuat lelucon, bahkan terkadang
saking lucunya menjadi menjengkelkan. Beradat lancang, tetapi jujur, dan juga
sakti. Kalau menjalankan tugas terkadang tergesa-gesa kurang perhitungan.
Bagong bersuara besar dan kedengaran agak kendor di leher.
Ada yang mengatakan kalau Bagong berasal dari kata Baghoo (bahasa Arab) yang
artinya senang membangkang/ menentang, tidak mudah menurut atau percaya
pada nasihat orang lain.  Ini juga menjadi nasihat pada tuannya bahwa manusia
didunia ini mempunyai watak yang bermacam-macam dan perlu diperhatikan
dan diwaspadai dari watak dan karakter masing - masing watak tersebut.
Inti pendidikan dan budi pekerti :
1. Hidup ini perlu hiburan
2. Setiap tindakan jangan tergesa-gesa dalam pelaksanaannya, harus
diperhitungkan terlebih dahulu, minimal  dampak negatif dan positif yang akan
timbul akibat dari perbuatan kita tersebut.
3. Pelajari berbagai macam watak/ karakter manusia agar kita bisa hidup
bermasyarakat dengan baik.
4. kejujuran modal utama dalam bermasyarakat, tanpa itu kita akan dijauhi oleh
orang lain


Read More ->>

Filosofi PETRUK

Filosofi Petruk
Anak Gandarwa (sebangsa jin), menjadi anak angkat kedua Semar setelah
Gareng.Nama lain Petruk adalah Kanthong Bolong, artinya suka berdema.
Doblajaya, artinya pintar. Diantara saudaranya (Gareng dan Bagong) Petruklah
yang paling pandai dan pintar bicara.
Petruk tinggal di Pecuk Pecukilan. Ia mempunyai satu anak yaitu Bambang
Lengkung Kusuma (seorang yang tampan) istrinya bernama Dewi Undanawati.
Sebagai punakawan Petruk selalu menghibur tuannya ketika dalam kesusahaan
menerima cobaan, mengingatkan ketika lupa, membela ketika teraniaya. Intinya
bisa momong, momot, momor,mursid dan murakabi.
1. momong ..................................... artinya bisa mengasuh.
2. momot ....................................... artinya dapat memuat segala keluhan
tuannya, dapat merahasiakan masalah.
3. Momor ......................................  artinya tidak sakit hati ketika dikritik dan
tidak mudah bangga kalau disanjung.
4. Mursid .......................................  artinya pintar sebagai abdi, mengetahui
kehendak tuannya.
5. Murakabi ...................................  artinya bermanfaat bagi sesama.
Pada suatu waktu Pandawa kehilangan jimat Kalimasada. kehilangan jimat ini
artinya Pandawa lumpuh karena hilang kebijaksanaan dan kemakmuran,
keangkaramurkaan timbul dimana-mana. Jimat ini dicuri oleh Mustakaweni.
Mengetahui hal itu Bambang Irawan dan Bambang Priyambodo (anak Arjuna)
dengan disertai Petruk berusaha merebut jimat tersebut dari tangan
Mustakaweni. Akhirnya jimat tersebut berhasil direbut dan dititipkan kepada
Petruk.
Sementara itu ternyata Adipati Karna juga berhasrat memiliki jimat tersebut.
petruk ditusuk dengan keris pusaka yang ampuh yaitu Kyai Jalak, Petrukpun mati
seketika. Atas kesaktian ayahnya (Gandarwa) Petruk dihidupkan lagi. Kemudian
ayahnya tersebut ingin menolong Petruk dengan berubah wujud menjadi
Duryudana. ketika Karna bertemu Duryudana jimat kalimasada diserahkan
kepadanya. Betapa terkejutnya Karna mengetahui telah diperdaya oleh
Gandarwa. Akhirnya jimat tersebut oleh Gandarwa diserahkan kembali kepada
Petruk, dan dia menasehati kalau menghadapi musuh Petruk harus hati-hati dan
jimat tersebut diminta untuk diletakkan di atas kepalanya. Ternyata setelah jimat
tersebut diterapkan sesuai anjuran ayahnya Petruk menjadi sangat sakti, tidak
mempan senjata apapun. Karna-pun dapat dikalahkannya.Tak terasa akhirnya
Petruk terpisah dengan tuannya Bambang Irawan. Petrukpun mengembara,
semua negara ditakhlukkannya termasuk negara Ngrancang Kencana. Petruk
menjadi raja disana dan bergelar Prabu Wel Keduwelbeh. Sedangkan raja yang
asli menjadi bawahannya. Begitulah ketika Punakawan kalau sudah
mengeluarkan kesaktiannya tidak ada manusiapun yang dapat menandinginya.
Ketika akan mewisuda dirinya, semua raja negara bawahan yang ditaklukkannya
hadir termasuk Astina. Yang belum hanya Pandawa, Dwarawati, dan Mandura.
Semula ketiga raja negar tersebut tidak mau hadir, tetapi setelah Pandawa dan
Mandura dikalahkan akhirnya Raja Dwarawati  (Prabu Kresna) menyerahkan hal
ini kepada Semar. Oleh Semar Gareng dan Bagong diajukan sebagai wakil dari
Dwarawati. Terjadilah peperangan yang sangat ramai antara Prabu Wel
Keduwelbeh dengan Gareng dan Bagong, peperangan tidak segera berakhir
karena belum ada yang menang dan belum ada yang kalah, sampai ketiganya
berkeringat. Gareng dan Bagong akhirnya bisa mengenali bau keringat
saudaranya Petruk dan yakin bahwa orang yang mengajak bertarung itu
sesungguhnya adalah Petruk, maka mereka tidak lagi bertarung kesaktian tetapi
malah diajak bercanda, berjoged bersama, dengan berbagai lagu dan tari. Wel
Geduwelbeh merasa dirinya kembali ke habitatnya, lupa bahwa dia memakai
pakaian kerajaan. Setelah ingat .... ia segera lari meninggalkan Gareng dan
Petruk. Wel Geduwlbeh dikejar oleh Gareng dan Bagong setelah tertangkap,  sang
prabu dipeluk dan digelitik oleh Bagong sampai Petruk kembali ke wujud aslinya.
Setelah terbuka semua Petruk ditanya oleh Kresna mengapa ia bertindak seperti
itu. ia beralasan bahwa tindakan itu untuk mengingatkan tuannya bahwa segala
perilaku harus diperhitungkan terlebih dahulu. Contohnya saat membangun
candi Sapta Arga, kerajaan ditinggal kosong sehingga kehilangan jimat
Kalimasada. Bambang Irawan jangan mudah percaya kepada siapa saja. Kalau
diberi tugas sampai tuntas jangan dititipkan kepada siapapun. Setelah menjadi
raja jangan sombong  dan meremehkan rakyat kecil, karena rakyat kecil kalau
sudah marah/ memberontak pimpinan bisa berantakan. Dengan cara inilah
Petruk ingin menyadarkan tuannya, karena kalau secara terang-terangan pasti
tidak dipercaya bahkan mungkin dimarahi.
Bagaimanapun Petruk merasa bersalah, kemudian ia minta maaf. Pandawapun
akhirnya memaafkan Petruk dan dengan senang hati menerima nasihat Petruk.
I nti pendidikan budi pekerti yang bisa diambil dari cerita diatas :
1. Budi dan watak tidak dapat diukur dari penampilan/ fisik, tetapi dengan
perilaku nyata.
2. Bawahan harus setia pada atasan
3. Mengerjakan tugas hingga tuntas dan diusahakan berhasil dengan baik
4. Jangan merebut hak dan milik orang lain
5. Semua tindakan harus dengan penuh perhitungan, jangan ceroboh dan
tergesa-gesa mengambil keputusan.
6. milikilah watak momong, momot, momor,mursid, dan murakabi
7. Kalau sudah mulia jangan terlena
8. Kalau salah harus berani mengakui dan meminta maaf


Read More ->>

Filosofi GARENG

Nama lengkap dari Gareng sebenarnya adalah Nala Gareng, hanya saja
masyarakat sekarang lebih akrab dengan sebutan “Gareng”.
Gareng adalah punakawan yang berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah
sanepa dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu hati-hati dalam bertindak.
Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang ciker atau patah. Ini
adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik
orang lain. Diceritakan bahwa tumit kanannya terkena semacam penyakit bubul .
Dalam suatu carangan Gareng pernah menjadi raja di Paranggumiwayang
dengan gelar Pandu Pragola. Saat itu dia berhasil mengalahkan Prabu
Welgeduwelbeh raja dari Borneo yang tidak lain adalah penjelmaan dari
saudaranya sendiri yaitu Petruk .
Dulunya, Gareng berujud satria tampan bernama Bambang Sukodadi dari
pedepokan Bluktiba. Gareng sangat sakti namun sombong, sehingga selalu
menantang duel setiap satria yang ditemuinya. Suatu hari, saat baru saja
menyelesaikan tapanya , ia berjumpa dengan satria lain bernama Bambang
Panyukilan. Karena suatu kesalahpahaman, mereka malah berkelahi. Dari hasil
perkelahian itu, tidak ada yang menang dan kalah, bahkan wajah mereka berdua
rusak. Kemudian datanglah Batara Ismaya (Semar) yang kemudian melerai
mereka. Karena Batara Ismaya ini adalah pamong para satria Pandawa yang
berjalan di atas kebenaran, maka dalam bentuk Jangganan Samara Anta, dia
(Ismaya) memberi nasihat kepada kedua satria yang baru saja berkelahi itu.
Karena kagum oleh nasihat Batara Ismaya, kedua satria itu minta mengabdi dan
minta diaku anak oleh Lurah Karang Kadempel , titisan dewa (Batara Ismaya) itu.
Akhirnya Jangganan Samara Anta bersedia menerima mereka, asal kedua satria
itu mau menemani dia menjadi pamong para kesatria berbudi luhur ( Pandawa),
dan akhirnya mereka berdua setuju. Gareng kemudian diangkat menjadi anak
tertua (sulung) dari Semar .
Gareng adalah punakawan kedua setelah Semar . ciri fisik Gareng :
1. Mata juling................ artinya tidak mau melihat hal-hal yang mengundang
kejahatan/ tidak baik.
2. Tangan ceko (melengkung) ................... artinya tidak mau mengambil/
merampas hak orang lain.
3. Sikil gejik (seperti pincang) ................... artinya selalu penuh kewaspadaan
dalam segala perilaku.
Makna yang terkandung dalam kisah Gareng adalah :
1. Jangan menilai seseorang dari wujud fisiknya. Budi itu terletak di hati, watak
tidak tampak pada wujud fisik tetapi pada tingkah dan perilaku. Belum tentu
fisiknya cacat hatinya jahat.
2. Manusia wajib saling mengingatkan.
3. Jangan suka merampas hak orang lain.
4. Cintailah saudaramu dengan setulus hati.
5. Kalau bertindah harus dengan penuh perhitungan dan hati-hati.


Read More ->>

Siapa semar itu?

Batara Semar
MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan
segala sesuatu.
Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab
takut kalau keliru.
Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau
tidak jelas.
Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi
anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:
1. tidak pernah lapar
2. tidak pernah mengantuk
3. tidak pernah jatuh cinta
4. tidak pernah bersedih
5. tidak pernah merasa capek
6. tidak pernah menderita sakit
7. tidak pernah kepanasan
8. tidak pernah kedinginan
kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau
kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara
Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang
Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam
Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam
dunia.
Di alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani putri dari
Sanghyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu:
Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara Wrahaspati,
Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Kwera, Batara Tamburu,
Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti. Anak sulung yang bernama Batara
Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan
berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun
di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi
kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.
Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali ketika
Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong
oleh Resi Kanumanasa. Ke dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke
duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita. Yang tua bernama Dewi
Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri
oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat
itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.
Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara
(tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan
berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan.
Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikan oleh
tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat
menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati
dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta. Dapat
dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi.
Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang
membawa kebahagiaqan abadi lahir batin. Dalam catatan kisah pewayangan, ada
tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi
Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa,
Pandudewanata dan sampai Arjuna.
Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh
eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah
seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik
itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.
Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka
ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan
menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal
dengan nama Semar.
Seperti telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatau
yang tidak jelas tersamar.
Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.
Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia
adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.
Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-
mata perbuatan Semarasanta.
Jika sangat yakin bahwa ia Semarasanta, tiba-tiba berubah keyakinan bahwa ia
adalah Batara Semar, dan akhirnya tidak yakin, karena takut keliru. Itulah sesuatu
yang belum jelas, masih diSAMARkan, yang digambarkan pada seorang tokoh
Semar.
SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan
disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan
tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan
rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya
akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi.


Read More ->>

SEMAR

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi
kesejahteraan manusia
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan
Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan
kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak
mengatakan simbul Sang Maha Tunggal". Sedang tangan kirinya bermakna
"berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun
simpatik".
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel
= keteguhan jiwa.
Rambut semar "kuncung" (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak
mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar
sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk
melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.
Semar barjalan menghadap keatas
maknanya : "dalam perjalanan anak
manusia perwujudannya ia memberikan
teladan agar selalu memandang keatas
(sang Khaliq ) yang maha pengasih serta
penyayang umat".
Kain semar Parangkusumorojo:
perwujudan Dewonggowantah (untuk
menuntun manusia) agar
memayuhayuning bawono : menegakan
keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah
- Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
- Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
- Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
- Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
- Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi  atas
nasehatnya
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap
Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum
masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.
Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan
sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-
an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian
tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain
hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah
Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai
dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .
Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.
Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna :
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan
Mardika artinya "merdekanya jiwa dan sukma", maksudnya dalam keadaan tidak
dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian
sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan
jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka
murkamu) artinya : "dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan
dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan
menuju kesempurnaan hidup".


Read More ->>