Tampilkan postingan dengan label jowo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jowo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Agustus 2015

Tentang Penciptaan

~ Tentang Penciptaan ~
Ilmu Hakekat Insan Hadist di riwayatkan oleh Imam Ali Bin Abi Thalib : “QABLA’AN YAHLUKAS SAMAWATI WAL ARDHI, WAL ARSYI, WAL QURSYI, WAL HUJUBI, WAL JANNATI, WAN NARI, WAD DUNIA, WAL AKHIRA, WA ADAMA, WA SISAN, WA NUHAN, WA IBRAHIMA, WA SULAIMANA, WA MUSA, WA ISA, … “ Maksudnya : “Sebelum kejadian Arsyi, Qursyi, hijab 7 lapis Langit dan Bumi, pengertian TURUN NAIK NAFAS kita sudah tersedia berkekalan Surga, Neraka, Dunia dan Akhirat, Nabi Adam AS, Nabi Sis AS, Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS….” KOSONG. 624.000 tahun masih KOSONG, Allah Ta’ala yaitu kosong (waktu naik nafas keatas) Kosong bernama Ujud (Nur Nabi namanya) Jadi, Nur Rasulullah SAW sudah sedia 624.000 tahun lamanya. Kosong itulah sebenar-benar Laisa, bernama HUWA JIBUL WUJUD, NUR MUHAMMAD SAW, tajjali sendiri, menyipikan sendiri, terangkat sendiri. ESA adanya jua.. . Dari KOSONG menjadi TITIK Itulah kesempurnaan Syahadat adanya denyut (waktu menahan nafas turun) Titik itu bernama NUR SALASIAH (Rahasia Nabi) Yang ter-rahasia lagi ABU KASIM namanya. Inilah adanya 2 nama tapi 1 ujud, tiada lain, NUR.. NUR.. jua Yaitu rahasia TITIK dan KOSONG. . Dari TITIK menjadi ALIF.
Terjadinya alam semesta (waktu keluar nafas) Qodrat dan Iradatnya bernama Allah Ta’ala, Yaitu Alif semata-mata ASMA dan AF”AL. Kemudian barulah INSAN ADAM namanya bertubuh Rahim Muhammad SAW, Kemudian NUR MUHAMMAD SAW yang awal-awal memuji dirinya sendiri, Maka, Berlakulah JALAL dan JAMAL .. .
Puji Nur Rasulullah SAW, terbagi atas 12 Hijab yaitu :
1.Hijabul Kudus, KEKUASAAN, pujinya “SUBHANA RABBIAL A’LA”
2.Hijabul Akbar, KEBESARAN, pujinya “SUBHANA ALIMISSIRI WA AHFA”
3.Hijabul Minnah, PEMBERIAN, pujinya “SUBHANA RABBIAL ADZIM”
4.Hijabul Rahmah, KASIH SAYANG, pujinya “SUBHANA RAUFFUR RAHIM’
5.Hijabul Sya’adah, KEBAHAGIAAN, pujinya “SUBHANA MAN HUWA DA’IMUN”
6.Hijabul Karomah, KEMULIAAN, pujinya “SUBHANA ALIMUN HAKIM”
7.Hijabul Manjilah, ANUGERAH, pujinya “SUBHANA ZIL MULKIL A’LA”
8.Hijabul Hidayah, PETUNJUK, pujinya “SUBHANA RABBIAL ARSYIL AZIM”
9.Hijabul Nubuah, KENABIAN, pujinya “SUBHANALLAHI WABIHAMDIHI”
10.Hijabul Rib’ah, KEBERUNTUNGAN, pujinya “SUBHANAL MALIKIL KUDDUS’
11.Hijabul Ta’ah, KETAATAN, pujinya “SUBHANAL KADMUL AZALI”
12.Hijabul Syafa’at, SYAFAAT, pujinya “SUBHANAL MALIKUL MA’BUD” .
Jadi.. Adanya Nur terbagi 12 Hijab dengan puji-pujinya itu tiada lain kesemuanya adalah HU…
Diri Rasulullah SAW yang awal-awal atau Rahasia Dzat Wajibul Wujud yang sebenar-benarnya.

Di dalam masa ke-enam yaitu hari JUM’AT atau PERHIMPUNAN hanya telah sempurna kejadian Insan Diri nabi ADAM AS. Kemudian dalam hadist di terangkan : “KUNTU AWWALU NABIYYINA FIL KHALQI WA AKHIRI HUM FIL BA’TSI” Adalah AKU (AHMAD) yang awal-awal dari pada sekalian Nabi-nabi dan Rasul-rasul itu di dalam Rahasia awal-awal keadaan mereka, dan adalah AKU (MUHAMMAD) yang menjadi kesudahan mereka di dalam masa ke-dzahiran. Maksudnya : AKU yang awal dan yang akhir, yang buka dan yang tutup, semua terhimpun dalam AKU jua, Sedangkan, ke-dzahiran Insan Kamil Diri Nabi kita SAW terhitung pada masa yang ke-tujuh.

Bahwa : - Hijabul kudus 624.000 tahun lamanya, - Hijabul Akbar 900 tahun lamanya, - Hijabul Minnah 800 tahun lamanya, - Hijabul Rahmah 700 tahun lamanya, - Hijabul Sya’adah 600 tahun lamanya, - Hijabul Karomah 500 tahun lamanya, - Hijabul Manjilah 400 tahun lamanya, - Hijabul Hidayah 300 tahun lamanya, - Hijabul Nubuah 200 tahun lamanya, - Hijabul Rib’ah 100 tahun lamanya, - Hijabul Ta’ah 50 tahun lamanya, - Hijabul Syafa’at 23 tahun lamanya.
Kitab tentang NUR MUHAMMAD SAW yang aslinya sangat langkah adanya. Banyak para Da’i dan Ulama yang mengatakan Nur Muhammad SAW ini ‘dijadikan’ karena mereka belum mengetahui lebih mendalam lagi tentang paham Nur Muhammad SAW yang hakiki atau yang awal-awal. Oleh karena itu ajaran Islam tentang Iman, Islam, Ikhsan inilah yang menjadi asal Hijab Nur Rasulullah SAW, yaitu Nur yang hidup yang di katakan Qadim. Pemakaiannya : Amalkan puji Nur yang 12 Hijab di atas satu persatu, Mengamalkanya dari 1000X atau 100X atau jangan di hitung… Itulah maksudnya mengumpulkan kebahagian dunia dan akhirat, guna mendapatkan derajat yang agung disisi manusia juga wara mendapat derajat kewalian dunia dan akhirat. Satu persatu dari puji yang kita sampaikan maka kita akan mendapatkan anugerah dari Rasulullah SAW, Hidayah, Rahmat dan Syafa’at… Amin Yaa Rabbal Alamin.

1. Sebelum ke dzahiran, “ASALIHIM MIN ADAMA WA ASLIHIM ADAMA MIN TURAB” Semua asal dari Adam sedangkan nabi Adam dari tanah.
2. Sesudah ke dzahiran, “ANNA MIN ALLAH WA ALAMA MINNI” Aku dari Allah sedangkan Alam semesta dari Aku adanya.
Sedangkan, dalam tubuh kita terdapat 3 unsur yaitu :
1. ADAM = tubuh, hati, ruh, rahasia
2. MUHAMMAD = sareat, tarekat hakekat, makrifat
3. ALLAH = dzat, sifat, nama, rahasia

Read More ->>

Jumat, 11 April 2014

Fadilah Al Fatihah

~ Al-Fatihah ~
Ilmu Hakekat Insan
★ RAHASIA Fadilah Al-FATIHAH★

✔1. Bismillah = Mesrakan mulai dari Penglihatan.
✔2. Ar-Rahman = Mesrakan ke Pendengaran.
✔3. Ar-Rahim = Mesrakan ke Penciuman.
✔4. Alhamdulillahi Rabbil Alamin = Mesrakan ke Pengrasa.
✔5. Arrahmanirrahim = Mesrakan lagi dari Otak.
✔6. Malikiyaumiddin = Mesrakan turun ke Sum-sum.
✔7. Iyyakana’budu wa iyyakanasta’in = Mesrakan ke Tulang-tulang 360.
✔8. Ihdinas shiratal mustaqim = Mesrakan ke Urat-urat.
✔9. Shiratal laziina an amta alaihim = Mesrakan ke Daging.
✔10. Gairil magdubi alaihim = Mesrakan ke seluruh Kulit.
✔11. Waladdollin = Mesrakan sampai ke Bulu-bulu.
✔12. Amin = Mesrakan seluruh tubuh hingga SEMPURNA diri kita dzahir dan batin.
  Membaca AL-FATIHAH sambil DA’IM adalah puji AL-QUR’AN dalam diri.

∴ MAQOM FATIHAH DALAM LATIFAH ∴

※'BISMILLAH’ Kepala, ubun-ubun, Rabbun Nur Salasiah.
※‘ARRAHMAN’ Otak, detik ujud, tiada huruf tiada suara, tik.. tik..
※‘ARRAHIM’ Kedua mata, pancaran Nur, himpunan pandangan alam semesta.
※‘ALHAMDULILLAH’ Muka, rupa Muhammad, mengandung sifat ma’ani di muka kita.
※‘RABBIL ALAMIN’ Telinga kanan, ada gerak lintasan.
※‘ARRAHMAN’ Telinga kiri, ada gerak bisikan yang samar
※‘ARRAHIM’ Kedua tangan rahasia gerak.
※‘MALIKI YAUMIDDIN’ Belakang, rahasia gerak urat nadi manusia.
※‘IYYAKA NA’BUDU’ Rahasia gerak denyut.
※‘WA IYYAKA NASYTA’IN’ Rahasia segala manusia, tahan satu detik, itulah dinamaka Sir Dzatul Ahdas
※‘IHDINAS SIRATHAL MUSTAQIM’ Urat leher, rahasia mesra
※‘SHIRATOL LAZIINA AN AMTA ALAIHIM’ Rahasia melebur menjadi sifat Ma’ani, tiada huruf tiada suara.
※‘GAIRIL MAGDUBI’ Empedu, rahasia perintah hati.
※‘ALAIHIM’ Rahasia perintah Rabbani.
※‘WALADDOOLIN’ Hati, rahasia memuji diri sendiri.
※‘AMIN’ Jantung, rahasia Sir, itulah yang di namakan Dai’mun Sholat.
«――Mesrakan antara naik dan turun, inilah makna Baqobillah――»

at 6:01 malam
Apr 11,2014

Read More ->>

Kamis, 03 April 2014

SHOLAT 24 JAM

~ Sholat 24 jam ~

Ilmu Hakekat Insan .

Sholatlah sambil bekerja.
Bekerjalah sambil berdiam..
Berdiam sambil berjalan...
Tidurlah tetap berbaring....
Berbaringlah seolah-olah tertidur.....
Maka, tidurlah sambil berjaga......
Jagalah terus-menerus.......
Sebab Da’imun Sholah tiada berkeputusan........
Hanya ada di dalam rasa.........
Matikan dirimu dahulu sebelum matimu datang..........
Matilah pada “LAA ILAHA ILLA HUA” sebelum mati pada “LAA ILAHA ILLA HU” Habiskan… Mesrakan… sebelum tertidur.. Tatkala masuk pujinya sudah HU.. Tatkala keluarpun pujinya sudah ALLAH.. Tiada huruf tiada suara..
Tatkala naik nafas bernama RABBUN.
Tatkala Ia bergerak ke kerongkongan ada rasa bernama DZATUL BUHTI.
Dan, Tatkala tidur berhenti bernama DZATUL AHDAS, Disitulah tempat menerima perintah, Disitulah tiada yang disembah dan tiada yang menyembah, Jangan lepas pandangan Zuhud (kerinduan) ini, Masuklah sedekat nafas lalu pandang apa jua yang ada..
Inilah yang dinamakan latihan Sholat yang hakiki, Lazimi pemakaian ini.. ……………..

Read More ->>

Kamis, 27 Maret 2014

Sholat Daim

~ Perjalanan Sholat Daim ~ Ilmu Hakekat Insan .

Cara ‘MENGHILANGKAN’ kemudian ‘MENYATAKAN’ adalah dengan mengetahui tentang PERJALANAN SHOLAT DA’IM yaitu :
1. Di dalam sulbi MAUL HAYAT (mesrakan turun nafasmu ke sulbi)
2. Di pohon kalam MADI (nuk)
3. Di pucuk kalam MANI,
4. Ke luar kalam MANIKAM (Jalil Jalallah nama asli bayi)
5. Mulai masuk NUTFAH,
6. Umur 1 bulan RUH NABATI
(Jalallah)
7. Umur 3 bulan RUH JASMANI,
8. Umur 5 bulan RUH NAFSANI,
9. Umur 7 bulan RUH ROHANI, (tik.. tik..)
10. Umur 9 bulan RUH IDHAFI (Haq Haq.. memuji dirinya RABBUN)
11. Keluar dari rahim, WALADAL INSAN AMINULLAH.
12. Umur 7 hari MUHAMMAD,
13. Umur 40 hari MUHAMMAD IDHAFI,
14. Umur 2 Tahun MUHAMMAD AINAL INSAN,
15. Umur 7 tahun MUHAMMAD SHOLATULLAH,
16. Umur 10 tahun MUHAMMAD SHOLAWATULLAH (detik nafas)
17. Umur 14 tahun MUHAMMAD KAMARULLAH,
18. Umur 25 tahun MUHAMMAD AMINULLAH,
19. Umur 35 tahun MUHAMMAD SHIRATULLAH,
20. Umur 40 tahun MUHAMMAD UZUNULLAH,
21. Umur 41 tahun MUHAMMAD RASULULLAH,
22. Ketika Isra’ Mi’raj ABDULLAH,
23. Ketika di langit MUHAMMAD MUTLAK,
24. Ketika di Mustawan AHMAD,
25. Ketika umur 63 tahun KALAMULLAH,
26. Ketika kembali RAHMATULLAH,
27. Ketika di Mahsar AL HASYIR,
28. Lebur ke hadirat Allah HABBIBULLAH,
29. Nama yang ter-rahasia AHMAD ABUL QASIM,
30. Nama tiada huruf tiada suara HAQ.. HAQ.. (aslinya) Itulah 30 huruf, 30 ayat, 30 juz menjadi AL-QUR’AN dalam dirimu …………………

Read More ->>

Rabu, 19 Maret 2014

Makna Tiga Langkah

Triwikrama adalah tiga langkah “Dewa Wisnu”
atau Atma Sejati (energi kehidupan) dalam
melakukan proses penitisan. Awal mula
kehidupan dimulai sejak roh manusia diciptakan
Tuhan namun masih berada di alam sunyaruri
yang jenjem jinem, dinamakan sebagai zaman
kertayuga, zaman serba adem tenteram dan
selamat di dalam alam keabadian.
Di sana roh belum terpolusi nafsu jasad dan
duniawi, atau dengan kata lain digoda oleh
“setan” (nafsu negatif). Dari alam keabadian
selanjutnya roh manitis yang pertama kali yakni
masuk ke dalam “air” sang bapa, dinamakanlah
zaman tirtayuga. Air kehidupan (tirtamaya) yang
bersemayam di dalam rahsa sejati sang bapa
kemudian menitis ke dalam rahim sang rena
(ibu). Penitisan atau langkah kedua Dewa Wisnu
ini berproses di dalam zaman dwaparayuga.
Sebagai zaman keanehan, karena asal mula
wujud sukma adalah berbadan cahya lalu
mengejawantah mewujud menjadi jasad manusia.
Sang Bapa mengukir jiwa dan sang rena yang
mengukir raga. Selama 9 bulan calon manusia
berproses di dalam rahim sang rena dari wujud
badan cahya menjadi badan raga. Itulah zaman
keanehan atau dwaparayuga. Setelah 9 bulan
lamanya sang Dewa Wisnu berada di dalam
zaman dwaparayuga. Kemudian langkah
Dewa Wisnu menitis yang terakhir kalinya, yakni
lahir ke bumi menjadi manusia yang utuh dengan
segenap jiwa dan raganya. Panitisan terakhir
Dewa Wisnu ke dalam zaman mercapadha. Merca
artinya panas atau rusak, padha berarti papan
atau tempat. Mercapadha adalah tempat yang
panas dan mengalami kerusakan. Disebut juga
sebagai Madyapada, madya itu tengah padha
berarti tempat.
Tempat yang berada di tengah-tengah, terhimpit
di antara tempat-tempat gaib. Gaib sebelum
kelahiran dan gaib setelah ajal. KIDUNG
PANGURIPAN “SAKA GURU” Nah, di zaman
Madya atau mercapadha ini manusia memiliki
kecenderungan sifat-sifat yang negatif. Sebagai
pembawaan unsur “setan”, setan tidak dipahami
sebagai makhluk gaib gentayangan penggoda
iman, melainkan sebagai kata kiasan dari nafsu
negatif yang ada di dalam segumpal darah
(kalbu).
Mercapadha merupakan perjalanan hidup PALING
SINGKAT namun PALING BERAT dan SANGAT
MENENTUKAN kemuliaan manusia dalam
KEHIDUPAN SEBENARNYA yang sejati abadi
azali. Para perintis bangsa di zaman dulu telah
menggambarkan bagaimana keadaan manusia
dalam berproses mengarungi kehidupan di dunia
selangkah demi selangkah yang dirangkum
dalam tembang macapat (membaca sipat).
Masing-masing tembang menggambarkan proses
perkembangan manusia dari sejak lahir hingga
mati. Ringkasnya, lirik nada yang digubah ke
dalam berbagai bentuk tembang menceritakan
sifat lahir, sifat hidup, dan sifat mati manusia
sebagai sebuah perjalanan yang musti dilalui
setiap insan.
Penekanan ada pada sifat-sifat buruk manusia,
agar supaya tembang tidak sekedar menjadi
iming-iming, namun dapat menjadipepeling dan
saka guru untuk perjalanan hidup manusia.
Berikut ini alurnya :
1. MIJIL Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa
dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan
si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada
di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak
Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi.
Disambut tangisan membahana waktu pertama
merasakan betapa tidak nyamannya berada di
alam mercapadha.
Sang bayi terlanjur enak hidup di zaman
dwaparayuga, namun harus netepi titah Gusti
untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa
universal pertama kali dengan tangisan
memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan
alamiah bagaikan kekuatan getaran mantra tanpa
tinulis.Kini orang tua bergembira hati, setelah
sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku
prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang(bayi)
lahir dengan selamat. Puja puji selalu dipanjat
agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha
Pemberi Rahmat atas lahirnya si jabang bayi
idaman hati.
2. MASKUMAMBANG Setelah lahir si jabang
bayi, membuat hati orang tua bahagia tak
terperi. Tiap hari suka ngudang melihat tingkah
polah sang bayi yang lucu dan menggemaskan.
Senyum si jabang bayi membuat riang
bergembira yang memandang. Setiap saat sang
bapa melantunkan tembang pertanda hati senang
dan jiwanya terang. Takjub memandang
kehidupan baru yang sangat menantang. Namun
selalu waspada jangan sampai si ponang
menangis dan demam hingga kejang.
Orang tua takut kehilangan si ponang, dijaganya
malam dan siang agar jangan sampai meregang.
Buah hati bagaikan emassegantang. Menjadi
tumpuan dan harapan kedua orang tuannya
mengukir masa depan. Kelak jika sudah dewasa
jadilah anak berbakti kepada orang tua, nusa
dan bangsa.
3. KINANTI Semula berujud jabang bayi merah
merekah, lalu berkembang menjadi anak yang
selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuannya
sebagai anugrah dan berkah. Buah hati menjadi
tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan
harapan tercipta, orang tua selalu membimbing
dan mendampingi buah hati tercintanya. Buah
hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung
dan mempererat cinta kasih suami istri. Buah
hati menjadi anugrah ilahi yang harus dijaga
siang ratri.Dikanthi-kanthi (diarahkan dan
dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang
selalu menjaga bumi pertiwi.
4. SINOM Sinom isih enom. Jabang bayi
berkembang menjadi remaja sang pujaan dan
dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang
masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah,
siang malam selalu berdoa dan menjaga agar
pergaulannya tidak salah arah. Walupun badan
sudah besar namun remaja belajar hidup masih
susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya
belum matang, masih sering salah menentukan
arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk
menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar
manusia masih enom (muda) hidupnya sering
salah kaprah.
5. DHANDANGGULA Remaja beranjak menjadi
dewasa. Segala lamunan berubah ingin
berkelana. Mencoba hal-hal yang belum pernah
dirasa. Biarpun dilarang agama, budaya dan
orang tua, anak dewasa tetap ingin mencobanya.
Angan dan asa gemar melamun dalam keindahan
dunia fana. Tak sadar jiwa dan raga menjadi
tersiksa. Bagi anak baru dewasa, yang manis
adalah gemerlap dunia dan menuruti nafsu
angkara, jika perlu malah berani melawan orang
tua. Anak baru dewasa, remaja bukan dewasa
juga belum, masih sering terperdaya bujukan
nafsu angkara dan nikmat dunia.
Sering pula ditakut-takuti api neraka, namun tak
akan membuat sikapnya menjadi jera. Tak mau
mengikuti kareping rahsa, yang ada selalu nguja
hawa. Anak dewasa merasa rugi bila tak
mengecap manisnya dunia. Tak peduli orang tua
terlunta, yang penting hati senang gembira. Tak
sadar tindak tanduknya bikin celaka, bagi diri
sendiri, orang tua dan keluarga.
Cita-citanya setinggi langit, sebentar-sebentar
minta duit, tak mau hidup irit. Jika tersinggung
langsung sengit. Enggan berusaha yang penting
apa-apa harus tersedia. Jiwanya masih muda,
mudah sekali tergoda api asmara. Lihat celana
saja menjadi bergemuruh rasa di dada. Anak
dewasa sering bikin orang tua ngelus dada.
Bagaimanapun juga mereka buah dada hati yang
dicinta. Itulah sebabnya orang tua tak punya
rasa benci kepada pujaan hati. Hati-hati bimbing
anak muda yang belum mampu membuka panca
indera, salah-salah justru bisa celaka semuanya.
6. ASMARADANA Asmaradana atau asmara
dahana yakni api asmara yang membakar jiwa
dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motifasi
harapan dan asa asmara. Seolah dunia ini
miliknya saja. Membayangkan dirinya bagaikan
sang pujangga atau pangeran muda. Apa yang
dicitakan haruslah terlaksana, tak pandang bulu
apa akibatnya. Hidup menjadi terasa semakin
hidup lantaran gema asmara membahana dari
dalam dada.
Biarlah asmara membakar semangat hidupnya,
yang penting jangan sampai terlena. Jika tidak,
akan menderita dikejar-kejar tanggungjawab
hamil muda. Sebaliknya akan hidup mulia dan
tergapai cita-citanya. Maka sudah menjadi tugas
orang tua membimbing mengarahkan agar tidak
salah memilih idola. Sebab sebentar lagi akan
memasuki gerbang kehidupan baru yang mungkin
akan banyak mengharu biru.
Seyogyanya suka meniru tindak tanduk
sanggurulaku, yang sabar membimbing setiap
waktu dan tak pernah menggerutu. Jangan suka
berpangku namun pandailah memanfaatkan
waktu. Agar cita-cita dapat dituju. Asmaradana
adalah saat-saat yang menjadi penentu, apakah
dirimu akan menjadi orang bermutu, atau polisi
akan memburu dirimu. Salah-salah gagal
menjadi menantu, malah akan menjadi seteru.
7. GAMBUH Gambuh atau Gampang Nambuh,
sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah
menjadi orang yang teguh, ampuh dan
keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai
sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar
matanya nanar merasa cita-citanya sudah
bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat
mana yang salah dan benar. Di mana-mana
ingin diakui bak pejuang, walau hatinya tak
lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani
mati, sebaliknya berani hidup menjadi manusia
sejati.
Sulitnya mencari jati diri kemana-mana terus
berlari tanpa henti. Memperoleh sedikit sudah
dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-
mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas
diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang
didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh
tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya
sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani
dan menghayati. Bila merasa ada yang kurang,
menjadikannya sakit hati dan rendah diri.
Jika tak tahan ia akan berlari menjauh
mengasingkan diri. Menjadi pemuda pemudi yang
jauh dari anugrah ilahi. Maka, belajarlah dengan
teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang
mudah gumunan dan kagetan. Bila sudah paham
hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar
ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang
dibangga-banggakan itu menjadi mati.
8. DURMA Munduring tata krama. Dalam cerita
wayang purwa dikenal banyak tokoh dari
kalangan “hitam” yang jahat. Sebut saja
misalnya Dursasana, Durmagati,Duryudana.
Dalam terminologi Jawa dikenal berbagai istilah
menggunakan suku kata dur/ dura (nglengkara)
yang mewakili makna negatif (awon). Sebut saja
misalnya :duraatmoko, duroko, dursila, dura
sengkara, duracara (bicara buruk),durajaya,
dursahasya, durmala, durniti, durta, durtama,
udur, dst. Tembang Durma, diciptakan untuk
mengingatkan sekaligus menggambarkan
keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk
atau jahat.
Manusia gemar udur atau cekcok, cari menang
dan benernya sendiri, tak mau memahami
perasaan orang lain. Sementara manusia
cendrung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan
sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun
merugikan orang lain tidak peduli lagi. Nasehat
bapa-ibu sudah tidak digubris dan dihiraukan
lagi. Lupa diri selalu merasa iri hati.
Manusia walaupun tidak mau disakiti, namun
gemar menyakiti hati. Suka berdalih niatnya
baik, namun tak peduli caranya yang kurang
baik. Begitulah keadaan manusia di planet bumi,
suka bertengkar, emosi, tak terkendali,
mencelakai, dan menyakiti. Maka hati-hatilah,
yang selalu eling dan waspadha.
9. PANGKUR Bila usia telah uzur, datanglah
penyesalan. Manusia menoleh kebelakang
(mungkur) merenungkan apa yang dilakukan
pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi
diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia
lakukan, hingga kini yang ada tinggalah
menyesali diri. Kenapa dulu tidak begini tidak
begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang
hina dina sudah tak berguna. Anak cucu kadang
menggoda, masih meminta-minta sementara
sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga.
Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit
tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan
raga tak mampu berbuat apa-apa. Hidup enggan
mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat
apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu
jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi
guru ngaji. Tabungan menghilang sementara
penyakit kian meradang.
Lebih banyak waktu untuk telentang di atas
ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun
sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah
mengerang terasa nyawa hendak melayang.
Sanak kadhang enggan datang, karena ingat
ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-
mentang. Rasain loh bentar lagi menjadi
bathang..!!
10. MEGATRUH Megat ruh, artinya putusnya
nyawa dari raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh.
Datanya ajal akan tiba sekonyong-konyong.
Tanpa kompromi sehingga manusia banyak yang
disesali. Sudah terlambat untuk memperbaiki
diri. Terlanjur tak paham jati diri. Selama ini
menyembah tuhan penuh dengan pamrih dalam
hati, karena takut neraka dan berharap-harap
pahala surga. Kaget setengah mati saat mengerti
kehidupan yang sejati.
Betapa kebaikan di dunia menjadi penentu yang
sangat berarti. Untuk menggapai kemuliaan yang
sejati dalam kehidupan yang azali abadi. Duh
Gusti, jadi begini, kenapa diri ini sewaktu masih
muda hidup di dunia fana, sewaktu masih kuat
dan bertenaga, namun tidak melakukan kebaikan
kepada sesama. Menyesali diri ingat dulu kala
telah menjadi durjana. Sembahyangnya rajin
namun tak sadar sering mencelakai dan
menyakiti hati sesama manusia.
Kini telah tiba saatnya menebus segala dosa,
sedih sekali ingat tak berbekal pahala. Harapan
akan masuk surga, telah sirna tertutup bayangan
neraka menganga di depan mata. Di saat ini
manusia baru menjadi saksi mati, betapa
penyakit hati menjadi penentu dalam meraih
kemuliaan hidup yang sejati.
Manusia tak sadar diri sering merasa benci, iri
hati, dan dengki. Seolah menjadi yang paling
benar, apapun tindakanya ia merasa paling
pintar, namun segala keburukannya dianggapnya
demi membela diri. Kini dalam kehidupan yang
sejati, sungguh baru bisa dimengerti, penyakit
hati sangat merugikan diri sendiri. Duh Gusti…!
11. POCUNG Pocung atau pocong adalah orang
yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah
batas antara kehidupan mercapadha yang panas
dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan
abadi. Bagi orang yang baik kematian justru
menyenangkan sebagai kelahirannya kembali,
dan merasa kapok hidup di dunia yang penuh
derita.
Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai
lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia
sekali disambut dan dijemput para leluhurnya
sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi azali.
Kehidupan baru setelah raganya mati. Tak terasa
bila diri telah mati. Yang dirasa semua orang
kok tak mengenalinya lagi. Rasa sakit hilang
badan menjadi ringan. Heran melihat raga sendiri
dibungkus dengan kain kafan. Sentuh sana
sentuh sini tak ada yang mengerti.
Di sana-di sini ketemu orang yang menangisi.
Ada apa kok jadi begini, merasa heran kenapa
sudah bahagia dan senang kok masih ditangisi.
Ketemunya para kadhang yang telah lama
nyawanya meregang. Dalam dimensi yang
tenang, hawanya sejuk tak terbayang. Kemana
mau pergi terasa dekat sekali. Tak ada lagi rasa
lelah otot menegang. Belum juga sadar bahwa
diri telah mati. Hingga beberapa hari barulah
sadar..oh jasad ini telah mati. Yang abadi
tinggalah roh yang suci.
Sementara yang durjana, meregang nyawa tiada
yang peduli. Betapa sulit dan sakit meregang
nyawanya sendiri, menjadi sekarat yang tak
kunjung mati. Bingung kemana harus pergi, toleh
kanan dan kiri semua bikin gelisah hati. Seram
mengancam dan mencekam. Rasa sakit kian
terasa meradang. Walau mengerang tak satupun
yang bisa menolongnya.
Siapapun yang hidup di dunia pasti mengalami
dosa. Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana tak
pernah luput menimbang kebaikan dan
keburukan walau sejumput. Manusia baru sadar,
yang dituduh kapir belum tentu kapir bagi Tuhan,
yang dianggap sesat belum tentu sesat menurut
Tuhan.
Malah-malah yang suka menuduh menjadi
tertuduh. Yang suka menyalahkan justru
bersalah. Yang suka mencaci dan menghina
justru orang yang hina dina. Yang gemar
menghakimi orang akan tersiksa. Yang suka
mengadili akan diadili. Yang ada tinggalah
rintihan lirih tak berarti, “Duh Gusti pripun kok
kados niki…! Oleh sebab itu, hidup kudu jeli,
nastiti, dan ngati-ati.
Jangan suka menghakimi orang lain yang tak
sepaham dengan diri sendiri. Bisa jadi yang
salah malah pribadi kita sendiri. Lebih baik kita
selalu mawas diri, agar kelak jika mati arwahmu
tidak nyasar menjadimemedi.
12. WIRANGRONG Hidup di dunia ini penuh
dengan siksaan, derita, pahit dan getir, musibah
dan bencana. Namun manusia bertugas untuk
merubah semua itu menjadi anugrah dan
bahagia. Manusia harus melepaskan derita diri
pribadi, maupun derita orang lain. Manusia harus
saling asah asih dan asuh kepada sesama.
Hidup yang penuh cinta kasih sayang, bukan
berarti mencintai dunia secara membabi-buta,
namun artinya manusia harus peduli,
memelihara dan merawat, tidak membuat
kerusakan bagi sesama manusia lainnya, bagi
makhluk hidup dan maupun jagad raya seisinya.
Itulah nilai kebaikan yang bersifat universal.
Sebagai wujud nyata hamemayu hayuning
bawana, rahmatan lil alamin. Jangan lah
terlambat, akan mengadu pada siapa bila jasad
sudah masuk ke liang lahat (ngerong).
Wirangrong, Sak wirange mlebu ngerong, berikut
segala perbuatan memalukan selama hidup ikut
dikubur bersama jasad yang kaku.
Keburukannya akan diingat masyarakat, aibnya
dirasakan oleh anak, cucu, dan menantu. Jika
kesadaran terlambat manusia akan menyesal
namun tak bisa lagi bertobat. Tidak pandang
bulu, yang kaya atau melarat, pandai maupun
bodoh keparat, yang jelata maupun berpangkat,
tidak pandang derajat seluruh umat. Semua itu
sekedar pakaian di dunia, tidak bisa menolong
kemuliaan di akherat.
Hidup di dunia sangatlah singkat, namun
mengapa manusia banyak yang keparat. Ajalnya
mengalami sekarat. Gagal total merawat barang
titipan Yang Mahakuasa, yakni segenap jiwa dan
raganya. Jika manusia tak bermanfaat untuk
kebaikan kepada sesama umat, dan kepada
seluruh jagad, merekalah manusia bejat dan
laknat.Pakaian itu hanya akan mencelakai
manusia di dalam kehidupan yang sejati dan
abadi.
Orang kaya namun pelit dan suka menindas,
orang miskin namun kejam dan pemarah, orang
pandai namun suka berbohong dan licik, orang
bodoh namun suka mencelakai sesama, semua
itu akan menyusahkan diri sendiri dalam
kehidupan yang abadi. Datanglah penyesalan
kini, semua yang benar dan salah tak tertutup
nafsu duniawi.
Yang ada tinggalah kebenaran yang sejati. Mana
yang benar dan mana yang salah telah dilucuti,
tak ada lagi secuil tabirpun yang bisa menutupi.
Semua sudah menjadi rumus Ilahi. Di alam
penantian nanti, manusia tak berguna tetap
hidup di alam yang sejati dan hakiki, namun ia
akan merana, menderita, dan terlunta-lunta.
Menebus segala dosa dan kesalahan sewaktu
hidup di planet bumi. Lain halnya manusia yang
berguna untuk sesama di alam semesta,
hidupnya di alam keabadian meraih kemuliaan
yang sejati. Bahagia tak terperi, kemana-mana
pergi dengan mudah sekehendak hati. Ibarat
“lepas segala tujuannya” dan “luas kuburnya”.
Tiada penghalang lagi, seringkali menengok anak
cucu cicit yang masih hidup di dimensi bumi.
Senang gembira rasa hati, hidup sepanjang masa
di alam keabadian. Wirangrong juga diabadikan
menjadi sebuah gending.

Read More ->>

Sabtu, 22 Februari 2014

Nabi Isa

~ Nabi Isa ~

Ilmu Hakekat Insan Singkat ceritra, Karena Nabi Isa telah dikandung oleh seorang dara perawan bernama Maryam melalui kekuasaan Tuhan maka nabi isa AS di anggap sebagai manusia dan sekaligus anak Tuhan Hal yang tidak dapat dipahami dengan akal ini kemudian diterima dengan keimanan karena menyadari bahwa bagi tuhan segala sesuatu adalah mungkin. Bahwa, Semua kepercayaan Monoteis menganggap bahwa Tuhan adalah Maha pencipta, pemelihara, mencintai dan mengasihi serta melindungi umat manusia. Yang menarik dari Monoteis kresten adalah bahwa mereka menerima suatu ‘Trinitas’ di mana menurut mereka bersama tuhan dan nabi Isa AS ada ‘pihak ketiga’ yakni Ruhul Kudus. Tuhan diterima sebagai Bapak, nabi Isa AS sebagai Anak dan perawan Maryam walaupun bukan termasuk dari Trinitas namun menempati kedudukan penting karena di pandang sebagai perantara. Ruhul Kudus inilah yang bekerja demi kebaikan umat manusia, Ruhul kudus berbeda dari bapak dan anak, namun bagian yang tidak terpisahkan karena mempunyai sifat yang sama yaitu ke-Ilahian.
  Ruhul kudus itulah Nur Muhammad “KUNTU AWALAN NABIYYINA FIL KHALQI WA AKHIRIHUM FIL BATSI” Adalah Aku (AHMAD) yang awal awal dari pada sekalian Nabi-nabi dan Rasul-rasul semua yang ada di dalam RAHASIA awal-awal keadaan, dan adalah Aku (MUHAMMAD) yang menjadi kesudahan mereka itu di dalam masa ke dzahiran. Aku yang Awal Aku yang Akhir, Aku yang Dzahir dan Aku yang Batin. Aku yang buka dan aku yang Tutup, Aku yang menghimpun semuanya. Seperti Nafas kepada Ruh, Ruh kepada Nyawa, kemudian Nyawa meliputi seluruh tubuh. Itulah Ahmad kepada Muhammad kepada seluruh Rasul rupa Muhammad. Yang menjadi fokus perhatian adalah nama kebesaran bagi Insan Muhammad yang ada di Madinah di dalam hal kerasullan. Al-Insan itulah yang telah kembali .. Inilah contoh bagi kita agar mengenal betul-betul junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang bermakam di Madinah.

Adapun Ahmad adalah Muhammad terhimpun Rasulullah tetap hidup selama-lamanya.., Itulah yang dinamakan Tasauf yang benar benar hak adanya. Karena Tasauf adalah Ilmu Rabbani yang menyatakan pandangan SALASIYAH yang melampaui akal dan fikiran yaitu perihal keadaan awal-awal yang telah ada tentang keadaan Allah SWT yang sebenarnya. Sedangkan yang mengatakan Muhadast adalah hukum akal saja, itu hanya paham tasauf pasaran dan tidak boleh diterima. Mengapa.. ? Bila diterima berarti syahadat tidak sempurna karena tidak mengetahui ujung pangkal siapakah sebenarnya Diri. “ANA ABU ARWAH WA ADAMA ABU BASHAR” Aku bapak sekalain ruh dan Adam bapak sekalian tubuh Semua telah terhimpun di dalam Nur Muhammad SAW yang bernama Nur Kibriya, U.. Muhammad yaitu Nur sifat kebesaran Nya, Rahmat dan berkat Muhammad yang telah Maujud atas seluruh Rasul termasuk Al-Insan yang ada di madinah itu adalah Nur Kibrinya U.. Muhammad yakni Nur (sifat) kebesaran Rahmat dan berkat safaat Nabi besar Muhammad SAW yang telah maujud yang sangat mulia di dalam alam ini. Itulah maksud dari pada paham perkataan ahli Tasauf tentang : “SHUHUDUL KASRAH FIL WAHDAH dan SHUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH” Maksudnya : Pandang akan keadaan Al-Insan yang banyak itu terhimpun di dalam satu kesatuan dan tetap memandang hanya satu RAHASIA yang banyak kepada Nur Muhammad SAW yaitu Nur Kibriyah U.. . Dalam pemakaian Ilmu Hakekat Usul Diri : “SHUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH” Nafas kita keluar dari kepala keliling, lalu memasukan dan tahan dua detik lalu mesrakan setelah itu di keluarkan nafas pelan-pelan. Itulah pemakaian Rahasia memandang yang banyak “SHUHUDUL WAHDAH FIL WAHDAH” Memandang satu diri yang Satu, Reflex, tunduk kepala tahan nafas sambil melihat dari hulu-hulu sampai seluruh batang tubuh kita. Mesrakanlah baik-baik nafas, lembuut.., keluar nafas tidak ada rasanya, itulah yang disebut oleh Al Arif Billah tentang “AHMAD AMINULLAH AINUL HAQ” Turun Rasulullah SAW…. Simpul tentang itu bertubuh Rohaniah dzahir dan batin adanya. Itulah ilmu tanpa suara tanpa ceritera yang berputar-putar.

Semua bersumber dari NUR MUHAMMAD SAW Ruh Idhafi memerintah Nyawa, Nyawalah yang memerintah tubuh, agar tubuh berkelakuan yang sebenar-benar diri yang hak. “QOD JAA AKUMUL HAQ MIRRABIKUM” Yang datang kepadamu adalah HAQ dari tuhanmu. Tujuan pemakaian adalah memesrakan Nur Muhammad SAW Lazimi dengan kesabaran dan ketekunan.. Awalnya terasa di hidung, Perlahan sampai ke bulu-bulu pada kulit, Hingga sampai sekecil-kecilnya lebur keluar di bulu-bulu. Tiada terasa di hidung lagi. Itulah yang di sebut DAIMUN SHALAT. Sama halnya mengenal RABBINYA. Sama halnya mengenal Hak Allah pada kelakuan Insan. Inilah pelajaran para Arif Billah.. Oleh karena itu, Mulailah kenali Dirimu sekarang Kurangi bicaramu.. Banyaklah berdiam diri.. Perhatikan kelakuan dari gerak dan diam-mu. Maka kerjakan sambil begerak dan diam memuji Rasulullah SAW semata-mata. Itulah yang di maksud Rahasia Nur Muhammad yang bernama Idhafi Ruh Idhafi itulah wujud yang Hakiki Kedzahiran wujud Mutlak di dalam Sholawat, Dzikir dan Syahadat yang berkekalan. Lazimi dan hantarkan pada tempatnya dengan nenahan satu gerakan sesaat. Kosong.. titik.. Alif Ahadiyah.. wahdah.. wahdiyah.. La ta’yin.. ta’yin awal.. ta’yin sani Ahmad.. Muhammad Rasulullah Nur kepada Nyawa yang berhubungan dengan hati menjadikan Af’al Allah berkelakuan Muhammad menyatakan diri yang Hak. Inilah Rahasia perintah yang berasal dari Ruh Idhafi. Cara pemakaian jenang yang ada di diri manusia : Dalam 3 martabat 1. Ahadiyah = la ta’yin = kosong Mulai waktu matahari terbit sampai matahari naik persis di atas kepala puji bernama “AHMAD AMINULLAH AINUL HAK” Detiknya tiada bertempat, tiada berawal, tiada berakhir, tiada berdzahir dan tiada berbatin. 2. Wahdah = ta’yin awal = titik Saat matahari bergeser dari atas kepala sampai matahari terbenam, puji bernama “HAQ.. HAQ..” Detiknya dari hati sampai ke bawah. 3. Wahdiyah = ta’yin sani = Alif Dari matahari terbenam sampai Matahari Terbit, puji bernama “LAA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADURRASULULLAH” Detiknya dari bawah ke atas.

Read More ->>

Sabtu, 15 Februari 2014

Sakaratul Maut

TAHAPAN – TAHAPAN SAAT SAKRATUL MAUT :

1. Pertama yang datang kepada kita adalah cahaya HITAM dia datang kepada kita menawarkan kerajaan-nya, jika kita mengikutinya maka jadilah kita MINERAL-MINERAL.

2. Kedua datang kepada kita cahaya MERAH, kembali dia menawarkan kita untuk ikut dalam kerajaan-nya jika kita mengikutinya maka jadilah kita BATU atau BESI.

3. Jika kita dapat menghalau ajakan yang kedua maka selanjutnya datang kepada kita cahaya KUNING, kembali dia menawarkan kerajaan-nya kepada kita, jika kita mengikutinya maka jadilah kita TUMBUH-TUMBUHAN.

4. Jika berhasil kita lolos dari ajakan ke-tiga maka datang kepada kita cahaya HIJAU, dia-pun sama menawar-kan kerajaan-nya kepada kita, jika kita mengikutinya maka jadilah kita BINATANG YANG HARAM.

5. Setelah itu datang-lah cahaya PUTIH yang sangat menawan kita, jika kita mengikutinya maka jadilah kita BINATANG YANG HALAL yang kemudian kemaren pada saat hari raya IDUL ADHA dibebaskan-lah mereka dari penjara, permasaalahannya adalah mereka yang membebaskan harus memahami-nya jangan sampai terlepas dari penjara KAMBING masuk ke mulut BUAYA.

6. Pada tahapan reinkarnasi yang ke-enam datang-lah SUARA YANG SANGAT KERAS kepada kita, disini jika kita mengikutinya maka kita akan ter-lahir sebagai MANUSIA KAFIR.

7. Yang ke-tujuh datang kepada kita adalah RUPA KITA YANG SANGAT ELOK, seraya berucap salam dan berkata “anda adalah saya dan saya adalah anda, saya adalah utusan tuhan yang datang untuk menjemput anda, lihat-lah kerajaan-mu” jika kita mengikuti dia pada waktu itu maka kita terlahir sebagai MANUSIA MUSLIM saja.
Tahapan Reinkarnasi dari SATU sampai dengan TUJUH ini, baiknya di- TOLAK.
Carilah DELAPAN sampai dengan TIGA BELAS…

Read More ->>

Jumat, 14 Februari 2014

ABU GUNUNG KELUD

Pagi yang cerah tak seperti biasanya
Rintik-rintik hujan mengiringi pagi nan cerah
BUkan rintik-rintik air yang jatuh ke Bumi
Tapi rintik-rintik Abu yang mengotori Bumi
Negeri ini memang "di tengah bencana"
Tak henti silih berganti Bencana menerjang
bumi ini
Dalam Radius Ratusan kilimoeter dari Gunung
Kelud di sekitar kediri
Abu pun sampai di daerah yogyakarta
Apakah bencana hanya difahami sebagai
"proses alam"
Atau difahami hanya karena negeri ini dalam
sebuah sabuk pasifik
Padahal Bencana adalah sebuah peringatan
Bagi mereka yang menyadari akan jati diri
Negeri ini dipenuhi oleh pemimpin yang "tak
berbudi"
Mengaku "paling berbudi" padahal hanya
strategi
Dalam kepura-puraan yang penuh "kebusukan"
Tak lagi dekat dengan Sang Maha Cahaya
Hawa Nafsu menjadi Raja
Disembah dan dipuja
Padahal ia bukan "sumber cahaya"
Tapi ia adalah sumber malapetaka
Raja besar dari Kediri pernah Berkuasa
Sang Jayabaya pembuat "praduga" di negeri ini
7 Gunung meletus dalam tahun yang sama
Diikuti oleh Kitab Praduga oleh Sang Sunan Giri
Hanya "Sang pembuat Cahaya" saja yang
layak dipuja
Dikira sumber cahaya padahal hanyalah
"sumber petaka"
Setan dan Jin dikira Tuhannya
Padahal ia adalah pembuat petaka

Read More ->>

Hakikat Takbir

Bermula haqiqat takbir itu,hendaklah kita hadirkan mata hati dengan Musyahadah kepada zat Allah terlebih dahulu/sebelum mengangkat takbiratul ihrak,maka hendaklah kita tetapkan segala kehendak hati,Ruh,dan perasaan kita untuk tawajuh (menghadap) dan liqa’ (menemui) Allah SWT. Bila sudah demikian,baru kita kata usalli…dan sudah mengembalikan/menyerahkan amanat Allah Ta’ala yang ada pada kita,yakni ujud kita yang kasar ini (baharu) dan yang menanggung amanat yaitu diri kita yang bathin.Adapun amanat itu kita serahkan kepada pemilik amanah yakni Allah SWT.itulah sebabnya kita disebut Ummat Muhammad SAW yang ditanyai mengenai amanat Allah Ta’ala itu seperti firmannya : Artinya : Bahwasanya Allah Ta’ala memerintah kepadamu sekalian untuk mengembalikan amanat itu kepada pemiliknya Dengan dikembalikan/diserahkannya amanat Allah itu kepada pemiliknya yaitu Allah ta’ala itu sendiri,maka jadilah fana/lebur/hilang/karam sekalian sifat tubuh kita didalam laut “Ruh Bahrul Qadim”adapun yang tinggal ketika itu hanya sifat Ruh semata-mata,dan itulah Ruh ilmu Allah,kemudian,kita katakan Allahhu Akbar. Itulah yang dinamakan lebur/karam kehambaan diri kita (Fana Fillah) kedalam ke-Baqaan Allah,dimana nyata keadaan zat Allah semata-mata. Inilah yang harus kita syuhudkan sampai kepada salam. Maka janganlah kita lalai dari paenjelasan ini-yang artinya syuhud itu,dipancang dengan mata hati itulah pengetahuan zat dan ilmunya dan sebenar-benar ilmunya itu,iman kepada kita dan sebenar-benar Sir-Allah itu,cahaya kalam Allah yang tidak berhuruf,tidak bersuara yaitu ujud zat yang mutlak,seperti yang tersebut dalam Hadits Qudsi : Artinya : tidak bersuara,tidak berhuruf dan tiada bertempat/berbekas. Firman Allah dalam Al-qur’an : Artinya :Apakah mereka itu dijadikan bukan dari sesuatu atau mereka yang menjdikan mereka,dan bukanlah Aku yang menjadikan mereka. Hendaklah takbir kita itu,dengan syah lagi jazam yakni yaqin.hati kita hadir dengan Allah Ta’ala,yakni ingat kepada Allah maka takbir kita serta membesarkan Allah Ta’ala.pada waktu mengangkat takbir itu,menjadi tempat perhimpunan pada kalimah La Ilaha Illa Allah : yang kita pandang hanya Allah semata-mata artinyakita fana sekali-kali tidak ada,yang ada hanya Ujud Allah semata. Caranya adalah,sebelum mengangkat takbiratul ihram kita tarik nafas dengan Hu haqiqatnya Aku Allah Akbar yang lain semua kecil.sesudah itu di angkat takbiratul ihram “Allahu Akbar” dengan qasat ta’aradhta’ayyin (tubuh hati Ruh).

Read More ->>

Senin, 20 Mei 2013

Kebebasan Berakidah

Kebebasan Berakidah لﻮﺳر اﺪﻤﺤﻣ نأ ﺪﻬﺷأ و ﻪﻠﻟا ﻻا ﻪﻟا ﻻ نأ ﺪﻬﺷأ ﻪﻠﻟا Mengapa dalam agama Islam , orang murtad harus dihukum mati? Apakah hal ini tidak bertentangan dengan kebebasan berakidah? Guna pembahasan ini menjadi jelas, kiranya beberapa poin berikut ini perlu mendapat perhatian: Pertama: Siapakah yang disebut murtad? Murtad adalah seseorang yang keluar dari Islam dan ia memilih kekafiran. [1] Keluar dari Islam itu terjadi karena mengingkari asas agama atau salah satu dari asas agama (tauhid, kenabian dan hari kebangkitan). Kemurtadan juga bisa terjadi karena mengingkari salah satu perkara yang telah gambelang dalam Islam ( dharuriyyatu ad-din ) dan seluruh kaum muslimin sepakat meyakini bahwa hal itu merupakan bagian dari Islam, sehingga mengingkarinya sama dengan mengingkari risalah dan kenabian. [2] Kemurtadan terdiri atas dua bagian: 1. Murtad fitri , yaitu seseorang yang ayah atau ibunya ketika melepaskan nuthfah nya (sperma) beragama Islam. Dan orang itu sendiri sebelum mencapai baligh menampakkan keislamannya, kemudian setelah itu ia keluar dari agama Islam. [3] 2. Murtad milli , yaitu seseorang yang ayah dan ibunya itu kafir ketika melepaskan spermanya, dan orang itu sendiri sebelum mencapai usia baligh telah menjadi kafir kemudian masuk Islam, lantas menjadi kafir kembali. [4] Kedua: Hukum murtad dalam berbagai agama dan Islam. Dalam fikih Syi’ah, murtad memiliki hubungan dengan sebagian hukum-hukum sipil dalam bab warisan ( irts ) dan pernikahan (nikah ). Dan masalah ini tidak termasuk dalam pembahasan. Sanksi hukum yang akan dijatuhkan terhadap seorang murtad fitri ialah -apabila orang itu laki-laki- dihukum mati, dan taubatnya tidak akan diterima di hadapan hakim. Adapun seorang murtad milli laki-laki adalah, pertama kali ia dianjurkan untuk bertaubat. Apabila ia bertaubat, maka ia akan dibebaskan. Tetapi jika ia menolak untuk bertaubat, maka ia akan dihukum mati. Sementara jika yang murtad itu adalah wanita, baik ia kafir fitri ataupun milli, ia tidak akan dikenakan hukuman mati. Melainkan ia disuruh bertaubat.Abila ia bertaubat, maka ia akan dibebaskan. Tetapi jika tidak, maka ia akan dipenjara. [5] Di dalam fikih Ahlusunnah, menurut pandangan yang masyhur, orang murtad –apapun bentuknya- pertama kali ia dianjurkan untuk bertaubat. Apabila ia bertaubat, maka ia akan dibebaskan. Jika tidak, maka ia akan dihukum mati dan tidak ada perbedaan antara murtad fitri dan murtad milli, baik laki-laki maupun wanita. [6] Murtad dalam agama-agama Ilahi selain Islam merupakan dosa dan kesalahan besar, hukumannya adalah mati. [7] Karenanya, dapat dikatakan bahwa kemurtadan dalam pandangan seluruh agama dan kepercayaan, merupakan sebuah kesalahan dan dosa besar, dan hukumannya (dengan perbedaan dalam kondisi masing-masing) adalah mati. [8] Tiga: Falsafah sanksi orang murtad Agar masalah falsafah hukuman dan sanksi bagi orang murtad ini menjadi lebih jelas, hendaknya poin-poin berikut ini diperhatikan; 1. Hukum Islam dibagi kepada dua bagian, individu dan sosial. Hukum sosial ditetapkan atas dasar kemaslahatan soaial. Dan terkadang, demi menjamin keberlangsungan kemaslahatan ini, sebagian kekebasan individu menjadi terbatas. Ini adalah poin yang tidak bisa ditolak di dalam hampir semua komunitas. 2. Seorang murtad bila ia menggunakan seluruh kemampuannya untuk mengenal kebenaran, maka kemurtadannya tersebut akan diampuni oleh Allah Swt. Dan dalam lingkup hukum individualnya, ia tidak dihukumi berbuat kejahatan. [9] Tetapi jika ia lalai dalam mencari kebenaran, maka ia dianggap telah berbuat kejahatan, dalam lingkup hukum individualnya sekalipun. Ketika seseorang menonjolkan kemurtadannya di tengah-tengah masyarakat, maka sikap dan kelakuannya itu dicatat dalam dimensi hukum sosial, sebagai kejahatan, Sebagai konsekuensinya adalah ia akan mendapatkan sanksi hukum sosial. Sebabnya adalah: Pertama: ia dianggap telah menginjak-injak hak orang lain. Karena ia telah memunculkan keraguan dan syubhat dalam pikiran umum. Sudah jelas, hal itu akan melemahkan spirit beragama dan keimanan masyarakat. Mengingat bahwa hanya orang-orang yang mendalam agamanya (ulama) yang mampu menghadang berkembangnya syubhat tersebut, sementara masyarakat umum tidak memiliki kemampuan untuk itu, maka mereka bertanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan kondisi sehat masyarakat. Kedua: Sesungguhnya di antara hak masyarakat adalah terjaganya spirit beragama dan keimanan mereka. Dan Islam memandang hal itu sebagai kemaslahatan sosial dan syi’ar dalam Islam. Karenanya mereka sangat mengagungkan dan menekankannya [10] dan mencegah lemahnya syi’ar tersebut. [11] Kesimpulannya adalah, boleh jadi kemurtadan dalam pandangan individu tidak dianggap sebagai sebuah kejahatan. Tetapi dalam pandangan hukum sosial merupakan sebuah kejahatan. Ketiga: Dengan memperhatikan bahwa kemurtadan merupakan sebuah kejahatan, maka falsafah hukuman dan sanksi atasnya dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Kelayakan mendapat hukuman Hukuman bagi orang murtad adalah karena ia telah melakukan kerusakan akahlak di tengah-tengah masyarakat. Sanksi tersebut disesuaikan dengan kadar kejahatannya. Semakin besar kadar kerusakannya, maka akan semakin berat pula sanksinya. Sangat jelas bahwa sebuah masyarakat yang lemah spirit beragama dan keimanannya, akan jauh dari kebahagiaan hakiki, meskipun mereka itu maju dari segi teknologi. Oleh karena itu, selain kemurtadan, setiap perbuatan yang melemahkan iman dan keyakinan umum, akan dihukum secara keras, misalnya seperti mencemarkan nama baik Rasulullah Saw dan para Imam maksum As. Sebab ketika kesucian hal ini telah rusak di masyarakat, maka jalan penyelewengan dan kehancuran agama akan terbuka. b. Mencegah meluasnya pemurtadan oleh oknum yang bersangkutan Seseorang yang murtad selama tidak menampakkan kemurtadannya, ia tidak dianggap melanggar hukum sosial. Hukuman berat yang ditetapkan oleh agama Islam terhadap kemurtadan, akan dapat menutup jalan-jalan propaganda. c. Menampakkan pentingannya agama di masyarakat. Setiap hukum perdata dan pidana yang telah ditetapkan, dengan jelas menunjukkan pentingnya agama. Misalnya hukuman berat yang ditetapkan atas kemurtadan, menunjukkan pentingnya menjaga spirit dan keimanan masyarakat. d. Mendorong agar lebih mendalami agama sebelum meyakininya. Hukuman terhadap orang murtad, akan mendorong orang-orang non muslim agar menerima Islam setelah menelaahnya secara lebih mendalam. Hal inipun akan mencegah kelemahan iman. Keempat: Meringankan hukuman akhirat. Dalam pandangan agama, hukuman di dunia ini akan dapat meringankan hukuman akhirat. Allah Swt sangat penyayang untuk menghukum hamba-Nya sebanyak dua kali karena sebuah dosa. Riwayat-riwayat pun mendukung masalah tersebut, yaitu bahwa hukuman di dunia ini akan menyucikan pendosa di akhirat kelak. Bahkan akan memotivasi pelaku kejahatan yang akan dijatuhkan sanksi untuk mengakui kesalahannya. Catatan: Walaupun hukuman dunia itu –paling tidak-akan dapat meringankan hukuman akhirat, tetapi Allah Swt juga memberikan jalan lain untuk menyucikan diri seorang pendosa di akhirat. Jalan itu adalah taubat secara ikhlas. Apabila pelaku dosa itu bertaubat secara ikhlas, maka meskipun ia tidak dijatuhkan sanksi syar’i di dunia ini, dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah Swt. Kelima: Berhati-hati dalam menetapkan undang-undang. Barangkali falsafah diberlakukannya hukuman terhadap orang yang murtad sebagaimana dijelaskan di atas, demikian juga mengenai tipu daya Ahli Kitab sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran, [12] tidak semuanya tepat untuk diterapkan kepada orang murtad. Yakni, bisa jadi seorang murtad itu tidak bermaksud melakukan tipu daya dan kejahatan terhadap keimanan masyarakat umum. Atau bias jadi, kemurtadannya itu tidak memberikan efek negatif terhadap keimanan masyarakat. Walaupun demikian, Islam tetap tidak akan memberikan keringanan sanksi terhadapnya. Apa penyebab hal tersebut? Dengan kata lain, boleh jadi falsafah hukuman bagi si murtad tidak berlaku dalam satu hal. Tetapi, kenapa Islam tetap memberlakukan hukuman terhadapnya? Jawabannya adalah: Setiap penetapan hukum, memiliki wilayah yang lebih luas dari falsafah hukum itu sendiri. Ini disebut dengan ihtiyâth (hati-hati) dalam menetapkan hukum. Sebabnya banyak. Tetapi dalam hal ini cukup kami sebutkan dua poin terpenting sebagai berikut: Terkadang aturan-aturan yang betul-betul secara teliti dibuat untuk menentukan sebuah objek hukum, tidak mungkin dapat diberikan kepada manusia untuk menentukan objek hukum tersebut. Misalnya mengenai falsafah pelarangan parkir di suatu jalan adalah untuk menjaga kelancaran laju lalu lintas. Dan falsafah aturan ini tidak berlaku pada saat-saat jalan itu sunyi, Tetapi polisi lalu lintas secara paten tetap melarang parkir di tempat tersebut. Sebab penentuan masa-masa kemacetan lalu lintas tidak bisa diserahkan kepada masyarakat umum. Terkadang sebuah hukum itu begitu pentingnya, sehingga penetap hukum –karena kehati-hatian- lebih meluaskan wilayah objek hukum tersebut, agar ia yakin bahwa masyarakat pasti akan melaksanakan hukum tersebut. Misalnya, sebuah batasan yang ditetapkan guna mengantisipasi terjadinya tenggelam. Zona ini harus jauh dari jangkauan masyarakat, yakni sejauh lima kilometer dan diletakkan secara rahasia. Tetapi pihak militer menambahkan jaraknya dari batas yang normal, agar lebih yakin bahwa tujuan yang diharapkan akan tercapai. Berdasarkan dua poin di atas, dalam penentuan hukum dalam Islam pun demikian pula, Allah Swt memperluas wilayah hukum dari objek falsafah hukum itu sendiri, hingga tujuan dari falsafah tersebut bisa terwujud. Untuk meneliti lebih jauh permasalah falsafah hukum Islam, silahkan merujuk kepada buku Falsafe-e Huquq , Qudratullah Khusrushahi hal. 201-222 dan Adl-e Ilahi , Syahid Muthahari, Tafsir ayat la ikraha fiddin, Tafsir al-Mizân 2/278, Tafsir Nemuneh 2/360. [1] . Tahrir al-Wasilah , Imam Khomeini, 2:366 – al-Mughni, Ibn Qadamah, 10:74 [2] . Ibid. hal. 118 [3] . Ibid. 2/336. sebagian berpendapat, Islamnya salah seorang dari orang tua ketika dilahirkan menjadi syarat. (Allamah Khui, Mabâni Taklimah al-Manhaj 2/451) dan sebagian lain mensyaratkan penampakan keislaman setelah baligh (Shahid Tsani, Masâlik al-Afham , 2/451). [4] . Tahrir al-Wasilah , Imam Khomeini, 2/336 [5] . Ibid. 2/494 [6] . al-Fiqh Ala Mazahib Arbaah . [7] . Perjanjian Lama, Pasal 13 [8] . Sebenarnya sebagian hukuman mati bagi kemurtadan adalah hukum ta’zir bukan had . Dan hukum ta’zir secara total berada di tangan hakim, Islam tidak menetapkannya secara khusus. Jadi tidak bisa kita katakan bahwa hukuman murtad dalam Islam adalah mati. Lih. Dirâsat fi Wil^ayah al-Faqih wa ad-Daulah al-Islâmiyah 3/387 [9] . Firman Allah SWT: Allah tidak akan membebani manusia dengan beban kecuali ia mampu menanggungnya. Baqarah: 286 [10] . Qs. Haj (22):32 [11] . Qs. Maidah (5):3 [12] . Qs. Ali Imran (3): 72

Read More ->>

Kamis, 28 Maret 2013

Nafas Ⅵ

NAFAS VI
Umumnya orang tua kita dahulu banyak
memiliki ilmu yang tersembunyi.
Di antaranya adalah Ilmu Nafas.
Dengan cara memperhatikan pergerakan
keluar masuk nafas melalui hidung
kemudian digabungkan dengan ilmu
pengetahuan yang pernah dialami
(amalan), sebagian orang tua kita
mampu mengetahui apa yang akan
terjadi.
…………………….
Di depan pintu sebelum hendak keluar
meninggalkan rumah untuk berk
erja atau merantau.., petuah dalam ilmu
nafas selalu digunakan oleh orang-orang
tua kita.
Periksa Nafas kiri yang kencang atau
nafas kanan…
………………………
Di atas tempat tidur sebelum hendak
berangkat tidur ilmu nafas selalu
mereka gunakan…
Periksa Nafas kiri yang kencang atau
nafas kanan…
………………………..
Ada juga orang-orang tua kita yang
melakukan zikir-zikir tertentu ketika
masuk atau keluarnya nafas mereka…
………………………..
Tapi sayang….
Ilmu ini semakin hilang…
Dulu waktu mereka ada jarang di-turun-
kan..
Kini…
Ilmu ini menjadi sangat rahasia..
Jika kita hendak mempelajarinya..,
Carilah guru yang benar-benar tahu
tentang ilmu ini…
Ilmu ini sangat dalam sekali… butuh
ketekunan.. kesabaran..
Bagaimana kaitannya mulai dari Nafas
ke Amfas sehinggaTanafas dan menjadi
Nufus?
………………………….
Bahkan dengan ilmu ini, si pengamalnya
akan dapat mengetahui kapan saat saat
kematiannya!

Read More ->>

Selasa, 26 Maret 2013

Nafas Ⅴ

NAFAS V
” Alhamdulillahirabbilalamin…. “
“Matikan dirimu sebelum engkau mati”
“MATI YANG PERTAMA” = seolah-olah
bercerai Roh dari Jasad..,
tiada daya upaya walau sedikitpun jua,
hanya Allah jua yang berkuasa,
kemudian.. dimusyahadahkan didalam
hati dengan menyaksikan kebesaranNya
yaitu sifat Jalal dan JamalNya dan
kesucianNya.
Maka mati diri sebelum mati itu adalah
dengan memulangkan sega
la amanah Allah yaitu Tubuh Jasad ini
kepada yang menanggung amanah yaitu
Rohaniah jua.
Tarik-lah ‘NAFAS’ itu dengan hakekat
memulangkan dzat, sifat, afaal kita
kepada Dzat, Sifat, Afaal Allah yang
berarti memulangkan segala wujud kita
yang zahir kepada wujud kita yang
bathin (Roh). Dan pulangkan wujud Roh
pada hakekatnya kepada Wujud Yang
Qadim.
Maka..
Setelah sempurna “Mematikan diri yang
pertama” …
www.jiwondeso.blogspot.com
“MATI YANG KEDUA” = melakukan
“Mi’raj” yang dinamakan mati maknawi,
yaitu hilang segala sesuatu didalam
hatimu malainkan hanya berhadap pada
Allah jua.
Dengan meletakkan nafas kita melalui
alam ‘AMFAS’ yaitu antara dua kening
(Kaf Kawthar) merasa penuh limpahan
dalam alam kudus kita yaitu dalam
kepala kita hingga hilang segala ingatan
pada yang lain melainkan hanya hatimu
berhadap pada Allah jua.
“MATI PADA PERINGKAT KETIGA” =
adalah mati segala usaha ikhtiar dan
daya upaya diri karena diri kita ini tidak
dapat melakukan sesuatu dengan
kekuatan sendiri. sebab manusia itu
sebenarnya memiliki sifat ‘Fakir, dan
Dhaif (lemah) ’.
www.jiwondeso.blogspot.com
Dinaikkan ‘TANAFAS’ hingga
ditempatkannya dengan sempurna di
‘NUFUS’ dengan melihat pada mata hati
itu dari Allah, dengan Allah dan untuk
Allah.
Dari Allah mengerakkan Rohaniah,
Dari Rohaniah menggerakkan Al-Hayat
Dari Al-hayat mengerakkan Nafas,
Dari Nafas mengerakkan Jasad
dan pada hakekatnya.. Allah jualah yang
mengerakkan sekalian yang ada.
firmanNya…,
“Dan tiadalah yang melontar oleh
engkau ya Muhammad ketika engkau
melontar tetapi Allah yang melontar………

Read More ->>

Senin, 25 Maret 2013

Nafas Ⅳ

NAFAS IV
Mari kita bicarakan takrif dan cara-cara
untuk mencapai martabat atau maqam
sholat da’im..
.
Sholat Da’im boleh ditakrifkan sebagai
sholat yang terus-menerus tanpa putus
walaupun sesaat dalam masa hidupnya
yaitu penyaksian diri sendiri (diri batin
dan diri zahir) pada setiap saat seperti
firman Allah yg artinya :
” YANG MEREKA ITU TETAP
MENGERJAKAN SHOLAT” ( Al-
Makrij-23).
Di dalam sholat tugas kita adalah
menumpuhkan sepenuh perhatian dengan
mata batin kita menilik diri batin kita
dan telinga batin menumpuhkan sepenuh
perhatian kepada setiap bacaan oleh
angota zahir dan batin kita disepanjang
mengerjakan sholat tanpa menolehkan
perhatian kearah lain.(titik)
Sholat adalah merupakan latihan
diperingkat awal untuk kita melatih diri
kita supaya dapat menyaksikan diri
batin kita yang menjadi rahasia Allah
Taala… setelah sanggup membuat
penyaksian diri diwaktu kita menunaikan
sholat,maka hendaknya kita melatih diri
kita supaya dapatlah kita menyaksikan
diri batin kita pada setiap saat didalam
masa hidup kita dalam waktu dua puluh
empat jam disepanjang hayat kita,
Sebab itulah kita mengucapkan
Syahadah:…………
Maka berarti kita berikrar dengan diri
kita sendiri untuk menyaksikan diri
rahasia Allah itu pada setiap saat di
dalam waktu 24 jam sehari semalam.
Oleh karena itu untuk mempraktekkan
penyaksian tersebut, maka kita haruslah
mengamalkan sholat da’im dalam hidup
kita seharian seperti yang pernah dibuat
dan diamalkan oleh Rasulullah s.a.w,
nabi-nabi dan wali wali yang agung.
Diantaranya syarat syarat untuk
mendapatkan maqam sholat da’im
adalah sebagai berikut :
1- Hendaklah memahami dan berpegang
teguh dengan hakekat melakukan zikir
nafas,
2- haruslah terlebih dahulu berhasil
mendapat NUR QALBU yaitu hati nurani.
3- Telah mengalami proses pemecahan
wajah KHAWAS FI AL KHAWAS,
4- Juga memahami dan dapat berpegang
dengan penyaksian sebenarnya SYUHUD
AL-HAQ,
Untuk mengamalkan dan mendapatkan
maqam sholat da’im maka seseorang itu
haruslah memahami pada peringkat
awalnya tentang hakekat melakukan
zikir nafas yaitu tentang gerak-
geriknya : zikirnya.. lafaz zikirnya…
letaknya.. dan sebagainya..,
Hal ini telah dibahas dalam blog..,, oleh
karena itu amalkanlah zikir nafas itu
dengan sungguh sungguh supaya kita
mendapat QALBU yaitu pancaran Nur di
dalam jantung kita yang menjadi kuasa
pemancar kepada makrifat untuk me-
makrifat-kan diri kita dengan Allah
Taala.
Sesungguhnya hanya dengan zikir nafas
sajalah gumpalan darah hitam yang
menjadi istana iblis di dalam jantung
kita akan hancur setelah itu baru
terpancarlah NUR-QALBU dan kemudian
terpancarlah pula makrifah hingga
sesorang itu memakrifatkan dirinya
dengan Allah Taala dan dapatlah diri
rahasia Allah yang menjadi diri batin kita
membuat hubungan dengan diri ZATUL
HAQ Tuhan Semesta Alam.
Latihan untuk menyaksikan diri ini
hendaklah dibuat berperingkat,
diperingkat awal melalui sholat
sebagaimana yang diterangkan di dalam
bahasan yang lalu.. dalam masa proses
penyaksian diri seseorang itu akan
mengalami satu proses membebaskan
diri batin (KHAWAS FI KHAWAS) dari
jasad dan dengan itu maka sesorang itu
akan dapat melihat wajah kesatu sampai
dengan wajah kesembilan yaitu martabat
yang paling tinggi… dengan mendapat
pemecahan wajah ini maka akan
dapatlah kita membuat suatu
penyaksian yang sebenarnya pada setiap
saat dimasa hidupnya… pada masa
beribadah (acara sholat), ataupun
keadaan biasa.
Pada peringkat ini dinamakan juga
peringkat martabat BAQA BILLAH yaitu
suatu keadaan yang kekal pada setiap
pendengaran.., penglihatan.., perasaan…
dan sebagainya,dan pada tahapan ini
mereka adalah seperti orang awam dan
sulit untuk kita mengetahui derajat
dirinya dengan Allah Taala..
Umumnya mereka yang mencapai
maqam sholat da’im dapatlah kembali
kehadrat Allah Taala dengan diri batin
dan diri zahir tanpa terpisahkan diantara
satu sama lain, mereka dapat memilih
apakah hendak mati (meninggal) atau
hendak ghaib….

Bersambung....

Read More ->>

Minggu, 24 Maret 2013

Nafas Ⅲ

NAFAS Ⅲ
Normalnya nafas kita keluar masuk
sehari semalam 24 000 kali
pada siang hari12 000 kali..
dan pada malam hari 12 000 kali
inilah jumlah jam sehari semalam = 24
jam,
pada siang 12 jam
dan malam 12 jam,
Demikian hal-nya seperti huruf “Laa
Ilaaha Illallah, Muhammadur
Rasulullah”,
masing-masing mempunyai 12 huruf
berjumlah 24 huruf semuanya.
Barang siapa “mengucap” dengan
sempurna yang 7 kalimah itu niscaya
ditutupkan Allah Ta’ala Pintu Neraka
yang 7. Juga barang siapa “mengucap”
yang 24 huruf ini dengan sempurna
niscaya diampuni Allah Ta’ala yang 24
jam.
Inilah bentuk persembahnya kita kepada
Tuhan kita yang tiada henti yang
dinamakan Sholatul Da’im (sekaligus
melakukan puasa nafsu zahir dan
batinnya).
Sabda Nabi S.A.W :
“Ana Min Nuurillah Wal ‘Aalami Nuurii”
artinya “Aku dari Cahaya Allah dan
sekalian alam dari Cahaya-ku”
Sebab itulah dikatakan “Ahmadun Nuurul
Arwah”
artinya “Muhammad itu bapak dari
sekalian nyawa”
dan dikatakan “Adam Abu Basyar”
artinya “Adam bapak sekalian tubuh”.
Adapun Awal Muhammad Nurani
Adapun Akhir Muhammad Rohani.
Adapun Zahir Muhammad Insani
Adapun Batin Muhammad Robbani.
Adapun Awal Muhammad Nyawa kita
Adapun Akhir Muhammad Rupa kepada
kita,
Adapun yang bernama Allah Sifatnya,
Adapun sebenar-benar Allah itu Zat
Wajibal Wujud,
Adapun yang sebenar-benar Insan yaitu
manusia yang tahu berkata-kata
adanya.
Kita telah mendengar bahwa barang
siapa yang tidak mengenal ilmu zikir
nafas ,maka sudah tentu orang tersebut
tidak dapat menyelami alam hakekat
sholat da’im…
Dalam blog yang terdahulu.. telah
diterangkan dengan jelas tentang sholat,
dimana pengertian sholat tersebut
adalah berdiri menyaksikan diri sendiri
yaitu penyaksian kita terhadap diri zahir
dan diri batin kita yang menjadi rahasia
Allah Taala.
Silahkan disimak kembali saudara-ku…

Bersambung.....

Read More ->>

Jumat, 22 Maret 2013

Nafas Ⅱ

NAFAS II
Yang dinamakan HATI NURANI (qalbu)
itu adalah NUR yang dipancarkan dari
bagian bawah jantung (bagian
Muhammad) ke arah bagian atas jantung
(bagian Allah).
Adapun zikir NAFAS ketika keluar =
ALLAH- dinamakan ABU BAKAR,
ketika masuk adalah HU dinamakan
UMAR, letaknya NAFAS adalah di mulut.
Adapun zikir ANFAS itu adalah ketika
keluar adalah = ALLAH- dan ketika
masuk adalah HU,letaknya AN
FAS pada hidung, dinamakan MIKAIL
dan JIBRIL.
Adapun zikir TANAFAS itu adalah tetap
diam dengan “ALLAH HU” letaknya di
tengah-tengah antara dua telinga,
dinamakan HAKEKAT ISRAFIL.
Adapun zikir NUFUS adalah ketika naik
HU dan ketika turun adalah “ALLAH”
letaknya di dalam jantung,diri nufus ini
dikenal dengan USMAN dan perkerjaanya
dikenal sebagai ALI…
Sabda Nabi S.A.W :
“Barang siapa keluar masuk nafas tanpa
zikir Allah maka sia-sialah ia”.
Ber-awal Nafas itu atas dua langkah
yaitu :
Satu Naik dan kedua Turun.
Maka takkala naiknya itu sampai ke
langit tingkat 7
“Wan Nuzuulu Yajrii Ilal Ardhi Fa Qoola
HUWALLOH”.
Dan takkala turun hingga 7 lapis bumi
Maka nafas itu bunyinya ALLAH.
Takkala masuk pujinya HUWA…
Takkala ia terhenti seketika antara
keluar masuk Tanafas, pujinya AH..
AH..
www.jiwondeso.blogspot.com
Takkala ia tidur atau mati Nufus
namanya Haqqu Da’im.
Ingatlah olehmu…
Dalam menjaga akan nafas ini, dengan
menghadirkan makna ini senantiasa, di
dalam berdiri.. dan duduk.. dan di atas
segala aktifitas yang diperbuat.. hingga
memberi manfaat kepada sekalian
tubuh… dan .. segala cahaya Nurul
‘Alam itu atas seluruh anggota tubuh.
Maka tetaplah me-nilik kedalam hatimu,
jadikanlah engkau hidup di dalam Dua
Negeri yakni Dunia dn Akhirat dan
semoga di-buka-kan Allah baginya pintu
selamat.. sejahteralah di dalam Dunia
dan Akhirat… Semoga dianugerahi Allah
Ta’ala sampai kepada martabat segala
Nabi dan segala Muslimin.. dan di-
haramkan Allah Ta’ala tubuhnya
dimakan api neraka dan badanya pun
tiada dimakan tanah di dalam kubur.
Maka tetaplah dengan hatimu wahai
saudaraku…
Jangan engkau menjadi orang yang lupa
dan lalai,
mudah-mudahan dibahagiakan Allah
Ta’ala dan diberikan rahmatNya atas
mu..
dengan senantiasa “berhadapan” slalu…
hingga sampai akhir ajalmu.

Bersambung

Read More ->>

Nafas Ⅰ

Status tentang Nafas
ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
NAFAS I
Adapun Nafas yang keluar dan masuk
itu dinamakan Muhammad.
Maka Nafas itu dinamakan Nabi kepada
kita.(…tapi kita bukan nabi?)
Kemudian yang dinamakan Muhammad
itu adalah Pujian,
Maksud dari Pujian disini berkaitan
dengan Nafas..
Maka Nafas itu dinamakan… :
Ketika ke luar = Ilmu Ghaibul Ghuyub.
Ketika ke dalam = Ilmu Sirrul Asrar.
Dari Nafas itulah timbunya Ibadah
Muhammad.
Dan dari Jasad kita itulah timbulnya
Ibadah Adam,
Maka ibadah Muhammad itu :
Sholatul Da’im = Sholat terus-menerus.
“Wahdah Fil Kasrah = pandanglah satu
kepada yang banyak”
Yang dinamakan Nafas itu = yang keluar
masuk dari mulut.
Yang dinamakan Nufus itu = yang keluar
masuk dari hidung
Yang dinamakan Tanapas itu = yang
keluar masuk dari telinga.
Yang dinamakan Ampas itu = yang
keluar masuk dari mata.
Maka Nafas itulah yang menuju kepada
“ARASHTUL MAJID”
karena itu hendaklah kita ketahui Ilmu
tentang Nafas ini..,
yaitu Ilmu Ghaibul Ghuyub,
karena itu adalah salah satu daripada
ibadah Muhammad.
Ingat..!!
Ilmu Nafas harus disertai dengan
praktek langsung..,
tidak boleh hanya diambil teori-nya
saja…
Kita lanjutkan…
Nafas yang keluar dari lubang hidung kiri
itu dinamakan Jibril, ucapannya
“ALLAH”.
Nafas yang masuk melalui lubang hidung
kanan itu dinamakan Izrail, ucapannya
“HU”.
Maka Zikirullah yang dua itu dinamakan
NUR.
Maka jadilah dua Nur, yaitu kalimah
“ALLAH” satu Nur dan kalimah “HU”
satu Nur.
Dua Nur ini bertemu di atas bibir dan
tidak masuk ke dalam tubuh.
Amalan ini harus sampai ke derajatnya
yang dinamakan Nurul Hadi.
ke arah itulah yang harus dicapai.
Nafas yang naik di dalam tubuh ke
ubun-ubun dinamakan AHMAD, lalu..
turun dari ubun-ubun sampai-lah ke
Jantung Nurani dinamakan Izraill,
ucapanya “ALLAH”.
Kemudian Nafas yang dari jantung naik
lagi ke ubun-ubun, dinamakan Jibrill,
ucapannya ialah “HU”.
Amalan inilah yang dinamakan :
“Syuhudul Wahdah Fil Kasrah dan
Syuhudul Kasrah Fil Wahdah”
Inilah Pintu Makrifat…,

Bersambung......

Read More ->>

Rabu, 13 Maret 2013

SYEKH WALI LANANG

Wejangan Syekh Wali Lanang
Ketika selesai membangun pesantren,
Raden Paku teringat salah satu
bungkusan yg harus dibukanya. Ia ingat
kata2 ayahnya kalau bingkisan itu berisi
rahasia ilmu sejati yg harus dibacanya.
Dengan hati2 dibukanya bungkusan tsb.
Didalamnya ada beberapa lembar daun
lontar bertuliskan huruf arab pegon.
Segera dibacanya tulisan tsb.
A. Tentang Macam Ilmu Manusia.
Adalah suatu yg pasti terjadi anakku,
ketahuilah ini, renungkan demi
kasampurnaan ilmumu. Di dunia ini,
entah kapan, sakit, dan mati pasti terjadi.
Maka hendaklah waspada, tidak urung
kita juga akan mati, jangan lupa pada
sangkan paran dumadi. Untuk itu, di
dunia ini hendaklah selalu prihatin. Agar
benar2 sempurna engkau berilmu.
Dalam memperbincangkan ilmu
kasempurnaan ini, jangan lupa arti
bahasanya jika engkau
mempertanyakannya. Karena mengetahui
arti bahasa adalah kuncinya.
Kesungguhanlah yg pasti, itulah yg perlu
benar2 engkau mengerti. Jangan takut
pd biaya. Bukan emas, bukan dirham,
dan bukan pula harta benda. Namun
hanya niat ikhlas saja yg diperlukan.
Adapun ilmu manusia itu ada 2, anakku.
Yang pertama adalah ilmu kamanungsan
yg lahir daru jalan indrawi dan melalui
laku kamanungsan. Yang kedua adalah
ilmu kasampurnaan yg lahir melalui
pembelajaran langsung dari Sang Khalik.
Untuk yg kedua ini, ia terjadi melalui 2
cara, yaitu dari luar dan dari dalam.
Yang dari luar, dilalui dg cara belajar.
Sedangkan yg dari dalam, dilalui dg cara
menyibukan diri dg jalan bertapa
( bertafakur ).
Adapun bertafakur secara batin itu
sepadan dg belajar secara lahir. Belajar
memilki arti pengambilan manfaat oleh
seorang murid dari gerak seorang guru.
Sedangkan tafakur memilki makna batin,
yaitu suksma seorang murid yg
mengambil manfaat dari suksma sejati,
ialah jiwa sejati.
Suksma sejati dalam olah ngelmu
memilki pengaruh yg lebih kuat
dibandingkan berbagai nasehat dari ahli
ilmu dan ahli nalar. Ilmu2 seperti itu
tersimpan kuat pada pangkal suksma,
bagaikan benih yg tertanam dalam tanah,
atau mutiara di dasar laut.
Ketahuilah anakku, kewajiban orang
hidup tidak lain adalah selalu berusaha
menjadikan daya potensial yg ada di
dalam dirinya menjadi suatu bentuk aksi
(perbuatan) yg bermanfaat. Sebagaimana
engkau juga wajib mengubah daya
potensial yg ada dalam dirimu menjadi
perbuatan, melalui belajar. Sejatinya
dalam belajar, suksma sang murid
menyerupai dan berdekatan dg suksma
sang guru. Sebagai yg memberi manfaat,
guru laksana petani. Dan sbg yg
meminta manfaat, murid ibarat bumi
atau tanah.
Anakku ketahuilah, ilmu merupakan
kekuatan seperti benih atau tepatnya
seperti tumbuh2an. Apabila suksma sang
murid sudah matang, ia akan menjadi
seperti pohon yg berbuah, atau seperti
mutiara yg sudah dikeluarkan dari dasar
laut. Jika kekuatan badaniah
mengalahkan jiwa, berarti murid masih
harus terus menjalani laku prihatin
dalam olah ngelmu dg menyelami
kesulitan demi kesulitan dan kepenatan
demi kepenatan, dalam rangka
menggapai manfaat.
Jika Cahaya Rasa mengalahkan macam2
indra, berarti murid lebih membutuhkan
sedikit tafakur ketimbang banyak belajar.
Sebab suksma yg cair atau dalam
bahasa arab dsb nafs al-qabil akan
berhasil menggapai manfaat walau
hanya dg berfikir sesaat, ketimbang
proses belajar setahun yg dilakukan oleh
suksma yg beku nafs al-jamid.
Jadi, engkau bisa meraih ilmu dg cara
belajar, dan bisa juga mendapatkannya
dg cara bertafakur. Walaupun
sebenarnya dalam belajar itu juga
memerlukan proses tafakur. Dan dg
tafakur engkau tahu manusia hanya bisa
mempelajari sebagian saja dari seluruh
ilmu dan tidak bisa semuanya.
Banyak ilmu2 mendasar atau yg dsb
annazhariyyah dan penemuan2 baru,
berhasil dikuak oleh orang2 yg memilki
kearifan. Dg kejernihan otak, kekuatan
daya fikir dan ketajaman batin, mereka
berhasil menguak hal2 tsb tanpa proses
belajar dan usaha pencapaian ilmu yg
berlebihan.
Dg bertafakur, manusia berhasil menguak
ajaran sangkan paraning dumadi . Dg
begitu terbukalah asumsi dasar dari
keilmuan sehingga persoalan tidak
berlarut2 dan segera tersingkap
kebodohan yg menyelimuti kalbu.
Seperti telah kuberitahukan sebelumnya
anakku, suksma tidak bisa mempelajari
semua yg di inginka, baik yg bersifat
sebagian ( juz’i / parsial ) maupun yg
menyeluruh ( kulli / universal ) dg cara
belajar. Ia harus mempelajari dg induksi,
sebagian dg deduksi sebagaimana
umumnya manusia dan sebagian lagi dg
analogi yg membutuhkan kejernihan
berfikir. Berdasarkan hal ini, ahli ilmu
terus membentangkan kaidah2 keilmuan.
Ketahuilah anakku.
Seorang ahli ilmu tidak bisa mempelajari
apa yg dibutuhkan seluruh hidupnya. Ia
hanya bisa mempelajari keilmuan umum
dan beragam bentuk yg merupakan
turunannya dan hal itu menjadi dasar
untuk melakukan qiyas terhadap berbagi
persoalan lainnya. Begitu pula para tabib,
tidaklah bisa mempelajari seluruh unsur
obat2an untuk orang lain. Meraka hanya
mempelajari gejala2 umum. Dan setiap
orang diobati menurut sifat masing2
Demikian juga para ahli perbintangan,
mereka mempelajari hal2 umum yg
berkaitan dg bintang, kemudian berfikir
dan memutuskan berbagai hukum.
Demikian juga halnya seorang ahli fikih
dan pujangga. Begitu seterusnya,
imajinasi dan karsa yg indah2 berjalan.
Yang satu menggunakan tafakur sbg alat
pukul, semacam lidi, sedangkan yg lain
menggunakan alat bantu lain untuk
merealisasikan.
Anakku jika pintu suksma terbuka, ia
akan tahu bagaimana cara bertafakur dg
benar dan selanjutnya ia bisa memahami
bagaimana merealisasikan apa yg
diinginkan. Karena itu hati pun menjadi
lapang, pikiran jadi terbuka dan daya
potensial yg ada dalam diri akan lahir
menjadi aksi (perbuatan) yg
berkelanjutan dan tak mengenal lelah.
B. Memahami Ilmu Kasampurnaan.
Ketahuilah anakku bahwa ilmu
kasampurnaan itu ada 2 macam,
Pertama, diberikan melalui wahyu.
Apabila suksma manusia telah
sempurna, niscaya akan sirna segala
sesuatu yg dapat mengotori watak,
seperti halnya sikap rakus dan impian
semu. Suksma akan menghadap Sang
Pencipta, merengkuh cintaNya dan
berharap manfaat serta limpahan
cahayaNya.
Allah akan menyambut suksma itu
secara total. Tatapan Ketuhan
memandanginya dan menjadikannya
seperti papan. kemudian Allah akan
menjadikan pena dari suskma sejati. Dan
pena itu diukirkan ilmu pada papan tadi.
Suksma sejati laksana guru, suksma
manusia suci ibarat sang murid.
Sehingga dicapailah seluruh ilmu, dan
padanya semua bentuk terukir tanpa
proses belajar maupun berfikir. Dalilnya :
“Dan Dialah yg mengajarkanmu apa2 yg
tidak kamu ketahui” (QS. An-Nisa:213).
Ilmu para nabi lebih tinggi derajatnya
dibandingkan ilmu mahluk2 yg lain.
Karena ilmu tsb diperoleh langsung dari
YME tanpa perantara. Kau bisa
memahami dalam kisah para malaikat dg
kanjeng Nabi Adam. Sepanjang usianya
para malaikat terus belajar. Dan dg
berbagi cara mereka berhasil
mendapatkan banyak macam ilmu,
sehingga mereka menjadi mahluk yg
paling berilmu dan mahluk paling
berpengetahuan.
Sementara itu Adam tidaklah tergolong
ahli ngelmu karena ia tidak pernah
belajar dan berjumpa dg seorang guru.
Malaikat bangga dan dg besar hati
mereka berkata:” padahal kami Senantisa
bertasbih dg memuji Engkau dan
mensucikan Engkau.” (QS. Al-
Baqarah:30).
Kanjeng Nabi Adam kembali menuju
Sang Pencipta. Lantas beberapa bagian
dalam hati Kanjeng Nabi oleh Allah
dikeluarkan ketika ia menghadap dan
memohon pertolongan kepada Tuhan.
Lalu Allah ajarkan seluruh nama2 benda.
“Kemudian Dia mengemukakannya
kepada para malaikat, lantas Allah
berfirman: “Sebutkanlah kepadaku nama
benda2 itu jika kamu memang orang2 yg
benar” (QS. Al-Baqarah:31).
Ketahuilah, malaikat menjadi kerdil
dihadapan Adam. Ilmu mereka menjadi
terlihat sempit. Mereka tak bisa
berbangga dab besar hati, justru yg ada
hanya rasa tak berdaya. “Maha Suci
Engkau, tidak ada yg kami ketahui selain
dari apa yg Engkau ajarkan kpd
kami” (QS. Al-Baqarah:32).
Maka kepada mereka Adam
diberitahukan bbrp bagian ilmu dan hal2
yg masih tersembunyi. Akhirnya jelaslah
bagi kaum berakal, bahwa ilmu gaib yg
bersumber dari wahyu lebih kuat dan
lebih sempurna dibandingkan ilmu yg
diperoleh dg penglihatan langsung.
Ilmu yg diperoleh melalui wahyu
merupakan warisan dari hak para nabi.
Namun mulai masa Kanjeng Nabi
Muhammad pintu wahyu telah ditutup
oleh Allah. Sebab Muhammad adalah
penutup para nabi. Dia mewakili sosok
paling berilmu dan paling fasih
dikalangan manusia. Allah telah
mendidiknya dg budi pekertinya menjadi
baik.
Ketahuilah anakku, Ilmu Rasul itu lebih
sempurna, lebih mulia, dan kuat. Karena
ilmu tsb diperoleh langsung dari Sang
Khalik. Beliau sama sekali tidak pernah
menjalankan proses belajar-mengajar
insani.
Ilmu Kasampurnaan yg Kedua,
disampaikan sebagai ilham yaitu
peringatan suksma sejati terhadap
suksma manusia berdasarkan kadar
kejernihan, penerimaan dan daya
kesiapannya. Ilham boleh dikatakan
mengiringi wahyu. Kalau wahyu
merupakan penegasan perkara gaib,
maka ilham merupakan penjelasannya.
Ilmu yg diperoleh dg wahyu itulah
sejatinya ilmu kenabian, sedangkan yg
diperoleh dg ilham itulah sejatinya ilmu
kewalian.
Ilmu kewalian diperoleh secara langsung,
tanpa perantara antara suksma dan Sang
Pencipta. Ilmu Kasampurnaan itu
laksana secercah cahaya dari alam gaib,
yang datang menerpa hati yg jernih,
hampa dan lembut.
Semua ilmu merupakan produk
pengetahuan yg diperoleh dari suksma
sejati yg terdapat dalam inti sangkan
paraning dumadi
dg menisbatkan pada RASA SEJATI,
seperti penisbatan Siti Hawa kepada
Kanjeng Nabi Adam.
Ketahuilah anakku, rasa sejati lebih
mulia, lebih sempurna dan lebih kuat
dari disisi Allah dibandingkan suksma
sejati. Sedangkan suksma sejati lebih
terhormat, lebih lembut dan lebih mulia
dibandingkan mahluk2 lain.
Adapun ilham itu terlahir dari
melimpahnya rasa sejati dan juga
terlahir dari melimpahnya pancaran sinar
suksma sejati. Jika wahyu menjadi
perhiasan para nabi, maka ilham menjadi
perhiasan para wali. Adapun ilmu yg
diperoleh dari wahyu adalah
sebagaimana suksma tanpa rasa atau
wali tanpa nabi. Begitu pula ilham tanpa
wahyu akan menjadi lemah. Ilmu akan
menjadi kuat jika dinisbatkan kepada
wahyu yg bersandar pada penglihatan
ruhani. Itulah ilmu para nabi dan wali
Ketahuilah, ilmu yg diperoleh dg wahyu
hanya khusus bagi para rasul, seperti
diberikan kepada Adam, Musa, Ibrahim,
Isa, Muhammad saw dan para rasul lain.
Itulah yg menbedakan antara risalah dg
nubuwwah .
Adapun nubuwwah adalah perolehan
hakikat dari ilmu dan rasionalitas2 oleh
suksma yg suci kepada orang2 yg
mengambil manfaat. Barangkali
perolehan semacam itu didapat salah
satu suksma, tetapi ia tidak berkewajiban
menyebarkannya karena suatu alasan
dan oleh sebab2 tertentu.
Ilmu kasampurnaan menjadi milik
seorang nabi dan wali, sebagaimana
dimilki Khidir a.s. Hal itu terdapat pd
dalil: “Dan yg telah Kami ajarkan
kepadanya ilmu dari sisi Kami” (QS. Al-
Kahfi:65).
Ingatlah ketika khalifah Ali berujar:
“Kumasukan lisanku kemulutku, hingga
terbukalah dihatiku seribu pintu ilmu, yg
pada setiap pintu terdapat seribu pintu
yg lain”. Dan ia berkata: “Andai
kuletakkan bantal dan aku duduk
diatasnya, niscaya aku akan mengambil
putusan hukum bagi penganut Taurat
berdasarkan Taurat mereka, bagi
penganut Injil berdasarkan Injil mereka,
dan bagi penganut al-Quran berdasarkan
al-Quran mereka”.
Derajat seperti ini tidak bisa diterima dg
melalui ilmu kemanungsa semata yg
hanya dari pembelajaran insani. Pastilah
seseorang yg telah mencapai derajat tsb
telah dikarunia ilmu kasampurnaan.
Jika Allah menghendaki kebaikan pada
dirimu, Dia akan menyingkap tabir atau
hijab yg menhalangi dirimu dg suksma
yg menjadi papan itu. Dg demikian,
sebagian rahasia dari apa2 yg
tersembunyi akan ditampakan pdmu.
segenap makna yg terkandung didalam
rahasia tsb akan terpahat pd suksmamu.
Dan suksma itupun mengungkapkan
sebagaimana engkau ingin karena
dikehendakiNya..
Sejatinya, kearifan bisa lahir dari ilmu
kasampurnaan. Selama engkau belum
mencapai derajat atau tingkatan ini,
engkau tidak akan menjadi seorang arif.
Karena kearifan merupakan pemberian
Hyang Widi.
Dalilnya : ” Allah menganugrahkan al-
hikmah kepada siapa saja yang Dia
kehendaki. Dan barang siapa yang
dianugerahi al-hikmah itu, ia benar2
telah dianugerahi karunia yang banyak.
Dan hanya orang2 yang berakallah yang
dapat mengambil pelajaran ” (QS. Al-
Baqarah:269).
Hal itu karena orang2 yg berhasil
mencapai ilmu kasampurnaan tidak perlu
lagi banyak berusaha memahami ilmu
secara induktif dan berpayah-payah
belajar. Orang yg demikian sedikit
belajar, banyak mengajar, sedikit capai,
banyak istirahat.
Ketahuilah anakku, setelah wahyu
terputus dan sesudah pintu risalah
ditutup, umat manusia tidak lagi
membutuhkan kehadiran rasul atau
utusan. Mereka tidak lagi memerlukan
penampakan dakwah setelah
penyempurnaan agama. Bukanlah
termasuk kearifan menampakan nilai
lebih tidak berdasarkan kebutuhan.
Tapi ketahuilah anakku, pintu ilham itu
tidak pernah ditutup. Pancaran cahaya
suksma sejati tidak pernah terputus.
Karena suksma terus membutuhkan
arahan, pembaharuan dan peringatan.
Umat manusia tidak memerlukan risalah
dan dakwah, tetapi masih membutuhkan
peringatan sebagai akibat dari
tenggelamnya mereka pada rasa was-
was dan terhanyut oleh gelombang
syahwat.
Karena itu Allah menutup pintu wahyu
sebagai pertanda bagi hamba-Nya dan
membuka pintu ilham sebagai rahmat
serta menyiapkan segala sesuatu
menyusun tingkatan2 supaya mereka
tahu bahwa Allah Maha Lembut kepada
hamba2-Nya, memberikan rezeki kepada
siapa saja yg dikendaki tanpa
perhitungan. Selesai sudah nasehatku
tentang kawruh kesejatian yg kubeberkan
padamu. Hendaklah engkau bisa
menggunakan sebaik mungkin.
Dengan sikap takzim, Raden Paku
( Sunan Giri ) menerawang ke depan
membayangkan wajah ayahandanya
mengucapkan sendiri kata2 yg barusan
dibacanya. Digengamnya erat2 lembaran
lontar itu, lalu didekapkan didada serasa
hendak menggoreskan makna dalam
hatinya. Suatu makna dari nasehat orang
suci yg tak lain adalah ayahandanya
sendiri Syeh Wali Lanang / Syeh Awallul
Islam ( Maulana Ishak ), lelaki suci
keturunan manusia utama.
dari : Suluk Syekh Wali Lanang

Read More ->>

Tarek dan Daim

Tarek dan Daim
Syekh Siti Jenar mengajarkan dua macam bentuk shalat, yang disebut
shalat tarek dan shalat daim. Shalat tarek adalah shalat thariqah,
diatas sedikit dari syari’at. Shalat tarek diperuntukkan bagi orang
yang belum mampu untuk sampai pada tingkatan Manunggaling
Kawula Gusti, sedang shalat daim merupakan shalat yang tiada putus
sebagai efek dari kemanunggalannya. Sehingga shalat daim
merupakan hasil dari pengalaman batin atau pengalaman spiritual.
Ketika seseorang belum sanggup melakukan hal itu, karena masih
adanya hijab batin, maka yang harus dilakukan adalah shalat tarek.
Shalat tarek masih terbatas dengan adanya lima waktu shalat, sedang
shalat daim adalah shalat yang tiada putus sepanjang hayat, teraplikasi
dalam keseluruhan tindakan keseharian ( penambahan
, mungkin efeknya adalah berbentuk suci hati, suci ucap, suci pikiran );
pemaduan hati, nalar, dan tindakan ragawi.
Kata “tarek” berasal dari kata Arab “tarki” atau “tarakki” yang
memiliki arti pemisahan. Namun maksud lebih mendalam adalah
terpisahnya jiwa dari dunia, yang disusul dengan tanazzul (manjing)-
nya al-Illahiyah dalam jiwa. Shalat tarek yang dimaksud di sini adalah
shalat yang dilakukan untuk dapat melepaskan diri dari alam kematian
dunia, menuju kemanunggalan. Sehingga menurut Syekh Siti Jenar,
shalat yang hanya sekedar melaksanakan perintah syari’at adalah
tindakan kebohongan, dan merupakan kedurjanaan budi.
Pengambilan shalat tarek ini berasal dari Kitab Wedha Mantra bab
221; Shalat Tarek Limang Wektu. (Sang Indrajit: 1979, hlm. 63-66).
Keterangan bagi yang mengamalkan ilmu shalat tarek lima waktu ini.
(Semua hal yang berkaitan dengan shalat tarek ini diterjemahkan
dengan apa adanya dari Kitab Wedha Mantra. Makna terjemahan yang
bertanda kutip hanyalah arti untuk memudahkan pemahaman.
Adapun maksud dan substansi yang ada dalam kalimat-kalimat asli
dalam bahasa Jawa-Kawi, lebih mendalam dan luas dari pemahaman
dan terjemahan diatas.(penulisnya wanti-wanti banget….))
Pelaksanaan shalat tarek bisa saja diamalkan bersamaan dengan
shalat syari’at sebagaimana biasa, bisa juga dilaksanakan secara
terpisah. Hanya saja terdapat perbedaan dalam hal wudlunya. Jika
dalam shalat syari’at, anggota wudhu yang harus dibasuh adalah
wajah, tangan, sebagian kepala, dan kaki, sementara dalam shalat
tarek adalah di samping tempat-tempat tersebut, harus juga
membasuh seluruh rambut, tempat-tempat pelipatan anggota tubuh,
pusar, dada, jari manis, telinga, jidat, ubun-ubun, serta pusar
tumbuhnya rambut (Jawa; unyeng-unyengan). Walhasil wudlu untuk
shalat tarek sama halnya dengan mandi besar (junub/jinabat).
Bahwa kematian orang yang menerapkan ilmu ini masih terhenti pada
keduniaan, akan tetapi sudah mendapatkan balasan surga sendiri.
Maka paling tidak ujaran-ujaran shalat tarek ini hendaknya
dihafalkan, jangan sampai tidak, agar memperoleh kesempurnaan
kematian.
Bagi yang akan membuktikan, siapa saja yang sudah melaksanakan
ilmu ini, dapat saja dibuktikan. Ketika kematian jasadnya didudukkan
di daratan (di atas tanah), di kain kafan serta diberi kain lurub
(penutup) serta selalu ditunggu, kalau sudah mendapatkan dan sampai
tujuh hari, bisa dibuka, niscaya tidak akan membusuk, (bahkan kalau
iradah dan qudrahnya sudah menyatu dengan Gusti), jasad dalam
kafan tersebut sudah sirna. Kalau dikubur dengan posisi didudukkan,
maka setelah mendapat tujuh hari bisa digali kuburnya, niscaya
jasadnya sudah sirna, dan yang dikatakan bahwa sudah menjadi
manusia sempurna. Maka karena itu, orang yang menerapkan ilmu ini,
sudah menjadi manusia sejati.
Sedangkan tentang ilmu ini, bukanlah manusia yang mengajarkan, cara
mendapatkannya adalah hasil dari laku-prihatin, berada di dalam
khalwat (meditasi, mengheningkan cipta, menyatu karsa dengan Tuhan
sebagaimana diajarkan Syekh Siti Jenar).
Tentang anjuran untuk pembuktian di atas, sebenarnya tidak
diperlukan, sebab yang terpenting adalah penerapan pada diri kita
masing-masing. Justru pembuktian paling efektif adalah jika kita
sudah mengaplikasikan ilmu tersebut. Apalagi pembuktian seperti itu
jika dilaksanakan akan memancing kehebohan, sebagaimana terjadi
dalam kasus kematian Syekh Siti Jenar serta para muridnya.
31. Shalat Subuh
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Kudus kang shalat, iya
iku rohing Allah. Allah iku lungguh ana ing paningal, shalat iku sajrone
shalat ana gusti, sajroning gusti ana sukma, sajroning sukma ana
nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajro-ning urip ana eling, pardhu
ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing awakku.”
(Aku berniat shalat, roh Kudus yang melaksanakan shalat, yaitulah
rohnya Allah. Allah yang menempati penglihatan, shalat yang di dalam
shalat itu ada gusti, di dalam gusti ada sukma, di dalam sukma ada
nyawa, di dalam nyawa terdapat kehidupan, di dalam kehidupan
terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu
akbar tetap mantap mengerti akan diriku sendiri).
Malaikatnya adalah Haruman (malaikat Rumman), memujinya dengan
“Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Niatnya, “Niyatingsun shalat, sirku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu
akbar, tetep madhep langgeng weruh ing sirku.”
(Aku berniat shalat, sir [rahasia]-ku yang shalat, wajib dari Allah
ta’ala, Allahu akbar, tetap menghadap dengan abadi mengerti akan sir
[rahasia]-ku).
Malaikatnya Haruman, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Kemudian memuji; “ya Rajamu, ya Rajaku.” (Arab; Ya maliku al-
Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,”
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat
berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta).
Seratus kali.
Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing
Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata
ing Allahku”,
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku),
Seratus kali
32.Shalat Luhur
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh idlafi kang shalat, iya
iku rohing Pangeran. Pangeran iku lungguhe ana ing kaketek, shalat iku
sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana
urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep
mantep weruh ing Pangeranku.”
(Aku berniat shalat, roh Idlafi yang melaksanakan shalat, yaitulah
rohnya Tuhan. Tuhan yang menempati ketiak, shalat yang di dalam
sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam sukma
terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam
kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah
ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Tuhanku).
Malaikatnya adalah Jabarail (malaikat Jibril), memujinya dengan, “Ya
Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Niatnya, “Niyatingsun shalat, kang shalat osikku, pardlu ta’ala Allahu
akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing osikku.”
(Aku berniat shalat, yang shalat bisikan dan gerak hatiku, wajib dari
Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi
mengerti akan bisikan nuraniku).
Malaikatnya Jabarail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-
Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,”
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat
berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta).
Seratus kali.
Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing
Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata
ing Allahku”,
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku),
Seratus kali.
33.Shalat ‘Ashar
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Abadi kang shalat, iya
iku rohing Rasul. Rasul iku lungguhe ana ing poking ilat, shalat iku
sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana
urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep
mantep weruh ing Rasulku.”
(Aku berniat shalat, roh keabadian yang melaksanakan shalat, yaitulah
rohnya Utusan. Utusan Tuhan yang menempati ujung lidah, shalat yang
di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam
sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di
dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari
Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Utusanku).
Malaikatnya adalah Mikail, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.”
Seratus kali.
Niatnya, “Niyatingsun shalat, angen-angenku kang shalat, pardlu ta’ala
Allahu akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing angen-
angenku.”
(Aku berniat shalat, angan-anganku yang shalat, wajib dari Allah
ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti
akan angan-anganku).
Malaikatnya Mikail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-
Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,”
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat
berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta).
Seratus kali.
Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing
Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata
ing Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata
pada Allahku), Seratus kali.
34.Shalat Maghrib
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, rokhani kang shalat, iya iku
rohing Muhammad. Muhammad iku lungguhe ana ing talingan, shalat
iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana
urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep
mantep weruh ing Muhammadku.”
(Aku berniat shalat, rohani yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya
Muhammad. Muhammad yang menempati ujung telinga, shalat yang di
dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam
sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di
dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari
Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan
Muhammadku).
Malaikatnya adalah Israfil, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.”
Seratus kali.
Niatnya, “Niyatingsun shalat, tekadku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu
akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing tekadku.”
(Aku berniat shalat, tekadku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala,
Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan
tekadku).
Malaikatnya Israfil, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-
Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,”
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat
berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta).
Seratus kali.
Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing
Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata
ing Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata
pada Allahku), Seratus kali
35.Shalat ‘Isya’
Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Robbi kang shalat, iya
iku rohing urip. urip iku lungguhe ana ing napas, shalat iku sajroning
sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip,
sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep
weruh ing uripku.”
(Aku berniat shalat, roh Pembimbing yang melaksanakan shalat,
yaitulah rohnya kehidupan. Utusan Tuhan yang menempati napas,
shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat
sukma, di dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya
kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh,
kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan
kehidupanku).
Malaikatnya adalah Izrail, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus
kali.
Niatnya, “Niyatingsun shalat, karepku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu
akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing karepku.”
(Aku berniat shalat, keinginanku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala,
Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan
keinginanku).
Malaikatnya Izrail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-
Mulku). Seratus kali.
Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur
gumulung, gumulung agawe jagat,”
(Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat
berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta).
Seratus kali.
Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing
Allahku.”
(Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada
Allahku).Seratus kali.
Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata
ing Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata
pada Allahku), Seratus kali.
36.“Inilah shalat satu raka’at salam, yang dilaksanakan setiap tanggal
(bulan purnama), dengan waktu tengah malam tepat.
a.Inilah niatnya, “Ushalli urip dzatullah Allahu akbar” (Aku berniat
melaksanakan shalat kehidupan dzatullah, Allahu akbar).
b.Membaca surat al-Fatihah, kemudian membaca ayat dengan
menyebut, “aku pan Sukma” (Aku sang pemilik Sukma)
c.Melakukan ruku’ dengan menyebut, “langgeng urip
dzatullah” (Kehidupan abadi dzatullah).
d.Sujud dengan mengucapkan, “ibu bumi dzatullah”.
e.Duduk di antara dua sujud dengan doa, “langgeng urip dzatullah tan
kena pati” (kehidupan abadi dzatullah yang tidak terkena kematian).
f.Sujud lagi dengan bacaan, “Ibu bumi dzatullah”.
g.Tahiyat dengan membaca, “Urip dzatullah”.
h.Membaca syahadat dengan bacaan, “Ashadu uripingsun lan
sukma” (Ashadu kehidupanku dan Sukma).
i.Salam dengan bacaan, “Ingsun kang agung, ingsun kang memelihara
kehidupan yang tidak terkena kema-tian.
j.Membaca doa, “Allahumma papan tulis hadhdhari langgeng urip tan
kena pati” (Allahumma papan tulis segala sesuatu yang abadi hidup
yang tak pernah terkena mati).
k.Kemudian berdoa dalam hati, “Ingsun kang agung ingsun kang wisesa
suci dhiriningsun” (ingsun yang Agung, ingsun yang memelihara, suci
diriku sendiri [ingsun]).
Dalam Islam dikenal shalat satu raka’at, namun itu hanya sebagian
dari shalat witir (shalat penutup akhir malam dengan raka’at yang
ganjil).
Shalat satu raka’at salam dalam ajaran Syekh Siti Jenar bukanlah
shalat witir, namun shalat ngatunggal, atau shalat yang dilaksanakan
dalam rangka mencapai kemanunggalan diri dengan Gusti.
Bacaan-bacaan shalat ngatunggal tidak semuanya memakai bahasa
Arab, hanya lafazh takbir dan al-Fatihah serta ayat-ayat yang dibaca
satu madzhab fiqih Islam sekalipun (yakni madzhab Imam Hanafi, dan
di Indonesia terutama madzhab Hasbullah Bakri), bacaan dalam shalat
selain takbir dan al-Fatihah boleh diucapkan dengan bahasa ‘ajam
(selain bahasa Arab).
37.“Shalat lima kali sehari, puji dan dzikir itu adalah kebijaksanaan
dalam hati menurut kehendak pribadi. Benar atau salah pribadi
sendiri yang akan menerima, dengan segala keberanian yang
dimiliki.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III
Dandanggula, 33).
Syekh Siti Jenar menuturkan bahwa sebenarnya shalat sehari-hari itu
hanyalah bentuk tata krama dan bukan merupakan shalat yang
sesungguhnya, yakni shalat sebagai wahana memasrahkan diri secara
total kepada Allah dalam kemanunggalan. Oleh karenanya dalam
tingkatan aplikatif, pelaksanaannya hanya merupakan kehendak
masing-masing pribadi.
Demikian pula, masalah salah dan benarnya pelaksanaan shalat yang
lima waktu dan ibadah sejenisnya, bukanlah esensi dari agama.
Sehingga merupakan hal yang tidak begitu penting untuk menjadi
perhatian manusia. Namanya juga sebatas krama, yang tentu saja
masing-masing orang memiliki sudut pandang sendiri-sendiri.
38.“Pada waktu saya shalat, budi saya mencuri, pada waktu saya
dzikir, budi saya melepaskan hati, menaruh hati kepada seseorang,
kadang-kadang menginginkan keduniaan yang banyak. Lain dengan
Zat Allah yang bersama diriku. Nah, saya inilah Yang Maha Suci, Zat
Maulana yang nyata, yang tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat
dibayangkan.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III
Dandanggula, 37).
Pada kritik yang dikemukakan Syekh Siti Jenar terhadap Islam formal
Walisanga tersebut, namun jelas penolakan Syekh Siti Jenar atas model
dan materi dakwah Walisanga. Pernyataan tersebut sebenarnya
berhubungan erat dengan pernyataan-pernyataan pada point 37
diatas, dan juga pernyataan mengenai kebohongan syari’at yang tanpa
spiritualitas di bawah.
Menurut Syekh Siti Jenar, umumnya orang yang melaksanakan shalat,
sebenarnya akal-budinya mencuri, yakni mencuri esensi shalat yaitu
keheningan dan kejernihan busi, yang melahirkan akhlaq al-karimah.
Sifat khusyu’nya shalat sebenarnya adalah letak aplikasi pesan shalat
dalam kehidupan keseharian.
Sehingga dalam al-Qur’an, orang yang melaksanakan shalat namun
tetap memiliki sifat riya’ dan enggan mewujudkan pesan kemanusiaan
disebut mengalami celaka dan mendapatkan siksa neraka Wail. Sebab
ia melupakan makna dan tujuan shalat (QS. Al-Ma’un/107;4-7). Sedang
dalam Qs.Al-Mukminun/23; 1-11 disebutkan bahwa orang yang
mendapatkan keuntungan adalah orang yang shalatnya khusyu’. Dan
shalat yang khusyu’ itu adalah shalat yang disertai oleh akhlak berikut :
(1) menghindarkan diri dari hal-hal yang sia-sia dan tidak berguna,
juga tidak menyia-siakan waktu serta tempat dan setiap kesempatan;
(2) menunaikan zakat dan sejenisnya; (3) menjaga kehormatan diri
dari tindakan nista; (4) menepati janji dan amanat serta sumpah; (5)
menjaga makna dan esensi shalat dalam kehidupannya. Mereka itulah
yang disebutkan akan mewarisi tempat tinggal abadi; kemanunggalan.
Namun dalam aplikasi keseharian, apa yang terjadi? Orang muslim
yang melaksanakan shalat dipaksa untuk berdiam, konsentrasi ketika
melaksanakan shalat. Padahal pesan esensialnya adalah, agar pikiran
yang liar diperlihara dan digembalakan agar tidak liar. Sebab pikiran
yang liar pasti menggagalkan pesan khusyu’ tersebut. Khusyu’ itu
adalah buah dari shalat. Sedangkan shalat hakikatnya adalah
eksperimen manunggal dengan Gusti. Manunggal itu adalah al-Islam,
penyerahan diri
. Sehingga doktrin manunggal bukanlah masalah paham qadariyah
atau jabariyah, fana’ atau ittihad.
Namun itu adalah inti kehidupan. Khusyu’ bukanlah latihan
konsentrasi, bukan pula meditasi. Konsentrasi dan meditasi hanya
salah satu alat latihan menggembalaan pikiran. Wajar jika Syekh Siti
Jenar menyebut ajaran para wali sebagai ajaran yang telah dipalsukan
dan menyebut shalat yang diajarkan para Wali adalah model shalatnya
para pencuri.

Read More ->>