Wejangan Syekh Wali Lanang
Ketika selesai membangun pesantren,
Raden Paku teringat salah satu
bungkusan yg harus dibukanya. Ia ingat
kata2 ayahnya kalau bingkisan itu berisi
rahasia ilmu sejati yg harus dibacanya.
Dengan hati2 dibukanya bungkusan tsb.
Didalamnya ada beberapa lembar daun
lontar bertuliskan huruf arab pegon.
Segera dibacanya tulisan tsb.
A. Tentang Macam Ilmu Manusia.
Adalah suatu yg pasti terjadi anakku,
ketahuilah ini, renungkan demi
kasampurnaan ilmumu. Di dunia ini,
entah kapan, sakit, dan mati pasti terjadi.
Maka hendaklah waspada, tidak urung
kita juga akan mati, jangan lupa pada
sangkan paran dumadi. Untuk itu, di
dunia ini hendaklah selalu prihatin. Agar
benar2 sempurna engkau berilmu.
Dalam memperbincangkan ilmu
kasempurnaan ini, jangan lupa arti
bahasanya jika engkau
mempertanyakannya. Karena mengetahui
arti bahasa adalah kuncinya.
Kesungguhanlah yg pasti, itulah yg perlu
benar2 engkau mengerti. Jangan takut
pd biaya. Bukan emas, bukan dirham,
dan bukan pula harta benda. Namun
hanya niat ikhlas saja yg diperlukan.
Adapun ilmu manusia itu ada 2, anakku.
Yang pertama adalah ilmu kamanungsan
yg lahir daru jalan indrawi dan melalui
laku kamanungsan. Yang kedua adalah
ilmu kasampurnaan yg lahir melalui
pembelajaran langsung dari Sang Khalik.
Untuk yg kedua ini, ia terjadi melalui 2
cara, yaitu dari luar dan dari dalam.
Yang dari luar, dilalui dg cara belajar.
Sedangkan yg dari dalam, dilalui dg cara
menyibukan diri dg jalan bertapa
( bertafakur ).
Adapun bertafakur secara batin itu
sepadan dg belajar secara lahir. Belajar
memilki arti pengambilan manfaat oleh
seorang murid dari gerak seorang guru.
Sedangkan tafakur memilki makna batin,
yaitu suksma seorang murid yg
mengambil manfaat dari suksma sejati,
ialah jiwa sejati.
Suksma sejati dalam olah ngelmu
memilki pengaruh yg lebih kuat
dibandingkan berbagai nasehat dari ahli
ilmu dan ahli nalar. Ilmu2 seperti itu
tersimpan kuat pada pangkal suksma,
bagaikan benih yg tertanam dalam tanah,
atau mutiara di dasar laut.
Ketahuilah anakku, kewajiban orang
hidup tidak lain adalah selalu berusaha
menjadikan daya potensial yg ada di
dalam dirinya menjadi suatu bentuk aksi
(perbuatan) yg bermanfaat. Sebagaimana
engkau juga wajib mengubah daya
potensial yg ada dalam dirimu menjadi
perbuatan, melalui belajar. Sejatinya
dalam belajar, suksma sang murid
menyerupai dan berdekatan dg suksma
sang guru. Sebagai yg memberi manfaat,
guru laksana petani. Dan sbg yg
meminta manfaat, murid ibarat bumi
atau tanah.
Anakku ketahuilah, ilmu merupakan
kekuatan seperti benih atau tepatnya
seperti tumbuh2an. Apabila suksma sang
murid sudah matang, ia akan menjadi
seperti pohon yg berbuah, atau seperti
mutiara yg sudah dikeluarkan dari dasar
laut. Jika kekuatan badaniah
mengalahkan jiwa, berarti murid masih
harus terus menjalani laku prihatin
dalam olah ngelmu dg menyelami
kesulitan demi kesulitan dan kepenatan
demi kepenatan, dalam rangka
menggapai manfaat.
Jika Cahaya Rasa mengalahkan macam2
indra, berarti murid lebih membutuhkan
sedikit tafakur ketimbang banyak belajar.
Sebab suksma yg cair atau dalam
bahasa arab dsb nafs al-qabil akan
berhasil menggapai manfaat walau
hanya dg berfikir sesaat, ketimbang
proses belajar setahun yg dilakukan oleh
suksma yg beku nafs al-jamid.
Jadi, engkau bisa meraih ilmu dg cara
belajar, dan bisa juga mendapatkannya
dg cara bertafakur. Walaupun
sebenarnya dalam belajar itu juga
memerlukan proses tafakur. Dan dg
tafakur engkau tahu manusia hanya bisa
mempelajari sebagian saja dari seluruh
ilmu dan tidak bisa semuanya.
Banyak ilmu2 mendasar atau yg dsb
annazhariyyah dan penemuan2 baru,
berhasil dikuak oleh orang2 yg memilki
kearifan. Dg kejernihan otak, kekuatan
daya fikir dan ketajaman batin, mereka
berhasil menguak hal2 tsb tanpa proses
belajar dan usaha pencapaian ilmu yg
berlebihan.
Dg bertafakur, manusia berhasil menguak
ajaran sangkan paraning dumadi . Dg
begitu terbukalah asumsi dasar dari
keilmuan sehingga persoalan tidak
berlarut2 dan segera tersingkap
kebodohan yg menyelimuti kalbu.
Seperti telah kuberitahukan sebelumnya
anakku, suksma tidak bisa mempelajari
semua yg di inginka, baik yg bersifat
sebagian ( juz’i / parsial ) maupun yg
menyeluruh ( kulli / universal ) dg cara
belajar. Ia harus mempelajari dg induksi,
sebagian dg deduksi sebagaimana
umumnya manusia dan sebagian lagi dg
analogi yg membutuhkan kejernihan
berfikir. Berdasarkan hal ini, ahli ilmu
terus membentangkan kaidah2 keilmuan.
Ketahuilah anakku.
Seorang ahli ilmu tidak bisa mempelajari
apa yg dibutuhkan seluruh hidupnya. Ia
hanya bisa mempelajari keilmuan umum
dan beragam bentuk yg merupakan
turunannya dan hal itu menjadi dasar
untuk melakukan qiyas terhadap berbagi
persoalan lainnya. Begitu pula para tabib,
tidaklah bisa mempelajari seluruh unsur
obat2an untuk orang lain. Meraka hanya
mempelajari gejala2 umum. Dan setiap
orang diobati menurut sifat masing2
Demikian juga para ahli perbintangan,
mereka mempelajari hal2 umum yg
berkaitan dg bintang, kemudian berfikir
dan memutuskan berbagai hukum.
Demikian juga halnya seorang ahli fikih
dan pujangga. Begitu seterusnya,
imajinasi dan karsa yg indah2 berjalan.
Yang satu menggunakan tafakur sbg alat
pukul, semacam lidi, sedangkan yg lain
menggunakan alat bantu lain untuk
merealisasikan.
Anakku jika pintu suksma terbuka, ia
akan tahu bagaimana cara bertafakur dg
benar dan selanjutnya ia bisa memahami
bagaimana merealisasikan apa yg
diinginkan. Karena itu hati pun menjadi
lapang, pikiran jadi terbuka dan daya
potensial yg ada dalam diri akan lahir
menjadi aksi (perbuatan) yg
berkelanjutan dan tak mengenal lelah.
B. Memahami Ilmu Kasampurnaan.
Ketahuilah anakku bahwa ilmu
kasampurnaan itu ada 2 macam,
Pertama, diberikan melalui wahyu.
Apabila suksma manusia telah
sempurna, niscaya akan sirna segala
sesuatu yg dapat mengotori watak,
seperti halnya sikap rakus dan impian
semu. Suksma akan menghadap Sang
Pencipta, merengkuh cintaNya dan
berharap manfaat serta limpahan
cahayaNya.
Allah akan menyambut suksma itu
secara total. Tatapan Ketuhan
memandanginya dan menjadikannya
seperti papan. kemudian Allah akan
menjadikan pena dari suskma sejati. Dan
pena itu diukirkan ilmu pada papan tadi.
Suksma sejati laksana guru, suksma
manusia suci ibarat sang murid.
Sehingga dicapailah seluruh ilmu, dan
padanya semua bentuk terukir tanpa
proses belajar maupun berfikir. Dalilnya :
“Dan Dialah yg mengajarkanmu apa2 yg
tidak kamu ketahui” (QS. An-Nisa:213).
Ilmu para nabi lebih tinggi derajatnya
dibandingkan ilmu mahluk2 yg lain.
Karena ilmu tsb diperoleh langsung dari
YME tanpa perantara. Kau bisa
memahami dalam kisah para malaikat dg
kanjeng Nabi Adam. Sepanjang usianya
para malaikat terus belajar. Dan dg
berbagi cara mereka berhasil
mendapatkan banyak macam ilmu,
sehingga mereka menjadi mahluk yg
paling berilmu dan mahluk paling
berpengetahuan.
Sementara itu Adam tidaklah tergolong
ahli ngelmu karena ia tidak pernah
belajar dan berjumpa dg seorang guru.
Malaikat bangga dan dg besar hati
mereka berkata:” padahal kami Senantisa
bertasbih dg memuji Engkau dan
mensucikan Engkau.” (QS. Al-
Baqarah:30).
Kanjeng Nabi Adam kembali menuju
Sang Pencipta. Lantas beberapa bagian
dalam hati Kanjeng Nabi oleh Allah
dikeluarkan ketika ia menghadap dan
memohon pertolongan kepada Tuhan.
Lalu Allah ajarkan seluruh nama2 benda.
“Kemudian Dia mengemukakannya
kepada para malaikat, lantas Allah
berfirman: “Sebutkanlah kepadaku nama
benda2 itu jika kamu memang orang2 yg
benar” (QS. Al-Baqarah:31).
Ketahuilah, malaikat menjadi kerdil
dihadapan Adam. Ilmu mereka menjadi
terlihat sempit. Mereka tak bisa
berbangga dab besar hati, justru yg ada
hanya rasa tak berdaya. “Maha Suci
Engkau, tidak ada yg kami ketahui selain
dari apa yg Engkau ajarkan kpd
kami” (QS. Al-Baqarah:32).
Maka kepada mereka Adam
diberitahukan bbrp bagian ilmu dan hal2
yg masih tersembunyi. Akhirnya jelaslah
bagi kaum berakal, bahwa ilmu gaib yg
bersumber dari wahyu lebih kuat dan
lebih sempurna dibandingkan ilmu yg
diperoleh dg penglihatan langsung.
Ilmu yg diperoleh melalui wahyu
merupakan warisan dari hak para nabi.
Namun mulai masa Kanjeng Nabi
Muhammad pintu wahyu telah ditutup
oleh Allah. Sebab Muhammad adalah
penutup para nabi. Dia mewakili sosok
paling berilmu dan paling fasih
dikalangan manusia. Allah telah
mendidiknya dg budi pekertinya menjadi
baik.
Ketahuilah anakku, Ilmu Rasul itu lebih
sempurna, lebih mulia, dan kuat. Karena
ilmu tsb diperoleh langsung dari Sang
Khalik. Beliau sama sekali tidak pernah
menjalankan proses belajar-mengajar
insani.
Ilmu Kasampurnaan yg Kedua,
disampaikan sebagai ilham yaitu
peringatan suksma sejati terhadap
suksma manusia berdasarkan kadar
kejernihan, penerimaan dan daya
kesiapannya. Ilham boleh dikatakan
mengiringi wahyu. Kalau wahyu
merupakan penegasan perkara gaib,
maka ilham merupakan penjelasannya.
Ilmu yg diperoleh dg wahyu itulah
sejatinya ilmu kenabian, sedangkan yg
diperoleh dg ilham itulah sejatinya ilmu
kewalian.
Ilmu kewalian diperoleh secara langsung,
tanpa perantara antara suksma dan Sang
Pencipta. Ilmu Kasampurnaan itu
laksana secercah cahaya dari alam gaib,
yang datang menerpa hati yg jernih,
hampa dan lembut.
Semua ilmu merupakan produk
pengetahuan yg diperoleh dari suksma
sejati yg terdapat dalam inti sangkan
paraning dumadi
dg menisbatkan pada RASA SEJATI,
seperti penisbatan Siti Hawa kepada
Kanjeng Nabi Adam.
Ketahuilah anakku, rasa sejati lebih
mulia, lebih sempurna dan lebih kuat
dari disisi Allah dibandingkan suksma
sejati. Sedangkan suksma sejati lebih
terhormat, lebih lembut dan lebih mulia
dibandingkan mahluk2 lain.
Adapun ilham itu terlahir dari
melimpahnya rasa sejati dan juga
terlahir dari melimpahnya pancaran sinar
suksma sejati. Jika wahyu menjadi
perhiasan para nabi, maka ilham menjadi
perhiasan para wali. Adapun ilmu yg
diperoleh dari wahyu adalah
sebagaimana suksma tanpa rasa atau
wali tanpa nabi. Begitu pula ilham tanpa
wahyu akan menjadi lemah. Ilmu akan
menjadi kuat jika dinisbatkan kepada
wahyu yg bersandar pada penglihatan
ruhani. Itulah ilmu para nabi dan wali
Ketahuilah, ilmu yg diperoleh dg wahyu
hanya khusus bagi para rasul, seperti
diberikan kepada Adam, Musa, Ibrahim,
Isa, Muhammad saw dan para rasul lain.
Itulah yg menbedakan antara risalah dg
nubuwwah .
Adapun nubuwwah adalah perolehan
hakikat dari ilmu dan rasionalitas2 oleh
suksma yg suci kepada orang2 yg
mengambil manfaat. Barangkali
perolehan semacam itu didapat salah
satu suksma, tetapi ia tidak berkewajiban
menyebarkannya karena suatu alasan
dan oleh sebab2 tertentu.
Ilmu kasampurnaan menjadi milik
seorang nabi dan wali, sebagaimana
dimilki Khidir a.s. Hal itu terdapat pd
dalil: “Dan yg telah Kami ajarkan
kepadanya ilmu dari sisi Kami” (QS. Al-
Kahfi:65).
Ingatlah ketika khalifah Ali berujar:
“Kumasukan lisanku kemulutku, hingga
terbukalah dihatiku seribu pintu ilmu, yg
pada setiap pintu terdapat seribu pintu
yg lain”. Dan ia berkata: “Andai
kuletakkan bantal dan aku duduk
diatasnya, niscaya aku akan mengambil
putusan hukum bagi penganut Taurat
berdasarkan Taurat mereka, bagi
penganut Injil berdasarkan Injil mereka,
dan bagi penganut al-Quran berdasarkan
al-Quran mereka”.
Derajat seperti ini tidak bisa diterima dg
melalui ilmu kemanungsa semata yg
hanya dari pembelajaran insani. Pastilah
seseorang yg telah mencapai derajat tsb
telah dikarunia ilmu kasampurnaan.
Jika Allah menghendaki kebaikan pada
dirimu, Dia akan menyingkap tabir atau
hijab yg menhalangi dirimu dg suksma
yg menjadi papan itu. Dg demikian,
sebagian rahasia dari apa2 yg
tersembunyi akan ditampakan pdmu.
segenap makna yg terkandung didalam
rahasia tsb akan terpahat pd suksmamu.
Dan suksma itupun mengungkapkan
sebagaimana engkau ingin karena
dikehendakiNya..
Sejatinya, kearifan bisa lahir dari ilmu
kasampurnaan. Selama engkau belum
mencapai derajat atau tingkatan ini,
engkau tidak akan menjadi seorang arif.
Karena kearifan merupakan pemberian
Hyang Widi.
Dalilnya : ” Allah menganugrahkan al-
hikmah kepada siapa saja yang Dia
kehendaki. Dan barang siapa yang
dianugerahi al-hikmah itu, ia benar2
telah dianugerahi karunia yang banyak.
Dan hanya orang2 yang berakallah yang
dapat mengambil pelajaran ” (QS. Al-
Baqarah:269).
Hal itu karena orang2 yg berhasil
mencapai ilmu kasampurnaan tidak perlu
lagi banyak berusaha memahami ilmu
secara induktif dan berpayah-payah
belajar. Orang yg demikian sedikit
belajar, banyak mengajar, sedikit capai,
banyak istirahat.
Ketahuilah anakku, setelah wahyu
terputus dan sesudah pintu risalah
ditutup, umat manusia tidak lagi
membutuhkan kehadiran rasul atau
utusan. Mereka tidak lagi memerlukan
penampakan dakwah setelah
penyempurnaan agama. Bukanlah
termasuk kearifan menampakan nilai
lebih tidak berdasarkan kebutuhan.
Tapi ketahuilah anakku, pintu ilham itu
tidak pernah ditutup. Pancaran cahaya
suksma sejati tidak pernah terputus.
Karena suksma terus membutuhkan
arahan, pembaharuan dan peringatan.
Umat manusia tidak memerlukan risalah
dan dakwah, tetapi masih membutuhkan
peringatan sebagai akibat dari
tenggelamnya mereka pada rasa was-
was dan terhanyut oleh gelombang
syahwat.
Karena itu Allah menutup pintu wahyu
sebagai pertanda bagi hamba-Nya dan
membuka pintu ilham sebagai rahmat
serta menyiapkan segala sesuatu
menyusun tingkatan2 supaya mereka
tahu bahwa Allah Maha Lembut kepada
hamba2-Nya, memberikan rezeki kepada
siapa saja yg dikendaki tanpa
perhitungan. Selesai sudah nasehatku
tentang kawruh kesejatian yg kubeberkan
padamu. Hendaklah engkau bisa
menggunakan sebaik mungkin.
Dengan sikap takzim, Raden Paku
( Sunan Giri ) menerawang ke depan
membayangkan wajah ayahandanya
mengucapkan sendiri kata2 yg barusan
dibacanya. Digengamnya erat2 lembaran
lontar itu, lalu didekapkan didada serasa
hendak menggoreskan makna dalam
hatinya. Suatu makna dari nasehat orang
suci yg tak lain adalah ayahandanya
sendiri Syeh Wali Lanang / Syeh Awallul
Islam ( Maulana Ishak ), lelaki suci
keturunan manusia utama.
dari : Suluk Syekh Wali Lanang
Rabu, 13 Maret 2013
SYEKH WALI LANANG
Tarek dan Daim
Tarek dan Daim
Syekh Siti Jenar mengajarkan dua macam bentuk shalat, yang disebut
shalat tarek dan shalat daim. Shalat tarek adalah shalat thariqah,
diatas sedikit dari syari’at. Shalat tarek diperuntukkan bagi orang
yang belum mampu untuk sampai pada tingkatan Manunggaling
Kawula Gusti, sedang shalat daim merupakan shalat yang tiada putus
sebagai efek dari kemanunggalannya. Sehingga shalat daim
merupakan hasil dari pengalaman batin atau pengalaman spiritual.
Ketika seseorang belum sanggup melakukan hal itu, karena masih
adanya hijab batin, maka yang harus dilakukan adalah shalat tarek.
Shalat tarek masih terbatas dengan adanya lima waktu shalat, sedang
shalat daim adalah shalat yang tiada putus sepanjang hayat, teraplikasi
dalam keseluruhan tindakan keseharian ( penambahan
, mungkin efeknya adalah berbentuk suci hati, suci ucap, suci pikiran );
pemaduan hati, nalar, dan tindakan ragawi.
Kata “tarek” berasal dari kata Arab “tarki” atau “tarakki” yang
memiliki arti pemisahan. Namun maksud lebih mendalam adalah
terpisahnya jiwa dari dunia, yang disusul dengan tanazzul (manjing)-
nya al-Illahiyah dalam jiwa. Shalat tarek yang dimaksud di sini adalah
shalat yang dilakukan untuk dapat melepaskan diri dari alam kematian
dunia, menuju kemanunggalan. Sehingga menurut Syekh Siti Jenar,
shalat yang hanya sekedar melaksanakan perintah syari’at adalah
tindakan kebohongan, dan merupakan kedurjanaan budi.
Pengambilan shalat tarek ini berasal dari Kitab Wedha Mantra bab
221; Shalat Tarek Limang Wektu. (Sang Indrajit: 1979, hlm. 63-66).
Keterangan bagi yang mengamalkan ilmu shalat tarek lima waktu ini.
(Semua hal yang berkaitan dengan shalat tarek ini diterjemahkan
dengan apa adanya dari Kitab Wedha Mantra. Makna terjemahan yang
bertanda kutip hanyalah arti untuk memudahkan pemahaman.
Adapun maksud dan substansi yang ada dalam kalimat-kalimat asli
dalam bahasa Jawa-Kawi, lebih mendalam dan luas dari pemahaman
dan terjemahan diatas.(penulisnya wanti-wanti banget….))
Pelaksanaan shalat tarek bisa saja diamalkan bersamaan dengan
shalat syari’at sebagaimana biasa, bisa juga dilaksanakan secara
terpisah. Hanya saja terdapat perbedaan dalam hal wudlunya. Jika
dalam shalat syari’at, anggota wudhu yang harus dibasuh adalah
wajah, tangan, sebagian kepala, dan kaki, sementara dalam shalat
tarek adalah di samping tempat-tempat tersebut, harus juga
membasuh seluruh rambut, tempat-tempat pelipatan anggota tubuh,
pusar, dada, jari manis, telinga, jidat, ubun-ubun, serta pusar
tumbuhnya rambut (Jawa; unyeng-unyengan). Walhasil wudlu untuk
shalat tarek sama halnya dengan mandi besar (junub/jinabat).
Bahwa kematian orang yang menerapkan ilmu ini masih terhenti pada
keduniaan, akan tetapi sudah mendapatkan balasan surga sendiri.
Maka paling tidak ujaran-ujaran shalat tarek ini hendaknya
dihafalkan, jangan sampai tidak, agar memperoleh kesempurnaan
kematian.
Bagi yang akan membuktikan, siapa saja yang sudah melaksanakan
ilmu ini, dapat saja dibuktikan. Ketika kematian jasadnya didudukkan
di daratan (di atas tanah), di kain kafan serta diberi kain lurub
(penutup) serta selalu ditunggu, kalau sudah mendapatkan dan sampai
tujuh hari, bisa dibuka, niscaya tidak akan membusuk, (bahkan kalau
iradah dan qudrahnya sudah menyatu dengan Gusti), jasad dalam
kafan tersebut sudah sirna. Kalau dikubur dengan posisi didudukkan,
maka setelah mendapat tujuh hari bisa digali kuburnya, niscaya
jasadnya sudah sirna, dan yang dikatakan bahwa sudah menjadi
manusia sempurna. Maka karena itu, orang yang menerapkan ilmu ini,
sudah menjadi manusia sejati.
Sedangkan tentang ilmu ini, bukanlah manusia yang mengajarkan, cara
mendapatkannya adalah hasil dari laku-prihatin, berada di dalam
khalwat (meditasi, mengheningkan cipta, menyatu karsa dengan Tuhan
sebagaimana diajarkan Syekh Siti Jenar).
Tentang anjuran untuk pembuktian di atas, sebenarnya tidak
diperlukan, sebab yang terpenting adalah penerapan pada diri kita
masing-masing. Justru pembuktian paling efektif adalah jika kita
sudah mengaplikasikan ilmu tersebut. Apalagi pembuktian seperti itu
jika dilaksanakan akan memancing kehebohan, sebagaimana terjadi
dalam kasus kematian Syekh Siti Jenar serta para muridnya.
31. Shalat Subuh
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Kudus kang shalat, iya
iku rohing Allah. Allah iku lungguh ana ing paningal, shalat iku sajrone
shalat ana gusti, sajroning gusti ana sukma, sajroning sukma ana
nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajro-ning urip ana eling, pardhu
ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing awakku.”
(Aku berniat shalat, roh Kudus yang melaksanakan shalat, yaitulah
rohnya Allah. Allah yang menempati penglihatan, shalat yang di dalam
shalat itu ada gusti, di dalam gusti ada sukma, di dalam sukma ada
nyawa, di dalam nyawa terdapat kehidupan, di dalam kehidupan
terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu
akbar tetap mantap mengerti akan diriku sendiri).
Malaikatnya adalah Haruman (malaikat Rumman), memujinya dengan
“Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Niatnya, “Niyatingsun shalat, sirku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu
akbar, tetep madhep langgeng weruh ing sirku.”
(Aku berniat shalat, sir [rahasia]-ku yang shalat, wajib dari Allah
ta’ala, Allahu akbar, tetap menghadap dengan abadi mengerti akan sir
[rahasia]-ku).
Malaikatnya Haruman, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Kemudian memuji; “ya Rajamu, ya Rajaku.” (Arab; Ya maliku al-
Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,”
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat
berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta).
Seratus kali.
Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing
Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata
ing Allahku”,
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku),
Seratus kali
32.Shalat Luhur
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh idlafi kang shalat, iya
iku rohing Pangeran. Pangeran iku lungguhe ana ing kaketek, shalat iku
sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana
urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep
mantep weruh ing Pangeranku.”
(Aku berniat shalat, roh Idlafi yang melaksanakan shalat, yaitulah
rohnya Tuhan. Tuhan yang menempati ketiak, shalat yang di dalam
sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam sukma
terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam
kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah
ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Tuhanku).
Malaikatnya adalah Jabarail (malaikat Jibril), memujinya dengan, “Ya
Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Niatnya, “Niyatingsun shalat, kang shalat osikku, pardlu ta’ala Allahu
akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing osikku.”
(Aku berniat shalat, yang shalat bisikan dan gerak hatiku, wajib dari
Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi
mengerti akan bisikan nuraniku).
Malaikatnya Jabarail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-
Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,”
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat
berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta).
Seratus kali.
Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing
Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata
ing Allahku”,
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku),
Seratus kali.
33.Shalat ‘Ashar
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Abadi kang shalat, iya
iku rohing Rasul. Rasul iku lungguhe ana ing poking ilat, shalat iku
sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana
urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep
mantep weruh ing Rasulku.”
(Aku berniat shalat, roh keabadian yang melaksanakan shalat, yaitulah
rohnya Utusan. Utusan Tuhan yang menempati ujung lidah, shalat yang
di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam
sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di
dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari
Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Utusanku).
Malaikatnya adalah Mikail, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.”
Seratus kali.
Niatnya, “Niyatingsun shalat, angen-angenku kang shalat, pardlu ta’ala
Allahu akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing angen-
angenku.”
(Aku berniat shalat, angan-anganku yang shalat, wajib dari Allah
ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti
akan angan-anganku).
Malaikatnya Mikail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-
Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,”
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat
berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta).
Seratus kali.
Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing
Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata
ing Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata
pada Allahku), Seratus kali.
34.Shalat Maghrib
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, rokhani kang shalat, iya iku
rohing Muhammad. Muhammad iku lungguhe ana ing talingan, shalat
iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana
urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep
mantep weruh ing Muhammadku.”
(Aku berniat shalat, rohani yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya
Muhammad. Muhammad yang menempati ujung telinga, shalat yang di
dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam
sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di
dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari
Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan
Muhammadku).
Malaikatnya adalah Israfil, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.”
Seratus kali.
Niatnya, “Niyatingsun shalat, tekadku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu
akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing tekadku.”
(Aku berniat shalat, tekadku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala,
Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan
tekadku).
Malaikatnya Israfil, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-
Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,”
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat
berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta).
Seratus kali.
Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing
Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata
ing Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata
pada Allahku), Seratus kali
35.Shalat ‘Isya’
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Robbi kang shalat, iya
iku rohing urip. urip iku lungguhe ana ing napas, shalat iku sajroning
sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip,
sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep
weruh ing uripku.”
(Aku berniat shalat, roh Pembimbing yang melaksanakan shalat,
yaitulah rohnya kehidupan. Utusan Tuhan yang menempati napas,
shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat
sukma, di dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya
kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh,
kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan
kehidupanku).
Malaikatnya adalah Izrail, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus
kali.
Niatnya, “Niyatingsun shalat, karepku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu
akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing karepku.”
(Aku berniat shalat, keinginanku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala,
Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan
keinginanku).
Malaikatnya Izrail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-
Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,”
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat
berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta).
Seratus kali.
Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing
Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata
ing Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata
pada Allahku), Seratus kali.
36.“Inilah shalat satu raka’at salam, yang dilaksanakan setiap tanggal
(bulan purnama), dengan waktu tengah malam tepat.
a.Inilah niatnya, “Ushalli urip dzatullah Allahu akbar” (Aku berniat
melaksanakan shalat kehidupan dzatullah, Allahu akbar).
b.Membaca surat al-Fatihah, kemudian membaca ayat dengan
menyebut, “aku pan Sukma” (Aku sang pemilik Sukma)
c.Melakukan ruku’ dengan menyebut, “langgeng urip
dzatullah” (Kehidupan abadi dzatullah).
d.Sujud dengan mengucapkan, “ibu bumi dzatullah”.
e.Duduk di antara dua sujud dengan doa, “langgeng urip dzatullah tan
kena pati” (kehidupan abadi dzatullah yang tidak terkena kematian).
f.Sujud lagi dengan bacaan, “Ibu bumi dzatullah”.
g.Tahiyat dengan membaca, “Urip dzatullah”.
h.Membaca syahadat dengan bacaan, “Ashadu uripingsun lan
sukma” (Ashadu kehidupanku dan Sukma).
i.Salam dengan bacaan, “Ingsun kang agung, ingsun kang memelihara
kehidupan yang tidak terkena kema-tian.
j.Membaca doa, “Allahumma papan tulis hadhdhari langgeng urip tan
kena pati” (Allahumma papan tulis segala sesuatu yang abadi hidup
yang tak pernah terkena mati).
k.Kemudian berdoa dalam hati, “Ingsun kang agung ingsun kang wisesa
suci dhiriningsun” (ingsun yang Agung, ingsun yang memelihara, suci
diriku sendiri [ingsun]).
Dalam Islam dikenal shalat satu raka’at, namun itu hanya sebagian
dari shalat witir (shalat penutup akhir malam dengan raka’at yang
ganjil).
Shalat satu raka’at salam dalam ajaran Syekh Siti Jenar bukanlah
shalat witir, namun shalat ngatunggal, atau shalat yang dilaksanakan
dalam rangka mencapai kemanunggalan diri dengan Gusti.
Bacaan-bacaan shalat ngatunggal tidak semuanya memakai bahasa
Arab, hanya lafazh takbir dan al-Fatihah serta ayat-ayat yang dibaca
satu madzhab fiqih Islam sekalipun (yakni madzhab Imam Hanafi, dan
di Indonesia terutama madzhab Hasbullah Bakri), bacaan dalam shalat
selain takbir dan al-Fatihah boleh diucapkan dengan bahasa ‘ajam
(selain bahasa Arab).
37.“Shalat lima kali sehari, puji dan dzikir itu adalah kebijaksanaan
dalam hati menurut kehendak pribadi. Benar atau salah pribadi
sendiri yang akan menerima, dengan segala keberanian yang
dimiliki.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III
Dandanggula, 33).
Syekh Siti Jenar menuturkan bahwa sebenarnya shalat sehari-hari itu
hanyalah bentuk tata krama dan bukan merupakan shalat yang
sesungguhnya, yakni shalat sebagai wahana memasrahkan diri secara
total kepada Allah dalam kemanunggalan. Oleh karenanya dalam
tingkatan aplikatif, pelaksanaannya hanya merupakan kehendak
masing-masing pribadi.
Demikian pula, masalah salah dan benarnya pelaksanaan shalat yang
lima waktu dan ibadah sejenisnya, bukanlah esensi dari agama.
Sehingga merupakan hal yang tidak begitu penting untuk menjadi
perhatian manusia. Namanya juga sebatas krama, yang tentu saja
masing-masing orang memiliki sudut pandang sendiri-sendiri.
38.“Pada waktu saya shalat, budi saya mencuri, pada waktu saya
dzikir, budi saya melepaskan hati, menaruh hati kepada seseorang,
kadang-kadang menginginkan keduniaan yang banyak. Lain dengan
Zat Allah yang bersama diriku. Nah, saya inilah Yang Maha Suci, Zat
Maulana yang nyata, yang tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat
dibayangkan.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III
Dandanggula, 37).
Pada kritik yang dikemukakan Syekh Siti Jenar terhadap Islam formal
Walisanga tersebut, namun jelas penolakan Syekh Siti Jenar atas model
dan materi dakwah Walisanga. Pernyataan tersebut sebenarnya
berhubungan erat dengan pernyataan-pernyataan pada point 37
diatas, dan juga pernyataan mengenai kebohongan syari’at yang tanpa
spiritualitas di bawah.
Menurut Syekh Siti Jenar, umumnya orang yang melaksanakan shalat,
sebenarnya akal-budinya mencuri, yakni mencuri esensi shalat yaitu
keheningan dan kejernihan busi, yang melahirkan akhlaq al-karimah.
Sifat khusyu’nya shalat sebenarnya adalah letak aplikasi pesan shalat
dalam kehidupan keseharian.
Sehingga dalam al-Qur’an, orang yang melaksanakan shalat namun
tetap memiliki sifat riya’ dan enggan mewujudkan pesan kemanusiaan
disebut mengalami celaka dan mendapatkan siksa neraka Wail. Sebab
ia melupakan makna dan tujuan shalat (QS. Al-Ma’un/107;4-7). Sedang
dalam Qs.Al-Mukminun/23; 1-11 disebutkan bahwa orang yang
mendapatkan keuntungan adalah orang yang shalatnya khusyu’. Dan
shalat yang khusyu’ itu adalah shalat yang disertai oleh akhlak berikut :
(1) menghindarkan diri dari hal-hal yang sia-sia dan tidak berguna,
juga tidak menyia-siakan waktu serta tempat dan setiap kesempatan;
(2) menunaikan zakat dan sejenisnya; (3) menjaga kehormatan diri
dari tindakan nista; (4) menepati janji dan amanat serta sumpah; (5)
menjaga makna dan esensi shalat dalam kehidupannya. Mereka itulah
yang disebutkan akan mewarisi tempat tinggal abadi; kemanunggalan.
Namun dalam aplikasi keseharian, apa yang terjadi? Orang muslim
yang melaksanakan shalat dipaksa untuk berdiam, konsentrasi ketika
melaksanakan shalat. Padahal pesan esensialnya adalah, agar pikiran
yang liar diperlihara dan digembalakan agar tidak liar. Sebab pikiran
yang liar pasti menggagalkan pesan khusyu’ tersebut. Khusyu’ itu
adalah buah dari shalat. Sedangkan shalat hakikatnya adalah
eksperimen manunggal dengan Gusti. Manunggal itu adalah al-Islam,
penyerahan diri
. Sehingga doktrin manunggal bukanlah masalah paham qadariyah
atau jabariyah, fana’ atau ittihad.
Namun itu adalah inti kehidupan. Khusyu’ bukanlah latihan
konsentrasi, bukan pula meditasi. Konsentrasi dan meditasi hanya
salah satu alat latihan menggembalaan pikiran. Wajar jika Syekh Siti
Jenar menyebut ajaran para wali sebagai ajaran yang telah dipalsukan
dan menyebut shalat yang diajarkan para Wali adalah model shalatnya
para pencuri.
Wirid Hidayat Jati
(WIRID HIDAYAT JATI)
Panengeraning Dina Kiyamat .
Bebukane amratelakake kang dadi
Panengeraning dina Kiyamat, tegesing
Kiyamat, jumeneng, kasebut ing gisor iki.
1. Panengeran Kang Dingin.
Kang dingin, yen wis asring uninga kang ora
katonton, tanda kurang satuan, ing kono
panggonane anyaketi tapa brata anyenyuda
pakareman, anetepana panggalih : trima, rila,,
temen, utama, mungguh utama iku
dumunung ana ing sabar darana.
2. Panengeran Kang Kapindo
Kang kapindo, yen wis asring mireng kang
kapiyarsa, kaya ta, mireng rerasaning jin
setan, sato kewan, tanda kurang setengah
taun, ing kono panggonaning kurmat
sapanunggalane anglakoni panggaweyan
becik, kinantenan angati-ati marang uripe
dewe.
3. Panengeran Kang Kaping Telu.
Kang kaping telu, yen wis salin ing paningale,
kaya ta, ing sasi Muharram, Shafar, andulu
langit katon abang; Mulud, Rabiul Akhir,
srengenge katon ireng; Jumadilawal,
Jumadilakhir, rembulan katon ireng; Rejeb,
Ruwah, banyu katon abang; Pasa Syawal,
wewayangane dewe katon loro; Zulkaedah,
Besar, geni katon ireng; kabeh iku tanda
kurang rong sasi, ing kono panggonaning
wasiyat karo riwayat, tegese amemeling karo
wewarah, kinantenan taberi asesuci.
4. Panengeran Kang Kaping Pat.
Kang kaping pat, yen dariji panungguling asta
dibekuk, kapetelake dalah epek-epeke, dariji
manis kaangkat, yen wis kaangkat anjunjung
dariji manise mau, tanda kurang patang
puluh dina, ing kono panggonaning afiyat,
tegese pangapura. Iya iku anenuwun
pangapura marang Pangerane, saha banjur
angapura marang kang pada kaluputan,
utawa aminta pangapura marang kang pada
rumasa kalarakake atine.
5. Panengeran Kang Kaping Lima.
Kang kaping lima, yen asta kawawas ing
netra loro darijine wis katon kalong, ugel-
ugele wis katon pedot, tanda kurang sasasi,
ing kono panggonaning amatrapake
pikukuhing ngelmu kasampurnan kaya kang
kasebut ing ngisor iki :
a. Iman, tegese angandel, kang diandel
kudrate, tegesing kudrat : kuwasa.
b. Tauhid, tegese muhung sawiji, tegese
pasrah marang iradate, tegesing iradat :
karsa.
c. Makrifat, tegese waskita, kang diwaskitani
ngelmune iya iku anguningani dununging
Dzat, sifat, asma, afngal, tegesing Dzat :
kanta, sifat : rupa, asma : aran, afngal :
pakreti.
d. Islam, tegese slamet, kang slamet iku
chayate, tegesing khayat : urip, dumunung
ana ing sifat jalal, jamal, kahar, kamal,
tegesing jalal : agung, kang agung iku Dzate,
dening anglimputi ing alam kabeh, tegesing
jamal : elok, kang elok iku sifate, dening
dudu lanang dudu wadon, dudu wandu, sarta
ora arah ora enggon, tanpa warna tanpa rupa,
tegesing kahar : wisesa, kang wisesa iku
asmane, dening ora nama sapa-sapa,
tesegesing kamal : sampurna, kang
sampurna iku afngale, dening bisa gumelar
pada sanalika pakretine, saka kawasa tanpa
sangsaya.
Mungguh dununge mangkene, iman
dumunung ana ing eneng, tauhid, dumunung
ana ing ening, makrifat dumunung ana ing
awas, islam dumunung ana ing eling.
6. Panengeran kang Kaping Nem.
Kang kaping nem, yen wis asring katonton
warnane dewe, tanda kurang satengah sasi,
ing kono panggonaning Pamuja, aneges
karsane Kang Kawasa, patrape ing saben
apangkat arep sare, Pamujane kasebut ing
ngisor iki :
“Ana pujaningsun sawiji, Dzat iya
Dzatingsun, sifate iya sifatingsun, asmane
iya asmaningsun, afngale iya afngalingsun,
Ingsun puja ing patemon tunggal
sakahananingsun, samprna kalawan
kudratingsun”.
Ing nalika iku ciniptaa kang pinuja tunggal,
kaya ta Bapa, Biyung, Kaki, Nini, Garwa,
Putra, Wayah, sapadane kang dadi pelenging
cipta bisaan anunggal ing jaman
kalanggengan.
7. Panengeran Kang Kaping Pitu.
Kang kaping pitu, yen wis rumasa
larakasandang, tegese ora arep apa-apa,
tanda kurang pendak dina, ing kono
panggonaning tobat, patrape manawa lagi
wungu sare, kasebut ing ngisor iki :
“Ingsun analangsa maring Dzatingsun dewe,
regeting jisimingsun, gorohing atiningsun,
serenge ing napsuningsun, laline ing
uripingsun salawas-lawase, ing mangko
Ingsun ruwat sampurna ing sadosaningsun
kabeh kalawan kudratingsun”.
8. Panengeran Kang Kaping wolu.
Kang kaping wolu, yen wis karasa gerah
uyang saranduning sarira ing jaba jero kabeh,
terkadang asring andadekana wetuning
sesuker tinja taun, kara tinja kalong, utawa
cacing kalung karo cacing tembaga, ing
wekasan pucuking parji karasa anyep,
andadekake teranging nutfah, iku tanda wis
parek ing dina Kiyamat, amung kurang ing
saantara dina, ing kono waktuning Dajal
laknat katon arep agawe arubiru, marang
kahanan kita, iya iku pangonaning katekan
rancana saka sadulur papat, kalima pancer
dumunung ana ing badan kita dewe,
panangkise anapekena rahsaning jati wisesa,
tegese angenirake angen-angen, banjur
karuwata kaya ing ngisor iki :
“Ingsun angruwat kadangingsun papat kalima
pancer kang dumunung ana ing badaningsun
dewe. Mar marti Kakang Kawah Adi Ari-ari
Getih Puser, sakehing kadangingsun kang ora
katon, lan kang ora karawatan, utawa
kadangingsun kang metu saka marga hina
lan ora metu saka ing marga hina, sarta
kadangingsun kang metu bareng sadina
kabeh pada sampurna nirmala waluya ing
kahanan jati, dening kudratingsun”.
Nuli asaksiya kalayan Dzat kita dewe, kaya
asahid marang wahananing sanak kita, iya
iku kahananing dumadi kang gumelar ing
alam dunya, wis kasebut ing ngarep ana
wekasaning wewejangan.
9. Panengeran Kang Kaping Sanga Utawa
kang Wekasan.
Kang kaping sanga, yen ketek ana ugel-
uegeling asta wis ora ana, andadekake
oncate pramananing kanaka, sarta
pramananing tingal wis sepen, andadekake
rupeking pandulu rengating alis, utawa
garebeging talingan wis meneng, andadekake
pengeng sanalika, ing wekasan garing-gingen
kang sarira banjur kambu gandaning sawa,
iku tanda wis muncad ing dina Kiyamat,
jumeneng kalayan pribadine, ing kono
panggonaning anucekake sakehing anasir,
tegesing anasir : bangsa, iya iku bangsaning
khak kang dumunung ana ing Dzat, sifat,
asma, afngal, kaya ta : anasir badan asal
saka ing bumi , geni, angin, banyu, iku
kaciptaa suci mulya mulih marang asale,
saampurnaa anunggal kalayan anasiring roh,
kang sumende ana kahananing wujud,
ngelmu, nur, suhud; Tegese wujud : wahana,
iya iku getih, amarga getih iku dadi
kanyatahaning roh, Tegese ngelmu : paningal,
iya iku paningaling netra balaka, amarga
paningal iku dadi pamawasing roh, Tegese
nur : cahya, iya iku cahya kang anglimputi
ing sarira, amarga cahya iku dadi
pratandaning roh, Tegese suhud : saksi, iya
iku napas, amarga napas iku dadi saksining
roh.
Dene enggone anucekake kasebut ing
sajroning cipta mengkene :
“Ingsun anucekake sakalaliring anairingsun
kang abangsa jasmani, suci mulya sampurna
anunggal kalawan sakaliring anasiringsun
kang abangsa rochani, nirmala waluya ing
kahanan jati dening kudratingsun”.
Yen wis mangkono, nuli Nur Muhammad
tumimbul, gumilang-gilang ana ing ana ing
wadana, tanda bakal binuka kijabing
Pangeran, meh katone sakehing cahya, ing
kono panggonaning ngawinake badan karo
nyawa, kasebut ing sajroning cipta
mangkene :
“Allah kang kinawin, winalenan dening Rasul,
pangulune Muhammad, saksine malaekat
papat, iya iku Ingsun kang angawin
badaningsun, winalenan dening
Rahsaningsun, kaunggahake dening
cahyaningsun, sinaksenan dening
malaekatingsun papat, Jabrail, iya iku
pangucapingsun, Mikali, pangambuningsun,
Israfil, paningalingsun, Ijraril,
pamiyarsaningsun, srikawine sampurna saka
ing kudratingsun”.
Nuli anyiptaa sangkan paraning Tanazultarki,
kasebut ing ngisor iki :
“Ingsun mancad saka alam Insan Kamil,
tumeka maring alam Ajsam, nuli tumeka
maring alam Misal, nuli tumeka maring alam
Arwah, nuli tumeka maring alam Wachidiyat,
nuli tumeka maring alam Wahdat, nuli
tumeka maring alam Achadiyat, nuli tumeka
maring alam Insan Kamil maneh, sampurna
padang terawangan saka ing kudratingsun”.
☞http://jiwondeso.blogspot.com☜
Nuli anyiptaa ing pambirat asaling cahya
sawiji-wiji kasampurnakake saka kudrat kita,
supaya aja nganti kalimputan dening cahya
kang andadekake durgamaning sangkan
paran, mangkana pambirate ing sajroning
cipta :
“Cahya ireng kadadeyaning napsu Luwamah
sumurup maring cahya abang, cahya abang
kadadeyaning napsu Amarah sumurup
maring cahya kang kuning, cahya kuning
kadadeyaning napsu Sufiyah sumurup maring
cahya kang putih, cahya putih kadadeyaning
napsu Mutmainah sumurup maring cahya
kang amancawarna, cahya kang
amancawarnakadadeyaning pramana
sumurup maring Dzating cahyaningsun
awening mancur mancarong gumilang tanpa
wewanyangan, byar sampurna padang
terawangan, ora ana katon apa-apa, kabeh-
kabeh pada kalimputan dening Dzatingsun
saka ing kudratingsun”.
Ing nalika iku upama ana karasa apa-apa ing
badane, angusapa puser kaping telu (3),
upama angrasa liwung kaya mendem,
angusapa dada kaping telu (3), upama
angrasa arip arep sare, angusapa batuk
kaping telu (3), upama angrasa arep lali,
angusapa embun-embun kaping telu (3),
banjur tata-tata dandan kaya ing ngisor iki
ptrape :
Wiwit asidakep suku tunggal anutupi
babahan nawa sanga, dirijining asta pada
antuk ing selaning dariji kaya angapu-
rancang, jempol diadu pada jempol,
banjur tumumpang ing dada, dibener
sesipatane lawan tengahing dada,
salonjoring sikil awit jempol sikil
katemokake pada jempol sikil dipapak,
polok ketemokake pada polok digatuk,
dengkul katemokake pada dengkul
dirapet, palanangan sapalandungane
sinipat karo jempol sikil aja nganti
katindihan.
Nuli amawas pucuking grana, disipat ing
dada tumeka ing puser, ing palanangan,
ing jempol sikil, banjur angeningake
cipta.
Nuli angeremake netra kang alon,
angingkemake lambe kang adamis, untu
gatuka pada untu kang rata, ilat katekuk
manduwur kapadalake ing cetak, banjur
pasrah analangsa ing Dzate dewe.
Nuli amegeng napas ing sanalika banjur
anyipta matrapake panjenenganing Dzat,
wiwit angumpulake kawula gusti
mangkene :
“Ingsun Dzating Gusti Kang Asifat Esa,
anglimputi ing kawulaningsun tunggal dadi
sakahanan, sampurna saka ing
kudratingsun”. Ing kono pamegenging napas
tinurunake metu ing grana kang alon aja
nganti kasusu.
Yen wis sareh, amegeng napas maneh ing
sanalika banjur anyipta maha sucekake ing
Dzat kita kaya mangkene :
“Ingsun Dzat Kang Maha Suci Kang Asifat
Langgeng, kang amurba amisesa kang
kawasa, kang sampurna nirmala waluya ing
jisimingsun kalawan kudratingsu”. Ing kono
pamegengeng napas katurunake metu ing
grana maneh, kang alon aja nganti kasusu.
Yen wis sareh, amegeng napas maneh ing
sanalika banjur anyipta angrakit karatoning
Dzat kita kang amaha mulya kaya
mangkene :
“Ingsun Dzat Kang Maha Luhur Kang
Jumeneng Ratu Agung, kang amurba
amisesa kang kawasa andadekake ing
karatoningsun kang agung kang maha mulya,
Ingsun wengku sampurna sakapraboningsun,
jangkep saisen-isening karatoningsun, pepak
sabalaningsun kabeh ora ana kang
kekurangan, byar gumelar dadi
saciptaningsun, ana sasedyaningsun, teka
sakarsa-karsaningsun kabeh, saka ing
kudratingsun”. Ing kono pamegeng napas
tinurunake metu ing grana maneh, kang alon
aja kasusu.
Yen wis sareh, amegeng napas maneh ing
sanalika banjur anyipta angracut ing jisim
kita kaya mangkene :
“Jisimingsun kang kari ana ing alam dunya,
yen wis ana jaman karamat kang amaha
mulya, wulu kulit daging getih balung
sungsum sapanunggalane kabeh, asale saka
ing cahya muliha maring cahya, sampurna
bali Ingsun maneh, saka ing kudratingsun”.
Ing kono pamegeng napas tinurunake metu
ing grana maneh, kang alon aja kasusu.
Yen wis sareh, amegeng napas maneh ing
sanalika banjur anyipta anarik marang para
akrab sapanduwur sapangisor kang wis pada
ngajal, kasampurnakake kaya mangkene :
“Jaganingsun sapanduwur sapangisor kabeh,
kang pada mulih ing jaman karamating
alame dewe-dewe pada suci mulya
samprnaa kaya Ingsun saka ing
kudratingsun”. Ing kono pamegeng napas
tinurunake metu ing grana maneh, kang alon
aja kasusu.
Yen wis sareh, amegeng napas maneh ing
sanalika banjur anyipta angukud gumelaring
alam dunya kasampurnakake kabeh kaya
mangkene :
“Ingsun andadekake alam dunya saisen-isene
kabeh iki, yen wis tutug ing wewangene,
Ingsun kukud mulih mulya samprna dadi
sawiji kalawan kahananingsun maneh saka
ing kudratingsun”. Ing kono pamegeng napas
tinurunake metu ing grana maneh, kang alon
aja kasusu. ☞http://www.jiwondeso.blogspot.com☜
Yen wis sareh, amegeng napas maneh ing
sanalika banjur anyipta ambabar marang
tedak turune kang pada kari kaya mangkene :
“Tusasingsun kang maksih pada kari ana ing
alam dunya kabeh, pada nemuwa suka
bungah sugih singgih aja ana kang
kekurangan, rahayu salameta sapanduwure
sapangisore saka ing kudratingsun”. Ing kono
pamegeng napas tinurunake metu ing grana
maneh, kang alon aja kasusu.
Yen wis sareh, amegeng napas maneh ing
sanalika banjur anyipta amasang pangasihan
marang para tumitah kabeh kaya mangkene :
“Sakehing titahingsun kabeh, kang pada
andulu kang pada karungu pada asih welasa
marang Ingsun saka ing kudratingsun”. Ing
kono pamegeng napas tinurunake metu ing
grana maneh, kang alon aja kasusu.
Yen wis sareh, amegeng napas maneh ing
sanalika banjur anyipta amasang kamayan
marang para mahkluk kang pada angarubiru,
utawa ora angendahake marang jisim kita
kaya mangkene :
“Sakehing mahklukingsun kabeh, kang ora
angendahake maringsun, pada kaprabawa ing
kamayan dening kudratingsun”. Ing kono
pamegeng napas tinurunake metu ing grana
maneh, kang alon aja kasusu.
Dene enggone amatrapake panjenenganing
Dzat kabeh mau yen karingkes dadi sawiji
ana pratingkahe, wiwit pamegenging napas
amung sapisan bae, ing sanalika amatrapake
kaya mangkene :
“Sakaliring cahya kabeh pada kalimputan
dening Dzatingsun, iya Ingsun Dzating Gusti
Kang Asifat Esa, iya Ingsun Dzat Kang Maha
Suci asifat Langgeng, iya Ingsun Dzat Kang
Maha Luhur Kang Jumeneng Ratu agung,
kang amurba amisesa kang kawasa angracud
jisimingsun, anarik jaganingsun, angukud
jagadingsun, amababar turasingsun, amasang
pangasihan marang titahingsun, amasang
kamayan marang mahklukingsun kabeh
sampurna saka ing kudratingsun”. Banjur
kaciptaa ing sasurasane, sarta pamegenging
napas tinurunake metu ing grana kang alon
aja nganti kasusu.
Mungguh cancude ing sajroning amegeng
napas mau uger enget ing cipta bae, patrape
kabeh iku iya wis kacakup, sabab yen
sajroning jaman karamatullah ing tembe
waktuning makam ijabah, tegese panggonan
katarima, apa saciptane dadi, amarga
sirnaning mudah kari wajah, mudah iku
Dzating kawula, wajah iku Dzating Gusti
Kang Asifat Langgeng.
Yen wis mankono, maras kita tumangkep ing
ati, andadekake seseke ing napas, ing kono
banjur anarika napas saka kiwa mubeng
anengen, saka tengen mubeng ngiwa,
kakumpulake dadi sawiji ana ing lintang
johar akhir, iya iku puser, katarik manduwur
bener kang sareh, leren tinata ana ing
maligening Bait al Muharram, iya iku dada,
banjur anyipta cancuding amatrapake
panjenenganing, dienget aja nganti tumpang
suh kumpuling napas, tanapas, anpas, nupus,
napas iku tetalining jisim, dumunung ana ing
ati suweda, tegese woting ati, wahanane dadi
angin kang metu saka badan wae, tanapas,
iku tetalining ati, dumunung ana ing puser,
wahanane dadi angin kang manjing marang
badan bae, anpas iku tetalining roh,
dumunung ana ing jejantung, wahanane angin
kang tetep ana ing jero bae, nupus iku
tetalining rahsa, dumunung ana ing puat
kang aputih, iya iku ana ing woding
jejantung, wahanane dadi angin kang metu
angiwa anengen saka badan, pakartine
anglimputi sakaliring jasmani rochani.
Yen wus kumpul dadi sawiji, napas, tanapas,
anpas, nupus, mau banjur katarik manduwur
kang alon, leren tinata ana ing maligening
Bait al Makmur iya iku ing sirah, ing kaciptaa
licin dadi nukat gaib, tegese saliring jasmani
kaciptaa luluh dadi banyu, nuli kaciptaa luyut
dadi nyawa, nuli kaciptaa lenyep dadi rahsa,
nuli kaciptaa layat dadi cahya gumilang
tanpa wewayangan ing kahanan kita kang
sajati.
Yen wis mangkono, erah kita parad banjur
karasa walikaten salir anggaotaning sarira
kabeh andadekake : netra bawur, talingan
pengleh, grana mingkup, lidah mangkeret, ing
wekasan cahya surem, swara sirna, ora bisa
aingali, miyarsa, angganda, amirasa, amung
kari cipta bae, amarga wis kinukud tataning
sarengat, tarekat, hakekat, makrifat : *
Sarengat iku lakuning badan, dununge ing
lesan, * Tarekat lakuning ati, dununge ing
grana, * Hakekat lakuning nyawa, dununge
ing talingan, * Makrifat lakuning rahsa,
dununge ing netra, mula sejatining sarengat
iku lesan, tarekat : grana, hakekat : talingan,
makrifat netra, kaupamakake bawure kaca
wirangi, utawa esating banyu zamzam, nuli
pamiyarsaning talingan, kaupamakake
rentahing godong sajaratilmuntaha, utawa
kangsrahing hajar al aswad, nuli
panggandaning grana, kaupamakake guguring
wukir ikrap, utawa rubuhing ardi tursina, nuli
pamirasaning lesan, kaupamakake bubrahing
wot siratalmustakim, utawa rusaking
ka’batullah, ing kono banjur karasa nikmat
saliring anggaotaning sarira kabeh, angluwihi
nikmating sanggama ing nalika metokake
rahsa, amarga awit binuka kijabing
Pangeran, waktuning sirnaning warana banjur
katoning jaman karamatullah, tegese jaman
kamulyaning Allah, pangrasane ing dalem
adam kukumi tekane sakehing cahya kang
pada anglimputi ing Dzating karaton, ing
nalika iku amung amustiya pepuntoning
tekad kang santosa, kaya ngibarating aksara
Alif kang ajabar jer apes, unine : A, I, U,
tegese : Aku Iki Urip, banjuranyipta brangta
ing Dzat, supaya aja kengetan marang kang
keri kabeh.
Kamis, 12 Juli 2012
Ilir ilir
Lir-ilir, lir-ilir
j
tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…
Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,? (blimbing apa??)
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
Tembang diatas sungguh luar biasa maknanya, kanjeng Sunan memberikan
pelajaran hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah dan mudah diingat,
coba mari kita kupas bait perbait dari makna tembang ini,
1. Lir-ilir, lir-ilir tembang ini dimulai dengan ilir-ilir artinya bangun-bangun
atau bisa diartikan hiduplah (sejatinya tidur itu mati) bisa juga dimaknai
sebagai sadarlah. Tetapi apa yang perlu dibangunkan? yaitu hidup kita
(ingsun) hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? fikiran? —terserah kita yang
penting disini ada sesuatu yang dihidupkan, dan jangan lupa disini ada
unsur angin, berarti cara menghidupkannya ada gerak..(kita fikirkan
ini)..gerak menghasilkan udara. ini adalah ajakan berdzikir. dzikir yang
bagaimana??? (kita tanyakan pada diri kita masing-masing). dengan
berdzikir maka ada sesuatu yang dihidupkan.(kita fikirkan ini)
2. Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
kemudian dilanjutkan dengan bait berikutnya, bait ini mengandung
makna kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang
dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Apakah ini pohon
dhohir? tentu tidak pohon disini adalah pohon kalimatan toyyibah. yang
akarnya tetap tertancap di bumi dan cabangnya ada empat serta tiap
cabangnya menghasilkan buah makrifat atas izin Tuhannya.
3. Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi, Lunyu-lunyu yo penekno
kanggo mbasuh dodotiro. Bait ini memberikan petunjuk bahwa untuk
mencapai buah dari pohon itu kita harus jadi anak gembala, apa yang
kita gembala? ya diri kita sendiri yang perlu kita gembala, hawa kita,
nafsu kita yng perlu kita gembalakan, kita didik dan kita jadikan
kendaraan untuk bisa mencapai buah dari pohon toyyibah itu. Susah
susah ya ambil buah itu, meskipun susah buah dari pohon itu harus kita
ambil untuk mencuci pakaian kita, pakaian dhohir? tetnu bukan, pakaian
disini adalah pakaian Taqwa, pakaian taqwa ini harus kita cuci dengan
buah dari pohon itu.
4. Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir, Dondomono jlumatono
kanggo sebo mengko sore, Pakaian kita (taqwa) harus kita bersihkan,
yang jelek jelek kita singkirkan, kita tinggalkan, perbaiki, rajutlah hingga
menjadi pakain yang indah ”sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa“.
Kemudian jika pakaian kita sudah dibersihkan, sudah kita rajut sangat
indah maka pakaian kita itu kita kenakan, kita pakai untuk kembali ke
Tuhan (Inna LILLAH).
5. Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane, Yo
surako… surak hiyo… Bait ini mengingatkan kita untuk cepat-cepat
bangun/sadar, cepat mengambil buah dari pohon toyyibah, kemudian
mencuci pakaian dengan sari buah/air dari pohon toyyibah tersebut
untuk mencuci pakaian kita (pakaian Taqwa). dengan pakaian Taqwa itu
kita kembil ke Tuhan dengan menggunakan pakain yang indah. sehingga
kita kembali ke pada-NYA sebagai Muttaqin.
Mumpung masih ada kesempatan, mari kita cepat-cepat untuk mengambil buah
Itu, untuk bisa mencapai buah itu, kita harus bangun/sadar/nglilir dari tidak
sadar/tidur, karena untuk mencapai buah itu sangat licin, mudah terpeleset jadi
harus sadar, untuk bisa sadar harus Dzikir karena Dzikir itu untuk menyadarkan
ruh kita dan mengingat Tuhan. (Keluar dari Lupa, masuk Kepada Ingat)
sehingga kita bisa mengambil buah itu, kita pakai untuk mencuci pakaian Taqwa
kemudian kita
Inna LILLAHI wa Inna ILLAIHI ROJIUUN. “sesunggunya saya dari Alloh, dan
kembali kepada Alloh”. Amiin
Semoga bermanfaat,
Sabtu, 07 Juli 2012
Cermin diri ajaran wali
“Mengenai langkah yang harus dijalani, janganlah kamu berlebihan, hiduplah
dengan bersahaja, jangan sombong dalam berbicara, dan jangan berlebihan
terhadap sesama manusia. Itulah langkah sempurna yang sejati.
Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur, lakukanlah tapa
di tengah ramainya manusia. Milikilah sikap luhur dan maafkanlah orang yang
salah. Hanya itulah langkah yang sejati.”
(Sajarah Wali, Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunang jati, Naskah Mertasinga,
Wahjoe: Pustaka, 2005)
PARAGRAF diatas saya kutipkan dari sebuah naskah kuno Mertasinga yang
merupakan pesan yang disampaikan oleh Syekh Ataullah, salah satu guru dari
Sunan Gunung Jati. Naskah ini diterjemahkan oleh Bapak Amman N. Wahjoe,
yang memiliki dokumen ini secara turun menurun dalam keluarganya. Wahjoe
membuat babad yang berbahasa Jawa-sundan ini dalam bahasa Indonesia dan
menjadi satu bacaan berbahasa Indonesia yang banyak mengungkap sejarah
tentang para wali di pulau Jawa.
Sebenarnya ajaran-ajaran macam ini bertebaran di Indonesia. Bentuknya dapat
berupa babad, kawuh, kinanti dan sebagainya. Satu bentuk dokumen yang
biasanya hanya dipunyai oleh keturunan yang sifatnya ekslusif dan tidak
terdokumentasi dengan baik.
Banyak keluarga di Indonesia ini menyimpan catatan-catatan ataupun tinggalan
dari kakek, nenek atau buyutnya. Namun karena ketidakmengertian catatan ini
diperlakukan sebagai jimat yang dikeramatkan tanpa dikuak isinya.
Bagi saya pribadi amat menarik untuk mengetahui secara mendalam ajaran-
ajaran para wali di pulau Jawa ini. Sejak dulu informasi yang saya terima tentang
para wali, hanyalah hal-hal yang berisifat sinkretik yang penuh dengan cerita-
cerita kegaiban.
Namun semakin saya mencari, yang saya temukan adalah kesederhanaan ajaran
mereka yang cukup menyentuh sisi keberagamaan saya. Kalau ditilik dari ajaran-
ajarannya para sunan ini tidak hanya sekedar pendakwah, namun mereka
mempunyai khazanah sufistik yang cukup mendalam.
Salah satu tanda dari khazanah sufistik yang dimiliki para wali tersebut adalah
wisdom (kebijaksanaan). Salah satu contohnya dapat kita rasakan pada ajaran
Sunan Kudus yang sampai saat ini masih diyakini oleh sebagian masyarakat di
kota itu, yaitu tidak menyembelih sapi. Saat itu Sunan Kudus memerintahkan
penghormatan terhadap sapi untuk mentoleransi kepercayaan masyarakat Hindu
yang hidup di kota itu.
Menurut kisah yang tersebar dalam masyarakat, Sunan ini memulai dakwahnya
dengan cara yang sangat unik untuk memancing masyarakat pergi ke masjid
mendengarkan dakwahnya. Ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama
Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan
sapi, tumbuh simpatinya. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan
Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti ’sapi betina’.
Selain itu kita dapat juga mempelajari ajaran dari Sunan Bonang yang gemar
mecipatakan lagu-lagu rakyat sebagai lahan dakwahnya. Salah satu tembangnya
yang cukup populer sampai saat ini, terutama saat dinyantikan kembali oleh
Opick, ‘Tombo Ati’ merupakan hasil karya sunan. Boleh saya kutipkan disini
terjemahan dari syair yang aslinya berbahasa Jawa tersebut:
Obat hati ada lima perkara.
Yang pertama, baca Qur’an dan maknanya
Yang kedua, shalat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpulah dengan orang saleh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.
Siapa yang bisa melakukan salah satunya
Semoga Tuhan memberikan penyembuhnya.
Salah satu sunan yang cukup unik pendekatannya dan cukup akrab dengan
budaya lokal adalah Sunan Kalijaga. Wali yang satu ini menggunakan pendekatan
budaya untuk mendekati masyarakat Hindu Budha pada jamannya. Salah satu
peninggalan beliau yang cukup dikenal oleh masyarakat Jawa adalah kisah
pewayangan Dewa Ruci (Dewa Ruh Suci, Ruh Al-Quds—ed.). Kisah tentang Bima
yang bertemu dengan Dewa Ruci yang berwujud sama dengan dirinya
menyimbolkan pertemuan manusia dengan jiwanya sendiri*. Kisah Dewa Ruci
merupakan satu simbol khazanah kesufian yang melihat bahwa tiap-tiap manusia
harus bertemu dengan jiwanya sendiri untuk mengetahui laku sejati dalam
hidupnya. Sayangnya saat ini banyak orang Jawa menggunakan pementasan
wayang Dewa Ruci ini untuk ritual “ruwatan” tanpa mengetahui pesan
sesungguhnya dari kisah tersebut.
Yang cukup ajaib buat saya juga adalah fakta sejarah bahwa para wali itu
sebagian besar adalah orang-orang asing. Menurut buku yang ditulis oleh
Sudirman Tebba, “Mengenal Wajah Islam yang ramah” (Pustaka Irvan, 2007) dan
juga Sajarah Wali dalam Naskah Mertasinga, para wali kebanyakan berasal dari
tanah Arab dan Campa.
Syekh Syarif Hidayatullah sendiri serta Sunan Kudus mempunyai darah Arab.
Wali-wali yang lain seperti Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Bonang yang
mempunyai hubungan kekeluargaan satu sama lain, merupakan keturunan dari
Campa, perdebatan sering merujuk Campa sebagai salah satu daerah di
Kamboja.
Kenyataan bahwa orang-orang asing khusus datang dan berkumpul ke pulau
Jawa untuk menyebarkan dakwah Islam, adalah hal yang cukup menarik untuk
diselami. Mengapa mereka datang ke pulau Jawa? Dan lebih hebatnya lagi
mengapa mereka yang berdarah asing itu dapat membumikan nilai-nilai Islam
sesuai dengan nilai lokal atau lebih tepatnya ‘berdakwah dengan “bahasa”
kaumnya’? Ini adalah misteri yang membutuhkan studi yang panjang, namun
dengan khazanah sufistiknya yang unik, para wali mengajarkan nenek moyang
saya untuk menyembah Tuhan dengan keberserahdirian yang sederhana.
Sayangnya esensi dari ajaran para wali ini terlupakan saat ini. Banyak orang di
Indonesia mencoba mencari refleksi keagamaannya ke luar dan bukan pada
dirinya sendiri. Gerakan pan Islamisme tahun 80-an agaknya banyak membuat
perubahan dalam berislamnya orang Indonesia. Faham-faham yang serba keras,
hanya berwajah syariah tanpa percikan kebijakan membuat Islam difahami
dengan perspektif yang amat berbeda pada generasi–generasi muda Islam
Indonesia yang ada saat ini.
Gerakan–gerakan Islam yang banyak merupakan turunan dari organisasi Islam
dari Mesir atau Saudi Arabia, membuat banyak orang terasing dari sejarah
keberagamaannya sendiri. Aliran garis keras ini pun direaksi dengan gerakan
keIslaman yang liberal yang mencoba memasukkan Islam mempunyai logika
berfikirnya sendiri yang transenden, dalam kerangka ilmiah barat yang sifatnya
materialistik.
Saya tidak menemukan wajah Islam yang diyakini oleh nurani saya pada dua sisi
ekstrim tersebut. Namun saya menemukan ketersambungan akar keyakinan saya
tentang bagaimana seharusnya beragama Islam dalam ajaran para wali.
Sekarang, disaat Islam didentikan dengan terorisme dan kekerasan, Indonesia
sering ditoleh oleh barat sebagai anti thesa bahwa Islam adalah wujud dari
kedamaian dan toleransi. Menurut saya sudah saatnya untuk menggali dan
mencoba menemukan inti dari warisan ajaran-ajaran para wali, sehingga kita
bisa menemukan keunikan sejarah keberagamaan kita sendiri dan menyebarkan
pada dunia, wajah Islam yang sebenarnya sebagai Rahmat sekalian alam. []
___
* Mengenal diri, “Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu”, Siapa yang
mengenal jiwanya akan mengenal Rabb-nya. (Al-Hadits).
3 syahadat versi sunan bonang
Menurut Sunan Bonang, ada tiga macam syahadat:
1. Mutawilah (muta`awillah di dalam bahasa Arab)
2. Mutawassitah (Mutawassita)
3. Mutakhirah (muta`akhira)
Yang pertama
syahadat (penyaksian) sebelum manusia dilahirkan ke dunia iaitu dari Hari Mitsaq
(Hari Perjanjian) sebagaimana dikemukakan di dalam ayat al-Qur`an 7: 172,
“Bukankah Aku ini Tuhanmu? Ya, aku menyaksikan” (Alastu bi rabbikum? Qalu
bala syahidna).
Yang ke dua
ialah syahadat ketika seseorang menyatakan diri memeluk agama Islam dengan
mengucap “Tiada Tuhan selain allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya”.
Yang ketiga
adalah syahadat yang diucapkan para Nabi, Wali dan Orang Mukmin sejati.
Bilamana tiga syahadat ini dipadukan menjadi satu maka dapat dimpamakan
seperti kesatuan transenden antara tidakan menulis, tulisan dan lembaran kertas
yang mengandung tulisan itu. Juga dapat diumpamakan sperti gelas, isinya dan
gelas yang isinya penuh. Bilamana gelas bening, isinya akan tampak bening
sedang gelasnya tidak kelihatan. Begitu pula hati seorang mukmin yang
merupakan tempat kediaman Tuhan, akan memperlihatkan kehadiran-Nya
bilamana hati itu bersih, tulus dan jujur.
Di dalam hati yang bersih, dualitas lenyap. Yang kelihatan ialah tindakan cahaya-
Nya yang melihat. Artinya dalam melakukan perbuatan apa saja seorang mukmin
senantiasa sadar bahwa dia selalu diawasi oleh Tuhan, yang menyebabkannya
tidak lalai menjalankan perintah agama.. Perumpamman ini dapat dirujuk kepada
perumpamaan seupa di dalam Futuh al-Makkiyah karya Ibn `Arabi dan Lamacat
karya `Iraqi.
Karya Sunan Bonang juga unik ialah Gita Suluk Wali, untaian puisi-puisi lirik yang
memikat. Dipaparkan bahwa hati seorang yang ditawan oleh rasa cinta itu
seperti laut pasang menghanyutkan atau seperti api yang membakar sesuatu
sampai hangus. Untaian puisi-puisi ini diakhiri dengna pepatah sufi “Qalb al-
mucmin bait Allah” (Hati seorang mukmin adalah tempat kediaman Tuhan).
Suluk Jebeng. Ditulis dalam tembang Dhandhanggula dan dimulai dengan
perbimcanganmengenai wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi dan
bahawasanya manusia itu dicipta menyerupai gambaran-Nya (mehjumbh
dinulu). Hakekat diir yang sejati ini mesti dikenal supaya perilaku dan amal
perubuatan seseorang di dunia mencerminkan kebenaran. Persatuan manusia
dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara. Manusia harus
mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh di dalam tubuh
sperti api yang tak kelihatan. Yang nampak hanyalah bara, sinar, nyala, panas dan
asapnya.
Ruh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculan dan
kelenyapannya tidak mudah diketahui. Ujar Sunan Bonang:
Puncak ilmu yang sempurna
Seperti api berkobar
Hanya bara dan nyalanya
Hanya kilatan cahaya
Hanya asapnya kelihatan
Ketauilah wujud sebelum api menyala
Dan sesudah api padam
Karena serba diliputi rahsia
Adakah kata-kata yang bisa menyebutkan?
Jangan tinggikan diri melampaui ukuran
Berlindunglah semata kepada-Nya
Ketahui, rumah sebenarnya jasad ialah ruh
Jangan bertanya
Jangan memuja nabi dan wali-wali
Jangan mengaku Tuhan
Jangan mengira tidak ada padahal ada
Sebaiknya diam
Jangan sampai digoncang
Oleh kebingungan
Pencapaian sempurna
Bagaikan orang yang sedang tidur
Dengan seorang perempuan, kala bercinta
Mereka karam dalam asyik, terlena
Hanyut dalam berahi
Anakku, terimalah
Dan pahami dengan baik
Ilmu ini memang sukar dicerna
Popular Posts
-
Suci kodrat sejati Nyawiji suci jumeneng sejati Roso suci sejati alenggahan roh suci Kuncup sejati mulyo sejati Roso kumala handarbeni ...
-
Semut Ireng Semut ireng, anak-anak sapi Kebo bongkang nyabrang kali bengawan Keyong gondhang jarak sungute Timun wuku gotong wolu Sur...
-
Tarek dan Daim Syekh Siti Jenar mengajarkan dua macam bentuk shalat, yang disebut shalat tarek dan shalat daim. Shalat tarek adalah shalat...
-
GOLEKANA tapake kuntul anglayang! Ngendi ana ? Lan sapa wonge sing bisa nggoleki ? Mbok mubenga nganti muser-muser, kuntule dhewe, yen lagi...
-
A J I P A M E L E N G Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene em...