ZIKIR TAJALLI YANG DIBACA DALAM HATI SECARA ‘SIRR’ 1X atau 3X , kapan saja, dan nafas ditarik dengan “ HUU” kemudian ditahan dan lidah dilekukkan di langit-langit :
1. INNI BIHAKKI MUHAMMADIN ALHAQ QULHAQ, YAHUU.. artinya Sesungguhnya diriku adalah kebesaran wujud NUR MUHAMMAD yang sebenar benarnya.
2. INNI BIHAKKI ZATUL BUKTI KHALISUL MUTLAK, YAHUU.. artinya Bahwa sesungguhnya diriku adalah wujud kebesaran NUR MUHAMMAD semata-mata yang Maha Suci lagi Esa tiada ada yang lainnya besertanya.
3. LAA MAUJUDUN ILLA NURUL AL AQ QULHAQ, YAHUU.. artinya Tiada lain wujudku melainkan wujud kebenaran NUR MUHAMMAD yang sebenar-benarnya. Pilih yang mana dari tiga diatas ini yang dirasa mudah, dan waktu keluar nafas bacalah dalam hati “ ALLAHU AKBAR ”.
Kamis, 13 Agustus 2015
AMALAN ZIKIR
Rabu, 12 Agustus 2015
Tentang Penciptaan
~ Tentang Penciptaan ~
Ilmu Hakekat Insan Hadist di riwayatkan oleh Imam Ali Bin Abi Thalib : “QABLA’AN YAHLUKAS SAMAWATI WAL ARDHI, WAL ARSYI, WAL QURSYI, WAL HUJUBI, WAL JANNATI, WAN NARI, WAD DUNIA, WAL AKHIRA, WA ADAMA, WA SISAN, WA NUHAN, WA IBRAHIMA, WA SULAIMANA, WA MUSA, WA ISA, … “ Maksudnya : “Sebelum kejadian Arsyi, Qursyi, hijab 7 lapis Langit dan Bumi, pengertian TURUN NAIK NAFAS kita sudah tersedia berkekalan Surga, Neraka, Dunia dan Akhirat, Nabi Adam AS, Nabi Sis AS, Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS….” KOSONG. 624.000 tahun masih KOSONG, Allah Ta’ala yaitu kosong (waktu naik nafas keatas) Kosong bernama Ujud (Nur Nabi namanya) Jadi, Nur Rasulullah SAW sudah sedia 624.000 tahun lamanya. Kosong itulah sebenar-benar Laisa, bernama HUWA JIBUL WUJUD, NUR MUHAMMAD SAW, tajjali sendiri, menyipikan sendiri, terangkat sendiri. ESA adanya jua.. . Dari KOSONG menjadi TITIK Itulah kesempurnaan Syahadat adanya denyut (waktu menahan nafas turun) Titik itu bernama NUR SALASIAH (Rahasia Nabi) Yang ter-rahasia lagi ABU KASIM namanya. Inilah adanya 2 nama tapi 1 ujud, tiada lain, NUR.. NUR.. jua Yaitu rahasia TITIK dan KOSONG. . Dari TITIK menjadi ALIF.
Terjadinya alam semesta (waktu keluar nafas) Qodrat dan Iradatnya bernama Allah Ta’ala, Yaitu Alif semata-mata ASMA dan AF”AL. Kemudian barulah INSAN ADAM namanya bertubuh Rahim Muhammad SAW, Kemudian NUR MUHAMMAD SAW yang awal-awal memuji dirinya sendiri, Maka, Berlakulah JALAL dan JAMAL .. .
Puji Nur Rasulullah SAW, terbagi atas 12 Hijab yaitu :
1.Hijabul Kudus, KEKUASAAN, pujinya “SUBHANA RABBIAL A’LA”
2.Hijabul Akbar, KEBESARAN, pujinya “SUBHANA ALIMISSIRI WA AHFA”
3.Hijabul Minnah, PEMBERIAN, pujinya “SUBHANA RABBIAL ADZIM”
4.Hijabul Rahmah, KASIH SAYANG, pujinya “SUBHANA RAUFFUR RAHIM’
5.Hijabul Sya’adah, KEBAHAGIAAN, pujinya “SUBHANA MAN HUWA DA’IMUN”
6.Hijabul Karomah, KEMULIAAN, pujinya “SUBHANA ALIMUN HAKIM”
7.Hijabul Manjilah, ANUGERAH, pujinya “SUBHANA ZIL MULKIL A’LA”
8.Hijabul Hidayah, PETUNJUK, pujinya “SUBHANA RABBIAL ARSYIL AZIM”
9.Hijabul Nubuah, KENABIAN, pujinya “SUBHANALLAHI WABIHAMDIHI”
10.Hijabul Rib’ah, KEBERUNTUNGAN, pujinya “SUBHANAL MALIKIL KUDDUS’
11.Hijabul Ta’ah, KETAATAN, pujinya “SUBHANAL KADMUL AZALI”
12.Hijabul Syafa’at, SYAFAAT, pujinya “SUBHANAL MALIKUL MA’BUD” .
Jadi.. Adanya Nur terbagi 12 Hijab dengan puji-pujinya itu tiada lain kesemuanya adalah HU…
Diri Rasulullah SAW yang awal-awal atau Rahasia Dzat Wajibul Wujud yang sebenar-benarnya.
Di dalam masa ke-enam yaitu hari JUM’AT atau PERHIMPUNAN hanya telah sempurna kejadian Insan Diri nabi ADAM AS. Kemudian dalam hadist di terangkan : “KUNTU AWWALU NABIYYINA FIL KHALQI WA AKHIRI HUM FIL BA’TSI” Adalah AKU (AHMAD) yang awal-awal dari pada sekalian Nabi-nabi dan Rasul-rasul itu di dalam Rahasia awal-awal keadaan mereka, dan adalah AKU (MUHAMMAD) yang menjadi kesudahan mereka di dalam masa ke-dzahiran. Maksudnya : AKU yang awal dan yang akhir, yang buka dan yang tutup, semua terhimpun dalam AKU jua, Sedangkan, ke-dzahiran Insan Kamil Diri Nabi kita SAW terhitung pada masa yang ke-tujuh.
Bahwa : - Hijabul kudus 624.000 tahun lamanya, - Hijabul Akbar 900 tahun lamanya, - Hijabul Minnah 800 tahun lamanya, - Hijabul Rahmah 700 tahun lamanya, - Hijabul Sya’adah 600 tahun lamanya, - Hijabul Karomah 500 tahun lamanya, - Hijabul Manjilah 400 tahun lamanya, - Hijabul Hidayah 300 tahun lamanya, - Hijabul Nubuah 200 tahun lamanya, - Hijabul Rib’ah 100 tahun lamanya, - Hijabul Ta’ah 50 tahun lamanya, - Hijabul Syafa’at 23 tahun lamanya.
Kitab tentang NUR MUHAMMAD SAW yang aslinya sangat langkah adanya. Banyak para Da’i dan Ulama yang mengatakan Nur Muhammad SAW ini ‘dijadikan’ karena mereka belum mengetahui lebih mendalam lagi tentang paham Nur Muhammad SAW yang hakiki atau yang awal-awal. Oleh karena itu ajaran Islam tentang Iman, Islam, Ikhsan inilah yang menjadi asal Hijab Nur Rasulullah SAW, yaitu Nur yang hidup yang di katakan Qadim. Pemakaiannya : Amalkan puji Nur yang 12 Hijab di atas satu persatu, Mengamalkanya dari 1000X atau 100X atau jangan di hitung… Itulah maksudnya mengumpulkan kebahagian dunia dan akhirat, guna mendapatkan derajat yang agung disisi manusia juga wara mendapat derajat kewalian dunia dan akhirat. Satu persatu dari puji yang kita sampaikan maka kita akan mendapatkan anugerah dari Rasulullah SAW, Hidayah, Rahmat dan Syafa’at… Amin Yaa Rabbal Alamin.
1. Sebelum ke dzahiran, “ASALIHIM MIN ADAMA WA ASLIHIM ADAMA MIN TURAB” Semua asal dari Adam sedangkan nabi Adam dari tanah.
2. Sesudah ke dzahiran, “ANNA MIN ALLAH WA ALAMA MINNI” Aku dari Allah sedangkan Alam semesta dari Aku adanya.
Sedangkan, dalam tubuh kita terdapat 3 unsur yaitu :
1. ADAM = tubuh, hati, ruh, rahasia
2. MUHAMMAD = sareat, tarekat hakekat, makrifat
3. ALLAH = dzat, sifat, nama, rahasia
Jumat, 11 April 2014
Fadilah Al Fatihah
~ Al-Fatihah ~
Ilmu Hakekat Insan
★ RAHASIA Fadilah Al-FATIHAH★
✔1. Bismillah = Mesrakan mulai dari Penglihatan.
✔2. Ar-Rahman = Mesrakan ke Pendengaran.
✔3. Ar-Rahim = Mesrakan ke Penciuman.
✔4. Alhamdulillahi Rabbil Alamin = Mesrakan ke Pengrasa.
✔5. Arrahmanirrahim = Mesrakan lagi dari Otak.
✔6. Malikiyaumiddin = Mesrakan turun ke Sum-sum.
✔7. Iyyakana’budu wa iyyakanasta’in = Mesrakan ke Tulang-tulang 360.
✔8. Ihdinas shiratal mustaqim = Mesrakan ke Urat-urat.
✔9. Shiratal laziina an amta alaihim = Mesrakan ke Daging.
✔10. Gairil magdubi alaihim = Mesrakan ke seluruh Kulit.
✔11. Waladdollin = Mesrakan sampai ke Bulu-bulu.
✔12. Amin = Mesrakan seluruh tubuh hingga SEMPURNA diri kita dzahir dan batin.
Membaca AL-FATIHAH sambil DA’IM adalah puji AL-QUR’AN dalam diri.
∴ MAQOM FATIHAH DALAM LATIFAH ∴
※'BISMILLAH’ Kepala, ubun-ubun, Rabbun Nur Salasiah.
※‘ARRAHMAN’ Otak, detik ujud, tiada huruf tiada suara, tik.. tik..
※‘ARRAHIM’ Kedua mata, pancaran Nur, himpunan pandangan alam semesta.
※‘ALHAMDULILLAH’ Muka, rupa Muhammad, mengandung sifat ma’ani di muka kita.
※‘RABBIL ALAMIN’ Telinga kanan, ada gerak lintasan.
※‘ARRAHMAN’ Telinga kiri, ada gerak bisikan yang samar
※‘ARRAHIM’ Kedua tangan rahasia gerak.
※‘MALIKI YAUMIDDIN’ Belakang, rahasia gerak urat nadi manusia.
※‘IYYAKA NA’BUDU’ Rahasia gerak denyut.
※‘WA IYYAKA NASYTA’IN’ Rahasia segala manusia, tahan satu detik, itulah dinamaka Sir Dzatul Ahdas
※‘IHDINAS SIRATHAL MUSTAQIM’ Urat leher, rahasia mesra
※‘SHIRATOL LAZIINA AN AMTA ALAIHIM’ Rahasia melebur menjadi sifat Ma’ani, tiada huruf tiada suara.
※‘GAIRIL MAGDUBI’ Empedu, rahasia perintah hati.
※‘ALAIHIM’ Rahasia perintah Rabbani.
※‘WALADDOOLIN’ Hati, rahasia memuji diri sendiri.
※‘AMIN’ Jantung, rahasia Sir, itulah yang di namakan Dai’mun Sholat.
«――Mesrakan antara naik dan turun, inilah makna Baqobillah――»
at 6:01 malam
Apr 11,2014
Kamis, 03 April 2014
SHOLAT 24 JAM
~ Sholat 24 jam ~
Ilmu Hakekat Insan .
Sholatlah sambil bekerja.
Bekerjalah sambil berdiam..
Berdiam sambil berjalan...
Tidurlah tetap berbaring....
Berbaringlah seolah-olah tertidur.....
Maka, tidurlah sambil berjaga......
Jagalah terus-menerus.......
Sebab Da’imun Sholah tiada berkeputusan........
Hanya ada di dalam rasa.........
Matikan dirimu dahulu sebelum matimu datang..........
Matilah pada “LAA ILAHA ILLA HUA” sebelum mati pada “LAA ILAHA ILLA HU” Habiskan… Mesrakan… sebelum tertidur.. Tatkala masuk pujinya sudah HU.. Tatkala keluarpun pujinya sudah ALLAH.. Tiada huruf tiada suara..
Tatkala naik nafas bernama RABBUN.
Tatkala Ia bergerak ke kerongkongan ada rasa bernama DZATUL BUHTI.
Dan, Tatkala tidur berhenti bernama DZATUL AHDAS, Disitulah tempat menerima perintah, Disitulah tiada yang disembah dan tiada yang menyembah, Jangan lepas pandangan Zuhud (kerinduan) ini, Masuklah sedekat nafas lalu pandang apa jua yang ada..
Inilah yang dinamakan latihan Sholat yang hakiki, Lazimi pemakaian ini.. ……………..
Kamis, 27 Maret 2014
Sholat Daim
~ Perjalanan Sholat Daim ~ Ilmu Hakekat Insan .
Cara ‘MENGHILANGKAN’ kemudian ‘MENYATAKAN’ adalah dengan mengetahui tentang PERJALANAN SHOLAT DA’IM yaitu :
1. Di dalam sulbi MAUL HAYAT (mesrakan turun nafasmu ke sulbi)
2. Di pohon kalam MADI (nuk)
3. Di pucuk kalam MANI,
4. Ke luar kalam MANIKAM (Jalil Jalallah nama asli bayi)
5. Mulai masuk NUTFAH,
6. Umur 1 bulan RUH NABATI
(Jalallah)
7. Umur 3 bulan RUH JASMANI,
8. Umur 5 bulan RUH NAFSANI,
9. Umur 7 bulan RUH ROHANI, (tik.. tik..)
10. Umur 9 bulan RUH IDHAFI (Haq Haq.. memuji dirinya RABBUN)
11. Keluar dari rahim, WALADAL INSAN AMINULLAH.
12. Umur 7 hari MUHAMMAD,
13. Umur 40 hari MUHAMMAD IDHAFI,
14. Umur 2 Tahun MUHAMMAD AINAL INSAN,
15. Umur 7 tahun MUHAMMAD SHOLATULLAH,
16. Umur 10 tahun MUHAMMAD SHOLAWATULLAH (detik nafas)
17. Umur 14 tahun MUHAMMAD KAMARULLAH,
18. Umur 25 tahun MUHAMMAD AMINULLAH,
19. Umur 35 tahun MUHAMMAD SHIRATULLAH,
20. Umur 40 tahun MUHAMMAD UZUNULLAH,
21. Umur 41 tahun MUHAMMAD RASULULLAH,
22. Ketika Isra’ Mi’raj ABDULLAH,
23. Ketika di langit MUHAMMAD MUTLAK,
24. Ketika di Mustawan AHMAD,
25. Ketika umur 63 tahun KALAMULLAH,
26. Ketika kembali RAHMATULLAH,
27. Ketika di Mahsar AL HASYIR,
28. Lebur ke hadirat Allah HABBIBULLAH,
29. Nama yang ter-rahasia AHMAD ABUL QASIM,
30. Nama tiada huruf tiada suara HAQ.. HAQ.. (aslinya) Itulah 30 huruf, 30 ayat, 30 juz menjadi AL-QUR’AN dalam dirimu …………………
Rabu, 19 Maret 2014
Makna Tiga Langkah
Triwikrama adalah tiga langkah “Dewa Wisnu”
atau Atma Sejati (energi kehidupan) dalam
melakukan proses penitisan. Awal mula
kehidupan dimulai sejak roh manusia diciptakan
Tuhan namun masih berada di alam sunyaruri
yang jenjem jinem, dinamakan sebagai zaman
kertayuga, zaman serba adem tenteram dan
selamat di dalam alam keabadian.
Di sana roh belum terpolusi nafsu jasad dan
duniawi, atau dengan kata lain digoda oleh
“setan” (nafsu negatif). Dari alam keabadian
selanjutnya roh manitis yang pertama kali yakni
masuk ke dalam “air” sang bapa, dinamakanlah
zaman tirtayuga. Air kehidupan (tirtamaya) yang
bersemayam di dalam rahsa sejati sang bapa
kemudian menitis ke dalam rahim sang rena
(ibu). Penitisan atau langkah kedua Dewa Wisnu
ini berproses di dalam zaman dwaparayuga.
Sebagai zaman keanehan, karena asal mula
wujud sukma adalah berbadan cahya lalu
mengejawantah mewujud menjadi jasad manusia.
Sang Bapa mengukir jiwa dan sang rena yang
mengukir raga. Selama 9 bulan calon manusia
berproses di dalam rahim sang rena dari wujud
badan cahya menjadi badan raga. Itulah zaman
keanehan atau dwaparayuga. Setelah 9 bulan
lamanya sang Dewa Wisnu berada di dalam
zaman dwaparayuga. Kemudian langkah
Dewa Wisnu menitis yang terakhir kalinya, yakni
lahir ke bumi menjadi manusia yang utuh dengan
segenap jiwa dan raganya. Panitisan terakhir
Dewa Wisnu ke dalam zaman mercapadha. Merca
artinya panas atau rusak, padha berarti papan
atau tempat. Mercapadha adalah tempat yang
panas dan mengalami kerusakan. Disebut juga
sebagai Madyapada, madya itu tengah padha
berarti tempat.
Tempat yang berada di tengah-tengah, terhimpit
di antara tempat-tempat gaib. Gaib sebelum
kelahiran dan gaib setelah ajal. KIDUNG
PANGURIPAN “SAKA GURU” Nah, di zaman
Madya atau mercapadha ini manusia memiliki
kecenderungan sifat-sifat yang negatif. Sebagai
pembawaan unsur “setan”, setan tidak dipahami
sebagai makhluk gaib gentayangan penggoda
iman, melainkan sebagai kata kiasan dari nafsu
negatif yang ada di dalam segumpal darah
(kalbu).
Mercapadha merupakan perjalanan hidup PALING
SINGKAT namun PALING BERAT dan SANGAT
MENENTUKAN kemuliaan manusia dalam
KEHIDUPAN SEBENARNYA yang sejati abadi
azali. Para perintis bangsa di zaman dulu telah
menggambarkan bagaimana keadaan manusia
dalam berproses mengarungi kehidupan di dunia
selangkah demi selangkah yang dirangkum
dalam tembang macapat (membaca sipat).
Masing-masing tembang menggambarkan proses
perkembangan manusia dari sejak lahir hingga
mati. Ringkasnya, lirik nada yang digubah ke
dalam berbagai bentuk tembang menceritakan
sifat lahir, sifat hidup, dan sifat mati manusia
sebagai sebuah perjalanan yang musti dilalui
setiap insan.
Penekanan ada pada sifat-sifat buruk manusia,
agar supaya tembang tidak sekedar menjadi
iming-iming, namun dapat menjadipepeling dan
saka guru untuk perjalanan hidup manusia.
Berikut ini alurnya :
1. MIJIL Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa
dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan
si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada
di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak
Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi.
Disambut tangisan membahana waktu pertama
merasakan betapa tidak nyamannya berada di
alam mercapadha.
Sang bayi terlanjur enak hidup di zaman
dwaparayuga, namun harus netepi titah Gusti
untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa
universal pertama kali dengan tangisan
memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan
alamiah bagaikan kekuatan getaran mantra tanpa
tinulis.Kini orang tua bergembira hati, setelah
sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku
prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang(bayi)
lahir dengan selamat. Puja puji selalu dipanjat
agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha
Pemberi Rahmat atas lahirnya si jabang bayi
idaman hati.
2. MASKUMAMBANG Setelah lahir si jabang
bayi, membuat hati orang tua bahagia tak
terperi. Tiap hari suka ngudang melihat tingkah
polah sang bayi yang lucu dan menggemaskan.
Senyum si jabang bayi membuat riang
bergembira yang memandang. Setiap saat sang
bapa melantunkan tembang pertanda hati senang
dan jiwanya terang. Takjub memandang
kehidupan baru yang sangat menantang. Namun
selalu waspada jangan sampai si ponang
menangis dan demam hingga kejang.
Orang tua takut kehilangan si ponang, dijaganya
malam dan siang agar jangan sampai meregang.
Buah hati bagaikan emassegantang. Menjadi
tumpuan dan harapan kedua orang tuannya
mengukir masa depan. Kelak jika sudah dewasa
jadilah anak berbakti kepada orang tua, nusa
dan bangsa.
3. KINANTI Semula berujud jabang bayi merah
merekah, lalu berkembang menjadi anak yang
selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuannya
sebagai anugrah dan berkah. Buah hati menjadi
tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan
harapan tercipta, orang tua selalu membimbing
dan mendampingi buah hati tercintanya. Buah
hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung
dan mempererat cinta kasih suami istri. Buah
hati menjadi anugrah ilahi yang harus dijaga
siang ratri.Dikanthi-kanthi (diarahkan dan
dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang
selalu menjaga bumi pertiwi.
4. SINOM Sinom isih enom. Jabang bayi
berkembang menjadi remaja sang pujaan dan
dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang
masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah,
siang malam selalu berdoa dan menjaga agar
pergaulannya tidak salah arah. Walupun badan
sudah besar namun remaja belajar hidup masih
susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya
belum matang, masih sering salah menentukan
arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk
menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar
manusia masih enom (muda) hidupnya sering
salah kaprah.
5. DHANDANGGULA Remaja beranjak menjadi
dewasa. Segala lamunan berubah ingin
berkelana. Mencoba hal-hal yang belum pernah
dirasa. Biarpun dilarang agama, budaya dan
orang tua, anak dewasa tetap ingin mencobanya.
Angan dan asa gemar melamun dalam keindahan
dunia fana. Tak sadar jiwa dan raga menjadi
tersiksa. Bagi anak baru dewasa, yang manis
adalah gemerlap dunia dan menuruti nafsu
angkara, jika perlu malah berani melawan orang
tua. Anak baru dewasa, remaja bukan dewasa
juga belum, masih sering terperdaya bujukan
nafsu angkara dan nikmat dunia.
Sering pula ditakut-takuti api neraka, namun tak
akan membuat sikapnya menjadi jera. Tak mau
mengikuti kareping rahsa, yang ada selalu nguja
hawa. Anak dewasa merasa rugi bila tak
mengecap manisnya dunia. Tak peduli orang tua
terlunta, yang penting hati senang gembira. Tak
sadar tindak tanduknya bikin celaka, bagi diri
sendiri, orang tua dan keluarga.
Cita-citanya setinggi langit, sebentar-sebentar
minta duit, tak mau hidup irit. Jika tersinggung
langsung sengit. Enggan berusaha yang penting
apa-apa harus tersedia. Jiwanya masih muda,
mudah sekali tergoda api asmara. Lihat celana
saja menjadi bergemuruh rasa di dada. Anak
dewasa sering bikin orang tua ngelus dada.
Bagaimanapun juga mereka buah dada hati yang
dicinta. Itulah sebabnya orang tua tak punya
rasa benci kepada pujaan hati. Hati-hati bimbing
anak muda yang belum mampu membuka panca
indera, salah-salah justru bisa celaka semuanya.
6. ASMARADANA Asmaradana atau asmara
dahana yakni api asmara yang membakar jiwa
dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motifasi
harapan dan asa asmara. Seolah dunia ini
miliknya saja. Membayangkan dirinya bagaikan
sang pujangga atau pangeran muda. Apa yang
dicitakan haruslah terlaksana, tak pandang bulu
apa akibatnya. Hidup menjadi terasa semakin
hidup lantaran gema asmara membahana dari
dalam dada.
Biarlah asmara membakar semangat hidupnya,
yang penting jangan sampai terlena. Jika tidak,
akan menderita dikejar-kejar tanggungjawab
hamil muda. Sebaliknya akan hidup mulia dan
tergapai cita-citanya. Maka sudah menjadi tugas
orang tua membimbing mengarahkan agar tidak
salah memilih idola. Sebab sebentar lagi akan
memasuki gerbang kehidupan baru yang mungkin
akan banyak mengharu biru.
Seyogyanya suka meniru tindak tanduk
sanggurulaku, yang sabar membimbing setiap
waktu dan tak pernah menggerutu. Jangan suka
berpangku namun pandailah memanfaatkan
waktu. Agar cita-cita dapat dituju. Asmaradana
adalah saat-saat yang menjadi penentu, apakah
dirimu akan menjadi orang bermutu, atau polisi
akan memburu dirimu. Salah-salah gagal
menjadi menantu, malah akan menjadi seteru.
7. GAMBUH Gambuh atau Gampang Nambuh,
sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah
menjadi orang yang teguh, ampuh dan
keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai
sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar
matanya nanar merasa cita-citanya sudah
bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat
mana yang salah dan benar. Di mana-mana
ingin diakui bak pejuang, walau hatinya tak
lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani
mati, sebaliknya berani hidup menjadi manusia
sejati.
Sulitnya mencari jati diri kemana-mana terus
berlari tanpa henti. Memperoleh sedikit sudah
dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-
mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas
diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang
didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh
tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya
sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani
dan menghayati. Bila merasa ada yang kurang,
menjadikannya sakit hati dan rendah diri.
Jika tak tahan ia akan berlari menjauh
mengasingkan diri. Menjadi pemuda pemudi yang
jauh dari anugrah ilahi. Maka, belajarlah dengan
teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang
mudah gumunan dan kagetan. Bila sudah paham
hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar
ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang
dibangga-banggakan itu menjadi mati.
8. DURMA Munduring tata krama. Dalam cerita
wayang purwa dikenal banyak tokoh dari
kalangan “hitam” yang jahat. Sebut saja
misalnya Dursasana, Durmagati,Duryudana.
Dalam terminologi Jawa dikenal berbagai istilah
menggunakan suku kata dur/ dura (nglengkara)
yang mewakili makna negatif (awon). Sebut saja
misalnya :duraatmoko, duroko, dursila, dura
sengkara, duracara (bicara buruk),durajaya,
dursahasya, durmala, durniti, durta, durtama,
udur, dst. Tembang Durma, diciptakan untuk
mengingatkan sekaligus menggambarkan
keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk
atau jahat.
Manusia gemar udur atau cekcok, cari menang
dan benernya sendiri, tak mau memahami
perasaan orang lain. Sementara manusia
cendrung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan
sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun
merugikan orang lain tidak peduli lagi. Nasehat
bapa-ibu sudah tidak digubris dan dihiraukan
lagi. Lupa diri selalu merasa iri hati.
Manusia walaupun tidak mau disakiti, namun
gemar menyakiti hati. Suka berdalih niatnya
baik, namun tak peduli caranya yang kurang
baik. Begitulah keadaan manusia di planet bumi,
suka bertengkar, emosi, tak terkendali,
mencelakai, dan menyakiti. Maka hati-hatilah,
yang selalu eling dan waspadha.
9. PANGKUR Bila usia telah uzur, datanglah
penyesalan. Manusia menoleh kebelakang
(mungkur) merenungkan apa yang dilakukan
pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi
diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia
lakukan, hingga kini yang ada tinggalah
menyesali diri. Kenapa dulu tidak begini tidak
begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang
hina dina sudah tak berguna. Anak cucu kadang
menggoda, masih meminta-minta sementara
sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga.
Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit
tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan
raga tak mampu berbuat apa-apa. Hidup enggan
mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat
apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu
jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi
guru ngaji. Tabungan menghilang sementara
penyakit kian meradang.
Lebih banyak waktu untuk telentang di atas
ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun
sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah
mengerang terasa nyawa hendak melayang.
Sanak kadhang enggan datang, karena ingat
ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-
mentang. Rasain loh bentar lagi menjadi
bathang..!!
10. MEGATRUH Megat ruh, artinya putusnya
nyawa dari raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh.
Datanya ajal akan tiba sekonyong-konyong.
Tanpa kompromi sehingga manusia banyak yang
disesali. Sudah terlambat untuk memperbaiki
diri. Terlanjur tak paham jati diri. Selama ini
menyembah tuhan penuh dengan pamrih dalam
hati, karena takut neraka dan berharap-harap
pahala surga. Kaget setengah mati saat mengerti
kehidupan yang sejati.
Betapa kebaikan di dunia menjadi penentu yang
sangat berarti. Untuk menggapai kemuliaan yang
sejati dalam kehidupan yang azali abadi. Duh
Gusti, jadi begini, kenapa diri ini sewaktu masih
muda hidup di dunia fana, sewaktu masih kuat
dan bertenaga, namun tidak melakukan kebaikan
kepada sesama. Menyesali diri ingat dulu kala
telah menjadi durjana. Sembahyangnya rajin
namun tak sadar sering mencelakai dan
menyakiti hati sesama manusia.
Kini telah tiba saatnya menebus segala dosa,
sedih sekali ingat tak berbekal pahala. Harapan
akan masuk surga, telah sirna tertutup bayangan
neraka menganga di depan mata. Di saat ini
manusia baru menjadi saksi mati, betapa
penyakit hati menjadi penentu dalam meraih
kemuliaan hidup yang sejati.
Manusia tak sadar diri sering merasa benci, iri
hati, dan dengki. Seolah menjadi yang paling
benar, apapun tindakanya ia merasa paling
pintar, namun segala keburukannya dianggapnya
demi membela diri. Kini dalam kehidupan yang
sejati, sungguh baru bisa dimengerti, penyakit
hati sangat merugikan diri sendiri. Duh Gusti…!
11. POCUNG Pocung atau pocong adalah orang
yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah
batas antara kehidupan mercapadha yang panas
dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan
abadi. Bagi orang yang baik kematian justru
menyenangkan sebagai kelahirannya kembali,
dan merasa kapok hidup di dunia yang penuh
derita.
Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai
lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia
sekali disambut dan dijemput para leluhurnya
sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi azali.
Kehidupan baru setelah raganya mati. Tak terasa
bila diri telah mati. Yang dirasa semua orang
kok tak mengenalinya lagi. Rasa sakit hilang
badan menjadi ringan. Heran melihat raga sendiri
dibungkus dengan kain kafan. Sentuh sana
sentuh sini tak ada yang mengerti.
Di sana-di sini ketemu orang yang menangisi.
Ada apa kok jadi begini, merasa heran kenapa
sudah bahagia dan senang kok masih ditangisi.
Ketemunya para kadhang yang telah lama
nyawanya meregang. Dalam dimensi yang
tenang, hawanya sejuk tak terbayang. Kemana
mau pergi terasa dekat sekali. Tak ada lagi rasa
lelah otot menegang. Belum juga sadar bahwa
diri telah mati. Hingga beberapa hari barulah
sadar..oh jasad ini telah mati. Yang abadi
tinggalah roh yang suci.
Sementara yang durjana, meregang nyawa tiada
yang peduli. Betapa sulit dan sakit meregang
nyawanya sendiri, menjadi sekarat yang tak
kunjung mati. Bingung kemana harus pergi, toleh
kanan dan kiri semua bikin gelisah hati. Seram
mengancam dan mencekam. Rasa sakit kian
terasa meradang. Walau mengerang tak satupun
yang bisa menolongnya.
Siapapun yang hidup di dunia pasti mengalami
dosa. Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana tak
pernah luput menimbang kebaikan dan
keburukan walau sejumput. Manusia baru sadar,
yang dituduh kapir belum tentu kapir bagi Tuhan,
yang dianggap sesat belum tentu sesat menurut
Tuhan.
Malah-malah yang suka menuduh menjadi
tertuduh. Yang suka menyalahkan justru
bersalah. Yang suka mencaci dan menghina
justru orang yang hina dina. Yang gemar
menghakimi orang akan tersiksa. Yang suka
mengadili akan diadili. Yang ada tinggalah
rintihan lirih tak berarti, “Duh Gusti pripun kok
kados niki…! Oleh sebab itu, hidup kudu jeli,
nastiti, dan ngati-ati.
Jangan suka menghakimi orang lain yang tak
sepaham dengan diri sendiri. Bisa jadi yang
salah malah pribadi kita sendiri. Lebih baik kita
selalu mawas diri, agar kelak jika mati arwahmu
tidak nyasar menjadimemedi.
12. WIRANGRONG Hidup di dunia ini penuh
dengan siksaan, derita, pahit dan getir, musibah
dan bencana. Namun manusia bertugas untuk
merubah semua itu menjadi anugrah dan
bahagia. Manusia harus melepaskan derita diri
pribadi, maupun derita orang lain. Manusia harus
saling asah asih dan asuh kepada sesama.
Hidup yang penuh cinta kasih sayang, bukan
berarti mencintai dunia secara membabi-buta,
namun artinya manusia harus peduli,
memelihara dan merawat, tidak membuat
kerusakan bagi sesama manusia lainnya, bagi
makhluk hidup dan maupun jagad raya seisinya.
Itulah nilai kebaikan yang bersifat universal.
Sebagai wujud nyata hamemayu hayuning
bawana, rahmatan lil alamin. Jangan lah
terlambat, akan mengadu pada siapa bila jasad
sudah masuk ke liang lahat (ngerong).
Wirangrong, Sak wirange mlebu ngerong, berikut
segala perbuatan memalukan selama hidup ikut
dikubur bersama jasad yang kaku.
Keburukannya akan diingat masyarakat, aibnya
dirasakan oleh anak, cucu, dan menantu. Jika
kesadaran terlambat manusia akan menyesal
namun tak bisa lagi bertobat. Tidak pandang
bulu, yang kaya atau melarat, pandai maupun
bodoh keparat, yang jelata maupun berpangkat,
tidak pandang derajat seluruh umat. Semua itu
sekedar pakaian di dunia, tidak bisa menolong
kemuliaan di akherat.
Hidup di dunia sangatlah singkat, namun
mengapa manusia banyak yang keparat. Ajalnya
mengalami sekarat. Gagal total merawat barang
titipan Yang Mahakuasa, yakni segenap jiwa dan
raganya. Jika manusia tak bermanfaat untuk
kebaikan kepada sesama umat, dan kepada
seluruh jagad, merekalah manusia bejat dan
laknat.Pakaian itu hanya akan mencelakai
manusia di dalam kehidupan yang sejati dan
abadi.
Orang kaya namun pelit dan suka menindas,
orang miskin namun kejam dan pemarah, orang
pandai namun suka berbohong dan licik, orang
bodoh namun suka mencelakai sesama, semua
itu akan menyusahkan diri sendiri dalam
kehidupan yang abadi. Datanglah penyesalan
kini, semua yang benar dan salah tak tertutup
nafsu duniawi.
Yang ada tinggalah kebenaran yang sejati. Mana
yang benar dan mana yang salah telah dilucuti,
tak ada lagi secuil tabirpun yang bisa menutupi.
Semua sudah menjadi rumus Ilahi. Di alam
penantian nanti, manusia tak berguna tetap
hidup di alam yang sejati dan hakiki, namun ia
akan merana, menderita, dan terlunta-lunta.
Menebus segala dosa dan kesalahan sewaktu
hidup di planet bumi. Lain halnya manusia yang
berguna untuk sesama di alam semesta,
hidupnya di alam keabadian meraih kemuliaan
yang sejati. Bahagia tak terperi, kemana-mana
pergi dengan mudah sekehendak hati. Ibarat
“lepas segala tujuannya” dan “luas kuburnya”.
Tiada penghalang lagi, seringkali menengok anak
cucu cicit yang masih hidup di dimensi bumi.
Senang gembira rasa hati, hidup sepanjang masa
di alam keabadian. Wirangrong juga diabadikan
menjadi sebuah gending.
Sabtu, 22 Februari 2014
Nabi Isa
~ Nabi Isa ~
Ilmu Hakekat Insan Singkat ceritra, Karena Nabi Isa telah dikandung oleh seorang dara perawan bernama Maryam melalui kekuasaan Tuhan maka nabi isa AS di anggap sebagai manusia dan sekaligus anak Tuhan Hal yang tidak dapat dipahami dengan akal ini kemudian diterima dengan keimanan karena menyadari bahwa bagi tuhan segala sesuatu adalah mungkin. Bahwa, Semua kepercayaan Monoteis menganggap bahwa Tuhan adalah Maha pencipta, pemelihara, mencintai dan mengasihi serta melindungi umat manusia. Yang menarik dari Monoteis kresten adalah bahwa mereka menerima suatu ‘Trinitas’ di mana menurut mereka bersama tuhan dan nabi Isa AS ada ‘pihak ketiga’ yakni Ruhul Kudus. Tuhan diterima sebagai Bapak, nabi Isa AS sebagai Anak dan perawan Maryam walaupun bukan termasuk dari Trinitas namun menempati kedudukan penting karena di pandang sebagai perantara. Ruhul Kudus inilah yang bekerja demi kebaikan umat manusia, Ruhul kudus berbeda dari bapak dan anak, namun bagian yang tidak terpisahkan karena mempunyai sifat yang sama yaitu ke-Ilahian.
Ruhul kudus itulah Nur Muhammad “KUNTU AWALAN NABIYYINA FIL KHALQI WA AKHIRIHUM FIL BATSI” Adalah Aku (AHMAD) yang awal awal dari pada sekalian Nabi-nabi dan Rasul-rasul semua yang ada di dalam RAHASIA awal-awal keadaan, dan adalah Aku (MUHAMMAD) yang menjadi kesudahan mereka itu di dalam masa ke dzahiran. Aku yang Awal Aku yang Akhir, Aku yang Dzahir dan Aku yang Batin. Aku yang buka dan aku yang Tutup, Aku yang menghimpun semuanya. Seperti Nafas kepada Ruh, Ruh kepada Nyawa, kemudian Nyawa meliputi seluruh tubuh. Itulah Ahmad kepada Muhammad kepada seluruh Rasul rupa Muhammad. Yang menjadi fokus perhatian adalah nama kebesaran bagi Insan Muhammad yang ada di Madinah di dalam hal kerasullan. Al-Insan itulah yang telah kembali .. Inilah contoh bagi kita agar mengenal betul-betul junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang bermakam di Madinah.
Adapun Ahmad adalah Muhammad terhimpun Rasulullah tetap hidup selama-lamanya.., Itulah yang dinamakan Tasauf yang benar benar hak adanya. Karena Tasauf adalah Ilmu Rabbani yang menyatakan pandangan SALASIYAH yang melampaui akal dan fikiran yaitu perihal keadaan awal-awal yang telah ada tentang keadaan Allah SWT yang sebenarnya. Sedangkan yang mengatakan Muhadast adalah hukum akal saja, itu hanya paham tasauf pasaran dan tidak boleh diterima. Mengapa.. ? Bila diterima berarti syahadat tidak sempurna karena tidak mengetahui ujung pangkal siapakah sebenarnya Diri. “ANA ABU ARWAH WA ADAMA ABU BASHAR” Aku bapak sekalain ruh dan Adam bapak sekalian tubuh Semua telah terhimpun di dalam Nur Muhammad SAW yang bernama Nur Kibriya, U.. Muhammad yaitu Nur sifat kebesaran Nya, Rahmat dan berkat Muhammad yang telah Maujud atas seluruh Rasul termasuk Al-Insan yang ada di madinah itu adalah Nur Kibrinya U.. Muhammad yakni Nur (sifat) kebesaran Rahmat dan berkat safaat Nabi besar Muhammad SAW yang telah maujud yang sangat mulia di dalam alam ini. Itulah maksud dari pada paham perkataan ahli Tasauf tentang : “SHUHUDUL KASRAH FIL WAHDAH dan SHUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH” Maksudnya : Pandang akan keadaan Al-Insan yang banyak itu terhimpun di dalam satu kesatuan dan tetap memandang hanya satu RAHASIA yang banyak kepada Nur Muhammad SAW yaitu Nur Kibriyah U.. . Dalam pemakaian Ilmu Hakekat Usul Diri : “SHUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH” Nafas kita keluar dari kepala keliling, lalu memasukan dan tahan dua detik lalu mesrakan setelah itu di keluarkan nafas pelan-pelan. Itulah pemakaian Rahasia memandang yang banyak “SHUHUDUL WAHDAH FIL WAHDAH” Memandang satu diri yang Satu, Reflex, tunduk kepala tahan nafas sambil melihat dari hulu-hulu sampai seluruh batang tubuh kita. Mesrakanlah baik-baik nafas, lembuut.., keluar nafas tidak ada rasanya, itulah yang disebut oleh Al Arif Billah tentang “AHMAD AMINULLAH AINUL HAQ” Turun Rasulullah SAW…. Simpul tentang itu bertubuh Rohaniah dzahir dan batin adanya. Itulah ilmu tanpa suara tanpa ceritera yang berputar-putar.
Semua bersumber dari NUR MUHAMMAD SAW Ruh Idhafi memerintah Nyawa, Nyawalah yang memerintah tubuh, agar tubuh berkelakuan yang sebenar-benar diri yang hak. “QOD JAA AKUMUL HAQ MIRRABIKUM” Yang datang kepadamu adalah HAQ dari tuhanmu. Tujuan pemakaian adalah memesrakan Nur Muhammad SAW Lazimi dengan kesabaran dan ketekunan.. Awalnya terasa di hidung, Perlahan sampai ke bulu-bulu pada kulit, Hingga sampai sekecil-kecilnya lebur keluar di bulu-bulu. Tiada terasa di hidung lagi. Itulah yang di sebut DAIMUN SHALAT. Sama halnya mengenal RABBINYA. Sama halnya mengenal Hak Allah pada kelakuan Insan. Inilah pelajaran para Arif Billah.. Oleh karena itu, Mulailah kenali Dirimu sekarang Kurangi bicaramu.. Banyaklah berdiam diri.. Perhatikan kelakuan dari gerak dan diam-mu. Maka kerjakan sambil begerak dan diam memuji Rasulullah SAW semata-mata. Itulah yang di maksud Rahasia Nur Muhammad yang bernama Idhafi Ruh Idhafi itulah wujud yang Hakiki Kedzahiran wujud Mutlak di dalam Sholawat, Dzikir dan Syahadat yang berkekalan. Lazimi dan hantarkan pada tempatnya dengan nenahan satu gerakan sesaat. Kosong.. titik.. Alif Ahadiyah.. wahdah.. wahdiyah.. La ta’yin.. ta’yin awal.. ta’yin sani Ahmad.. Muhammad Rasulullah Nur kepada Nyawa yang berhubungan dengan hati menjadikan Af’al Allah berkelakuan Muhammad menyatakan diri yang Hak. Inilah Rahasia perintah yang berasal dari Ruh Idhafi. Cara pemakaian jenang yang ada di diri manusia : Dalam 3 martabat 1. Ahadiyah = la ta’yin = kosong Mulai waktu matahari terbit sampai matahari naik persis di atas kepala puji bernama “AHMAD AMINULLAH AINUL HAK” Detiknya tiada bertempat, tiada berawal, tiada berakhir, tiada berdzahir dan tiada berbatin. 2. Wahdah = ta’yin awal = titik Saat matahari bergeser dari atas kepala sampai matahari terbenam, puji bernama “HAQ.. HAQ..” Detiknya dari hati sampai ke bawah. 3. Wahdiyah = ta’yin sani = Alif Dari matahari terbenam sampai Matahari Terbit, puji bernama “LAA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADURRASULULLAH” Detiknya dari bawah ke atas.
Sabtu, 15 Februari 2014
Sakaratul Maut
TAHAPAN – TAHAPAN SAAT SAKRATUL MAUT :
1. Pertama yang datang kepada kita adalah cahaya HITAM dia datang kepada kita menawarkan kerajaan-nya, jika kita mengikutinya maka jadilah kita MINERAL-MINERAL.
2. Kedua datang kepada kita cahaya MERAH, kembali dia menawarkan kita untuk ikut dalam kerajaan-nya jika kita mengikutinya maka jadilah kita BATU atau BESI.
3. Jika kita dapat menghalau ajakan yang kedua maka selanjutnya datang kepada kita cahaya KUNING, kembali dia menawarkan kerajaan-nya kepada kita, jika kita mengikutinya maka jadilah kita TUMBUH-TUMBUHAN.
4. Jika berhasil kita lolos dari ajakan ke-tiga maka datang kepada kita cahaya HIJAU, dia-pun sama menawar-kan kerajaan-nya kepada kita, jika kita mengikutinya maka jadilah kita BINATANG YANG HARAM.
5. Setelah itu datang-lah cahaya PUTIH yang sangat menawan kita, jika kita mengikutinya maka jadilah kita BINATANG YANG HALAL yang kemudian kemaren pada saat hari raya IDUL ADHA dibebaskan-lah mereka dari penjara, permasaalahannya adalah mereka yang membebaskan harus memahami-nya jangan sampai terlepas dari penjara KAMBING masuk ke mulut BUAYA.
6. Pada tahapan reinkarnasi yang ke-enam datang-lah SUARA YANG SANGAT KERAS kepada kita, disini jika kita mengikutinya maka kita akan ter-lahir sebagai MANUSIA KAFIR.
7. Yang ke-tujuh datang kepada kita adalah RUPA KITA YANG SANGAT ELOK, seraya berucap salam dan berkata “anda adalah saya dan saya adalah anda, saya adalah utusan tuhan yang datang untuk menjemput anda, lihat-lah kerajaan-mu” jika kita mengikuti dia pada waktu itu maka kita terlahir sebagai MANUSIA MUSLIM saja.
Tahapan Reinkarnasi dari SATU sampai dengan TUJUH ini, baiknya di- TOLAK.
Carilah DELAPAN sampai dengan TIGA BELAS…
Jumat, 14 Februari 2014
Hakikat Takbir
Bermula haqiqat takbir itu,hendaklah kita hadirkan mata hati dengan Musyahadah kepada zat Allah terlebih dahulu/sebelum mengangkat takbiratul ihrak,maka hendaklah kita tetapkan segala kehendak hati,Ruh,dan perasaan kita untuk tawajuh (menghadap) dan liqa’ (menemui) Allah SWT. Bila sudah demikian,baru kita kata usalli…dan sudah mengembalikan/menyerahkan amanat Allah Ta’ala yang ada pada kita,yakni ujud kita yang kasar ini (baharu) dan yang menanggung amanat yaitu diri kita yang bathin.Adapun amanat itu kita serahkan kepada pemilik amanah yakni Allah SWT.itulah sebabnya kita disebut Ummat Muhammad SAW yang ditanyai mengenai amanat Allah Ta’ala itu seperti firmannya : Artinya : Bahwasanya Allah Ta’ala memerintah kepadamu sekalian untuk mengembalikan amanat itu kepada pemiliknya Dengan dikembalikan/diserahkannya amanat Allah itu kepada pemiliknya yaitu Allah ta’ala itu sendiri,maka jadilah fana/lebur/hilang/karam sekalian sifat tubuh kita didalam laut “Ruh Bahrul Qadim”adapun yang tinggal ketika itu hanya sifat Ruh semata-mata,dan itulah Ruh ilmu Allah,kemudian,kita katakan Allahhu Akbar. Itulah yang dinamakan lebur/karam kehambaan diri kita (Fana Fillah) kedalam ke-Baqaan Allah,dimana nyata keadaan zat Allah semata-mata. Inilah yang harus kita syuhudkan sampai kepada salam. Maka janganlah kita lalai dari paenjelasan ini-yang artinya syuhud itu,dipancang dengan mata hati itulah pengetahuan zat dan ilmunya dan sebenar-benar ilmunya itu,iman kepada kita dan sebenar-benar Sir-Allah itu,cahaya kalam Allah yang tidak berhuruf,tidak bersuara yaitu ujud zat yang mutlak,seperti yang tersebut dalam Hadits Qudsi : Artinya : tidak bersuara,tidak berhuruf dan tiada bertempat/berbekas. Firman Allah dalam Al-qur’an : Artinya :Apakah mereka itu dijadikan bukan dari sesuatu atau mereka yang menjdikan mereka,dan bukanlah Aku yang menjadikan mereka. Hendaklah takbir kita itu,dengan syah lagi jazam yakni yaqin.hati kita hadir dengan Allah Ta’ala,yakni ingat kepada Allah maka takbir kita serta membesarkan Allah Ta’ala.pada waktu mengangkat takbir itu,menjadi tempat perhimpunan pada kalimah La Ilaha Illa Allah : yang kita pandang hanya Allah semata-mata artinyakita fana sekali-kali tidak ada,yang ada hanya Ujud Allah semata. Caranya adalah,sebelum mengangkat takbiratul ihram kita tarik nafas dengan Hu haqiqatnya Aku Allah Akbar yang lain semua kecil.sesudah itu di angkat takbiratul ihram “Allahu Akbar” dengan qasat ta’aradhta’ayyin (tubuh hati Ruh).
Senin, 10 Juni 2013
Insan Kamil
Si hamba menyaksikan bahwa Insan Kamil adalah pertemuan di antara ketuhanan dan kehambaan. Pada Insan Kamil berkumpul pengetahuan tentang Tuhan dan pengetahuan tentang makhluk Tuhan. Insan Kamil mengenal Tuhan dalam aspek tanzih dan tasybih. Insan Kamil memperoleh maklumat Hakikat Muhammad secara lengkap dan sempurna. Insan Kamil yang memiliki ilmu dan makrifat yang sempurna. Insan Kamil yang mempunyai pengenalan yang sempurna tentang Tuhan. Insan Kamil juga mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang apa yang Tuhan sampaikan kepada hamba-hamba-Nya. Insan Kamil juga mempunyai maklumat Hakikat Insan secara sempurna. Oleh kerana Hakikat Insan mengumpulkan maklumat yang lengkap tentang manusia dan alam makhluk sekaliannya, maka Insan Kamil mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang manusia dan alam makhluk sekaliannya. Seluruh alam semesta ‘terkandung’ dalam Insan Kamil. Hati si hamba yang terbuka kepada suasana Hakikat Insan Kamil menyaksikan seluruh alam semesta berada dalam hatinya. Si hamba menyaksikan pengetahuan ketuhanan datang secara langsung kepada hatinya. Pembukaan kepada Hakikat Insan Kamil membuat hati si hamba menyaksikan alam semesta disempadani oleh dirinya dan pada masa yang sama dia menyaksikan ‘Allah’ bersemayam dalam hatinya. Inilah peringkat yang paling tinggi bahayanya dalam semua peringkat pengalaman kerohanian. Ketuhanan dan kehambaan muncul pada hati yang sama, pada perasaan yang sama dan pada masa yang sama. Hanya kehambaan yang sentiasa membayanginya meneguhkan tapak kakinya berpijak pada jalan yang benar. Kehambaan pada peringkat ini sangat rapuh, mudah saja menjadi hancur lebur. Jika hal yang demikian terjadi hati si hamba tidak lagi melihat perbedaan di antara hamba dengan Tuhan, dirinya dengan Tuhan. Keadaan seperti ini tidak muncul sewaktu menyaksikan Hakikat-hakikat yang lain termasuklah Hakikat Muhammad kerana pada ketika itu makhluk dan dirinya tidak ada dalam perhatian dan kesadarannya. Pada tahap mengalami suasana Hakikat Insan Kamil ini kesadar! an dan perhatian kepada diri dan makhluk baru saja muncul kembali, belum begitu kuat dan berpengaruh. Kesadaran dan perhatian tersebut baru pada tahap seumpama bayang-bayang yang belum melekat benar pada hati. Hakikat Insan Kamil adalah umpama stesen bebas bagi hati. Ia boleh menjadi Tuhan dan hamba pada masa yang sama. Ia juga boleh menjadi nabi dan wali. Ia juga boleh menjadi malaikat. Jika seseorang yang baru saja kembali sedikit kesadarannya terhadap kewujudan dirinya larut dalam Hakikat Insan Kamil, hatinya akan mengalami apa yang biasa disebut oleh orang sufi sebagai bersatu dengan Tuhan. Rasa bersatu dengan Tuhan berbeda daripada mengalami suasana keesaan yang berlaku Pada ketika itu keesaan dialami dalam suasana tiada kesadaran terhadap diri sendiri. Si hamba hanya menyaksikan Allah s.w.t semata-mata, tidak pada dirinya dan makhluk lainnya. Dia hanya menyaksikan satu wujud yaitu wujud Allah s.w.t, wujud yang lain tidak ada dalam perhatiannya. Oleh yang demikian tidak timbul isu bersatu dengan Tuhan pada peringkat itu. Pada peringkat Hakikat Insan Kamil pula wujud Allah s.w.t dan wujud dirinya nyata dalam kesedarannya dan mungkin dia tidak dapat membedakan yang satu dengan yang lain. Dalam keadaan demikian dia mungkin menyaksikan Allah s.w.t sebagai Haq (Yang Hakiki) dan juga khalq (makhluk sebag! ai bayangan Yang Hakiki). Dia mungkin merasakan dirinya sebagai Tuhan dan hamba Tuhan, yang sama dalam aspek yang berbeda. Dia mungkin melihat sifat-sifat yang ada pada dirinya sebagai sifat Tuhan dan dia menjadi pendhahir sifat Tuhan secara sempurna. Dia mungkin merasakan pada wujudnya yang satu bertemu Wujud Tuhan dengan wujud alam semesta. Dia mungkin menyaksikan seluruh alam semesta seumpama bola kecil terkandung di dalam hatinya. Dia mungkin melihat badannya sebagai Arasy, rohnya sebagai Roh Muhammad dan zatnya sebagai Zat Tuhan. Dia mungkin juga melihat ilmunya sebagai Ilmu Tuhan dan bakat dirinya sebagai malaikat. Bila dikuasai oleh rasa kelarutan dalam Hakikat Insan Kamil dia mungkin melihat dirinya berada pada satu falak di atas daripada falak yang ada makhluk yang lain. Malaikat, jin dan yang lain-lain mungkin dilihatnya berada di bawah daripada falak dirinya. Dia mungkin melihat bakat dirinya bergerak melalui makhluk yang lain. Jika dia berada dalam satu kumpulan pekerja dia mungkin melihat bakat dan daya upayanya berada pada setiap pekerja tersebut. Suasana hati yang bergabung dengan Hakikat Insan Kamil mungkin membuat seseorang melaungkan “Ana al-Haq!�?. Ucapan “Ana al-Haq�? pada peringkat ini berbeda daripada ucapan Ana al-Haq , dahulu si hamba semata-mata menjadi alat dan Tuhan Pengguna alat. Si hamba tidak melihat ucapan tersebut sebagai ucapannya. Dia menyaksikan Kalam Tuhan yang keluar daripadanya. Pada peringkat Hakikat Insan Kamil pula ucapan “Ana al-Haq�? dilafazkan dalam keadaan ada kesadaran diri. Kesadaran tersebut membuatnya melihat ucapan itu sebagai ucapan Tuhan dan juga ucapan dirinya yang bersatu dengan Tuhan. Apa yang dia ucapkan itulah yang Tuhan ucapkan, dan apa yang Tuhan ucapkan itulah yang dia ucapkan. Beginilah keadaan yang berlaku kepada orang yang larut dalam Insan Kamil. Ramai orang menyangkakan Insan Kamil adalah penghabisan jalan. Mereka jadikan Insan Kamil sebagai makam mereka. Semua keturunan Adam a.s dinamakan manusia. Dalam bangsa manusia itu ada golongan yang sempurna dinamakan manusia yang sempurna. Dalam golongan manusia yang sempurna itu ada kumpulan yang menjadi Nabi dan Rasul. Bangsa manusia secara keseluruhannya dikuasai oleh Hakikat Insan. Golongan manusia yang sempurna itu pula dikuasai oleh Hakikat Insan Kamil. Dalam golongan manusia yang sempurna itu, yang menjadi nabi dan rasul dikuasai pula oleh Hakikat Muhammad. Hakikat-hakikat, termasuklah Insan Kamil, bukanlah makhluk yang ada dalam alam. Hakikat adalah urusan Tuhan. Insan Kamil adalah urusan Tuhan yang menguasai satu kumpulan manusia yang sempurna kehambaannya kepada Allah s.w.t. Insan Kamil yang asli, yang ada pada sisi Tuhan tidak berupa, tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak menempati ruang dan zaman dan juga tidak bernama. Manusia-manusia sempurna yang muncul di atas muka bumi bolehlah dikatakan salinan lengkap kepada Insan Kamil yang asli. Manusia yang paling sempurna, menjadi salinan Insan Kamil yang paling sempurna menerima penguasaan sepenuhnya daripada Hakikat Muhammad dan beliau adalah Nabi Muhammad s.a.w. Manusia-manusia sempurna yang lain, walaupun sempurna tetapi kesempurnaan mereka tidak mencapai tahap kesempurnaan Nabi Muhammad s.a.w. Mereka tidak menerima penguasaan Hakikat Muhammad secara lengkap, selengkap Nabi Muhammad s.a.w. Oleh itu hanya Nabi Muhammad ! s.a.w saja yang bernama Muhammad, yang lain bernama Ibrahim, Musa, Isa, Nuh dan lain-lain. Manusia sempurna yang lain tidak mengaku diri mereka sebagai Muhammad walaupun mereka juga menerima maklumat daripada Hakikat Muhammad. Sejak Nabi Adam a.s sampailah kepada Nabi Isa a.s tidak ada seorang Nabi pun yang mengaku menjadi Muhammad. Kumpulan manusia yang sah kesempurnaan mereka tidak mengaku menjadi Muhammad atau bersekutu dengan Muhammad. Jika ada orang yang mengaku menjadi Muhammad atau bersekutu dengan Muhammad, baik secara zahir atau secara batin, maka nyatalah mereka telah keliru dalam memahami hakikat. Salinan Insan Kamil yang paling sempurna dalam kumpulan Nabi-nabi adalah Nabi Muhammad s.a.w, penutup Kenabian. Salinan Insan Kamil yang sempurna dalam kumpulan wali-wali adalah Muhammad Imam Mahadi, penutup kewalian. Muhammad Imam Mahadi tinggal di dalam dunia dan menjalankan tugas yang diamanahkan kepadanya oleh Allah s.w.t. Bila tugas tersebut selesai beliau kembali ke rahmatullah. Pada ketika itu salinan Insan Kamil tidak akan muncul lagi ke dunia. Bila salinan Insan Kamil tidak ada lagi di dalam dunia maka tertutuplah ilmu ketuhanan. Tidak ada lagi manusia yang mengenal Allah s.w.t. Pada ketika itu berlakulah kiamat besar. Ada beberapa perkara lagi perlu diketahui berhubung dengan daerah Insan Kamil yang selalu diperkatakan apabila bercakap mengenainya. Insan Kamil dikatakan bersemayam di dalam Kaabatullah. Kaabatullah selalu disebut dalam memperkatakan tentang hakikat. Ada orang mengatakan dia bersembahyang menghadap Kaabatullah. Ada pula yang mengatakan dia bersembahyang di dalam Kaabatullah. Yang lain pula mengatakan dia sembahyang dengan ketiadaan Kaabatullah. Ada juga orang mengatakan dia menemui Rasulullah s.a.w di dalam Kaabatullah. Berbagai-bagai lagi keadaan Kaabatullah yang diceritakan orang dalam menggambarkan suasana hakikat. Kaabatullah yang dikatakan seperti cerita di atas merupakan suasana simbolik bagi menggambarkan keadaan hubungan hati dengan Allah s.w.t. Umat Islam bersembahyang menghadap Kaabatullah bukan bermakna mereka menyembah Kaabatullah dan bukan juga Allah s.w.t berada dalam Kaabatullah. Allah s.w.t memilih Kaabatullah sebagai tempat yang boleh dirasakan kehadiran-Nya dengan kuat. Jadi, Kaabatullah dihubungkan dengan Hadrat Ilahi. Berhadap ke Kaabatullah bermakna menghadap kepada Hadrat-Nya. Di dalam suasana hakikat, Kaabatullah menjadi misal bagi suasana ketuhanan. Bila dikatakan Insan Kami bersemayam di dalam Kaabatullah ia bermaksud Insan Kamil adalah suasana ketuhanan, berada dalam Ilmu Tuhan. Orang yang bersembahyang di dalam kesedaran melihat Kaabatullah berada di hadapannya. Orang yang di dalam zauk merasakan berada di dalam Kaabatullah. Orang yang baqa dengan Allah s.w.t tidak melihat kepada Kaabatullah. Orang yang ‘memasuki’ Ilmu Allah, mengenali suasana Hakikat Muhammad dan mengambil ilmu daripada sumber tersebut, menggambarkannya sebagai berjumpa dengan Rasulullah s.a.w di dalam Kaabatullah dan menerima pengajaran daripada baginda s.a.w. Pengalaman-pengalaman yang disebut di atas merupakan pengalaman dalam ‘misal kepada hakikat’. Penyaksian terhadap rupa, bentuk, cahaya dan warna adalah penyaksian kepada misal bagi hakikat-hakikat. Apa yang disaksikan itu menjadi cermin yang membalikkan kefahaman tentang hakikat yang tidak boleh disaksikan. Rasulullah s.a.w melihat pada malam Israk dan Mikraj, bentuk misal kesenangan dan kemewahan dunia sebagai perempuan cantik dan umur dunia yang sudah lanjut sebagai perempuan tua. Kedua-duanya menceritakan tentang hakikat dunia tetapi berlainan rupa bagi menceritakan maksud yang berbeda. Hakikat boleh diibaratkan sebagai cahaya dan cermin sebagai Alam Misal. Jika benda nyata diletakkan di hadapan cermin dan cahaya dipancarkan kepadanya, akan kelihatanlah gambaran benda nyata itu di dalam cermin. Gambaran yang kelihatan di dalam cermin itu menyatakan bahawa pada benda nyata itu ada pancaran cahaya. Cahaya disaksikan dalam bentuk benda-benda nyata. Bentuk benda-benda nyata itu menjadi misal kepada cahaya, menceritakan bahawa di sana ada kehadiran cahaya. Tetapi benda nyata dan gambaran benda nyata yang kelihatan atau bentuk misal itu bukanlah cahaya. Cahaya tetap dalam keadaan aslinya yang tidak ada rupa dan warna. Ada orang yang tidak membedakan bentuk misal dengan cahaya yang asli. Orang yang tidak membedakan bentuk misal dengan hakikat kepada yang dimisalkan itu memahamkan hakikat ketuhanan mempunyai wajah-wajah tertentu. Hakikat Insan Kamil adalah umpama cahaya yang hening. Hati insan umpama cermin yang jernih. Orang yang memandang ke dalam cermin hatinya bersuluhkan cahaya Hakikat Insan Kamil akan menyaksikan wajahnya sendiri di dalam cermin itu, lalu dia menyangkakan bahawa itulah wajah Insan Kamil yang asli, dan itu jugalah wajah Tuhan yang tidak dibedakan dengan Insan Kamil. Jika orang Hindu menyembah tuhan dalam rupa monyet orang tadi menyembah Tuhan dalam rupa dirinya sendiri. Lama-lama orang Hindu menyembah monyet, tidak lagi menyembah Tuhan. Lama-lama orang tadi menyembah dirinya, tidak lagi menyembah Tuhan. Inilah yang selalu terjadi kepada orang yang berjalan kepada hakikat tanpa membawa syariat. Orang yang berjalan pada jalan kerohanian perlu melepasi bentuk-bentuk misal. Lepaskan apa juga yang sampai kepada penyaksian. Nafikan dengan kalimah “La ilaha illa Llah�?. Orang yang berjaya melepasi bentuk-bentuk misal tersebut akan sampai kepada Penyaksian Hakiki, yaitu menyaksikan tanpa rupa, bentuk, cahaya, warna dan wajah. Pada Penyaksian Hakiki juga tidak ada suara, tidak ada huruf. Penyaksian berlaku kepada mata keyakinan. Si hamba yang menyaksikan dengan mata keyakinan mengucapkan: “Sesungguhnya hatiku tidak berasa syak lagi bahawa Engkau yang daku pandang tanpa rupa, tanpa bentuk, tanpa cahaya, tanpa warna, tanpa suara dan tanpa huruf�?. Itulah keadaan memandang dengan tiada sesuatu yang dipandang, tahu tanpa sesuatu pengetahuan dan kenal tanpa sesuatu pengenalan. Penyaksian akal dinamakan ilmul yaqin. Penyaksian mata hati dinamakan ainul yaqin. Penyaksian mata keyakinan dinamakan haqqul yaqin. Haqqul yaqin meru! ntuhkan segala pengetahuan dan penyaksian kerana sesungguhnya Tuhan adalah: Tiada sesuatu yang serupa dengan-Nya Keyakinan terhadap Allah s.w.t adalah: Dan Dia Mendengar dan Melihat Jika seseorang mau cepat sampai ke matlamat hendaklah bersegera melepaskan bentuk-bentuk misal yang sampai kepada penyaksiannya. Berpindahlah kepada Penyaksian Hakiki. Tanda seseorang sudah memiliki Penyaksian Hakiki adalah dia dapat melihat hakikat ketuhanan pada dua perkara yang bertentangan dengan sekali pandang. Nama, rupa, bentuk, cahaya dan warna tidak menghijab pandangannya untuk menyaksikan hakikat atau Rububiah. Makrifat tentang nama-nama Tuhan penting bagi memperolehi Penyaksian Hakiki. Jika Yang Menghidupkan tidak menghijab Yang Mematikan, Yang Menaikkan tidak menghijab Yang Menjatuhkan, Yang Memberi tidak menghijab Yang Menahan, Yang Awal tidak menghijab Yang Akhir, Yang Zahir tidak menghijab Yang Batin, maka yang disaksikan pada setiap masa dan dalam semua suasana adalah Yang Maha Esa. Apabila mata ilmu dan mata hati tidak menutup mata keyakinan maka yang disaksikan adalah Yang Haq! Tidak semua orang yang memasuki daerah Hakikat Insan Kamil akan terdorong kepada suasana bersatu dengan Tuhan. Si hamba yang telah mengalami suasana kehadiran kenabian dan mengalami pula suasana keesaan Tuhan akan sentiasa dibayangi oleh rasa kehambaan kepada Tuhan. Pertembungan dengan Hakikat Insan Kamil tidak menyebabkan berlakunya perlarutan. Suasana Hakikat Insan Kamil dialaminya sebagaimana mengalami suasana Hadrat kenabian dan Hadrat ketuhanan. Si hamba tidak mengalami suasana menjadi Insan Kamil atau menjadi Tuhan atau bersatu dengan Tuhan. Insan Kamil merupakan salah satu Hadrat yang dialaminya dan melalui pengalaman tersebut dia mengerti maksud Insan Kamil. Orang yang berjalan pada jalan kehambaan akan menetap sebagai hamba, tidak berubah menjadi Adam atau Muhammad atau Insan Kamil atau Tuhan. Sepanjang perjalanan dia berada dalam suasana dia yang menyaksikan dan melalui penyaksian tersebut dia memperolehi pengetahuan dan pengenalan (ilmu dan makrifat) tanpa melepaskan pandangan kepada “Allah Yang Maha Esa�? dan “Tiada sesuatu serupa dengan-Nya�?. Melalui jalan kehambaan kehadiran kenabian, kehadiran Hakikat-hakikat Insan, Muhammad dan Insan Kamil dan juga kehadiran Tuhan berperanan sebagai Pembimbing. ‘Pertemuan’ dengan Hadrat-Hadrat tersebut memperkuatkan Petunjuk Ghaib dalam dirinya. Juru-bicara dalam dirinya sentiasa memberi peringatan. Dia diperingatkan agar berjalan terus, jangan berhenti walaupun dijanjikan syurga atau dihalang oleh neraka, walaupun dibukakan suasana Hakikat-hakikat. Semua itu untuk diketahui dan untuk dikenal, bukan tempat untuk bermakam. Dalam suasana Hakikat Insan Kamil, seseorang biasa berjumpa dengan hakikat maut yaitu mengalami suasana Izrail. Boleh juga dikatakan jika seseorang itu tidak mengalami suasana Izrail dia tidak memasuki daerah Insan Kamil dengan sepenuhnya. Dia mungkin berjalan di bawah bayangan daerah itu sahaja. Manusia biasa naik ke langit melalui jalan biasa yang dilalui oleh semua orang, yaitu jalan mati. Orang yang memasuki daerah Hakikat Insan Kamil juga mengalami kematian, tetapi bukan kematian tubuh badan. Kematian yang berlaku di sana adalah kematian secara kebatinan, yaitu merasai kehadiran Maut. Dia mungkin merasai suasana kematian beberapa kali pada alam kebatinannya. Pengalaman yang demikian membuka penutup pada hati. si hamba telah menghadapkan dirinya kepada maut. Pada ketika itu dia menuju kepada pengecilan kesedaran terhadap diri sendiri. Ia menjadi lonjakan untuk mencapai stesen yang berikutnya. Tetapi pengalaman tersebut tidak banyak memberi pengertian kepada dirinya. Dalam daerah Hakikat Insan Kamil pula si hamba sedang menuju ke arah pembesaran kesedaran terhadap diri sendiri. Oleh itu setiap pengalaman menarik perhatiannya. kehadiran Maut pada daerah Insan Kamil memperjelaskan pengalaman . Dalam daerah! Insan Kamil ini si hamba merasakan sangat hampir dengan Maut. Biasa terjadi pada peringkat ini dia mendapat firasat mengenai kematian orang-orang tertentu dan kemudiannya ternyata firasat tersebut adalah benar. Keadaan ini bersifat sementara saja. Apabila dia meninggalkan daerah Insan Kamil dia keluar juga daripada Hadrat Maut itu dan firasat tentang kematian tidak ada lagi. Apabila Hadrat Maut dan Hadrat Insan Kamil bertemu pada satu daerah, pada satu hati, suasana kehambaan akan menetap dan terhindarlah suasana ketuhanan. Hadrat Maut memperlihatkan kedaifan, kehinaan dan kejahilan si hamba. Hadrat Insan Kamil memperlihatkan kekuasaan, kemuliaan dan kebijaksanaan Tuhan. Orang yang benar-benar menyaksikan keagungan Tuhan adalah orang yang sedang menghadapi sakratul maut. Keadaan ini samalah seperti keadaan orang yang menerima uang satu juta dan pada masa yang sama dia mengetahui bahwa dia menghidapi penyakit kanser yang akan membawanya kepada maut. Begitulah umpamanya keadaan hati yang merasai Hadrat Maut dan Hadrat Insan Kamil pada satu masa. Dia diperlihatkan kekerdilan dirinya sebagai hamba Tuhan dan keagungan Allah s.w.t sebagai Tuhan. Bertambah kuatlah rasa kehambaan pada dirinya. Jadi, Hadrat Insan Kamil yang menyebabkan sebahagian orang mengalami suasana bersatu dengan Tuhan boleh ju! ga menambahkan rasa kehambaan. Si hamba yang bertambah rasa kekerdilan diri dan kehambaannya kepada Tuhan bermunajat kepada Tuhan dengan penuh tawaduk
Kamis, 09 Mei 2013
HAKIKAT ALIF
hakikat alif
Alif terbentuk dari Ulfah (kedekatan) dan
ta’lif ( pembentukan). Dengan huruf inilah
ALLAH menta’lif (menyatukan) seluruh
ciptaanNya dalam landasan tauhid dan
ma’rifah dengan kecintaan penghayatan
iman dan tauhid.
Sehingga Alif ini membuka makna dan
pengertian tertentu dengan banyak bentuk
rupa dan warna yang ada pada huruf-huruf
yang lain. Maka jadilah Alif sebagai
“Kiswah” (pakaian) bagi huruf lainnya. Itu
semua karna kehendak si “Alif ghaib”.
Huruf saja tidaklah memiliki makna, sebab
pengertian tidak terdapat padanya.
Makna dalam dari Alif ibarat nyawa,
sedangkan bentuk huruf adalah ibarat raga.
Ibarat pohon yang di belah sampai ke akar,
dari akar di belah sampai ke biji asalnya.
Lalu dari biji asalnya di belah sehingga
tiada sesuatu apapun. itulah hakikat
kehidupan.
Allah menjadikannya berupa (memiliki
bentuk), padahal tiada.
Huruf berupa lisan ketika diucapkan,
sedangkan makna adalah pengetahuan yang
diketahui sebelum lisan berucap dan
berbuat.
Ia sangatlah halus melebihi kehidupan yang
fana/tiada.
Maka jelaslah Alif adalah Huruf yang paling
utama, Agung dan Mulia Ibarat Adam,
sedangkan Alif di satukan dengan Hamzah.
Hamzah itu ibarat Hawa. Maka lahirlah 28
huruf Hijaiyah seperti lahirnya manusia dari
sebab Adam dan Hawa. Sehingga muncul
pengertian mudzakar Ibnu (lelaki) dan
pengertian mu’annats Binti (wanita).
Seluruh huruf terlahir dari Alif, karna Alif
pada asalnya tegak lurus dimana titik
asalnya isyarat bagi penetapan permulaan
wujud (ada) yang merupakan lawan dari
ketiadaan (adam). Lalu Alif ini ada pada
pengelihatan, sehingga melihat yang benar-
benar ada. Adapun melihat Dzat itu
merupakan cermin ketunggalan sejati yang
menurun pada kesejatian diri.
Maka ketika dikaruniakan pandangan ini,
melihat keberadaannya di dunia ini dengan
cahaya yang terang benderang yang melihat
dengan 127 kejadian. Ketika disebut Alif
yaitu ketika diri sudah tunggal. Lalu
menunjukan apa yang tampak dan terlihat
di dirinya sehingga jadilah Alif. Yang
pertama dijadikan oleh Allah adalah titik ke
esaanNya,
ketika Ku pandang dengan keAgunganKu
maka titikpun menunduk dan mengalir
menjadi garis lurus tanpa akhir (Alif). Alif
pun dijadikan permulaan Kitabnya dan
pembuka huruf karna huruf lain berasal
darinya dan tampak pada dirinya. “IQRO” :
adalah wahyu pertama yang turun kepada
Nabi Muhammad S.A.W. Yaitu membaca
yang dimulai dengan huruf Alif dan diakhiri
dengan huruf Alif.
“Iqro” secara hisabiah nilainya 33. Yaitu 3
kali di peluk Jibril A.S. maka 33 x 3 = 99
Asmaul Husna. Dengan 99 Asmaul husna
inilah Rosulullah s.a.w bisa isro dan mi’raj.
Isra’ mi’raj di surah al-isra’, surat ke 17
berjumlah 111 ayat. 111 = 3 alif.”isra” juga
di awali dgn huruf “alif ” dan di akhiri juga
huruf “alif “ (huruf ” hamzah ” di akhir
adalah satu karakter dengan ” alif “).
Dalam kalimah ” isra” ada huruf alif (akhir)
dimana di bagian atas ada tanda mad
(memanjangkan alif) nilainya 7 an dan nilai
7 ketukan ini adalah sebagai sistem untuk
melipat 7 lapis bumi dan naik turun ke 7
lapis langit (mi’raj). Dengan Alif , titik yang
pada mulanya perbendaharaan tersembunyi
kemudian tampak dan turun agar dikenal
lewat ciptaanNya begitupun mahluk dikenal
lewatnya dan di nisbatkan kepadaNya.
Itulah Kholifah yang membawa “AMANAH”.
Karena dengan nama ALLAH itu adalah
BISMI dan ALLAHU,
Allahu itu adalah Alif,Lam,Ha. Alif lam yang
di maksud adalah LAHU = BAGINYA. JAdi
Allahu adalah Alif lam baginya (untuknya)
ARAHMAN = Alif,Ra,Ha,Mim,Nun
maksudnya Alif dan Lam itu rahman
demikian juga dengan RAHIIM.
Jadi Alif lam itu seperti halnya cahaya
matahari dan rembulan, yang memberi dan
menyayangi tanpa syarat. Alif Lam dalam
diriku adalah keadaan TUBADIL dalam
sholat. Jadi Alif Lam itu dalam tiap-tiap
sebutan ARRAHMAN ARRAHIIM…..dst.
Seperti halnya mustaqim/jalan yang lurus
dimana terdapat pada diriku yang sempurna
sholat.
Yaitu ketika aku menginjak maqom tubadil
seperti halnya takbiratul ikhram yang
mukharanah (sempurna, dimana lafazh
Allah dlm takbirotul ikhram sholat di
panjangkan tanpa ada batasan hukum mad
2 harakat sebagai bentuk keagunganNya).
Berbeda dengan kata “INNA” yg artinya
“sesungguhnya” begitu diberi alif sebagai
perpanjangan dari huruf nun, maka berubah
menjadi jamak/banyak, “innaa” artinya
“sesungguhnya kami”.
Begitu juga “Qul” yg artinya “katakan”,
begitu diberi nun dan alif sebagai
perpanjangannya, maka berubah menjadi
jamak/banyak , “Qulnaa” yg artinya kami
berfirman.jadi perubahan dari tunggal
menjadi jamak karena adanya imbuhan
huruf yg disesuaikan maksud dan
tujuannya, bukannya unsur yg memerintah
(Allah) yg menjadi jamak. Subyek = Yang
Memerintah tetap TunggalObyek = Maksud
dan Tujuan yang menjadi jamak.
Maka AllAH pun Sholat, sedangkan manusia
tiada sedikitpun kekuatan sehingga ikut
andil dalam perkara sekecil apapun
terhadap dirinya. Karna di satu sisi hamba
diperkenankan memilih jalan untuk dirinya
tapi waktu yang sama ia harus masuk
kepada ketetapanNya. Karna Huruf memiliki
tampilan, bahasa dan memiliki aspek lahir
dan bathin.
Aspek lahirnya berupa nama dan bentuknya.
Aspek bathinnya berupa makna rahasiaNya.
Batasnya adalah uraian dari hukum-
hukumNya. Serta tampilanNya adalah
penyaksian dan penyingkapan. Seluruh
struktur susunan alam semesta itulah yang
dinamakan pula sebagai Alif.
Jikalau dikaji selanjutnya maka hakikat
dakwat pula adalah cecair, sedangkan
hakikat cecair adalah debu-debu, dan
hakikat debu-debu adalah unsur-unsur
(atom) dan hakikat unsur adalah Cahaya
Allah.
Sedangkan Gelap (tidak diketahui) ialah
Cahaya Dzat, …. dalam gelap itulah adalah
‘Air Kehidupan’ (Yang Menghidupkan).
Sebagai misalan, ….jika anda melihat
kepada dakwat, maka dengan sendirinya
huruf hilang,…
dan jika anda melihat huruf , maka dakwat
hilang…
Sejajar dengan itu cuba difikirkan pula:
Jika ana ada Dia tiada, … dan jika Dia ada
ana pula tiada…
“Ketahuilah, barangsiapa di berikan
pengetahuan tentang Alif dan
mengamalkannya, maka telah diberi
pengetahuan tentang rahasia tauhid
Wahdaniyah (keesaan) dan naik menuju
rahasia Ahadiah (kewujudan)
Selasa, 02 April 2013
Al Quran Dalam Diri Manusia
AL-QUR’AN DALAM DIRI
MANUSIA
ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
AL- QUR’AN DALAM DIRI MANUSIA
Di dalam Al-Qur’an ada dua ayat yang
jelas-jelas menyebutkan bahwa Al-
Qur’an itu di turunkan oleh Allah di
dalam diri manusia dengan
menggunakan istilah hati dan dada.
Pertama :
Surah Al-Baqarah ayat 97
“Man kaana ‘aduwwan lijibriila fa-
innahu nazzalahu ‘alaa qalbika bi-
idznillaahi mushaddiqan limaa bayna
yadayhi wahudan wabusyraa
lilmu’miniin.”
Katakanlah : “Barang siapa yang
menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu
telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke
dalam hatimu dengan seizin Allah;
membenarkan apa (kitab-kitab) yang
sebelumnya dan menjadi petunjuk serta
berita gembira bagi orang-orang yang
beriman.
Kedua :
Surah Al- Qiyamah ayat 16
Sesungguhnya atas tanggungan Kami-
lah mengumpulkan Al-Qur’an (di
dadamu) dan (membuatmu pandai)
membacanya.
Telah kita ketahui bersama bahwa :
Al-Qur’an itu terbentuk dari titik
kemudian menjadi huruf dan seterusnya
menjadi ayat yang ber-jumlah 6666 ayat
dan menjadi panduan hidup manusia…
kemudian… di masuk-kan pula oleh
Allah ke dalam diri manusia
Pada kesempatan ini mari-lah sama-
sama kita coba untuk mengkaji maksud
sebenar-nya ayat di-atas karena ayat
tersebut sangat JELAS dan MUDAH
untuk di-pahami,
Yang menjadi persoalan-nya sekarang
ialah..
Al-Qur’an yang mana-kah yang di-
maksud-kan?
Al-Qur’an itu sudah berada di dalam hati
manusia (Al-Baqarah 97)
Al-Qur’an itu sudah berada di dalam
dada manusia (Al-Qiyamah 16)
…… sebaiknya tidak perlu di-perdebatkan
lagi ….
Namun…
Siapa-kah Al-Qur’an itu..?
Setiap apa yang di katakan Al-Qur’an
itu adalah Qadim (Kalam Qadim)
ini ber-arti A-Qur’an itu bersifat
Qidam..
Jika ia bersifat Qidam maka ia bukan-
lah Muhadas (yang baru)
Sebab..
Yang baru itu adalah makhluk yang di-
ciptakan-Nya
dan yang di-cipta-kan jika ia ber- bentuk
Roh maka jelas ia makhluk..
Pandangan sebagian Ulama mengatakan
bahwa Al-Qur’an itu adalah Qadim
yaitu : Awal tiada permulaan.
Artinya ..
Kalam yang Qadim yang menjadi Hak
Allah,
Jika ia menjadi Hak Allah
Maka..
Ia tidak boleh bersifat Roh akan tetapi
ia harus bersifat DZAT
Jadi..
Yang bersifat Dzat itulah yang di
turunkan oleh Allah di dalam dada atau
hati manusia,
Siapakah dia..?
Apakah Al-Quran yang berbentuk
Jirim..?
atau Jisim ?
atau Jauharul Fardhi ?
atau Jauharul Basits ?
Jika Al-Qur’an itu berbentuk yang ber-
istilah di atas..
maka apakah dia sebenarnya yang di
masukan oleh Allah di dalam hati
manusia atau di dalam dada manusia..?
Kita wajib mengetahui hal ini sebab dia
berada di-dalam diri kita sendiri, dan
juga menjadi Panduan Hidup kita…
Jika ia sebagai panduan hidup manusia..
maka dapat kita katakan bahwa dia itu
menjadi panduan kepada Roh, Akal,
Nafsu dan Tubuh yang terdiri dari
tulang, daging, urat,darah, rambut, dan
sebagainya,
Tanpa ia semua yang ada pada sebuah
batang tubuh manusia menjadi tiada
berarti sama sekali,
Sebab itu-lah dikatakan mencari sesuatu
di dalam diri..
Apa yang dicari dalam diri..?
Ini adalah isyarat untuk memahami
bahwa Al- Qur’an itu ada di dalam hati
manusia dan ada di dalam dada
manusia,
Mungkin awal-nya kita merasa sulit
untuk memahami bahwa Al-Qur’an itu
ada di dalam diri manusia,
Walau apapun itu…… inilah ketentuan
Allah dalam Al Quran,
Tapi…
Dalam bentuk apakah ..?
Jika berbentuk Al-Qur’an sebagaimana
yang kita ketahui (bentuk kitab yang ada
huruf dan rupa)
Maka itu adalah MUSTAHIL karena tidak
mungkin Al-Qur’an ber-bentuk itu di
masukan ke-dalam jasad kita.
Al-Qur’an adalah panduan hidup dan
mati manusia…
Al-Qur’an adalah Kalam Tuhan, yang
bersifat NUR untuk seluruh alam ciptaan
Tuhan..
Kepada orang yang berfikir.. akan
melihatnya sebagai sesuatu yang Benar
dan Suci dan Bersih dengan tiada
keraguan terhadapnya,
Karena itu layak-lah ia di namakan
Kalam yang Qadim yaitu Kalamullah,
Rasullullah sendiri tidak akan ber-bicara
melainkan pembicaraan-nya adalah Al-
Qur’an,
ini ber-arti berbicara yang benar dan
Haq itu Di dalam Al-Qur’an.
Ada ayat yang meng-gatakan Al-Qur’an
ini sebagai Hablillah (tali Allah)
yaitu tali yang mengaitkan antara hamba
dengan Tuhannya
Jika tali ini tidak di pegang teguh..
maka akan bercerai berai-lah manusia
bersama Allah.
Sedangkan..
Hablillah ini mengenal Tuhan-nya sejak
dari alam Roh dan dia-lah yang
mengakui bahwa Tuhan itu adalah Rabbi
yaitu Tuhan yang mencipta-nya,
Kalam-nya tidak pernah dusta..
Sebagaimana Rasullullah bersabda tidak
mengikut perasaan-nya melainkan
mengikut panduan Al-Qur’an semata-
mata,
KESIMPULAN :
Al-Qur’an itu bukanlah berbentuk
Jirim,Jisim atau Jauhar yang Fardhi
karena istilah tersebut adalah berbentuk-
bentuk dalam wujud ke-benda-an.
Al-Qur’an yang di maksud-kan oleh
Allah swt ini bukanlah berbentuk kitab
yang ber-jilid dan naskah akan tetapi ia
adalah berbentuk Jauhar yang sulit
untuk di lihat dengan mata kasar.
Al-Qur’an tersebut adalah berbentuk Zat,
karena Basits itu adalah sebagian dari
pada Zat yang di ujud-kan oleh Allah
dan sesuai dengan Asma Allah yang
Ma’anawiyah di samping ia adalah
IMAM
Fungsi-nya sebagai IMAM atau
Pemimpin sebagaimana yang di
kehendaki oleh Allah kepada setiap
muslim menjawab-nya ketika di tanya
oleh malaikat Mungkar dan Nangkir di
dalam kubur atau berbentuk Hablillah
(tali Allah).
Karena ia IMAM maka ia adalah
makhluk yang bertaraf Zat Di alam Roh…
Ketika Roh itu di tanya oleh Allah swt
(Bani Isroil ayat 85 dan 86) Maka yang
menjawab pertanyaan tersebut ialah
yang menjadi ketua atau IMAM kepada
Roh, Akal dan Nafsu,
Al-Qur’an adalah Nur Muhammad atau
Hakekatul Muhammadiyah atau di kenal
sebagai Nyawa atau Nafs kepada sumber
segala kehidupan (Al-Basit)
Maka dia juga di kenal sebagai makhluk
La Yakhluqu = Zat yang tidak
menjadikan sesuatu (An-Nahl ayat 17),
Yang jelas…
Al-Qur’an yang di masuk-kan oleh Allah
ke dalam diri manusia itu ialah :
Nur Muhammad atau
Hakekatul Muhammadiyah atau
Diri kebatinan manusia yang sebenarnya
atau
Diri sebenar Diri yang tidak menanggung
dosa,
Karena ia adalah makhluk bertaraf Dzat
maka..
Ia tidak terkecuali dari beribadah kepada
Allah swt ,
Karena..
Ia beribadah dengan nama Shuhud
kepada Wahdah dan juga Kasrah dan
Sir.
Ia juga-lah yang di kenal sebagai
NAFSAHU kepada ayat mengenal diri dan
Tuhan,
Ia juga-lah yang di kenal seagai INSAN
yang Sempurna yang tidak ada cacat
dan celanya.
………………………………..
Kamis, 28 Maret 2013
Nafas Ⅵ
NAFAS VI
Umumnya orang tua kita dahulu banyak
memiliki ilmu yang tersembunyi.
Di antaranya adalah Ilmu Nafas.
Dengan cara memperhatikan pergerakan
keluar masuk nafas melalui hidung
kemudian digabungkan dengan ilmu
pengetahuan yang pernah dialami
(amalan), sebagian orang tua kita
mampu mengetahui apa yang akan
terjadi.
…………………….
Di depan pintu sebelum hendak keluar
meninggalkan rumah untuk berk
erja atau merantau.., petuah dalam ilmu
nafas selalu digunakan oleh orang-orang
tua kita.
Periksa Nafas kiri yang kencang atau
nafas kanan…
………………………
Di atas tempat tidur sebelum hendak
berangkat tidur ilmu nafas selalu
mereka gunakan…
Periksa Nafas kiri yang kencang atau
nafas kanan…
………………………..
Ada juga orang-orang tua kita yang
melakukan zikir-zikir tertentu ketika
masuk atau keluarnya nafas mereka…
………………………..
Tapi sayang….
Ilmu ini semakin hilang…
Dulu waktu mereka ada jarang di-turun-
kan..
Kini…
Ilmu ini menjadi sangat rahasia..
Jika kita hendak mempelajarinya..,
Carilah guru yang benar-benar tahu
tentang ilmu ini…
Ilmu ini sangat dalam sekali… butuh
ketekunan.. kesabaran..
Bagaimana kaitannya mulai dari Nafas
ke Amfas sehinggaTanafas dan menjadi
Nufus?
………………………….
Bahkan dengan ilmu ini, si pengamalnya
akan dapat mengetahui kapan saat saat
kematiannya!
Selasa, 26 Maret 2013
Nafas Ⅴ
NAFAS V
” Alhamdulillahirabbilalamin…. “
“Matikan dirimu sebelum engkau mati”
“MATI YANG PERTAMA” = seolah-olah
bercerai Roh dari Jasad..,
tiada daya upaya walau sedikitpun jua,
hanya Allah jua yang berkuasa,
kemudian.. dimusyahadahkan didalam
hati dengan menyaksikan kebesaranNya
yaitu sifat Jalal dan JamalNya dan
kesucianNya.
Maka mati diri sebelum mati itu adalah
dengan memulangkan sega
la amanah Allah yaitu Tubuh Jasad ini
kepada yang menanggung amanah yaitu
Rohaniah jua.
Tarik-lah ‘NAFAS’ itu dengan hakekat
memulangkan dzat, sifat, afaal kita
kepada Dzat, Sifat, Afaal Allah yang
berarti memulangkan segala wujud kita
yang zahir kepada wujud kita yang
bathin (Roh). Dan pulangkan wujud Roh
pada hakekatnya kepada Wujud Yang
Qadim.
Maka..
Setelah sempurna “Mematikan diri yang
pertama” …
www.jiwondeso.blogspot.com
“MATI YANG KEDUA” = melakukan
“Mi’raj” yang dinamakan mati maknawi,
yaitu hilang segala sesuatu didalam
hatimu malainkan hanya berhadap pada
Allah jua.
Dengan meletakkan nafas kita melalui
alam ‘AMFAS’ yaitu antara dua kening
(Kaf Kawthar) merasa penuh limpahan
dalam alam kudus kita yaitu dalam
kepala kita hingga hilang segala ingatan
pada yang lain melainkan hanya hatimu
berhadap pada Allah jua.
“MATI PADA PERINGKAT KETIGA” =
adalah mati segala usaha ikhtiar dan
daya upaya diri karena diri kita ini tidak
dapat melakukan sesuatu dengan
kekuatan sendiri. sebab manusia itu
sebenarnya memiliki sifat ‘Fakir, dan
Dhaif (lemah) ’.
www.jiwondeso.blogspot.com
Dinaikkan ‘TANAFAS’ hingga
ditempatkannya dengan sempurna di
‘NUFUS’ dengan melihat pada mata hati
itu dari Allah, dengan Allah dan untuk
Allah.
Dari Allah mengerakkan Rohaniah,
Dari Rohaniah menggerakkan Al-Hayat
Dari Al-hayat mengerakkan Nafas,
Dari Nafas mengerakkan Jasad
dan pada hakekatnya.. Allah jualah yang
mengerakkan sekalian yang ada.
firmanNya…,
“Dan tiadalah yang melontar oleh
engkau ya Muhammad ketika engkau
melontar tetapi Allah yang melontar………
“
Senin, 25 Maret 2013
Nafas Ⅳ
NAFAS IV
Mari kita bicarakan takrif dan cara-cara
untuk mencapai martabat atau maqam
sholat da’im..
.
Sholat Da’im boleh ditakrifkan sebagai
sholat yang terus-menerus tanpa putus
walaupun sesaat dalam masa hidupnya
yaitu penyaksian diri sendiri (diri batin
dan diri zahir) pada setiap saat seperti
firman Allah yg artinya :
” YANG MEREKA ITU TETAP
MENGERJAKAN SHOLAT” ( Al-
Makrij-23).
Di dalam sholat tugas kita adalah
menumpuhkan sepenuh perhatian dengan
mata batin kita menilik diri batin kita
dan telinga batin menumpuhkan sepenuh
perhatian kepada setiap bacaan oleh
angota zahir dan batin kita disepanjang
mengerjakan sholat tanpa menolehkan
perhatian kearah lain.(titik)
Sholat adalah merupakan latihan
diperingkat awal untuk kita melatih diri
kita supaya dapat menyaksikan diri
batin kita yang menjadi rahasia Allah
Taala… setelah sanggup membuat
penyaksian diri diwaktu kita menunaikan
sholat,maka hendaknya kita melatih diri
kita supaya dapatlah kita menyaksikan
diri batin kita pada setiap saat didalam
masa hidup kita dalam waktu dua puluh
empat jam disepanjang hayat kita,
Sebab itulah kita mengucapkan
Syahadah:…………
Maka berarti kita berikrar dengan diri
kita sendiri untuk menyaksikan diri
rahasia Allah itu pada setiap saat di
dalam waktu 24 jam sehari semalam.
Oleh karena itu untuk mempraktekkan
penyaksian tersebut, maka kita haruslah
mengamalkan sholat da’im dalam hidup
kita seharian seperti yang pernah dibuat
dan diamalkan oleh Rasulullah s.a.w,
nabi-nabi dan wali wali yang agung.
Diantaranya syarat syarat untuk
mendapatkan maqam sholat da’im
adalah sebagai berikut :
1- Hendaklah memahami dan berpegang
teguh dengan hakekat melakukan zikir
nafas,
2- haruslah terlebih dahulu berhasil
mendapat NUR QALBU yaitu hati nurani.
3- Telah mengalami proses pemecahan
wajah KHAWAS FI AL KHAWAS,
4- Juga memahami dan dapat berpegang
dengan penyaksian sebenarnya SYUHUD
AL-HAQ,
Untuk mengamalkan dan mendapatkan
maqam sholat da’im maka seseorang itu
haruslah memahami pada peringkat
awalnya tentang hakekat melakukan
zikir nafas yaitu tentang gerak-
geriknya : zikirnya.. lafaz zikirnya…
letaknya.. dan sebagainya..,
Hal ini telah dibahas dalam blog..,, oleh
karena itu amalkanlah zikir nafas itu
dengan sungguh sungguh supaya kita
mendapat QALBU yaitu pancaran Nur di
dalam jantung kita yang menjadi kuasa
pemancar kepada makrifat untuk me-
makrifat-kan diri kita dengan Allah
Taala.
Sesungguhnya hanya dengan zikir nafas
sajalah gumpalan darah hitam yang
menjadi istana iblis di dalam jantung
kita akan hancur setelah itu baru
terpancarlah NUR-QALBU dan kemudian
terpancarlah pula makrifah hingga
sesorang itu memakrifatkan dirinya
dengan Allah Taala dan dapatlah diri
rahasia Allah yang menjadi diri batin kita
membuat hubungan dengan diri ZATUL
HAQ Tuhan Semesta Alam.
Latihan untuk menyaksikan diri ini
hendaklah dibuat berperingkat,
diperingkat awal melalui sholat
sebagaimana yang diterangkan di dalam
bahasan yang lalu.. dalam masa proses
penyaksian diri seseorang itu akan
mengalami satu proses membebaskan
diri batin (KHAWAS FI KHAWAS) dari
jasad dan dengan itu maka sesorang itu
akan dapat melihat wajah kesatu sampai
dengan wajah kesembilan yaitu martabat
yang paling tinggi… dengan mendapat
pemecahan wajah ini maka akan
dapatlah kita membuat suatu
penyaksian yang sebenarnya pada setiap
saat dimasa hidupnya… pada masa
beribadah (acara sholat), ataupun
keadaan biasa.
Pada peringkat ini dinamakan juga
peringkat martabat BAQA BILLAH yaitu
suatu keadaan yang kekal pada setiap
pendengaran.., penglihatan.., perasaan…
dan sebagainya,dan pada tahapan ini
mereka adalah seperti orang awam dan
sulit untuk kita mengetahui derajat
dirinya dengan Allah Taala..
Umumnya mereka yang mencapai
maqam sholat da’im dapatlah kembali
kehadrat Allah Taala dengan diri batin
dan diri zahir tanpa terpisahkan diantara
satu sama lain, mereka dapat memilih
apakah hendak mati (meninggal) atau
hendak ghaib….
Bersambung....
Minggu, 24 Maret 2013
Nafas Ⅲ
NAFAS Ⅲ
Normalnya nafas kita keluar masuk
sehari semalam 24 000 kali
pada siang hari12 000 kali..
dan pada malam hari 12 000 kali
inilah jumlah jam sehari semalam = 24
jam,
pada siang 12 jam
dan malam 12 jam,
Demikian hal-nya seperti huruf “Laa
Ilaaha Illallah, Muhammadur
Rasulullah”,
masing-masing mempunyai 12 huruf
berjumlah 24 huruf semuanya.
Barang siapa “mengucap” dengan
sempurna yang 7 kalimah itu niscaya
ditutupkan Allah Ta’ala Pintu Neraka
yang 7. Juga barang siapa “mengucap”
yang 24 huruf ini dengan sempurna
niscaya diampuni Allah Ta’ala yang 24
jam.
Inilah bentuk persembahnya kita kepada
Tuhan kita yang tiada henti yang
dinamakan Sholatul Da’im (sekaligus
melakukan puasa nafsu zahir dan
batinnya).
Sabda Nabi S.A.W :
“Ana Min Nuurillah Wal ‘Aalami Nuurii”
artinya “Aku dari Cahaya Allah dan
sekalian alam dari Cahaya-ku”
Sebab itulah dikatakan “Ahmadun Nuurul
Arwah”
artinya “Muhammad itu bapak dari
sekalian nyawa”
dan dikatakan “Adam Abu Basyar”
artinya “Adam bapak sekalian tubuh”.
Adapun Awal Muhammad Nurani
Adapun Akhir Muhammad Rohani.
Adapun Zahir Muhammad Insani
Adapun Batin Muhammad Robbani.
Adapun Awal Muhammad Nyawa kita
Adapun Akhir Muhammad Rupa kepada
kita,
Adapun yang bernama Allah Sifatnya,
Adapun sebenar-benar Allah itu Zat
Wajibal Wujud,
Adapun yang sebenar-benar Insan yaitu
manusia yang tahu berkata-kata
adanya.
Kita telah mendengar bahwa barang
siapa yang tidak mengenal ilmu zikir
nafas ,maka sudah tentu orang tersebut
tidak dapat menyelami alam hakekat
sholat da’im…
Dalam blog yang terdahulu.. telah
diterangkan dengan jelas tentang sholat,
dimana pengertian sholat tersebut
adalah berdiri menyaksikan diri sendiri
yaitu penyaksian kita terhadap diri zahir
dan diri batin kita yang menjadi rahasia
Allah Taala.
Silahkan disimak kembali saudara-ku…
Bersambung.....
Jumat, 22 Maret 2013
Nafas Ⅱ
NAFAS II
Yang dinamakan HATI NURANI (qalbu)
itu adalah NUR yang dipancarkan dari
bagian bawah jantung (bagian
Muhammad) ke arah bagian atas jantung
(bagian Allah).
Adapun zikir NAFAS ketika keluar =
ALLAH- dinamakan ABU BAKAR,
ketika masuk adalah HU dinamakan
UMAR, letaknya NAFAS adalah di mulut.
Adapun zikir ANFAS itu adalah ketika
keluar adalah = ALLAH- dan ketika
masuk adalah HU,letaknya AN
FAS pada hidung, dinamakan MIKAIL
dan JIBRIL.
Adapun zikir TANAFAS itu adalah tetap
diam dengan “ALLAH HU” letaknya di
tengah-tengah antara dua telinga,
dinamakan HAKEKAT ISRAFIL.
Adapun zikir NUFUS adalah ketika naik
HU dan ketika turun adalah “ALLAH”
letaknya di dalam jantung,diri nufus ini
dikenal dengan USMAN dan perkerjaanya
dikenal sebagai ALI…
Sabda Nabi S.A.W :
“Barang siapa keluar masuk nafas tanpa
zikir Allah maka sia-sialah ia”.
Ber-awal Nafas itu atas dua langkah
yaitu :
Satu Naik dan kedua Turun.
Maka takkala naiknya itu sampai ke
langit tingkat 7
“Wan Nuzuulu Yajrii Ilal Ardhi Fa Qoola
HUWALLOH”.
Dan takkala turun hingga 7 lapis bumi
Maka nafas itu bunyinya ALLAH.
Takkala masuk pujinya HUWA…
Takkala ia terhenti seketika antara
keluar masuk Tanafas, pujinya AH..
AH..
www.jiwondeso.blogspot.com
Takkala ia tidur atau mati Nufus
namanya Haqqu Da’im.
Ingatlah olehmu…
Dalam menjaga akan nafas ini, dengan
menghadirkan makna ini senantiasa, di
dalam berdiri.. dan duduk.. dan di atas
segala aktifitas yang diperbuat.. hingga
memberi manfaat kepada sekalian
tubuh… dan .. segala cahaya Nurul
‘Alam itu atas seluruh anggota tubuh.
Maka tetaplah me-nilik kedalam hatimu,
jadikanlah engkau hidup di dalam Dua
Negeri yakni Dunia dn Akhirat dan
semoga di-buka-kan Allah baginya pintu
selamat.. sejahteralah di dalam Dunia
dan Akhirat… Semoga dianugerahi Allah
Ta’ala sampai kepada martabat segala
Nabi dan segala Muslimin.. dan di-
haramkan Allah Ta’ala tubuhnya
dimakan api neraka dan badanya pun
tiada dimakan tanah di dalam kubur.
Maka tetaplah dengan hatimu wahai
saudaraku…
Jangan engkau menjadi orang yang lupa
dan lalai,
mudah-mudahan dibahagiakan Allah
Ta’ala dan diberikan rahmatNya atas
mu..
dengan senantiasa “berhadapan” slalu…
hingga sampai akhir ajalmu.
Bersambung
Nafas Ⅰ
Status tentang Nafas
ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
NAFAS I
Adapun Nafas yang keluar dan masuk
itu dinamakan Muhammad.
Maka Nafas itu dinamakan Nabi kepada
kita.(…tapi kita bukan nabi?)
Kemudian yang dinamakan Muhammad
itu adalah Pujian,
Maksud dari Pujian disini berkaitan
dengan Nafas..
Maka Nafas itu dinamakan… :
Ketika ke luar = Ilmu Ghaibul Ghuyub.
Ketika ke dalam = Ilmu Sirrul Asrar.
Dari Nafas itulah timbunya Ibadah
Muhammad.
Dan dari Jasad kita itulah timbulnya
Ibadah Adam,
Maka ibadah Muhammad itu :
Sholatul Da’im = Sholat terus-menerus.
“Wahdah Fil Kasrah = pandanglah satu
kepada yang banyak”
Yang dinamakan Nafas itu = yang keluar
masuk dari mulut.
Yang dinamakan Nufus itu = yang keluar
masuk dari hidung
Yang dinamakan Tanapas itu = yang
keluar masuk dari telinga.
Yang dinamakan Ampas itu = yang
keluar masuk dari mata.
Maka Nafas itulah yang menuju kepada
“ARASHTUL MAJID”
karena itu hendaklah kita ketahui Ilmu
tentang Nafas ini..,
yaitu Ilmu Ghaibul Ghuyub,
karena itu adalah salah satu daripada
ibadah Muhammad.
Ingat..!!
Ilmu Nafas harus disertai dengan
praktek langsung..,
tidak boleh hanya diambil teori-nya
saja…
Kita lanjutkan…
Nafas yang keluar dari lubang hidung kiri
itu dinamakan Jibril, ucapannya
“ALLAH”.
Nafas yang masuk melalui lubang hidung
kanan itu dinamakan Izrail, ucapannya
“HU”.
Maka Zikirullah yang dua itu dinamakan
NUR.
Maka jadilah dua Nur, yaitu kalimah
“ALLAH” satu Nur dan kalimah “HU”
satu Nur.
Dua Nur ini bertemu di atas bibir dan
tidak masuk ke dalam tubuh.
Amalan ini harus sampai ke derajatnya
yang dinamakan Nurul Hadi.
ke arah itulah yang harus dicapai.
Nafas yang naik di dalam tubuh ke
ubun-ubun dinamakan AHMAD, lalu..
turun dari ubun-ubun sampai-lah ke
Jantung Nurani dinamakan Izraill,
ucapanya “ALLAH”.
Kemudian Nafas yang dari jantung naik
lagi ke ubun-ubun, dinamakan Jibrill,
ucapannya ialah “HU”.
Amalan inilah yang dinamakan :
“Syuhudul Wahdah Fil Kasrah dan
Syuhudul Kasrah Fil Wahdah”
Inilah Pintu Makrifat…,
Bersambung......
Selasa, 19 Maret 2013
Mengenal Diri Bag Ⅲ
Mengenal Diri III
“Barang siapa mengenal Dirinya maka
kenalah dia akan Tuhannya”
Diri ini Rupanya saperti kita cuma saja
ia ghaib.
Duduknya di dalam jasad kasar kita ini,
dan tugas nya menghidupkan jasad kita
dengan cara mengalirkan pancaran
cahaya kehidupan maka dia juga di
sebut NYAWA.
Inilah Diri Sebenar Diri yang harus di
kenal dengan RASA dan PERASAAN.
Bagaimana cara kita untuk
mengenalnya..?
Jika ingin mengenalnya, dalam arti kata
kenal yang sebenar benar kenal tentulah
kita perlu “melahirkan” Diri itu.
Kelahiran pertama kita adalah ketika Ibu
kita melahirkan kita..,
Kelahiran kedua adalah ketika kita
mampu melahirkan Diri Sebenar Diri
Yang diamnya di dalam jasad kita
sendiri.. dan dengan tugas dan
rahasianya yang tersendiri…
Menghidupkan kita..
Tapi sayang…
Mengapa Jasad tidak pernah berpikir
untuk memikirkan siapakah yang
menghidupkan nya.?.
Karena itu kenali-lah Diri sebenar Diri
mu itu..,
Diri yang banyak daya guna..
Diri yang bisa dimintakan pertolongan…
Diri yang banyak menyimpan rahasia…
Bukankah dia berasal dari sana.. ?.
Dari Yang Maha Pencipta dan Yang
Maha Besar…?
Untuk itu lahirkan-lah Diri Sebenar Diri
mu..
Dengan mau membuka pintu baginya
untuk keluar.,
Popular Posts
-
Suci kodrat sejati Nyawiji suci jumeneng sejati Roso suci sejati alenggahan roh suci Kuncup sejati mulyo sejati Roso kumala handarbeni ...
-
Semut Ireng Semut ireng, anak-anak sapi Kebo bongkang nyabrang kali bengawan Keyong gondhang jarak sungute Timun wuku gotong wolu Sur...
-
Tarek dan Daim Syekh Siti Jenar mengajarkan dua macam bentuk shalat, yang disebut shalat tarek dan shalat daim. Shalat tarek adalah shalat...
-
GOLEKANA tapake kuntul anglayang! Ngendi ana ? Lan sapa wonge sing bisa nggoleki ? Mbok mubenga nganti muser-muser, kuntule dhewe, yen lagi...
-
A J I P A M E L E N G Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene em...